Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Uji Kepraktisan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Pendekatan Saintifik Wiratma, I G L; Widyasti, Ni Made Sih; Muderawan, I Wayan
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan dan menjelaskan kepraktisan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis pendekatan saintifik untuk pembelajaran kimia pokok bahasan kesetimbangan kimia. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan tahapan penelitian yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data; (2) desain produk; (3) validasi desain; (4) revisi desain; (5) uji coba lapangan terbatas; dan (6) revisi produk. LKS yang dikembangkan terdiri dari lima sub topik bahasan. Validasi isi pada LKS dilakukan dengan melibatkan dua orang ahli dan dua orang praktisi. Validasi bahasa pada LKS dilakukan dengan melibatkan satu orang ahli bahasa. Uji coba lapangan terbatas melibatkan 9 siswa kelas XI SMAN 1 Kuta Selatan. Karakteristik LKS berbasis pendekatan saintifik untuk pembelajaran kimia pokok bahasan kesetimbangan kimia yaitu, LKS terdiri dari langkah pembelajaran 5M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas diperoleh respon positif siswa terhadap pembelajaran dengan LKS terhadap keterlaksanaan dengan kategori sangat tinggi.Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, pendekatan saintifik, pembelajaran kimia, kesetimbangan kimia.
POTRET PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KIMIA PADA SMAN UNGGULAN DI PROVINSI BALI Lanang Wiratma, I Gusti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2013: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk membedah pengelolaan pembelajaran kimia pada SMAN unggulan di provinsi Bali, yang meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan pembelajaran. Teori yang digunakan untuk mengkaji masalah tersebut adalah teori belajar kognitif, dan standar proses dalam standar nasional pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kualitatif. Cara pengambilan data dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan standar proses dalam pembelajaran kimia belum berjalan optimal pada semua aspek. Proses perencanaan pembelajaran berjalan dengan baik yang diawali dengan sosialisasi program oleh kepala sekolah, workshop, bimbingan teknis, diskusi antar guru mata pelajaran, dan penyusunan perangkat pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran belum berjalan optimal, ada guru yang mengajar tidak berdasarkan RPP, tetapi menggunakan buku teks. Pembelajaran menekankan pada latihan soal dan minim dalam pelaksanaan praktikum. Penilaian hasil belajar lebih mengutamakan ranah kognitif daripada afektif, dan psikomotorik. Pengawasan pembelajaran belum berjalan optimal, pengawasan internal berjalan cukup baik, namun sebaliknya pengawasan eksternal belum optimal
PENGELOLAAN LABORATORIUM KIMIA DENGAN KEARIFAN LOKAL TRI SAKTI Wiratma, I Gusti Lanang
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laboratorium merupakan jantung dari kegiatan pembelajaran sains, khususnya pembelajaran kimia, karena laboratorium merupakan tempat untuk melihat, mencoba, menguji, menilai konsep-konsep sains yang dipelajari hingga siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sains. Persoalan yang paling mengemuka dalam pembelajaran di laboratorium adalah masalah kualitas pengelolaan laboratorium. World Health Organization (WHO) menyatakan ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan laboratoriun, antara lain: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Pada dasarnya, pengelolaan laboratorium terdiri atas tiga kegiatan pokok, yaitu pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan alat dan bahan laboratorium. Ketiga kegiatan pokok tersebut sesungguhnya belum lengkap. Salah satu kegiatan yang belum tampak adalah kegiatan pemusnahan alat atau bahan yang sudah rusak.Salah satu nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali yang digunakan sebagai dasar pengaturan keseimbangan dan keharmonisan alam adalah konsep Trisakti. Trisakti adalah fungsi kekuatan Tuhan untuk mengatur keseimbangan alam yang terdiri atas tiga kekuatan, yaitu kekuatan mencipta atau mengadakan yang dikenal dengan utpti, kekuatan memelihara atau menjaga yang dikenal dengan stiti, dan kekuatan memusnahkan atau melenyapkan yang dikenal dengan pralina (Soeka, 1986).Trisakti merupakan konsep pengelolaan alam secara seimbang antara pengadaan, pemeliharaan dan penggunaan, serta pemusnahan hal-hal yang sudah tidak berguna. Konsep pengelolaan yang disebutkan di