Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

"Ruang Refleksi”: Insight dari Program Pendampingan Sebaya Daring di Masa Pandemi COVID-19 Muhiddin, Syurawasti; Yudistikhar, Afga; Idham, Azmul Fuady; Massinai, Sitti Muthia Maghfirah; Mustamin, Syarifa Nadhrah; Wodong, Griselda Maria Ancela
INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Vol 6 No 2 (2021): INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpkm.V6I22021.90-105

Abstract

Laporan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan Ruang Refleksi Online (RRO), sebuah program pendampingan sebaya yang diselenggarakan oleh Halo Jiwa Indonesia yang menyasar remaja dan dewasa muda, khususnya di masa pandemi Coronavirus Disease-19 (COVID-19). Melalui program ini, prinsip konseling sebaya daring dan Psychological First Aid (PFA) berupaya dipadukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecenderungan persoalan yang dialami partisipan tergolong masalah personal, khususnya manajemen diri dan kecemasan. Terkait dengan efek pendampingan, partisipan melaporkan perasaan positif, seperti kelegaan dan perasaan senang. Mayoritas partisipan juga memberikan penilaian memuaskan terhadap RRO, yang mana pelayanannya dinilai dapat membantu mereduksi stres yang dirasakan. Hasil dari laporan ini juga menyajikan sejumlah kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dari program RRO yang dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan program serupa yang menggunakan prinsip pendampingan sebaya, pertolongan pertama psikologis, dan pelayanan psikologis daring yang potensial di masa yang akan datang seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
#WMHD Talks: Analyses of Mental Health Conversations Among Indonesian Community on Twitter Muhiddin, Syurawasti; Wodong, Griselda Maria Ancela; Yudistikhar, Afga; Idham, Azmul Fuady; Vanessa, Audrey Alya; Soharto, Patricia Cecilia
Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/gamajop.81922

Abstract

One of the right moments to comprehend people’s understanding of mental health topics is through World Mental Health Day (WMHD). This study aimed to explore themes related to mental health that are the conversation topics on Twitter as social reactions to WMHD 2021. We collected and analyzed Indonesian tweets that contained #WMHD or Mental Health keywords. From October 1 to 23, 2021, a total of 12,500 tweets were collected utilizing tweepy and request, a python programming-based library. Data cleaning processes left 7,126 tweets to be further analyzed with inductive thematic analysis. This study found seven themes from the most to the least frequently discussed, namely (1) positive mental health, (2) social network and social capital, (3) mental health literacy, (4) stressful events, (5) material economic well-being, (6) mental illness and (7) physical wellbeing. This research showed that social media has the capacity to investigate users’ knowledge and perception which might then serve as the foundation for providing relevant mental health education on various platforms to support the improvement of community well-being. Furthermore, knowing the topics of mental health-related conversations on twitter can be a precursor to the development of a measurement tool related to mental health understanding.
Fenomena Kekerasan Emosional Antara Nelongso dan Harapan? Yudistikhar, Afga; Setiaji, Anggoro Danang; Zulaifah, Emi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 10, No 3 (2022): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v10i3.8296

Abstract

Youth violence in the family is still rampant. This phenomenon is detrimental in the long term to the personal development of adolescents, because of its impact on the emotional aspect. Meanwhile, authority figures in the family do not realize that certain treatments are classified as emotional abuse. This study uses a qualitative approach, with a descriptive study. The research participants were three teenagers, namely two girls and one boy. The three participants are domiciled in the Province of the Special Region of Yogyakarta and are currently experiencing violence from particularly family authority figures. The data collection process was carried out by semi-structured interviews and observations. The results of the study found that emotional abuse can occur in the form of physical, verbal, threats, coercion, and excessive demands. However, in essence, this treatment has implications for emotional aspects (fear and indications of anxiety), which then have an impact on cognitive and avoidance behavior. To overcome these emotional problems, participants perform coping mechanisms through useful activities, which including aspects of affiliation, organization, hobbies, and religious activities (prayer, dhikr, and reading the Qur'an). On the other hand, these coping broadens the participants' horizons in viewing violent events, so that a more positive perception is obtained. In the end, participants indicated the direction of development towards resilience. Kekerasan remaja dalam keluarga masih marak terjadi. Fenomena ini merugikan secara jangka panjang bagi perkembangan diri-pribadi remaja, karena dampaknya yang memengaruhi aspek emosional. Sementara itu, figur otoritas dalam keluarga, tidak menyadari bahwa perlakuan tertentu tergolong kekerasan emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan studi deskriptif. Partisipan penelitian merupakan tiga remaja, yaitu dua remaja perempuan dan satu remaja laki-laki. Ketiga partisipan berdomisili di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan tengah mengalami kekerasan dari khususnya figur otoritas keluarga. Proses pengambilan data dilakukan dengan interview semi-terstruktur dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa kekerasan emosional dapat terjadi dalam bentuk fisik, verbal, ancaman, pemaksaan kehendak, serta tuntutan yang berlebihan. Namun, pada intinya, perlakuan tersebut berimplikasi terhadap aspek emosi (ketakutan dan indikasi kecemasan), yang kemudian berdampak pada kognitif dan adanya perilaku menghindar. Untuk mengatasi masalah emosi tersebut, partisipan melakukan mekanisme koping melalui kegiatan bermanfaat, yang meliputi aspek afiliasi, organisasi, hobi, dan aktivitas religius (salat, berzikir, dan membaca Al-Qur’an). Di sisi lain, koping tersebut memperluas cakrawala partisipan dalam memandang peristiwa kekerasan, sehingga diperoleh persepsi yang lebih positif. Pada akhirnya, partisipan menunjukkan arah perkembangan menuju resiliensi.