Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Muhammad Nāshir al-Dīn al-Albānī: Hadith Manhaj Salafi Reference Fuady, M. Noor
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 11 No 02 (2023): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v11i02.7670

Abstract

Albānī adalah seorang sarjana otodidak dan diakui sebagai sarjana dan peneliti hadis yang sangat produktif. Hal ini terlihat pada karya-karyanya, baik takhrij, ta’liq, tahqiq dan lain-lain, yang sebagian diantaranya diterbitkan. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Penetapan kriteria penilaian hadits al-Albani mengikuti manhaj ulama hadis mutaqaddimin khususnya dalam penetapan kriteria kualitas hadits dengan cara kerja takhrij-nya, namun penelitian hadits menurutnya adalah masalah ijtihad yang memungkinkan untuk terjadi perbedaan pendapat dan perubahan ijtihad. Pro dan kontra terhadap pemikiran yang tertuang di dalam karya-karyanya membuka diskursus berupa pro-kontra, munculnya antitesis, kritik, dan lain-lain.
Baayun Maulid in The Digital Public Sphere: From Multiculturalism to Interculturalism in Tolerance Education Fauzi, Ahmad; Fuady, M. Noor
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 13 No 02 (2025): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v13i02.11621

Abstract

The Baayun Maulid tradition, a religious and cultural expression of the Banua Halat community in South Kalimantan, embodies the harmony between Islam and local wisdom. In the age of digital globalization, this ritual transcends its local religious boundaries and becomes a site of intercultural interaction through digital public spaces such as YouTube, Instagram, and Facebook. This study aims to analyze how the digital representation of Baayun Maulid contributes to tolerance education and fosters intercultural dialogue. Using a qualitative-descriptive method with a cultural discourse analysis approach, this research reveals a paradigm shift from multiculturalism to interculturalism, which values dialogue, collaboration, and mutual exchange. The digital transformation of Baayun Maulid illustrates that Indonesian Islam, particularly in the Banjar context, can engage with global modernity while maintaining its spiritual identity. Thus, this tradition offers a locally grounded yet globally relevant model of tolerance education, enriching Islamic studies in contemporary discourse.