Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pertunjukan Panebusing Kembar Mayang Pada Upacara Perkawinan Adat Jawa Hendro, Dru
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11306.072 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.124

Abstract

Panebusing Kembar Mayang  adalah merupakan warisan budaya nenek moyang yang biasa dipakai dalam rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Pada zaman sekarang ini tradisi tersebut sudah mulai jarang ditampilkan tetapi masih survive dalam kehidupan masyarakat jawa. Sebelum melaksanakan pernikahan, kebiasaan orang Jawa melakukan upacara panebusing kembar mayang sebagai syarat ataupun permintaan calon penganten wanita yang harus dilaksanakan oleh orang tuanya. Upacara panebusing  kembar mayang ini merupakan sebuah seni pertunjukan yang melibatkan para pemain layaknya fragmen yang diiringi karawitan dan dipandu oleh seorang dalang. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertunjukan yang ditonton saja, tetapi juga mengandung fungsi, makna dan nilai-nilai seni  budaya yang bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi calon penganten. Fungsi sosial dalam kegiatan tersebut adalah sebagai alat pemersatu ditunjukkan adanya keterlibatan  seluruh masyarakat dalam mendukung upacara panebusing Kembar Mayang tersebut. Disamping itu juga mengandung nilai pendidikan yang terdapat didalamnya, yaitu; mengembangkan  sikap toleransi, demokratis, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, Mengembangkan  pengetahuan, sikap, imajinasi, dan keterampilan melalui proses pembuatan kembar mayang, Menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar kemandirian untuk bekerja dan berkarya.
Greng Sebuah Estetika Dalam Kerampakan Antara Gamelan dan Vokal Saptono, Saptono; Haryanto, Tri; Hendro, Dru
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.167 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.728

Abstract

ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkiprah dalam berbagai cabang seni tentunya memiliki tanggung jawab didalam meningkatkan mutu pelestarian, pengembangan, dan penciptaan seni budaya yang unggul yang berakar dari kearifan lokal nilai-nilai budaya nusantara, termasuk salah satunya seni karawitan. Hal tersebut tercermin pula dalam visi dan misi ISI Denpasar yang telah terpampang dan bisa dilihat diberbagai sudut kampus. Melalui seni, lembaga ISI Denpasar ikut andil dalam menjaga keseimbangan hidup di dalam memperkokoh jati diri bangsa dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian mendorong peneliti dalam penciptaan karya seni karawitan Greng, yaitu garap gamelan ageng untuk memberikan keseimbangan nilai-nilai kearifan lokal budaya nusantara di ISI Denpasar dengan mengacu pada sajian garap tradisi karawitan Jawa. Konsep garap yang ditawarkan adalan penataan dalam karawitan mandiri. Penataan yaitu menyusun gending-gending yang telah ada dari berbagai ragam bentuk, laras, dan pathet. Kebaruan dalam penataan adalah pengolahan garap transisi dari berbagai ragam dan karakter gending yang telah ada, diolah dengan teknik yang mengedepankan tapsir (interpretasi) garap balungan dan garap vokal yang dalam sajiannya menjadi satu garapan yang utuh. Wujud atau bentuk pada dasrnya merupakan pemicu untuk menggugah perhatian terhadap isi yang dikandungnya, yang pada gilirannya telah menyatu ke dalam struktur. Jadi wujud atau bentuk garapan merupakan sarana untuk menuangkan isi sebagai bentuk ungkap pengalaman jiwa yang wigati. Djelantik menjelaskan bentuk (wujud) yang dimaksud kenyataan yang nampak secara konkrit di depan kita (dapat dipresepsi dengan mata dan telinga), dan juga kenyataan yang tidak nampak secara konkrit di depan kita, tetapi secara abstrak wujud dapat dibayangkan. Humardani menyebutkan bahwa bentuk di dalam sajian karya seni adalah wadah yang dapat diamati sebagai sarana untuk menuangkan isi mengenai nilai-nilai atau pengalaman jiwa yang wigati.
Penciptaan Karya Seni Garap Pekeliran Padat Sang Guru Sejati Hendro, Dru; Saptono, Saptono; Haryanto, Tri
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.7 KB)