atas, sangat relevan digunakan dalam pengelolaan laboratorium kimia di SMA. Kegiatan pengelolaan laboratorium kimia di SMA berdasarkan beberapa penelitian ternyata menekankan pada proses pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, tanpa memikirkan tentang pemusnahan alat dan bahan yang sudah rusak (Wiratma, 2013. Laksmi, 2014). Dengan kondisi itu, mengakibatkan keadaan laboratorium kurang nyaman dan berbahaya bagi lingkungan, dan keselamatan kerja. Pengelolaan laboratorium kimia dengan konsep manajemen Tri Sakti, senantiasa menyeimbangkan antara pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta pemusnahan, yang bermuara menuju keharmonisan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, konsep manajemen Tri Sakti sangat tepat dipakai landasan filosofi mengelola laboratorium kimia di SMA.Kata-kata kunci: pengelolaan, laboratorium kimia, kearifan lokal, tri saktiAbstract: Laboratory is the heart of science learning activities, in particular chemistry learning, because lab is a place to see, try, test, assess science concept learned by the students gain a better understanding of science. The most prominent issue in the problem of learning in the laboratory is a laboratory quality management.World Health Organization (WHO) states there are a lot of factors that affect the quality of laboratory management, among others: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Basically, the management of the laboratory consists of three main activities, namely procurement, use, and maintenance of laboratory equipment and materials. All three of the main activities is not complete. One activity that has not seemed to be an activity culling tool or material that is damaged.One of the local genius in Bali are used as the basis for setting the balance and harmony of nature is the concept of Trisakti. Trisakti is a function of the power of God to set the natural balance of three powers, namely the power to create or conduct that is known to utpti, preserve or maintain strength, known as stiti, and destroy or eliminate the force known as pralina (Soeka, 1986).Trisakti is the management concept of natural balance between procurement, maintenance and use, and disposal of things that are not useful. Management concepts mentioned above, it is relevant to be used in the chemical laboratory management of high school. Chemical laboratory management activities in high school based on some research it turns out emphasis on the procurement process, utilization and maintenance, without thinking about the destruction of equipment and materials that have been damaged (Wiratma, 2013, Laksmi, 2014). With these conditions, resulting in less comfortable circumstanceslaboratories and dangerous to the environment, and safety. Chemical laboratory management with the Tri Sakti concept, always balancing between procurement, use and maintenance, and destruction, which leads to harmony and sustainability. Therefore, very precise Trisakti concept wear foundation philosophy of managing chemical laboratory in high school.Keywords: management, chemicals laboratory, local genius, tri sakti
MITIGASI BENCANA ALAM GEMPA BUMI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI Subagia, I Wayan; Lanang Wiratma, I Gusti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2012: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan: 1) pengetahuan masyarakat Bali tentang bencana alam gempa bumi, 2) pengalaman masyarakat Bali dalam menghadapi bencana alam gempa bumi, dan 3) pengetahuan dan pengalaman masyarakat Bali dalam mitigasi bencana alam gempa bumi. Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah metode kualitatif yang difokuskan pada penggalian informasi tentang pengetahuan dan pengalaman masyarakat Bali dalam menghadapi bencana alam gempa bumi. Penelitian ini dilakukan di dua tempat, yaitu di Desa Culik Kabupaten Karangasem dan Desa Pengastulan Kabupaten Buleleng Provinsi Bali. Dalam penelitian ini dilibatkan 10 orang sebagai informan. Mereka ditentukan dengan cara snow ball dan disertai dengan kesediaan mereka terlibat dalam penelitian ini. Seluruh informasi dikumpulkan melalui wawancara dan kajian pustaka relevan serta dianalisis secara deskriptif interpretatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Masyarakat bali tidak memiliki pengetahuan memadai tentang bencana alam gempa bumi. Secara tradisional, gempa bumi dinyatakan disebabkan oleh ular besar (naga) yang bergerak di dalam bumi. Secara modern, gempa bumi dinyatakan disebabkan oleh pergeseran lapisan bumi. 2) Masyarakat bali memiliki pengalaman yang beragam dalam menghadapi bencana alam gempa bumi, antara lain: lari begegas ke luar rumah, masuk ke kolong tempat tidur atau kolong meja, berangkulan satu sama lain, berteriak linuh, linuh, linuh, dan hidup, hidup, hidup. 