Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Street Art Dalam Narasi Sebuah Kota Sungkar, Anna
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 2, No.2: Oktober 2018
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v2i2.22

Abstract

This article discusses street art in the narrative of a city in order to see the phenomenon and role of a piece of art as the media of communication between artist and community. This research uses descriptive method with observation technique with a number of cases studies to delve into a number of artworks, specifically fine arts. Through case studies, a graffiti artist known as Bujangan Urban in Jakarta and an installation work of giant feet of Dunani in Yogyakarta, it is revealed that artworks are not merely a form of ideas channeling, expression, and artist’s creativity, but also as medium to pass on criticism, representing people’s feeling, and also a medium for community to voice their concern to the authority in a particular city.Artikel ini membahas tentang street art dalam narasi sebuah kota untuk melihat fenomena dan peran suatu karya seni sebagai media komunikasi antara seniman dengan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui teknik observasi dengan beberapa studi kasus untuk melihat beberapa peran karya seni, khususnya seni rupa. Melalui studi kasus, seorang seniman grafiti dengan julukan Bujangan Urban di Jakarta serta karya instalasi kaki raksasa Dunani di Yogyakarta, dapat dilihat bahwa karya seni tidak hanya sebagai bentuk penyaluaran ide, ekspresi, dan kreativitas seniman, tetapi juga dapat berperan sebagai media untuk menyampaikan pesan, mewakili perasaan masyarakat, dan juga sebagai media penyampaian kritik bagi suatu komunitas (masyarakat) kepada para penguasa pada suatu kota tertentu.
Rusli dan Nashar, Dua Maestro Pelukis Abstrak IKJ: Sistem Tanda Sosial Budaya Sungkar, Anna
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 2 (2024): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.032.05

Abstract

Artikel ini membahas tentang dua pelukis Jakarta: Rusli dan Nashar yang bersama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia melalui organisasi SIM di Madiun dan Yogyakarta. Setelah perang usai, mereka menciptakan karya-karya modernisme bergaya abstrak yang jauh berbeda dengan ideologi SIM yang beraliran realisme. Mereka kemudian membangun LPKJ di Jakarta, sebuah sekolah seni non konvensional yang mengutamakan kebebasan berekspresi, penghayatan atas alam, studi luar ruang dan lintas disiplin ilmu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui teknik observasi dengan beberapa studi kasus, yaitu menelaah gaya lukisan mereka dan menemukan kesamaan karakteristik dari karya-karyanya. Ternyata mereka mempunyai benang merah, yaitu kecintaan dan penghayatan atas alam demi mendapatkan esensinya. Pemikiran mereka itu kemudian diteruskan kepada para mahasiswa LPKJ (dan kemudian namanya diubah menjadi IKJ) serta menginspirasi generasi seniman Indonesia yang lebih muda.
Modernisme Biang Keladi Kerusakan Seni Rupa Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.306

Abstract

Kemunculan Impresionisme di abad 20 yang merupakan awal dari Modernisme, telah menyebabkan perubahan besar dalam cara orang memandang seni. Karya seni yang pada periode sebelumnya sudah mempunyai tatanan yang rapi, kemudian dirombak total sehingga seni kemudian menjadi sulit dimengerti dan tidak dapat dibedakan antara karya seni dengan bukan seni. Hal itu terjadi karena dunia itu sendiri telah berubah dengan munculnya penemuan baru yang menyebabkan cara pandang manusia terhadap seni menjadi bergeser.
Pengetahuan Melalui Penciptaan :: Epistemologi Praksis dalam Seni Instalasi The Cats World Sebagai Relasi Emosional di Dunia Urban Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.339