Abstract

Konsep garap pakeliran padat dengan judul Sang Guru Sejati ini diambil dari sebuah lakon Dewa Ruci yang merupakan lakon carangan wayang Jawa sudah populer, yakni ketika Bima berguru kepada Begawan Drona tentang ilmu Kesempurnaan diri Manunggalinng Kawula Gusti. Sang Guru Sejati merupakan sebutan kepada Guru Drona dan juga karena Bima telah menemukan jati dirinya ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Sedangkan tema yang diangkat dalam garapan ini adalah “Kepatuhan Seorang Murid Kepada Seorang Guru”. Hal ini akan terungkap bagaimana Bima selalu patuh dengan segala ucapan dan tugas dari guru pembimbingnya dan dengan tekad yang tulus dan kuat kemudian mengambil resiko dalam tugas tersebut dan dapat mencapai tataran penghayatan Ketuhanan yang tinggi (makrifat) dengan bertemunya Bima dengan Sang Dewa Ruci. Kerangka garis besar dari perwujudan lakon yang terkait dengan tema di atas digambarkan dalam beberapa tahapan, yaitu tahap menggambarkan Bima memutuskan untuk berguru kepada Drona, sampai pada tahapan terakhir berhasil menemukan Tirta Pawitra yaitu Bima bertemu dengan Dewa Ruci. Metode penggarapan karya menggunakan lima tahapan, yaitu tahap persiapan atau pra perancangan, eksplorasi ide gagasan, penggalian referensi. Tahap perancangan, hasil analisis fenomena dituangkan dalam ide. Tahap perwujudan karya wujud karya dan evaluasi wujud yang ada. Tahap penyempuranaan, dan Tahap penyajian, pementasan karya yang sudah jadi pada penonton. Dari garapan ini pula memacu untuk membangun imajinasi dan kreativitas penggarap dalam pengembangan berkarya. Disamping itu penggarap lebih leluasa dalam mengembangan ide kreatifnya tanpa ada sebuah lkatan yang membelenggu. Rasa dramatik dan ide tetatrikal dapat membangun suasana yang diinginkan sesuai dengan lakon yang diangkat.
Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji Made Marajaya; Dru Hendro
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1329