3) Masyarakat Bali memiliki beberapa cara untuk mitigasi bencana alam gempa bumi yang dilakukan secara spontan turun menurun. Cara-cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: mencari perlindungan, memberitahukan orang lain, meyampaikan keadaan diri sendiri, dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA MELALUI PEMBELAJARAN DAN PEMBUDAYAAN Lanang Wiratma, I Gusti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang melibatkan para pemimpin bangsa, disebabkan karena tidak seimbangnya kecerdasan yang dimiliki. Kecerdasan intelektual yang dimiliki cukup tinggi namun kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual, belum seimbang untuk menjadi manusia cerdas berkarakter. Gejala rontoknya karakter bangsa dan karakter kemanusiaan sangat banyak terjadi di republik ini. Perkelahian antar kelompok masyarakat, tawuran pelajar, tawuran antar mahasiswa dalam satu universitas banyak menghiasi berita di televisi. Menteri pendidikan nasional menekankan pentingnya pendidikan berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya. Karakter yang ingin dibangun bukan hanya berbasis pada kemuliaan diri semata, melainkan pada kemuliaan sebagai bangsa. Kebijakan yang ditempuh dengan memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah.  Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri manusia melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan yang dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia, menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam sistem daya juang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku manusia. Pembangunan dan pengembangan karakter dapat ditempuh melalui pembelajaran dan pembudayaan. Strategi yang ditempuh melalui proses pembiasaan melakukan hal-hal yang beretika, empati, berbagi, peduli dan kasih kepada sesama dan lingkungan. Pembudayaan pembangunan karakter mesti didukung oleh lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan keteladanan para pemimpin
PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA MELALUI PEMBELAJARAN DAN PEMBUDAYAAN I Gusti Lanang Wiratma
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang melibatkan para pemimpin bangsa, disebabkan karena tidak seimbangnya kecerdasan yang dimiliki. Kecerdasan intelektual yang dimiliki cukup tinggi namun kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual, belum seimbang untuk menjadi manusia cerdas berkarakter. Gejala rontoknya karakter bangsa dan karakter kemanusiaan sangat banyak terjadi di republik ini. Perkelahian antar kelompok masyarakat, tawuran pelajar, tawuran antar mahasiswa dalam satu universitas banyak menghiasi berita di televisi. Menteri pendidikan nasional menekankan pentingnya pendidikan berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya. Karakter yang ingin dibangun bukan hanya berbasis pada kemuliaan diri semata, melainkan pada kemuliaan sebagai bangsa. Kebijakan yang ditempuh dengan memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah.  Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri manusia melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan yang dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia, menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam sistem daya juang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku manusia. Pembangunan dan pengembangan karakter dapat ditempuh melalui pembelajaran dan pembudayaan. Strategi yang ditempuh melalui proses pembiasaan melakukan hal-hal yang beretika, empati, berbagi, peduli dan kasih kepada sesama dan lingkungan. Pembudayaan pembangunan karakter mesti didukung oleh lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan keteladanan para pemimpin
POTRET PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KIMIA PADA SMAN UNGGULAN DI PROVINSI BALI I Gusti Lanang Wiratma
