Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BIOPROSPECT OF BACTERIAL FIBRINOLYTIC PROTEASE FROM BEKASAM OF LONGTAIL TUNA AS ANTITHROMBOTIC AGENT: LITERATURE REVIEW AND BIBLIOGRAPHY STUDY Trianes, Juwy; Ethica, Stalis N.; Afriansyah, M. Ardi; Darmawati, Sri; Rahmani, Nanik; Zilda, Dewi S.
Quality : Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Quality : Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v18i2.2016

Abstract

Introduction:Cardiovascular disease (CVD) is the leading cause of death worldwide, with thrombosis being a significant risk factor. Fibrinolytic proteases have potential as antithrombotic agents and could be developed into CVD drugs. Indonesia's traditional fermented products, such as fish Bekasam, are rich in microorganisms, including fibrinolytic protease-producing bacteria, yet their potential for CVD treatment is underexplored. Fish paste in Indonesia serves as a protein source and a reservoir of bacterial diversity, which could aid in discovering new antithrombotic agents. Objective: This literature review examines research trends over the past decade on fibrinolytic protease-producing bacteria in traditional fermented products, with a focus on Bekasam made from Longtail Tuna. This fermented food is an alternative source for obtaining bacteria with antithrombotic properties. Methods: Data for this review were sourced from Google Scholar, PubMed, and the dimension.ai database, using the keyword "bacterial fibrinolytic protease" from 2015 to 2024. Visualization of global research trends was performed using VOS viewer software. Results: The review found a scarcity of studies on fibrinolytic proteases from Bekasam bacteria. Lactic acid bacteria involved in Bekasam fermentation possess proteolytic enzymes that degrade fish protein into peptides and amino acids, potentially offering antithrombotic properties. This suggests natural protease sources from traditional fermented foods have significant biomedical potential. Research on fibrinolytic protease-producing bacteria from Bekasam in Indonesia is limited and requires further development. Exploring these local fermented products could yield innovative sources for thrombosis treatment
THE ROLE OF KOMBUCHA IN HEALTH: BIBLIOMETRICS ANALYSIS Bastian, Bastian; Nurhidayanti, Nurhidayanti; Trianes, Juwy
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v17i2.2905

Abstract

Kombucha adalah minuman fermentasi yang secara tradisional dibuat dari teh hijau atau hitam menggunakan kultur simbiotik bakteri dan ragi (SCOBY). Minuman ini telah dikonsumsi secara luas di Asia Timur selama berabad-abad dan kini semakin menarik minat ilmiah global karena potensi manfaat kesehatannya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tren publikasi ilmiah tentang fermentasi kombucha dan aspek kesehatannya melalui pendekatan bibliometrik, guna mengidentifikasi titik panas penelitian dan celah yang perlu dieksplorasi di masa depan. Studi bibliometrik kuantitatif deskriptif dilakukan menggunakan basis data Google Scholar, PubMed, dan Scopus. Kata kunci “fermentasi kombucha” digunakan untuk mengidentifikasi artikel yang diterbitkan antara tahun 2016 dan 2025, menghasilkan 30 publikasi ilmiah. Tren publikasi dan jaringan ko-munculan kata kunci divisualisasikan dan dipetakan menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Analisis menunjukkan bahwa penelitian kombucha terutama berfokus pada kandungan probiotiknya, aktivitas antioksidan dan antimikroba, serta produksi senyawa bioaktif seperti polifenol dan asam glukuronat. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada efek pendukung kesehatan, termasuk detoksifikasi hati. Namun, hanya sebagian kecil (kurang dari 20%) dari publikasi yang ditinjau memberikan wawasan rinci tentang mekanisme molekuler atau studi in vivo. Meskipun fermentasi kombucha telah menunjukkan potensi biomedis yang signifikan, studi komprehensif tentang jalur biokimia spesifik, senyawa aktif, dan efek klinisnya masih terbatas, terutama di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Oleh karena itu, penelitian di masa depan perlu memperluas cakupan ke penyelidikan molekuler dan klinis untuk memaksimalkan peran kombucha sebagai terapi pendukung inovatif untuk penyakit degeneratif.
Potensi Zat Kumarin Pada Kacang Tonka Sebagai Antikoagulan Alternatif Pada Pemeriksaan Hematologi Rutin Bastian, Bastian; Desika Mela Amelia; Asteria, Viola; Salsabillah, Felisa; Trianes, Juwy
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 16 No 2 (2025): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v16i2.1850

