Rudy, Gusti Syeransyah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS KOMPOSISI PERMUDAAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS SUM OF DOMUNANCE RATIO (SDR3) DI HUTAN LINDUNG GUNUNG KERAMAIAN DESA UJUNG BATU KECAMATAN PELAIHARI KABUPATEN TANAH LAUT Rahadi, Muhammad Alwi; Rudy, Gusti Syeransyah; Peran, Setia Budi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.9290

Abstract

ABSTRACT. The problem that is often found in forests is the lack of research on species composition which of course will have an unfavorable impact, especially youth composition. Rejuvenation data analysis will be more accurate if you use the Sum of Dominance Ratio (SDR3) method with 3 parameters namely Frequency, Density and Height. This study aims to serve as a comparison and evaluation material for research that has been carried out previously in the protected forest area of Mount Keramaian regarding rejuvenation. The objects used are vegetation at the level of seedlings and saplings. The plot used was the grid path method with a size of 5 m × 150 m. Created as many as 2 lines drawn perpendicular to cut the contours of the mountain slopes to the top or vice versa. On the transect line, 15 observation plots were made. All samples included in the plot are recorded with the name of the species and the total height, then the observed data is calculated to find out the important value. There are 38 types of vegetation found at each growth stage, but not all types are present at each growth stage. The type that dominates the growth rate of the seedlings is mali-mali with a value of 79.68%. The species that dominates at the sapling level is mahang sapat with a value of 88.47%. The species diversity index in the Mount Keramaian protected forest was 2.731 seedlings and 2.699 saplings. The species evenness index in the Mount Keramaian protected forest was 0.820 seedlings and 0.759 saplings. ABSTRAK. Permasalahan yang sering terdapat pada hutan yaitu minimnya penelitian mengenai komposisi jenis yang tentunya akan berdampak kurang baik khususnya komposisi permudaan. Analisis data permudaan akan lebih akurat jika menggunakan metode Sum of Dominance Ratio (SDR3) dengan 3 parameter yaitu Frekuensi, Kerapatan dan Tinggi. Penelitian ini bertujuan sebagai bahan perbandingan dan bahan evaluasi penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya pada kawasan hutan lindung Gunung Keramaian mengenai permudaan. Objek yang digunakan yaitu vegetasi tingkat semai dan pancang. Plot yang digunakan dengan metode jalur berpetak dengan ukuran 5 m × 150 m. Dibuat sebanyak 2 jalur ditarik tegak lurus memotong kontur dari lereng gunung menuju puncak atau sebaliknya. Pada jalur transek dibuat 15 petak pengamatan. Semua sampel yang termasuk dalam plot di catat nama jenis serta tinggi total kemudian dilakukan perhitungan data hasil pengamatan untuk mengetahui nilai penting. Terdapat 38 jenis vegetasi yang ditemukan pada setiap tingkat pertumbuhan, namun tidak semua jenis hadir pada setiap tingkat pertumbuhan. Jenis yang mendominansi pada tingkat pertumbuhan semai yaitu mali-mali dengan nilai 79,68%. Jenis yang mendominansi pada tingkatan pancang yaitu jenis mahang sapat dengan nilai 88,47%. Indeks keanekaragaman jenis di hutan lindung gunung Keramaian yaitu semai 2,731 dan pancang 2,699.Indeks kemerataan jenis di hutan lindung gunung Keramaian yaitu semai 0,820 dan pancang sebesar 0,759.
KOMUNITAS ANTAR TUMBUHANAN OBAT DI DAERAH TEPIAN SUNGAI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS MANDIANGIN Taufik, Muhammad Rafiyadi; Peran, Setya Budi; Rudy, Gusti Syeransyah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.10919

Abstract

Tumbuhan obat merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang disediakan alam yang dipercayai dan diketahui masyarakat berkhasiat sebagai obat, namun tumbuhan obat ini sering diabaikan karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi karena hanya berupa semak atau rerumputan dan tidak semua masyarakat mengetahui khasiat tumbuhan obat tersebut. Beberapa tumbuhan obat juga memiliki nilai ekonomi yang dimanfaatkan masyarakat guna peningkatan kesejahteraannya (Limbong et al., 2016). Bagian tumbuhan herba yang digunakan untuk obat-obatan adalah akar, umbi, batang, daun, pucuk, bunga, dan buah. Bagian tersebut ada yang dapat langsung digunakan sebagai obat dan ada pula yang harus melalui proses pengolahan (Sari, 2010). Metode penelitian ini dilakukan dengan membuat petak pengamatan tunggal di sepanjang tepi sungai dengan cara bertingkat yaitu (2m×2m), (5m×5m), (10m×10m) dan (20m×20m). Pada setiap tingkat petak pengukuran tersebut dicatat semua spesies tumbuhan yang ditemui mulai dari tingkat semai, pancang, tiang hingga tingkat pohon. Jumlah individu secara kumulatif dihitung untuk setiap spesies tumbuhan pada tiap strata tersebut. Khusus untuk tingkat pohon diukur pula diameter batang pohon setinggi dada dengan menggunakan pita diameter. Berdasarkan hasil identifikasi dan determinasi tumbuhan obat yang telah dilakukan di sepanjang tepi sungai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Mandiangin, menunujukkan jumlah jenis semai yang ditemukan pada tepi sungai sebanyak 11 jenis tumbuhan dengan 11 jenis nama ilmiah dan 8 famili. Dari tabel ini jika diambil 3 jenis dengan jumlah individu tertinggi secara berurutan maka yang pertama adalah Sampai ringan dengan 115 individu, lalu Pilak dengan 43 individu dan Paikat laki dengan 28 individu. Untuk jenis Rahwana dan Tampar badak memiliki jumlah yang sama yaitu ditemukan dengan jumlah 2 individu, sedangkan jenis Kirinyuh hanya ditemukan dengan jumlah 1 individu saja. Jenis ini menjadi jumlah jenis individu yang terendah. Berdasar pada jumlah dan populasi tumbuhan bawah yang bermanfaat obat maka Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Mandiangin mempunyai potensi untuk dimanfaatkan terutama dari 4 spesies tumbuhan yang populasinya tinggi.
SEBARAN ANAKAN BENUANG (Octomeles sumatrana Miq.) DI KHDTK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Rizqi, Abil Wahyu; Rudy, Gusti Syeransyah; Naemah, Dina
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.18387

Abstract

Tegakan yang berkualitas bisa dicapai dengan menentukan pohon induk sebagai langkah pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pohon induk dan sebaran anakan Benuang (Octomeles sumatrana Miq.) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mandiangin. Penentuan pohon induk dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah 3 pohon untuk setiap jenisnya. Anakan pohon yang diamati merupakan anakan pohon yang tumbuh di sekitar pohon induk dan masih berada di bawah tajuk pohon induk. Data yang diambil pada peneltian ini terdiri dari pohon induk dan anakannya dengan beberapa parameter, seperti diameter, tinggi bebas cabang, tinggi total, lebar tajuk, jumlah anakan, jarak anakan dari pohon induk. Sebaran pohon induk benuang di KHDTK ULM ada 3 pohon yang. Sebaran rata-rata pohon induk benuang (O. sumatrana Miq.) diameter 112 cm, tinggi total 26 m, tinggi bebas cabang 15 m, dan lebar tajuk 11 m. Sebaran anakan dari pohon Benuang (O. sumatrana Miq.) memiliki rata rata anakan berjumlah 68 anakan.