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2013: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk membedah pengelolaan pembelajaran kimia pada SMAN unggulan di provinsi Bali, yang meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan pembelajaran. Teori yang digunakan untuk mengkaji masalah tersebut adalah teori belajar kognitif, dan standar proses dalam standar nasional pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kualitatif. Cara pengambilan data dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan standar proses dalam pembelajaran kimia belum berjalan optimal pada semua aspek. Proses perencanaan pembelajaran berjalan dengan baik yang diawali dengan sosialisasi program oleh kepala sekolah, workshop, bimbingan teknis, diskusi antar guru mata pelajaran, dan penyusunan perangkat pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran belum berjalan optimal, ada guru yang mengajar tidak berdasarkan RPP, tetapi menggunakan buku teks. Pembelajaran menekankan pada latihan soal dan minim dalam pelaksanaan praktikum. Penilaian hasil belajar lebih mengutamakan ranah kognitif daripada afektif, dan psikomotorik. Pengawasan pembelajaran belum berjalan optimal, pengawasan internal berjalan cukup baik, namun sebaliknya pengawasan eksternal belum optimal
MITIGASI BENCANA ALAM GEMPA BUMI BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI I Wayan Subagia; I Gusti Lanang Wiratma
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2012: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merumuskan: 1) pengetahuan masyarakat Bali tentang bencana alam gempa bumi, 2) pengalaman masyarakat Bali dalam menghadapi bencana alam gempa bumi, dan 3) pengetahuan dan pengalaman masyarakat Bali dalam mitigasi bencana alam gempa bumi. Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah metode kualitatif yang difokuskan pada penggalian informasi tentang pengetahuan dan pengalaman masyarakat Bali dalam menghadapi bencana alam gempa bumi. Penelitian ini dilakukan di dua tempat, yaitu di Desa Culik Kabupaten Karangasem dan Desa Pengastulan Kabupaten Buleleng Provinsi Bali. Dalam penelitian ini dilibatkan 10 orang sebagai informan. Mereka ditentukan dengan cara snow ball dan disertai dengan kesediaan mereka terlibat dalam penelitian ini. Seluruh informasi dikumpulkan melalui wawancara dan kajian pustaka relevan serta dianalisis secara deskriptif interpretatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Masyarakat bali tidak memiliki pengetahuan memadai tentang bencana alam gempa bumi. Secara tradisional, gempa bumi dinyatakan disebabkan oleh ular besar (naga) yang bergerak di dalam bumi. Secara modern, gempa bumi dinyatakan disebabkan oleh pergeseran lapisan bumi. 2) Masyarakat bali memiliki pengalaman yang beragam dalam menghadapi bencana alam gempa bumi, antara lain: lari begegas ke luar rumah, masuk ke kolong tempat tidur atau kolong meja, berangkulan satu sama lain, berteriak linuh, linuh, linuh, dan hidup, hidup, hidup. 3) Masyarakat Bali memiliki beberapa cara untuk mitigasi bencana alam gempa bumi yang dilakukan secara spontan turun menurun. Cara-cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: mencari perlindungan, memberitahukan orang lain, meyampaikan keadaan diri sendiri, dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
PENGELOLAAN LABORATORIUM KIMIA DENGAN KEARIFAN LOKAL TRI SAKTI I Gusti Lanang Wiratma
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laboratorium merupakan jantung dari kegiatan pembelajaran sains, khususnya pembelajaran kimia, karena laboratorium merupakan tempat untuk melihat, mencoba, menguji, menilai konsep-konsep sains yang dipelajari hingga siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sains. Persoalan yang paling mengemuka dalam pembelajaran di laboratorium adalah masalah kualitas pengelolaan laboratorium. World Health Organization (WHO) menyatakan ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan laboratoriun, antara lain: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Pada dasarnya, pengelolaan laboratorium terdiri atas tiga kegiatan pokok, yaitu pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan alat dan bahan laboratorium. Ketiga kegiatan pokok tersebut sesungguhnya belum lengkap. Salah satu kegiatan yang belum tampak adalah kegiatan pemusnahan alat atau bahan yang sudah rusak.Salah satu nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali yang digunakan sebagai dasar pengaturan keseimbangan dan keharmonisan alam adalah konsep Trisakti. Trisakti adalah fungsi kekuatan Tuhan untuk mengatur keseimbangan alam yang terdiri atas tiga kekuatan, yaitu kekuatan mencipta atau mengadakan yang dikenal dengan utpti, kekuatan memelihara atau menjaga yang dikenal dengan stiti, dan kekuatan memusnahkan atau melenyapkan yang dikenal dengan pralina (Soeka, 1986).Trisakti merupakan konsep pengelolaan alam secara seimbang antara pengadaan, pemeliharaan dan penggunaan, serta pemusnahan hal-hal yang sudah tidak berguna. Konsep pengelolaan yang disebutkan