Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERLAWANAN RAKYAT BANGKALAN DALAM MENGHADAPI KEMBALINYA BELANDA PADA TAHUN 1947 MARDIANA ASIYAH, ILMA; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berita mengenai kemerdekaan Indonesia terdengar di Kabupaten Bangkalan yang saat itu merupakan ibu kota Madura, dengan cepat masyarakat Bangkalan mengadakan gerakan untuk melakukan aksi penurunan bendera Jepang meminta para ulama dan tokoh ? tokoh masyarakat untuk ikut serta dalam gerakan tersebut. Meskipun Indonesia sudah merdeka, Belanda tetap ingin berusaha untuk menguasai Indonesia khususnya Madura sehingga terjadi berbagai perlawanan dari rakyat Madura terhadap Belanda. Madura menjadi sasaran kembalinya Belanda untuk dikuasai karena Belanda berencana menjadikan Madura sebagai negara bagian, merekrut pasukan tambahan, menguasai wilayah serta sumber daya alam dan manusianya.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah : (1) Bagaimana latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Bangkalan dalam menghadapi kembalinya Belanda pada tahun 1947? (2) Bagaimana tindakan Barisan Tjakra Madura dalam perang kemerdekaan pada tahun1947? (3) Bagaimana upaya perlawanan rakyat Bangkalan menghadapi Belanda pada tahun 1947? Penelitian ini memiliki tujuan untuk : (1) Menjelaskan latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Bangkalan dalam menghadapi kembalinya Belanda pada tahun 1947 (2) menjelaskan tindakan Barisan Tjakra Madura dalam perang kemerdekaan pada tahun 1947 (3) menjelaskan upaya perlawanan rakyat Bangkalan menghadapi Belanda pada tahun 1947. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik digunakan untuk memperoleh sumber penelitian berupa arsip dari pos djawatan penerangan Madura berbentuk surat pemberitahuan, buku, surat kabar soeara rakjat terbitan tahun 1947, jurnal, dan artikel ilmiah lainnya untuk mendukung penelitian ini. Tahap kritik berupa kritik sumber, kritik intern dan ekstern untuk mendapatkan data sejarah yang terpercaya. Tahap interpretasi berdasarkan sumber literasi, dalam tahap ini peneliti melakukan analisis dan sintesa terhadap sumber yang telah didapat pada tahap sebelumnya untuk mendapatkan gambaran fakta sejarah. Tahapan historiografi digunakan untuk menuliskan hasil penelitian dalam bentuk artikel ilmiah secara kronologis dan relevan.Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa latar belakang perlawanan rakyat Bangkalan terhadap Belanda disebabkan Belanda ingin menguasai kembali wilayah Bangkalan dan hasil buminya. Bangkalan menjadi incaran pertama Belanda karena letaknya yang strategis berdekatan dengan Surabaya sehingga dapat digunakan untuk keamanan pangkalan armada Belanda. Kedatangan tentara Belanda ke Bangkalan menimbulkan berbagai perlawanan dari masyarakat Bangkalan yang tergabung dalam badan kelaskaran dan militer. Keberadaan Barisan Tjakra Madura yang beranggotakan orang-orang Madura bertujuan membantu Belanda untuk melancarkan aksinya semakin mempersulit rakyat Bangkalan dalam usaha melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah satu kesulitan yang dirasakan pejuang saat melawan barisan ini adalah tidak mudah membedakan antara anggota barisan dengan rakyat atau pejuang yang lain karena memiliki wajah dan logat yang sama. Barisan Tjakra merupakan kaki tangan Belanda yang bertugas mencari tahu strategi perang pejuang dan menjadi garda terdepan saat melakukan perlawanan dengan rakyat Bangkalan. Peperangan antara rakyat Bangkalan dan tentara Belanda terjadi diberbagai wilayah Bangkalan, segala upaya dilakukan rakyat Bangkalan untuk mempertahankan kemerdekaan agar tidak dijajah kembali oleh Belanda salah satunya melakukan serangan umum besar-besaran tanggal 16 Agustus 1947 yang menewaskan banyak korban baik dari pihak pejuang ataupun Belanda. Usaha Belanda untuk menguasai Madura membutuhkan waktu selama kurang lebih 4 bulan sampai pada tanggal 25 Nopember 1947 perjuangan para pejuang Madura melawan Belanda berakhir. Dari hasil penelitian tersebut masyarakat bisa mengerti akan pentingnya semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak mudah karena membutuhkan keberanian, pengorbanan dan rasa nasionalisme.Kata Kunci: Perjuangan rakyat Bangkalan, Barisan Tjakra Madura, Agresi Militer Belanda I
