lidiawati, citra
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dampak Sosial dan Kelestarian Adat Anan Tuwoi pada Acara Perkawinan Komunitas Morge Siwe Lidiawati, Citra; Habibi, Sanial
Journal of Moral and Civic Education Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/8851412522021563

Abstract

This study aims to describe “anan tuwoi” wedding ceremony—a tradition of Morge Siwe clan of Kayuagung community, Ogan Komering Ilir Regency, West Sumatra province—and its social impact. This research is qualitative, where the data was collected through observation, interview, and documentation. The informants include customary leaders and community representatives from every sub-district. The data was then analyzed using data reduction, data presentation, and verification. Research result shows that the anan tuwoi ceremony is still preserved by the community since the tradition is still suitable with their way of life and it is not against religious teaching. The tradition’s social impact can be seen during the procession of the ceremony. It impacted the society positively, which influences good changes in the society, particularly to strengthen the relationship between members of kinship, the society, and improve mutual assistance (gotong-royong) and cooperation among the community. The closeness can be seen during the procession, which includes neighbors. Therefore, anan tuwoi tradition is still preserved until now and influences the Kayuagung society in a good way. Keywords: social impact, anan tuwoi, gotong-royong mutual assistance ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan eksistensi adat “anan tuwoi” pada acara perkawinan di komunitas Morge Siwe Kecamatan Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, dan dampak sosial adat tersebut. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pemangku adat dan masyarakat perwakilan dari setiap kelurahan. Teknik analisa data meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, adat anan tuwoi di Morge Siwe Kayuagung masih dilestarikan oleh masyarakat setempat, karena adat ini masih sejalan dengan kehidupan mereka dan adat ini tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dampak sosial yang terdapat dalam adat anan tuwoi terlihat dalam proses pelaksanaan, dampak sosial yang didapat masyarakat yakni dampak yang bersifat positif yang mengakibatkan perubahan baik di dalam masyarakat, terlihat dari semakin eratnya tali silaturahmi antar keluarga, antara keluarga dan masyarakat, meningkatkan nilai gotong-royong antar masyarakat, dan menumbuhkan rasa kerjasama antar masyarakat. Kekompakan antar masyarakat terlihat ketika pelaksanaan adat anan tuwoi ini, di mana para tetangga selalu turut andil dalam pelaksananaan adat ini. Maka dari itu adat anan tuwoi ini masih dilestarikan hingga saat ini dan memberikan dampak sosial yang sangat baik bagi masyarakat Morge Siwe Kayuagung. Kata Kunci: dampak sosial, anan tuwoi, gotong royong
Peran Orangtua dalam Membentuk Karakter Religius dan Jujur pada Diri Anak dalam Lingkungan Keluarga Lidiawati, Citra; Purnama, Mita
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 8 No 2 (2023): Volume 8, Nomor 2 - Desember 2023
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v1i2.8331

Abstract

Kajian ini bertolak dari kerisauan peneliti terhadap karakter anak yang ada di Kelurahan Kedaton yang dari hasil observasi awal bahwa anak-anak di Kelurahan Kedaton belum memiliki dan menerapkan karakter religius dan jujur. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui Peran orangtua dalam membentuk karakter religius dan jujur pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data diantaranya observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Subjek dalam penelitian ini adalah orangtua dan anak di Kelurahan Kedaton. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran yang digunakan orangtua adalah peran mendidik melalui contoh perilaku, menerapkan sistem pendidikan dini, melakukan sistem pembiasaan, budaya dialog antara orangtua dengan anak, dan terapkan prinsip keadilan dalam mengatur waktu yang tersedia, hal ini akan mengakibatkan karakter religius dan jujur anak menjadi lebih terbentuk serta orangtua mengajarkan karakter anak yang baik dan mendisiplinkan anak agar berperilaku  sesuai apa yang telah diajarkan karena orangtua menjadi panutan yang positif bagi anak.
AKULTURASI NILAI SOSIAL BUDAYA DALAM TRADISI TONJOKAN (HANTARAN) Jayani, Nanang; Purnama, Mita; Lidiawati, Citra; Habibi, Sanial; Rotari, Septi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9331

