Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

The Role of Art Conservation in Preserving the Cultural Value of Seven Busts in the Plaza of the Faculty of Fine Arts, ISI Yogyakarta Ratnaningtyas, Yohana Ari; Purwanto, Tambak Sihno
ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology, Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/etnosia.v9i2.40230

Abstract

The seven busts in the plaza of the Faculty of Fine Arts ISI Yogyakarta are monuments honoring the contributions of the predecessors. The seven statues hold significant cultural value within the ISI Yogyakarta community and its surroundings. However, the condition of the seven statues is currently concerning because their existence is threatened by various destructive agents. If they do not receive immediate conservation treatment, it is feared that physical damage will affect the decline in the cultural value of the statues. This research aims to explore the role of art conservation in preserving the cultural value of seven busts in the Plaza of the Faculty of Fine Arts at ISI Yogyakarta. This study focuses on the seven busts in the Plaza of the Faculty of Fine Arts at ISI Yogyakarta, with considerations of relevance, cultural significance, and accessibility as the basis for object selection. Qualitative research methods were used to understand the role of art conservation in preserving the cultural value of the seven busts, with data collection through structured interviews, field observations, and literature studies. Data analysis was conducted systematically to uncover findings related to the cultural significance and the meaning of art conservation of the research objects. The results of the observation show that the physical damage occurring not only threatens the visual beauty of the statue but also has the potential to diminish the symbolic meaning possessed by each statue. The findings of this research highlight the importance of immediate conservation actions to preserve the physical form of the statues. Conservation is not only necessary to maintain the physical condition but also to preserve the cultural significance contained in the seven busts. Based on the findings of this research, strategic steps are needed regarding the preservation of the seven busts.
Analisis Mitologi Bulus (Labi-Labi) dalam Film Setan Jawa Karya Garin Nugroho Pangestu, Jangkung Putra; Purwanto, Tambak Sihno
Jurnal MAVIB Vol 6 No 1 (2025): MAVIB Journal - Februari 2025
Publisher : Universitas Raharja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33050/mavib.v6i1.3232

Abstract

Film Setan Jawa mengisahkan tentang pesugihan kandang bubrah yang disimbolkan dengan bulus (Labi-labi) sebagai setan pemberi pesugihan. Selain sebagai simbol pesugihan, mitologi bulus sudah lama muncul dalam peradaban Jawa. Artikel ini bertujuan menganalisis mitologi bulus dalam Film Setan jawa, kemudian membandingkan dengan mitologi bulus pada masyarakat Jawa dari masa ke masa. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskriptif komparatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Hasilnya, mitologi bulus di Masyarakat Jawa mengalami perubahan makna. Pada masa klasik bulus dianggap sebagai jelmaan dewa, pada masa Islam bulus mengalami variasi makna tergantung wilayah kebudayaannya. Di wilayah dengan pengaruh Islam yang kuat bulus dianggap sebagai hewan suci, namun pada wilayah dengan pengaruh Islam yang lemah mitologi bulus dimaknai sebagai hewan mistik yang memiliki kekuatan magis. Film Setan Jawa menggambarkan mitologi bulus (Labi-labi) pada masa Islam Modern yaitu sebagai hewan ghaib pemberi kekayaan kepada pemujanya.
Manajemen Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai Festival Seni Berbasis Desa Purwanto, Tambak Sihno; Pangestu, Jangkung Putra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12513

Abstract

Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KelompokSeni Bregada Lombok ijo yang berada di Padukuhan Tegalrejo, Srigading, Sanden, Bantul, DaerahIstimewa Yogyakarta. Namun, keterlibatan masyarakat masih dirasa sangat kurang. Rasa memilikimasyarakat terhadap upacara adat ini masih tergolong rendah. Ditambah lagi dengan minat generasi mudasemakin menurun. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengembangkan manajemenUpacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai festival seni berbasis desa. Metode yang digunakan adalahasset based community development (ABCD). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara.Hasil pengabdian, dengan penerapan metode ABCD dalam Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura,berhasil menemukan nilai penting kegiatan upacara adat ini, yaitu pelestarian budaya gotong-rotong danmakna cerita Jumudhuling Maesa Sura sebagai perwujudan harapan serta rasa syukur terhadap TuhanYang Maha Esa. Langkah strategis untuk melestarikannya adalah dengan menerapkan manajemen festivaldengan baik meliputi perencanaan, pengelolaan sumber daya, dan pengukuran risiko yang akan dialami.Dampaknya, pengelola memiliki kerangka kerja, pemanfaatan sumber daya, dan risiko lebih terukur.Pembagian kerja yang lebih merata memicu peningkatan rasa memiliki terhadap Upacara AdatJumudhuling Maesa Sura. Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony is an annual ritual carried out by Bregada Lombok IjoArt Group located in Padukuhan Tegalrejo, Srigading Village, Sanden, Bantul Regency, DIY. Even thoughthe event has been conducted since a long time, the community is not still thoroughly involved owing to thelack of their sense of belonging. Additionally, the interest of the younger generation is continuously decreasing.Therefore, the aim of this activity is to develop Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony as a villagebasedart festival. The authors applied asset-based community development (ABCD) method. Data collectionwas carried out using interview. The results show that the application of ABCD method at JumudhulingMaesa Sura Traditional Ceremony event has succeeded in finding the essential value of ceremony. It isrelated to the preservation of the culture of mutual cooperation and the function of Jumudhuling Maesa Surastory as an embodiment of hope and gratitude towards Almighty God. The strategic step of the preservationis implementing good festival management, including planning, resource management, and measuring thefuture risks. As a result, managers have organized framework, controlled resources, and measurable risks. Amore even distribution of workload encourages a higher sense of belonging of community towardJumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony.
Manajemen Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai Festival Seni Berbasis Desa Purwanto, Tambak Sihno; Pangestu, Jangkung Putra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i1.12513