Abstract

Koagulasi merupakan proses fisiologis yang berperan penting dalam menghentikan perdarahan, namun aktivitas yang berlebihan dapat memicu kondisi patologis seperti trombosis. Dalam pemeriksaan hematologi, penggunaan antikoagulan esensial untuk mencegah pembekuan darah sehingga hasil pemeriksaan tetap akurat. EDTA umum digunakan sebagai antikoagulan standar melalui mekanisme pengikatan ion kalsium. Seiring meningkatnya kebutuhan alternatif alami yang lebih ramah lingkungan, penelitian terhadap senyawa kumarin pada kacang Tonka (Dipteryx odorata), yang diketahui memiliki aktivitas antikoagulan mirip warfarin, menjadi menarik untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi ekstrak kacang Tonka sebagai antikoagulan alternatif pada pemeriksaan hematologi rutin. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang pada Juli–Oktober 2025 menggunakan desain eksperimental dengan tiga kelompok: kontrol tanpa antikoagulan, EDTA, dan ekstrak kacang Tonka dengan variasi konsentrasi. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak kacang Tonka 120 µL mampu mencegah pembekuan darah dalam 5 menit, sebanding dengan EDTA. Secara mikroskopis, morfologi eritrosit tetap normal tanpa aglutinasi. Pemeriksaan hematologi menunjukkan nilai WBC, RBC, HGB, HCT, dan PLTmendekati EDTA dengan selisih 2–8%. Uji Repeated ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna pada WBC (p < 0,05), sementara parameterlain relatif serupa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak kacang Tonka berpotensi sebagai antikoagulan alami, namun diperlukan optimasi konsentrasi dan uji lanjutan untuk standarisasi penggunaan dalam pemeriksaan hematologi rutin.
Differences in Diameter of the Growth Inhibition Zone of Klebsiella pneumonia Bacteria After Incubation at 37°C and 25°C Trianes, Juwy; Bastian, Bastian; Hartati, Dewi
JURNAL INDONESIA DARI ILMU LABORATORIUM MEDIS DAN TEKNOLOGI Vol 4 No 2 (2022): Enhanced knowledge of laboratory medicine's role in healthcare
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/ijmlst.v4i2.2919

Abstract

Pneumonia is an infection that causes the largest death in children worldwide (South Sumatra Province), which occupies the 6th position. One of the laboratory re-identification of Klebsiella pneumonia is a multi-antibiotic testing. The high sensitivity antibiotic that is still used is amikacin. The uniqueness of the diameter of the inhibition zone using the antibiotic amikacin is that it is active against most gram-negative bacilli. But one of the several factors that affect the diameter of the inhibition zone is the incubation temperature. The optimum temperature for pathogenic bacteria is 37oC by using an incubator; however, several factors in the use of instruments such as frequent instability and disruption of installation lead to a need of incubation at 25oC. The study aimed to determine the difference in the diameter of the growth inhibition zone of K. pneumoniae after incubation at 37oC and 25oC. This research is an experimental research conducted at the Microbiology Laboratory of IKesT Muhammadiyah Palembang. The sample is K. pneumoniae which will be subjected to gram staining, biochemical tests, followed by a sensitivity test on Mueller Hinton media which is given an amikacin antibiotic disk and incubated at 370C and 250C in order to calculate the diameter of the zone of inhibition for the growth of K. pneumoniae bacteria. The data was analyzed using the alternative Wilcoxon test which obtained a p value of 0.014. The results of this investigation showed that K. pneumoniae incubated at 37°C and 25°C had a significantly different diameter of the growth inhibition zone.