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DESA GONDOSULI KECAMATAN GONDANG TULUNGAGUNG 2013-2017 DIO MAULANA, ANDRE; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meminimalisir proses urbanisasi. Pengembangan kawasan minapolitan merupakan upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan nelayan dan meningkatkan konsumsi perikanan nasional. Berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.35/kempen-kp/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang (1) Arah pengembangan kawasan minapolitan di desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung? (2) Dampak terhadap kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gonsosuli?. Penulis mengambil rentang waktu tahun 2013-2017 sesuai program pemerintah berlangsung selama 5 tahun.Hasil penelitian ini menjelaskan arah pengembangan minapolitan di desa Gondosuli mendapat dukungan pemerintah daerah dalam bentuk investasi, kredit, pengadaan fasilitas ?cold-storage were housing serta penelitian dalam bentuk penyuluhan maupun were housing. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung sebagai leading sector melaksanakan berbagai kegiatan seperti : pembangunan gedung pertemuan kelompok, bantuan alat pencetak pakan, pembangunan jalan, Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Sehatkan).Pengembangan kawasan minapolitan memberikan dampak sosial budaya dan perekonomian bagi masyarakat desa Gondosuli. Dampak sosial budaya dari pengembangan kawasan minapolitan membuat hubungan silaturahmi semakin dekat dengan terbentuknya kelompok pembudidaya. Pagelaran kesenian wayang, jaranan dan lomba pemancingan gratis merupakan bentuk rasa syukur dari hasil budidaya. Dibidang ekonomi budidaya perikanan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.Kata kunci: Minapolitan, Gondosuli, Sosial Budaya dan Ekonomi.
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DESA GONDOSULI KECAMATAN GONDANG TULUNGAGUNG 2013-2017 DIO MAULANA, ANDRE; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meminimalisir proses urbanisasi. Pengembangan kawasan minapolitan merupakan upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan nelayan dan meningkatkan konsumsi perikanan nasional. Berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.35/kempen-kp/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang (1) Arah pengembangan kawasan minapolitan di desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung? (2) Dampak terhadap kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gonsosuli?. Penulis mengambil rentang waktu tahun 2013-2017 sesuai program pemerintah berlangsung selama 5 tahun.Hasil penelitian ini menjelaskan arah pengembangan minapolitan di desa Gondosuli mendapat dukungan pemerintah daerah dalam bentuk investasi, kredit, pengadaan fasilitas ?cold-storage were housing serta penelitian dalam bentuk penyuluhan maupun were housing. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung sebagai leading sector melaksanakan berbagai kegiatan seperti : pembangunan gedung pertemuan kelompok, bantuan alat pencetak pakan, pembangunan jalan, Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Sehatkan).Pengembangan kawasan minapolitan memberikan dampak sosial budaya dan perekonomian bagi masyarakat desa Gondosuli. Dampak sosial budaya dari pengembangan kawasan minapolitan membuat hubungan silaturahmi semakin dekat dengan terbentuknya kelompok pembudidaya. Pagelaran kesenian wayang, jaranan dan lomba pemancingan gratis merupakan bentuk rasa syukur dari hasil budidaya. Dibidang ekonomi budidaya perikanan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.Kata kunci: Minapolitan, Gondosuli, Sosial Budaya dan Ekonomi.
