Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Urgensi mata kuliah literasi informasi sebagai mata kuliah wajib universitas di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Hasnah, Yetti; Mardiyanto, Verry; Silvia, Sinta; Pertiwi, Ade Helmalia
Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. 13 No. 1: Juni 2025
Publisher : S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam FTK UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/pk.v13i1.16326

Abstract

Hasil riset ini menjelaskan mengenai tingkat urgensi mata kuliah literasi informasi sebagai mata kuliah wajib universitas di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Metode penelitian ini menggunakan metode campuran atau mix method, gabungan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif secara deskriptif. Secara singkat, teknis penelitian ini yaitu dengan menyebarkan kuisioner dan dilanjut dengan wawancara secara sampel kepada narasumber yaitu dosen dan mahasiswa serta studi banding terhadap universitas yang sudah menyelenggarakan mata kuliah literasi informasi ini sebagai MKDU atau mata kuliah wajib. Program literasi informasi menjadi salah satu cara untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan praktiknya kepada masyarakat dalam memahami sebuah informasi. Literasi informasi menjadi sangat penting bagi mahasiswa karena mahasiswa dapat memiliki kemampuan mencari, menemukan, menggunakan dan mengevaluasi informasi yang didapatkannya, lalu mahasiswa dapat mengolah informasi tersebut untuk dapat mempunyai nilai guna atau dapat mengukur nilai keabsahan suatu informasi. Literasi informasi ini juga ditambahkan akan pengenalan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam penggunaan software atau aplikasi penelusuran informasi. Penelitian ini menegaskan bahwa menjadikan literasi informasi sebagai mata kuliah wajib di perguruan tinggi, seperti yang telah dipertimbangkan untuk diterapkan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, adalah langkah yang krusial dan berpotensi memberikan dampak positif yang signifikan. Mata kuliah ini tidak hanya meningkatkan keterampilan pencarian dan evaluasi informasi mahasiswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi pemikir kritis, penulis yang terampil, dan umumnya menjadi masyarakat yang beretika di era digital.
Pendirian Taman Baca Masyarakat sebagai Upaya Awal Memberikan Semangat Membaca di Desa Cipayung Silvia, Sinta; Humaeroh, Humaeroh; Mardiyanto, Verry; Handayani, Fitri
Altifani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/altifani.v5i2.6242

Abstract

Tingkat literasi indonesia yang masih rendah, terutama di wilayah pedesaan dengan minimnya bahan bacaan, mendorong dilakukannya pengabdian ini. Tujuan utama kegiatan ini adalah mendiirkan Taman Baca Masyarakat (TBM) sebagai upaya yang simetris untuk menumbuhkan motivasi dan kebiasan membaca bagi anak-anak Sekolah Dasar dan masyarakat Desa Cipayung. Metode yang di gunakan adalah Kuliah Kerja Nyata (kukerta) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), di mana mahasiswa dan masyarakat berkolaborasi aktif dalam penyiapan fasilitas TBM selama kurang lebih tiga minggu. Proses ini mencakup observasi awal, penentuan lokasi di bangunan tak terpakai, pengadaan donasi buku, hingga penyiapan fisik ruang TBM dengan gotong royong, seperti pengecatan dan pembuatan rak buku dari barang bekas. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa TBM berhasil didirikan dan diresmikan sebagai pusat kegiatan non-formal dan sosial. Keberhasilan ini ditandai dengan tingginya kolaborasi dan gotong royong masyarakat dalam penyiapan fisik TBM. Antusiasme terlihat dari partisipasi lebih dari 40 orang dalam acara peresmian. Kesimpulan, TBM mampu menjadi katalisator perubahan budaya, memberdayakan masyarakat melalui literasi, dan menumbuhkan semangat membaca
Community Resources and Capacity for Vector Control: Analyzing the Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) Gap in Dengue Prevention Readiness Milanitalia Gadys Rosandy; Candradikusuma, Didi; Sutanto, Heri; Indiastari, Dewi; Budiarti, Niniek; Silvia, Sinta
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 14 No. SI1 (2026): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V14.ISI1.2026.145-156

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is still a significant burden to global public health. Successful prevention is a function of community capacity, including locus of control (internal belief in one’s ability) and collective potential to implement prevention. Objectives: The objective of this research was to measure K, A and P with a specific emphasis on examining the degree to which these mentored K, A and P align with community sense-making (meaning), constructed capacity (function), and perceived controllability for making useable space free from vectors. Methods: A cross-sectional design was used, with 102 respondents (mainly women, productive age group and primary education level). Descriptive statistics, Chi-Square test for bivariate analysis and Multivariate Logistic Regression were used to determine independent predictors. Results: A noticeable gap between the KAP was determined. Although the proportion of respondents with favorable attitudes is high (66.7%), that of preventive practices was low (54.9% poor score). There was marginal knowledge (45.1% poor) with a high proportion of critical misconceptions (80.4% incorrect response to key transmission point). On multivariate analysis, significantly associated with good knowledge were education (Junior High vs Primary School) (OR=4.1, p=0.015) and middle income for favorable attitudes (OR=2.9, p=0.041). Notably, neither demographic variable (age, gender, education nor income) showed association with good preventive practice. Conclusion: The poor practice indicates a lack in the ability of DHF preventive activities, i.e. the capacity and collective control despite of high motivation (attitude). That practice was not also predicted by demographics implies that barriers are structural and environmental. Hence, interventions will need to move away from knowledge-based approaches to community mobilization for control and resource movement towards dismantling structural drivers for closing the attitude-practice gap.
Building Social Coherence and Health Literacy: A Salutogenic Perspective on HIV Knowledge and Stigma in Cultural Tourism Communities Indiastari, Dewi; Candradikusuma, Didi; Rosandy, Milanitalia Gadys; Budiarti, Niniek; Sutanto, Heri; Silvia, Sinta
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 14 No. SI1 (2026): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V14.ISI1.2026.131-144

Abstract

Background: HIV prevention in rural communities like Ngadas Village (Mount Bromo) faces two major challenges: stigma driven by misconceptions and the need for social resilience amid rapid social and economic transitions influenced by tourism. Limited access to health information and education increases the risk of myths, discrimination, and a poor sense of coherence. This salutogenic study explores how community coherence and cultural strength can serve as resources to reduce HIV stigma and promote resilience. Objective: This study aims to evaluate the level of HIV knowledge and stigma among residents of Ngadas Village and identify factors influencing them. Methods: A cross-sectional quantitative design was used, involving 102 residents who completed a structured questionnaire covering demographics, HIV knowledge, stigma, and attitudes. Data analysis employed chi-square tests and logistic regression (p<0.05) to determine significant predictors. Results: Most respondents (90.2%) were female, with 66.7% having primary education. Although 66.7% demonstrated good general knowledge, a significant gap in health literacy existed—94% misunderstood HIV transmission, wrongly believing it spread through sharing meals or cutlery. This misconception contributed to high stigma levels, with 49% exhibiting poor or high stigma. Higher education (Junior High OR: 10.9; Senior High OR: 7.4) and middle income (OR: 3.4) significantly predicted lower stigma. A more positive attitude was also associated with middle income (OR: 5.4). Conclusion: Misconceptions about casual HIV transmission are the primary source of stigma and barriers to social coherence. Targeted health literacy interventions, combined with economic empowerment and improved access to education, are essential to strengthen community resilience and reduce HIV-related stigma.