di atas, sangat relevan digunakan dalam pengelolaan laboratorium kimia di SMA. Kegiatan pengelolaan laboratorium kimia di SMA berdasarkan beberapa penelitian ternyata menekankan pada proses pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, tanpa memikirkan tentang pemusnahan alat dan bahan yang sudah rusak (Wiratma, 2013. Laksmi, 2014). Dengan kondisi itu, mengakibatkan keadaan laboratorium kurang nyaman dan berbahaya bagi lingkungan, dan keselamatan kerja. Pengelolaan laboratorium kimia dengan konsep manajemen Tri Sakti, senantiasa menyeimbangkan antara pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta pemusnahan, yang bermuara menuju keharmonisan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, konsep manajemen Tri Sakti sangat tepat dipakai landasan filosofi mengelola laboratorium kimia di SMA.Kata-kata kunci: pengelolaan, laboratorium kimia, kearifan lokal, tri saktiAbstract: Laboratory is the heart of science learning activities, in particular chemistry learning, because lab is a place to see, try, test, assess science concept learned by the students gain a better understanding of science. The most prominent issue in the problem of learning in the laboratory is a laboratory quality management.World Health Organization (WHO) states there are a lot of factors that affect the quality of laboratory management, among others: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Basically, the management of the laboratory consists of three main activities, namely procurement, use, and maintenance of laboratory equipment and materials. All three of the main activities is not complete. One activity that has not seemed to be an activity culling tool or material that is damaged.One of the local genius in Bali are used as the basis for setting the balance and harmony of nature is the concept of Trisakti. Trisakti is a function of the power of God to set the natural balance of three powers, namely the power to create or conduct that is known to utpti, preserve or maintain strength, known as stiti, and destroy or eliminate the force known as pralina (Soeka, 1986).Trisakti is the management concept of natural balance between procurement, maintenance and use, and disposal of things that are not useful. Management concepts mentioned above, it is relevant to be used in the chemical laboratory management of high school. Chemical laboratory management activities in high school based on some research it turns out emphasis on the procurement process, utilization and maintenance, without thinking about the destruction of equipment and materials that have been damaged (Wiratma, 2013, Laksmi, 2014). With these conditions, resulting in less comfortable circumstanceslaboratories and dangerous to the environment, and safety. Chemical laboratory management with the Tri Sakti concept, always balancing between procurement, use and maintenance, and destruction, which leads to harmony and sustainability. Therefore, very precise Trisakti concept wear foundation philosophy of managing chemical laboratory in high school.Keywords: management, chemicals laboratory, local genius, tri sakti
Uji Kepraktisan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Pendekatan Saintifik I G L Wiratma; Ni Made Sih Widyasti; I Wayan Muderawan
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol. 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan dan menjelaskan kepraktisan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis pendekatan saintifik untuk pembelajaran kimia pokok bahasan kesetimbangan kimia. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan tahapan penelitian yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data; (2) desain produk; (3) validasi desain; (4) revisi desain; (5) uji coba lapangan terbatas; dan (6) revisi produk. LKS yang dikembangkan terdiri dari lima sub topik bahasan. Validasi isi pada LKS dilakukan dengan melibatkan dua orang ahli dan dua orang praktisi. Validasi bahasa pada LKS dilakukan dengan melibatkan satu orang ahli bahasa. Uji coba lapangan terbatas melibatkan 9 siswa kelas XI SMAN 1 Kuta Selatan. Karakteristik LKS berbasis pendekatan saintifik untuk pembelajaran kimia pokok bahasan kesetimbangan kimia yaitu, LKS terdiri dari langkah pembelajaran 5M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas diperoleh respon positif siswa terhadap pembelajaran dengan LKS terhadap keterlaksanaan dengan kategori sangat tinggi.Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, pendekatan saintifik, pembelajaran kimia, kesetimbangan kimia.