PERJUANGAN HARUN BIN SAID DALAM KONFRONTASI MILITER GANYANG MALAYSIA TAHUN 1963-1966 HASANAH, NUR; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia merupakan bentuk penolakan Indonesia terhadap Federasi Malaysia yang dipicu oleh perbedaan perspektif tentang rencana integrasi sebagian wilayah Kalimantan Utara yang meliputi Sabah, Sarawak, dan Brunei kedalam Federasi Malaysia. Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia diserukan oleh Presiden Soekarno dengan mengumandangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Untuk mendukung Operasi Dwikora, Pemerintah Indonesia mengerahkan sukarelawan dari kalangan militer dan rakyat sipil. Salah satu sukarelawan yang melaksanakan Operasi Dwikora adalah Harun bin Said dari Korp Komando Angkatan Laut (KKO-AL).Penelitian ini membahas tentang (1) Perjuangan Harun bin Said dalam konfrontasi Militer Ganyang Malaysia tahun 1963-1966; (2) Akhir perjuangan Harun bin Said dalam konfrontasi Militer Ganyang Malaysia tahun 1963-1966. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik, sumber yang diperoleh berupa sumber primer yaitu Arsip Nasional RI dan Arsip Kota Surabaya, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari buku dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harun bin Said ikut berkontribusi dalam Operasi Dwikora yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia untuk melancarkan aksi Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia. Dalam Konfrontasi ini banyak sukarelawan dan ABRI dikirim ke beberapa wilayah di Malaysia dan Singapura untuk melakukan aksi sabotase. Harun bin Said menjadi salah satu sukarelawan yang menerima misi rahasia untuk melakukan sabotase di Singapura. Setelah berhasil melaksanakan sabotase dengan meledakkan Mc Donal House, Harun bin Said ditangkap oleh Pemerintah Singapura dan perjuangannya harus berakhir di tiang gantungan Singapura.Kata Kunci : Harun bin Said, Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia, Operasi Dwikora
MASA KRISIS PERKEBUNAN TEBU DAN INDUSTRI GULA DI WILAYAH GERBANG KERTASUSILA PASKA PEMERINTAHAN SOEHARTO (1998-SEKARANG) Artono; Widodo, Hananto; Nugroho, Arinto
KRONIK : Journal of History Education and Historiography Vol 8 No 1 (2024): Juni
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/kjhi.v8i1.34163

Abstract

East Java was originally a sugarcane plantation and the main sugar producer in Indonesia. This inability is caused by the decreasing land for planting sugarcane, especially in Java. Since the 19th century, the islands of Java and Sumatra have been among the largest sugar producers. The largest land area is on the island of Java. The quality of the soil and climate are very good for sugar plants. The problem is land conversion. Land conversion occurs due to the development of large cities and their satellite cities. The development of these cities requires land for residential and factory functions. This is actually not a problem as long as there is careful planning and strict implementation of the spatial planning of the area. This study tries to examine the synergy between sugarcane plantations and spatial planning and its implementation. By examining the case of the closure of three sugar factories in Sidoarjo Regency, the study shows that inconsistency in maintaining planting land has resulted in sugar factories experiencing difficulties in sugarcane supply.