Abstract

Wayang Cupak termasuk pertunjukan langka di Bali, keberadaannya menambah genre pertunjukan Wayang Kulit Bali yang terus berkembang. Pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai wali, bebali, dan balih-balihan. Sebagai seni wali, pertunjukan wayang kulit hadir dalam berbagai jenis upacara termasuk upacara ruwatan. Upacara ruwatan yang paling populer di Bali disebut dengan Sapuh Leger. Selain Wayang Sapuh Leger, Wayang Cupak pun juga difungsikan untuk ruwatan seperti di Kabupaten Badung. Banyak ditemukan dalang wayang kulit di Kabupaten Badung, namun tidak banyak yang khusus mementaskan Wayang Cupak, hanya Dalang I Wayan Suaji yang merupakan keturunan dalang Wayang Cupak mampu meneruskan budaya ruwatan melalui pertunjukan Wayang Cupak. Orang-orang yang diruwat umunnya telah menginjak dewasa yang memiliki sifat loba, rakus, pemalas, dan tidak mengenal etika. Fenomena ruwatan (fenomena budaya) dikaji melalui pendekatan ilmu kajian budaya dengan metode kualitatif yang hasilnya merupakan deskripsi pencatatan hasil pengumpulan data, pengolahan data hingga analisis data tentang gejala atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ruwatan Wayang Cupak yang terpelihara masyarakat hanya di wilayah Desa Adat Kerobokan dan sekitarnya dan sudah menjadi sebuah tradisi. Bentuk ruwatan Wayang Cupak dapat dilihat sarana dan prasarananya, seperti: canang uleman, banten ruwatan, pementasan wayang, proses ruwatan, mantra ruwatan, dan tirta ruwatan. Setelah dikaji bentuk ruwatannya, kemudian maknanya bagi masyarakat Hindu Bali. Beberapa makna ditemukan berupa: makna filosofis, makna religius, makna simbolik, makna pembersihan diri, dan makna budaya. Dapat dikatakan bahwa pertunjukan Wayang Cupak pada umumnya hanya dipentaskan untuk ruwatan dan belum disentuh oleh teknologi canggih, pertunjukannya masih sangat tradisi, dan hanya diganti gamelannya saja sebagai media untuk menciptakan iringan sesuai dengan adegan dalam lakon. Lakonnya bersumber dari cerita panji/malat atau folklore, sehingga secara filosofis wacana dikaitkan dengan konsep rwa belum ditemukan bhineda yang harus dilalui dalam kehidupan untuk menuju moksartam.
Pertunjukan Wayang Cenk Blonk Virtual Sebagai Media Sosialisasi Covid-19 Dru Hendro; Made Marajaya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertunjukan Wayang Cenk Blonk adalah salah satu jenis pertunjukan wayang kulit inovatif yang ternama di Bali. Wayang Cenk Blonk selama masa pandemi Covid-19 ini telah banyak meramaikan pentas wayang secara virtual di media sosial melalui program YouTube yang diberi nama Cenk Blonk Channel. Pertunjukan Wayang Cenk Blonk virtual di media sosial disajikan dalam bentuk minimalis berdurasi antara 15-20 menit, dengan menampilkan tokoh punakawan dan bebondresan di atas layar. Iringan dan tertawa penonton disetting melalui media rekam hingga pertunjukan selesai. Peran serta Dalang I Wayan Nardayana dalam menyosialisaikan Covid-19 di Bali patut diapresiasi karena merupakan fenomena budaya dan berdampak positif terhadap upaya pemerintah untuk menyelamatkan jiwa masyarakat dari wabah penyakit yang sangat mengerikan ini. Pesan-pesan yang disampaikan sangat komunikatif dengan mengunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh penonton. Di samping itu pertunjukan virtual ini sangat menghibur karena sesuai dengan selera estetik masyarakat milenial. Dengan alasan itulah tulisan ini dibuat dengan judul “Pertunjukan Wayang Cenk Blonk Virtual Sebagai Media Sosialisasi Covid-19” dengan 3 rumusan masalah yaitu : (1) Bagaimana bentuk pertunjukan Wayang Cenk Blonk virtual sebagai media sosialisasi Covid-19 ? ; (2) Pesan-pesan apakah yang disampaikan dalam pertunjukan Wayang Cenk Blonk virtual sebagai media sosialisasi Covid-19 ? dan ; (3) Apakah makna pertunjukan Wayang Cenk Blonk virtual sebagai media sosialisasi Covid-19 bagi masyarakat Bali ?. Seluruh permasalahan dianalisis dengan menggunakan dua teori yaitu teori Budaya Media dan Teori Wacana. Adapun metode yang dipergunakan dalam menganalisis permasalahan di atas adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenalogis.
PEMBINAAN PELATIHAN PAKELIRAN WAYANG JAWA GAYA SURAKARTA BAGI PESERTA DIDIK SANGGAR PARIPURNA DESA BONA, KECAMATAN BELAHBATUH, KABUPATEN GIANYAR Dru Hendro; Saptono Saptono; Wahyu Sriwiyati
Abdi Seni Vol. 14 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v14i2.5496

Abstract

ABSTRAKKeberadaan Sanggar Paripurna semakin eksis dengan berbagai karya seni kreatif dan inovatif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional budaya Bali sebagaimana ditanamkan oleh I Made Sidja. Hasil-hasil karya Made Sidia bersama Sanggar Paripurna telah ditampilkan dalam berbagai acara penting, baik yang bertaraf lokal, nasional, maupun internasional. Bahwa Sanggar Paripurna tidak hanya mementingkan jenis seni lokal bali saja, namun juga peduli dengan perkembangan seni yang berasal dari daerah lain seperti Jawa. Pada kesempatan tahun ini, pimpinan sanggar paripurna memohon kepada pembina untuk melakukan kegiatan Pengabdian kepada masyarakat dengan materi pakeliran Wayang Jawa untuk membina siswa-siswa dari golongan usia remaja.  Dengan adanya kegiatan ini, dari pihak sanggar sangat antusias karena anak didiknya kembali mengenal Wayang jawa sebagai pembanding secara estetis antara wayang Jawa dan Wayang Bali. Kegiatan ini, disamping kerjasama dengan sanggar paripurna, kami juga melibatkan mahasiswa yang masih aktif, yaitu semester VI prodi pedalangan, yang berdomisili dekat dengan sanggar paripurna, disamping untuk ikut membina, juga menambah perbendaharaan materi dari mahasiswa yang pernah mendapatkan matakuliah Praktek wayang Jawa di kampus ISI Denpasar. Kegiatan PKM ini Pembina menerapkan metode yang sederhana yang mudah dipahami oleh siswa Sanggar Paripurna disesuaikan dengan materi yang akan diberikan pada pelatihan, karena mayoritas siswa ataupun peserta belum memahami pengetahuan mengenai teknik dasar pakeliran wayang Jawa. Adapun metode yang digunakan adalah; metode ceramah, metode imitasi dan demonstrasi, metode evaluasi dan metode Tanya jawab.Kata Kunci; Sanggar Paripurna, Pembinaan, PKM, Pakeliran Jawa ABSTRACTThe existence of Sanggar Paripurna increasingly exists with various creative and innovative works of art without ignoring the traditional values of Balinese culture as instilled by I Made Sidja. Made Sidia's work with Sanggar Paripurna has been displayed at various important events, both local, national and international. That Sanggar Paripurna is not only concerned with local types of Balinese art, but also cares about the development of art originating from other regions such as Java. On this year's occasion, the leadership of the plenary studio asked the supervisors to carry out community service activities with Javanese Wayang puppet material to develop students from the teenage age group. With this activity, the studio is very enthusiastic because their students are getting to know Javanese wayang again as an aesthetic comparison between Javanese wayang and Balinese wayang. In this activity, apart from collaborating with the plenary studio, we also involve students who are still active, namely sixth semester of the puppetry study program, who live close to the plenary studio, in addition to taking part in coaching, also adding to the repertoire of material from students who have received the Javanese wayang practice course on campus ISI Denpasar. In this PKM activity, the supervisor applies a simple method that is easy for Sanggar Paripurna students to understand, adapted to the material that will be provided in the training, because the majority of students or participants do not yet understand the basic techniques of Javanese wayang puppetry. The methods used are; lecture method, imitation and demonstration method, evaluation method and question and answer method.Keywords; Plenary Studio, Development, PKM, Pakeliran Java
Tutur Candra Bherawa Pakeliran Theater: A New Process of Creation For Traditional Theater I Gusti Putu Sudarta; Dru Hendro
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v6i2.2362