Abstract

Karya seni tidak hanya sebagai produk estetis, tetapi juga sebagai wujud pemikiran embodied yangmampu menyingkap struktur-struktur afektif, sosial, dan eksistensial dalam kehidupan manusia. Gagasanbahwa penciptaan seni merupakan sebuah bentuk knowing in action (Schön, 1983), atau bahkan site ofknowledge production (Bolt, 2007), telah membuka ruang bagi seniman untuk mewujudkan pengalamankreatifnya sebagai bentuk refleksi epistemologis. Penelitian ini didasarkan atas pengamatan selamamengkurasi karya instalasi The Cats World yang diciptakan Syakieb Sungkar selama kurun periodetahun 2024 (perencanaan) dan tahun 2025 (produksi). Dengan mengambil pendekatan practice-led research,penulis menelusuri bagaimana intuisi, tubuh, material, dan interaksi publik berkontribusi terhadapterbentuknya epistemologi personal dalam seni.
Basoeki Abdullah, Pelukis Realis Nomor Satu Indonesia Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 11 No. 04 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya seni dapat berfungsi sosial yang dapat dijadikan wacana ekspresi ideologi sekaligus mengedepankan permasalahan sosial yang tengah aktual. Lebih lanjut karya seni yang memiliki fungsi sosial dapat mempengaruhi tingkah laku banyak orang terutama dengan tema-tema sosial yang dijadikan sumber inspirasi. Paper ini mengeksplorasi kedekatan pelukis Basoeki Abdullah dengan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia yang mencintai seni, dan sebaliknya, pengaruh Soekarno dalam kehidupan Basoeki Abdullah. Selanjutnya kita dapat melihat bagaimana Basoeki Abdullah sebenarnya sangat peduli dengan kehidupan masyarakat golongan bawah.
Melacak Kembali Asal-usul Gerakan Seni Rupa Baru Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.227

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang melakukan perlawanan pada seniman senior atas tradisi pengkotak-kotakan seni yang didasarkan pada media atau mediumnya, yaitu seni lukis pada kanvas, patung dan grafis. Sementara kemungkinan untuk melakukan pembaharuan dengan media baru tidak diberikan dan tidak diapresiasi. Para seniman senior di tahun 1974 masih menonjolkan seni lukis sebagai bentuk teratas dari seni rupa, sehingga tidak memberikan jalan untuk media alternatif, yang saat itu sedang berkembang di Barat. Tema dan konten dari seni lukis yang diapresiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta adalah lukisan bergaya abstrak, kubis, dan dekoratif yang menggambarkan alam, tradisi, batik, dan kehidupan keluarga. Lukisan-lukisan tersebut terlihat tenang tanpa permasalahan, namun tidak mencerminkan apa yang terjadi di masyarakat ketika itu. Di mana di Indonesia sedang terjadi represi di kampus-kampus karena para mahasiswa melakukan protes atas korupsi dan strategi ekonomi yang tidak jelas dari rezim Orde Baru. Situasi tidak puas dari para seniman muda yang berasal dari mahasiswa ITB dan Asri Yogya akhirnya meledak ketika dewan juri “Pameran Besar Seni Lukis Indonesia” yang dibawahi oleh Dewan Kesenian Jakarta mengumumkan 5 karya lukis terbaik. Hal itu menimbulkan protes dan memunculkan pernyataan Desember Hitam. Delapan bulan setelah pernyataan Desember Hitam, para seniman muda itu memamerkan karya-karya bergaya baru dalam sejarah seni rupa Indonesia. Tema dan narasi karya-karya tersebut mencerminkan situasi sosial dan politik di Indonesia ketika itu. Sementara, bentuk eksekusi karya-karyanya sangat dipengaruhi oleh pop art yang sedang berkembang di Barat sejak awal tahun 60-an.
Sie Djin Koei, Komik Silat Indonesia Awal Mula Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.255

Abstract

Pada tahun 1952, ketika Indonesia belum lama merdeka, diterbitkan komik silat Sie Djin Koei yang diciptakan oleh seorang pelukis kenamaan bernama Siauw Tik Kwie. Komik itu menangguk sukses sehingga dapat meningkatkan oplag mingguan Star Weekly, penerbitnya, sampai mencapai 45.000 eksemplar, sebuah angka yang sangat besar ketika itu. Komik Sie Djin Koei merupakan komik pertama produksi lokal bergaya silat Cina. Dan menjadi inspirasi komik silat Indonesia di tahun-tahun sesudahnya. Komik Sie Djin Koei walaupun sangat terkenal, namun belum banyak ditulis orang secara ilmiah. Tulisan ini ingin membahas bagaimana strategi Siauw Tik Kwei menciptakan komik yang indah itu sehingga menjadi ikon generasi tahun 50an dan sesudahnya.
Seni Lukis Realisme Kontemporer Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 10 No. 04 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i04.274

Abstract

Melukiskan kembali alam dan manusia dengan bentuk-bentuknya yang proporsional sudah menjadi instink dari kemajuan umat manusia. Sehingga dengan begitu banyaknya penolakan terhadap terhadap realisme, namun gaya ini selalu muncul kembali. Adanya lukisan bison di gua Altamira atau Lascaux puluhan ribu tahun yang lalu, menunjukkan hasrat manusia untuk melakukan mimesis atas alam yang terhampar di sekelilingnya, perilaku ini sudah ada sejak dulu dan bertahan sampai sekarang. Begitulah kemampuan realisme menyesuaikan diri dengan situasi baru, dan mencari jawaban atas tantangan yang disodorkan kepadanya. Alasan lain mengapa realisme bertahan, adalah kecenderungan seni rupa yang mirip mode pakaian, ia bisa kembali dengan gaya lama dengan sedikit penyegaran.
Ahmad Sadali Perintis Seni Lukis Abstrak Indonesia Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 11 No. 01 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i01.289

Abstract

Karya-karya Ahmad Sadali pada masa awal menunjukkan suatu persamaan dari segi bentuk dan isi dengan Ries Mulder, gurunya. Dimana Ries Mulder terpengaruh oleh Jacques Villon (1875-1963), yang banyak bermain-main dengan pola kubisme geometris demi membentuk figur atau alam benda yang dipadukan warna-warni pastel yang lembut. Namun dalam perkembangan waktu, pengaruh Ries Mulder mulai pudar, karya-karya Sadali di era tahun 60-an banyak mengikuti pola karya Nicolas de Stael (1914-1955) yang mengandung blok-blok warna dengan tekstur tebal membentuk citra lanskap. Mulai dekade 1970an, tema karya-karya Ahmad Sadali bergerak ke arah spiritualitas, dengan menampilkan simbol-simbol seperti Gunungan, huruf Alif, dan aksara Arab yang dipetik dari Al Quran. Karya-karya dekade itu banyak mengarah pada visual Antoni Tapies (1923-2012), Mark Rothko (1903-1970) dan Barnett Newman (1905-1970), dengan inovasi pada aksen prada dan pola gunungan untuk membuat karya abstrak Sadali terlihat cantik.
Seni, Budaya, Sains, dan Teknologi di Arus Perubahan Zaman: : Menyongsong Masa Depan sungkar, anna
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.384

Abstract

Seni, budaya, sains, dan teknologi merupakan empat dimensi kehidupan manusia yang tidak pernah terpisah, melainkan saling berkelindan dan membentuk arus sejarah. Setiap zaman ditandai oleh relasi khusus antara bidang-bidang ini: era Renaissance menyatukan seni dengan sains dalam tubuh Leonardo da Vinci, Revolusi Industri memicu transformasi budaya dan estetika urban, sementara abad ke-20 ditandai oleh persilangan modernisme dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Memasuki abad ke-21, laju perubahan semakin cepat dengan munculnya kecerdasan buatan, realitas virtual, bioteknologi, dan revolusi digital yang menembus batas tradisi dan ruang fisik. Paper ini membahas masa depan seni, budaya, sains, dan teknologi dengan menekankan pada sepuluh aspek: kecerdasan buatan, realitas virtual, bio-art, krisis ekologi, globalisasi digital, politik teknologi, transhumanisme, ekonomi kreatif digital, estetika hiperrealitas, serta refleksi filosofis tentang kemanusiaan. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner dan contoh-contoh konkret dari praktik seni kontemporer, tulisan ini berupaya membumikan diskursus teoretis agar relevan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa masa depan seni dan budaya bukan hanya ditentukan oleh penetrasi teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana manusia mampu menjaga otonomi, etika, dan makna di tengah derasnya arus perubahan zaman.