Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Mitologi Bulus (Labi-Labi) dalam Film Setan Jawa Karya Garin Nugroho Pangestu, Jangkung Putra; Purwanto, Tambak Sihno
Jurnal MAVIB Vol 6 No 1 (2025): MAVIB Journal - Februari 2025
Publisher : Universitas Raharja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33050/mavib.v6i1.3232

Abstract

Film Setan Jawa mengisahkan tentang pesugihan kandang bubrah yang disimbolkan dengan bulus (Labi-labi) sebagai setan pemberi pesugihan. Selain sebagai simbol pesugihan, mitologi bulus sudah lama muncul dalam peradaban Jawa. Artikel ini bertujuan menganalisis mitologi bulus dalam Film Setan jawa, kemudian membandingkan dengan mitologi bulus pada masyarakat Jawa dari masa ke masa. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskriptif komparatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Hasilnya, mitologi bulus di Masyarakat Jawa mengalami perubahan makna. Pada masa klasik bulus dianggap sebagai jelmaan dewa, pada masa Islam bulus mengalami variasi makna tergantung wilayah kebudayaannya. Di wilayah dengan pengaruh Islam yang kuat bulus dianggap sebagai hewan suci, namun pada wilayah dengan pengaruh Islam yang lemah mitologi bulus dimaknai sebagai hewan mistik yang memiliki kekuatan magis. Film Setan Jawa menggambarkan mitologi bulus (Labi-labi) pada masa Islam Modern yaitu sebagai hewan ghaib pemberi kekayaan kepada pemujanya.
Production Management Of “Panji Semirang” At Asean Panji Festival 2023 In Yogyakarta Riqullah, Muhammad Raka; Agustina, Arinta; Pangestu, Jangkung Putra
TUMATA: Journal of Cultural and Arts Management Vol 2, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tumata.v2i2.13381

Abstract

ASEAN Panji Festival 2023 is an international festival involving countries in Southeast Asia. The story of Panji Semirang was the play chosen in the festival. The aim of this festival is to practice good things and provide a bridge to the community about the Panji story through several programs that are run. This research aims to determine the production management process carried out during the implementation of "Panji Semirang" at the 2023 ASEAN Panji Festival in Yogyakarta. The research method used is a descriptive qualitative research method using George R. Terry's management function theory approach, namely planning, organizing, implementing and supervising. Data collection techniques were carried out using observation, interviews and documentation. The results of the research are production management through four planning stages: the selected story, determining the city of the show, the team that will be involved, characterization in the show. At the organizing stage: job description and communication flow. at the direction stage: training for dancers and musicians. At the supervision stage: there is a role for the core team to supervise the preparation of costs and the stage manager supervises when the show starts. Based on research, the production management process for the "Panji Semirang" performance at the 2023 ASEAN PANJI Festival in Yogyakarta is in accordance with George R. Terry's management function theory, in the implementation of its production.
Manajemen Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai Festival Seni Berbasis Desa Purwanto, Tambak Sihno; Pangestu, Jangkung Putra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12513