Abstract

Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KelompokSeni Bregada Lombok ijo yang berada di Padukuhan Tegalrejo, Srigading, Sanden, Bantul, DaerahIstimewa Yogyakarta. Namun, keterlibatan masyarakat masih dirasa sangat kurang. Rasa memilikimasyarakat terhadap upacara adat ini masih tergolong rendah. Ditambah lagi dengan minat generasi mudasemakin menurun. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengembangkan manajemenUpacara Adat Jumudhuling Maesa Sura sebagai festival seni berbasis desa. Metode yang digunakan adalahasset based community development (ABCD). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara.Hasil pengabdian, dengan penerapan metode ABCD dalam Upacara Adat Jumudhuling Maesa Sura,berhasil menemukan nilai penting kegiatan upacara adat ini, yaitu pelestarian budaya gotong-rotong danmakna cerita Jumudhuling Maesa Sura sebagai perwujudan harapan serta rasa syukur terhadap TuhanYang Maha Esa. Langkah strategis untuk melestarikannya adalah dengan menerapkan manajemen festivaldengan baik meliputi perencanaan, pengelolaan sumber daya, dan pengukuran risiko yang akan dialami.Dampaknya, pengelola memiliki kerangka kerja, pemanfaatan sumber daya, dan risiko lebih terukur.Pembagian kerja yang lebih merata memicu peningkatan rasa memiliki terhadap Upacara AdatJumudhuling Maesa Sura. Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony is an annual ritual carried out by Bregada Lombok IjoArt Group located in Padukuhan Tegalrejo, Srigading Village, Sanden, Bantul Regency, DIY. Even thoughthe event has been conducted since a long time, the community is not still thoroughly involved owing to thelack of their sense of belonging. Additionally, the interest of the younger generation is continuously decreasing.Therefore, the aim of this activity is to develop Jumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony as a villagebasedart festival. The authors applied asset-based community development (ABCD) method. Data collectionwas carried out using interview. The results show that the application of ABCD method at JumudhulingMaesa Sura Traditional Ceremony event has succeeded in finding the essential value of ceremony. It isrelated to the preservation of the culture of mutual cooperation and the function of Jumudhuling Maesa Surastory as an embodiment of hope and gratitude towards Almighty God. The strategic step of the preservationis implementing good festival management, including planning, resource management, and measuring thefuture risks. As a result, managers have organized framework, controlled resources, and measurable risks. Amore even distribution of workload encourages a higher sense of belonging of community towardJumudhuling Maesa Sura Traditional Ceremony.
Metal Conservation Method in The Infinity Statue by Dunadi Ratnaningtyas, Yohana Ari; Purwanto, Tambak Sihno; R, Luna Chantiaya; T, Geminisya Aldeana
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i1.11224

Abstract

The Infinity Sculpture by Dunadi is a media representation of the idea of the eternal function of bicycles over time. The infinity statue is primarily made of ferrous metal, so it has the potential for damage in the form of patina and rust, especially when exposed to direct sunlight, rainwater, oxygen, and other substances that accelerate corrosion growth. The current condition of the infinity statue by Dunadi could be better because most of the paint has peeled off, and rust has grown on the entire surface of the metal that is not covered with paint. This article discusses the application of modern metal conservation methods to Dunadi’s Infinity Sculpture. This study’s contemporary metal conservation method compares several synthetic chemicals to clean rust on metal and then apply it to Dunadi’s Infinity Statue. The synthetic chemicals used are some of the rust-cleaning agents available. Synthetic chemicals are available because they are easy to obtain and relatively safe. We tested Several brands of rust cleaners available on the market on metal objects similar to the material for making infinity statues. As a result, the most effective rust- cleaning chemicals contain hydrochloric acid. Patung Infinity karya Dunadi merupakan representasi media dari gagasan tentang fungsi abadi sepeda dari waktu ke waktu. Patung infinity utamanya terbuat dari logam besi, sehingga berpotensi mengalami kerusakan berupa patina dan karat, terutama jika terkena sinar matahari langsung, air hujan, oksigen, dan zat lain yang mempercepat pertumbuhan korosi. Kondisi patung infinity karya Dunadi saat ini bisa lebih baik karena sebagian besar catnya sudah terkelupas, dan karat sudah tumbuh di seluruh permukaan logam yang tidak dilapisi cat. Artikel ini membahas penerapan metode konservasi logam modern pada Patung Infinity karya Dunadi. Metode konservasi logam kontemporer dalam penelitian ini membandingkan beberapa bahan kimia sintetis untuk membersihkan karat pada logam lalu mengaplikasikannya pada Patung Infinity karya Dunadi. Bahan kimia sintetis yang digunakan merupakan beberapa bahan pembersih karat yang tersedia. Bahan kimia sintetis tersedia karena mudah diperoleh dan relatif aman. Kami menguji beberapa merek pembersih karat yang tersedia di pasaran pada benda logam yang mirip dengan bahan untuk membuat patung infinity. Hasilnya, bahan kimia pembersih karat yang paling efektif mengandung asam klorida.
POTENSI KERUSAKAN PATUNG LUAR RUANGAN DI YOGYAKARTA: STUDI KASUS TUJUH PATUNG DADA DAN PATUNG INFINITY Purwanto, Tambak Sihno
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41462

Abstract

Artikel ini membahas potensi kerusakan patung luar ruangan di Yogyakarta, dengan fokus pada dua karya seni: Patung Infinity dan tujuh patung dada yang terletak di area Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan patung luar ruangan di Yogyakarta.. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang meliputi observasi langsung, wawancara dengan narasumber, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi patung Infinity mengalami kerusakan parah akibat karat dan korosi, sementara tujuh patung dada terpengaruh oleh debu, lumut, dan aktivitas biologis seperti kotoran burung dan serangga. Penelitian ini menemukan bahwa faktor lingkungan seperti cuaca ekstrem dan polusi udara berkontribusi signifikan terhadap kerusakan patung luar ruangan di Yogyakarta.
PENGGUNAAN BAHAN ALAMI DALAM UPACARA JAMASAN PUSAKA DI PUNCAK SUROLOYO, KULON PROGO Purwanto, Tambak Sihno; Ratnaningtyas, Yohana Ari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.8858

Abstract

ABSTRACT The jamasan ceremony is a Javanese cultural practice that persists. In practice, the jamasan ceremony is associated with the use of materials sourced from the surrounding environment. However, scientific studies specifically addressing the use of natural materials in the jamasan ceremony remain very limited, particularly those examining the types of materials, their contents, and application procedures. This study aims to explore the use of natural materials in the jamasan of the Kyai Manggolo Murti and Songsong Makutha Dewa at Puncak Suroloyo, Kulon Progo. The study employed a qualitative case study approach. The research stages include a preliminary survey (pre-survey), data collection, data analysis, and report preparation. Data were collected through participatory observation, interviews with caregivers and community members involved in the ritual, and documentation of the jamasan ceremony. The research was conducted at the jamasan location, namely Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY, on June 26–27, 2025. Data analysis was conducted descriptively and qualitatively through data reduction, data presentation, and concluding. The results of the study showed that the natural materials used in the jamasan of heirlooms include kawul bamboo rope (Gigantochloa apus), lime (Citrus aurantiifolia), noni fruit (Morinda citrifolia L.), green coconut water (Cocos nucifera var. viridis), and Sendang Kawidodaren water sprinkled with kantil, jasmine, rose, and cananga flowers. Each material has a specific function determined by its natural chemical composition. The application is carried out in accordance with the condition of the heirloom. The conclusion of this study is that the use of natural materials in jamasan at Puncak Suroloyo constitutes part of a spiritual ritual and represents traditional conservation practices. ABSTRAK Upacara jamasan pusaka merupakan salah satu praktik budaya Jawa yang masih bertahan hingga saat ini. Secara praktis, jamasan pusaka identik dengan penggunaan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. Namun, kajian ilmiah yang secara khusus membahas penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka masih sangat terbatas. Terutama pengkajian tentang jenis bahan, kandungan, dan tata cara pengaplikasiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa di Puncak Suroloyo, Kulon Progo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Tahapan penelitian meliputi studi pendahuluan (pra-survei), pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan juru kunci dan masyarakat yang terlibat dalam ritual, serta dokumentasi pelaksanaan upacara jamasan. Penelitian dilakukan di lokasi jamasan yaitu Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY pada 26–27 Juni 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan alami yang digunakan dalam jamasan pusaka meliputi kawul bambu tali (Gigantochloa apus), jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), buah mengkudu (Morinda citrifolia L.), air kelapa hijau (Cocos nucifera var. viridis), serta air Sendang Kawidodaren yang ditaburi bunga kantil, melati, mawar, dan kenanga. Setiap bahan memiliki fungsi spesifik berdasarkan kandungan kimia alaminya. Pengaplikasiannya dilakukan sesuai kondisi bilah pusaka. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan bahan alami dalam jamasan pusaka di Puncak Suroloyo berfungsi sebagai bagian dari ritual spiritual dan representasi praktik konservasi tradisional.