Abstract

Indonesia's cultural diversity requires serious preservation efforts in accordance with the constitutional mandate, one of which is reflected in the Tonjokan Tradition in Pangestu Village, Banyuasin Regency. This research focuses on analyzing the actualization of the acculturation of socio-cultural values in this tradition of dowry offerings to understand its existence amidst changing times. Using qualitative methods with a descriptive approach, data collection was conducted through observation, documentation, and in-depth interviews with traditional leaders and community members selected through purposive sampling. The research findings reveal that Tonjokan, brought by Javanese transmigrants since 1971, is a social mechanism in the form of food gifts as invitations to celebrations that applies to all levels of society regardless of social status. This tradition contains substantial values such as solidarity, mutual cooperation, respect, and strengthening ties. Furthermore, its implementation is proven to be in line with Article 18B paragraph (2) of the 1945 Constitution and Regional Regulation No. 2 of 2022 concerning the preservation of customs and traditions. It is concluded that the actualization of values in Tonjokan serves a vital function as a bond of social cohesion and a reference for adaptive multiculturalism, making its sustainability a crucial instrument in maintaining harmony and the cultural identity of the local community. ABSTRAK Keberagaman budaya di Indonesia memerlukan upaya pelestarian yang serius sesuai amanat konstitusi, salah satunya tercermin dalam Tradisi Tonjokan di Desa Pangestu, Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini berfokus pada analisis aktualisasi akulturasi nilai sosial budaya dalam tradisi hantaran tersebut guna memahami eksistensinya di tengah perkembangan zaman. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta masyarakat yang dipilih melalui purposive sampling. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Tonjokan, yang dibawa oleh transmigran Jawa sejak 1971, merupakan mekanisme sosial berupa hantaran makanan sebagai undangan hajatan yang berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial. Tradisi ini mengandung nilai-nilai substansial seperti solidaritas, gotong royong, penghormatan, dan penguatan tali silaturahmi. Selain itu, pelaksanaannya terbukti selaras dengan UUD 1945 Pasal 18 B ayat (2) dan Perda No 2 Tahun 2022 tentang pelestarian adat istiadat. Disimpulkan bahwa aktualisasi nilai dalam Tonjokan berfungsi vital sebagai pengikat kohesi sosial dan referensi multikulturalisme yang adaptif, sehingga keberlanjutannya menjadi instrumen penting dalam menjaga harmonisasi dan identitas kultural masyarakat setempat.  
Refleksi Nilai-Nilai Pancasila dalam Gerakan Sosial Duta Kayu Agung: Antara Keadilan, Kemanusiaan, dan Persatuan Lidiawati, Citra; Damayanti, Hikma; Mazid, Sukron
JURNAL DIMENSI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN Vol 14 No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/dpp.v14i1.12949

Abstract

Social movements often present ethical dilemmas in assessing the legitimacy of their actions, whether the resistance that emerges is a form of social banditry or actually represents a struggle for justice. This article analyzes the dynamics of the Duta Kayuagung social movement using the theoreticalframework of social banditry proposed by Hobsbawm, Rawls's theory of justice, and the theory of civil resistance. The selection of these three theoretical perspectives is intended to broaden the analytical horizon, while also demonstrating the connection between local resistance practices and auniversal normative framework. This research uses a qualitative literature study method by examining various academic sources, historical documents,and relevant social records regarding Duta Kayuagung. The results show that the Duta Kayuagung movement cannot be simply reduced to social banditry as Hobsbawm's classic definition, because their actions have a strong moral basis and are grounded in the spirit of distributive justice and siding with oppressed communities. From Rawls's perspective, their actions can be understood as an effort to uphold the principles of fairness and equal opportunity, while within the framework of civil resistance, this movement reflects a form of ethical resistance against structural injustice. Furthermore, when analyzed through reflection on the values of Pancasila, particularly the second principle on just and civilized humanity, the third principle on Indonesian unity, and the fifth principle on social justice, the Kayuagung Ambassador movement is more appropriately positioned as afighter for justice rooted in the nation's noble values. This finding confirms that Pancasila is not only the philosophical foundation of the state, but can also function as an ethical and normative framework in understanding social movements in both historical and contemporary contexts. Thus, this study not only provides a conceptual mapping of the Kayuagung Ambassador movement but also strengthens the relevance of Pancasila as an analytical foundation in assessing the dynamics of social movements in Indonesia, so that they remain contextual in facing the challenges of globalization and social transformation.