Abstract

Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KelompokSeni Bregada Lombok ijo yang berada di Padukuhan Tegalrejo, Srigading, Sanden, Bantul, DaerahIstimewa Yogyakarta. Namun, keterlibatan masyarakat masih dirasa sangat kurang. Rasa memilikimasyarakat terhadap upacara adat ini masih tergolong rendah. Ditambah lagi dengan minat generasi mudasemakin menurun. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengembangkan manajemenUpacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai festival seni berbasis desa. Metode yang digunakan adalahasset based community development (ABCD). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara.Hasil pengabdian, dengan penerapan metode ABCD dalam Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura,berhasil menemukan nilai penting kegiatan upacara adat ini, yaitu pelestarian budaya gotong-rotong danmakna cerita Jumudhuling Maesa Sura sebagai perwujudan harapan serta rasa syukur terhadap TuhanYang Maha Esa. Langkah strategis untuk melestarikannya adalah dengan menerapkan manajemen festivaldengan baik meliputi perencanaan, pengelolaan sumber daya, dan pengukuran risiko yang akan dialami.Dampaknya, pengelola memiliki kerangka kerja, pemanfaatan sumber daya, dan risiko lebih terukur.Pembagian kerja yang lebih merata memicu peningkatan rasa memiliki terhadap Upacara AdatJumudhuling Maesa Sura. Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony is an annual ritual carried out by Bregada Lombok IjoArt Group located in Padukuhan Tegalrejo, Srigading Village, Sanden, Bantul Regency, DIY. Even thoughthe event has been conducted since a long time, the community is not still thoroughly involved owing to thelack of their sense of belonging. Additionally, the interest of the younger generation is continuously decreasing.Therefore, the aim of this activity is to develop Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony as a villagebasedart festival. The authors applied asset-based community development (ABCD) method. Data collectionwas carried out using interview. The results show that the application of ABCD method at JumudhulingMaesa Sura Traditional Ceremony event has succeeded in finding the essential value of ceremony. It isrelated to the preservation of the culture of mutual cooperation and the function of Jumudhuling Maesa Surastory as an embodiment of hope and gratitude towards Almighty God. The strategic step of the preservationis implementing good festival management, including planning, resource management, and measuring thefuture risks. As a result, managers have organized framework, controlled resources, and measurable risks. Amore even distribution of workload encourages a higher sense of belonging of community towardJumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony.
Manajemen Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai Festival Seni Berbasis Desa Purwanto, Tambak Sihno; Pangestu, Jangkung Putra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12513

Abstract

Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KelompokSeni Bregada Lombok ijo yang berada di Padukuhan Tegalrejo, Srigading, Sanden, Bantul, DaerahIstimewa Yogyakarta. Namun, keterlibatan masyarakat masih dirasa sangat kurang. Rasa memilikimasyarakat terhadap upacara adat ini masih tergolong rendah. Ditambah lagi dengan minat generasi mudasemakin menurun. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengembangkan manajemenUpacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai festival seni berbasis desa. Metode yang digunakan adalahasset based community development (ABCD). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara.Hasil pengabdian, dengan penerapan metode ABCD dalam Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura,berhasil menemukan nilai penting kegiatan upacara adat ini, yaitu pelestarian budaya gotong-rotong danmakna cerita Jumudhuling Maesa Sura sebagai perwujudan harapan serta rasa syukur terhadap TuhanYang Maha Esa. Langkah strategis untuk melestarikannya adalah dengan menerapkan manajemen festivaldengan baik meliputi perencanaan, pengelolaan sumber daya, dan pengukuran risiko yang akan dialami.Dampaknya, pengelola memiliki kerangka kerja, pemanfaatan sumber daya, dan risiko lebih terukur.Pembagian kerja yang lebih merata memicu peningkatan rasa memiliki terhadap Upacara AdatJumudhuling Maesa Sura. Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony is an annual ritual carried out by Bregada Lombok IjoArt Group located in Padukuhan Tegalrejo, Srigading Village, Sanden, Bantul Regency, DIY. Even thoughthe event has been conducted since a long time, the community is not still thoroughly involved owing to thelack of their sense of belonging. Additionally, the interest of the younger generation is continuously decreasing.Therefore, the aim of this activity is to develop Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony as a villagebasedart festival. The authors applied asset-based community development (ABCD) method. Data collectionwas carried out using interview. The results show that the application of ABCD method at JumudhulingMaesa Sura Traditional Ceremony event has succeeded in finding the essential value of ceremony. It isrelated to the preservation of the culture of mutual cooperation and the function of Jumudhuling Maesa Surastory as an embodiment of hope and gratitude towards Almighty God. The strategic step of the preservationis implementing good festival management, including planning, resource management, and measuring thefuture risks. As a result, managers have organized framework, controlled resources, and measurable risks. Amore even distribution of workload encourages a higher sense of belonging of community towardJumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony.