KARTIKA PUSPA NEGARA
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH PENERAPAN LAST PLANNER SYSTEM TERHADAP PERCEPATAN PROYEK KONSTRUKSI MENGGUNAKAN MICROSOFT PROJECT (STUDI KASUS: PEKERJAAN ELEVATED FREEWAY PROYEK TOL SEMARANG – DEMAK 1A PT. HUTAMA KARYA (PERSERO)) Rahma Dian Sya'bana; Saifoe El Unas; Kartika Puspa Negara
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterlambatan proyek konstruksi, seperti yang terjadi di pekerjaan Elevated Freeway Proyek Tol Semarang-Demak 1A, menjadi masalah umum dalam industri konstruksi. Untuk itu, melalui penelitian ini akan dievaluasi pengaruh penerapan Last Planner System (LPS) terhadap percepatan pelaksanaan pekerjaan Elevated Freeway pada Proyek Tol Semarang–Demak Paket 1A PT. Hutama Karya (Persero). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer dari program Magang MBKM, meliputi dokumen monitoring progres harian, formulir Weekly Work Plan Monitoring, Constraint Analysis Form, dan Action Plan. Analisis dilakukan menggunakan Microsoft Project untuk mengevaluasi perubahan total durasi pekerjaan dan kurva S baseline untuk mengevaluasi perubahan deviasi kurva S selama sebelas minggu sebelum dan empat minggu sesudah pelaksanaan dua kali Pull Planning Meeting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase Pra-LPS proyek mengalami keterlambatan dengan rata-rata deviasi kurva-S sebesar -2,69% dan perpanjangan durasi dari 322 hari menjadi 327 hari. Setelah implementasi LPS melalui Pull Planning Meeting, terjadi perbaikan signifikan dengan deviasi kurva-S meningkat dari -2,56% pada pertemuan pertama menjadi +0,77% pada pertemuan kedua, serta berhasil mengembalikan total durasi dari 361 hari menjadi 322 hari sesuai rencana awal. Penelitian membuktikan bahwa penerapan LPS efektif dalam memperbaiki koordinasi antar pihak, meningkatkan ketercapaian rencana mingguan, dan menciptakan alur kerja yang dapat diandalkan. Metode LPS dapat dinyatakan berhasil mendukung percepatan dan pengendalian proyek konstruksi dengan kompleksitas tinggi. Kata kunci: Last Planner System, Elevated Freeway, Deviasi Kurva-S, Total Durasi Proyek, Percepatan Proyek Konstruksi
Analisis Tingkat Risiko Ergonomi Postur Kerja pada Pekerjaan Plesteran dan Acian dengan Menggunakan Metode RULA pada Proyek Gedung Bertingkat di Surabaya Jonathan; Kartika Puspa Negara; M. Hamzah Hasyim
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pekerjaan arsitektural basah (wet trades), khususnya pekerjaan plesteran dan acian pada proyek konstruksi gedung bertingkat, sangat identik dengan beban fisik yang tinggi dan postur kerja janggal yang berpotensi menurunkan kinerja pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat risiko ergonomi menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) serta menguji pengaruhnya secara empiris terhadap tingkat produktivitas kerja aktual pada pekerjaan plesteran dan acian. Observasi lapangan dilaksanakan pada dua proyek gedung bertingkat di Surabaya, yaitu Pembangunan Gedung Health Science Kampus A Universitas Airlangga dan Hotel Patra Surabaya, dengan mengklasifikasikan postur berdasarkan elevasi area kerja (overhead, neutral, dan lower zone). Analisis hubungan antara variabel bebas (Skor RULA) dan variabel terikat (Produktivitas) diuji menggunakan statistik non-parametrik korelasi Spearman's Rho melalui perangkat lunak SPSS. Hasil analisis RULA menunjukkan bahwa secara keseluruhan pekerja beroperasi pada tingkat risiko ergonomi sedang hingga sangat tinggi (Action Level 3 dan 4), dengan postur terburuk terekam secara konsisten pada area kerja overhead dan lower. Hasil uji korelasi membuktikan adanya pengaruh negatif yang signifikan (Sig. < 0,001) antara tingkat bahaya postur kerja terhadap produktivitas pada kedua jenis pekerjaan, dengan keeratan korelasi pada pekerjaan acian sebesar r = -0,375 dan pekerjaan plesteran sebesar r = -0,319. Temuan ini mengonfirmasi bahwa semakin ekstrem postur kerja yang dipertahankan untuk melawan gravitasi dan beban material, maka tingkat kelelahan biomekanika akan meningkat sehingga secara signifikan menekan laju produktivitas tenaga kerja.   Kata Kunci: Ergonomi Konstruksi, Metode RULA, Produktivitas Kerja, Pekerjaan Plesteran dan Acian, Korelasi Spearman.  
Analisis Embodied Carbon pada Modular Construction melalui Integrasi Building Information Modelling Studi Kasus Manufaktur X di Jawa Barat Al Firos, Zaidan Dafa' Al Firos; Kartika Puspa Negara; Indradi Wijatmiko
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modular construction berkembang sebagai pendekatan konstruksi berkelanjutan, namun evaluasi terukur terhadap jejak karbon materialnya belum banyak diintegrasikan dengan model digital bangunan. Penelitian ini menganalisis nilai embodied carbon fase produksi (cradle-to-gate) modul Flat Pack produksi PT X pada proyek Y di Ibu Kota Nusantara (IKN), melalui integrasi model Building Information Modelling (BIM) dengan perangkat lunak Life Cycle Assessment (LCA). Komponen dimodelkan tiga dimensi pada Autodesk Revit 2025, data kuantitas material diekstraksi memakai fitur Material Takeoff (MTO) dan divalidasi terhadap spesifikasi berat modul aktual, kemudian dipetakan ke basis data Environmental Product Declaration (EPD) untuk menghitung Global Warming Potential (GWP). Validasi menunjukkan model BIM merepresentasikan massa aktual modul dengan deviasi 2,4%. Analisis embodied carbon menghasilkan total GWP 9.070 kgCO₂e per ruangan (dua modul, 27,44 m²) yang setara dengan 330,5 kgCO₂e/m². Baja struktural SS400 menjadi kontributor emisi terbesar (42,1%), diikuti Aluminium Composite Panel/ACP pada dinding (34,3%) walaupun hanya menyumbang 14,3% massa modul. Integrasi BIM dan LCA terbukti mampu menyediakan data kuantitas material yang akurat dan tertelusur untuk analisis embodied carbon komponen modular dan dapat direplikasi ke komponen lain. Kata Kunci: Building Information Modelling (BIM), Embodied Carbon, Life Cycle Assessment (LCA), Modular Construction, Cradle-to-Gate