KAPAL VAN DER WIJCK SEBAGAI ALAT TRANSPORTASI LAUT MASA HINDIA BELANDA TAHUN 1921-1936 Asminta Dewi Arya Wati; Artono
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 3 No. 02 Februari (2026): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji sejarah kapal Van der Wijck sebagai alat transportasi laut masa Hindia Belanda tahun 1921-1936.  Mengingat transportasi laut terutama kapal Van der Wijck memiliki peranan yang sangat krusial di Hindia Belanda. Namun sejarah dari kapal tersebut hingga aktivitas pelayarannya selama di Hindia Belanda masih belum banyak yang mengetahui. Dengan menggunakan metode sejarah oleh Kuntowijoyo yang memiliki lima tahap diantaranya pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penyusunan narasi sejarah). Hasil dalam penelitian ini adalah bahwasannya kapal Van der Wijck dibangun oleh perusahaan pelayaran Koninklijke paketvaart Maatschappij (KPM) yang merupakan perusahaan pelayaran Belanda, memiliki kantor pusat di Batavia dan status hukum di Amsterdam. Kapal Van der Wijck dibangun 1921 di galangan kapal yaitu Maatschappij Fijernoord di Feyernoord Rotterdam. Nama kapal Van der Wijck diambil dari nama Gubernur Jendral Hindia Belanda yakni Jhr. Carel Herman Aart Van Der Wijck. Kapal Van der Wijck secara umum dibangun karena perusahaan yang menaungi yaitu KPM memiliki tujuan sebagai navigasi angkutan barang dan penumpang dengan kapal uap milik pribadi atau yang disewa. Jadi kapal Van der Wijck dibangun oleh perusahaan KPM untuk memperkuat jaringan pengiriman oleh perusahaan. Kapal Van der Wijck dibangun oleh perusahaan KPM sesuai kelas tertinggi Breau Veritas, dan di rancang oleh arsitektur ternama dari angkatan laut KPM. Kapal Van der Wijck pertama diluncurkan pada tahun 1921 di Amsterdam kemudian melakukan pelayaran pertamanya ke Hindia Belanda di bawah komando kapten G. Hagenzieker, kapal van der Wijck pertama kali tiba di Tandjong Priok dengan membawa muatan perbekalan, dan melakukan persiapan di sebuah dok yang berada di Batavia. Sampai pada tahun-tahun berikutnya yakni tahun 1922-1936 kapal Van der Wijck mulai terintergrasi pada jadwal perjalanan dengan rute yang ditentukan oleh perusahaan KPM, dan mulai melayani rute pelayaran yang luas di Hindia Belanda. Rute kapal Van der Wijck di Hindia Belanda diketahui tidak hanya menghubungkan kota-kota besar seperti Makassar, Buleleng, Surabaya, Semarang, Batavia, Palembang di kepulauan Hindia Belanda, namun untuk menjadi penghubung ke wilayah-wilayah kecil lainnya yang berada di seluruh kepulauan Hindia Belanda.
Pendidikan Kewargaan dan Kebangsaan terhadap WNI di Malaysia Moch. Mubarok Muharam; Bambang Sigit Widodo; Nugroho Hari Purnomo; Machfud, Agus; Danang Tandyonoman; Dinar Rizky Listyaputri; Fitrie, Revienda Anita; Artono
Jurnal Komunikasi Profesional Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jkp.v9i1.11718

Abstract

Globalization has made the meeting of values and cultures among nations unavoidable. This globalization has blurred national borders, allowing individuals to communicate with others around the world so easily that no country can restrain it. As a result, the exchange of values and cultures can be easily conducted. However, the problem is that often in the era of globalization, Western influences and cultural values more easily affect Eastern countries (including Indonesia). Conversely, values and cultures from the East do not easily influence Western countries. Besides spreading positive values, globalization can also lead to the spread of negative values among Indonesian citizens, such as individualism, hedonism, consumerism, and so on. Therefore, education and citizenship awareness are needed for Indonesian citizens (including those in Malaysia). Indonesian citizens (WNI) in Malaysia have the potential to lose their sense of identity as Indonesians, due not only to globalization but also because they are living in another country. By living long-term in a foreign country, WNI can have their Indonesian values eroded. Therefore, Community Service (PKM) by lecturers from Fisipol Unesa to Malaysia is needed as an effort to provide civic and national education to WNI in Malaysia. The results of this PKM found that after the activities, participants' understanding of nationalism increased, and their sense of pride in Indonesia was also enhanced.