Abstract

Tutur Candra Bherawa Pakeliran Theatre is a total theatre work that explores and uses the elements of the art in Balinese Traditional theatre. This work uses a song as a means for storytelling, becoming a theatrical music presentation. The melodies and vocals are not only based on Balinese and Javanese traditions but also adapt and transform the styles of qawwali music (Sufi songs) and other spiritual songs. It is presented in the Sangita song form, accompanied by instrumental music and dance. The concept of this work is ngarcana sarining lango, described as bukti-mukti-jiwan mukti. The method of creation utilizes the Gandha Sesa composition technique. Bhasma Sesa is the framework for the play, dramatic plot, play script, and form of presentation.
Wayang Arja Inovatif “Tresnasih Japatuan Mencari Istri yang Sudah Meninggal Hingga ke Sorga” Dwipayana, I Made Pasek Ari; Hendro, Dru; Bratanatyam, I Bagus Wijna
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1862

Abstract

Eksistensi Wayang Arja selalu mengalami penurunan, sehingga membuat penggarap tertarik untuk ikut melestarikan Wayang Arja. Penggarap menggarap Wayang Arja dalam nuansa inovatif yang berjudul “Tersnasih Sang Sutindih”, yang di maksud inovatif adalah memasukkan Wayang Arja ke dalam pertunjukan pakeliran layar lebar, menggunakan sumber pencahayaan LCD Proyektor dengan Scenerry dan penggunaan musik midi. Dalam garapan ini pastinya menggunakan metode untuk proses penggarapan yang lebih sistematis, metode yang penggarap gunakan adalah metode yang diajukan oleh Prof. M. Alma Hawkins, yaitu: a. Tahapan Ekploration (Eksplorasi), b. Tahapan Improvisasi (Percobaan), c. Tahapan Forming (Pembentukan). Penggarap berharap dengan diwujudkannya garapan ini mampu menjadi pemantik untuk para dalang, terutama dalang muda agar dapat ikut serta melestarikan Wayang Arja ke depannya.
Gerak Wantah Dan Gerak Maknawi Pada Pertunjukan Wayang Ental 3 Dimensi Karya Dalang I Gusti Made Darma Putra Swara, I Wayan Kembalyana Budi; Hendro, Dru
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 3 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i2.2847

Abstract

Wayang adalah seni pertunjukan tradisional Indonesia yang telah ada selama berabad-abad. Seni wayang ini biasanya dipentaskan dengan memanipulasi boneka kayu atau kulit yang diproyeksikan padalayar putih menggunakan sinar lampu, disertai dengan dialog yang diucapkan oleh dalang. Wayang ental adalah salah satu bentuk seni wayang yang dibuat oleh Dalang Dr. I Gusti Made Darma Putra.S.Sn.,M.Sn . Wayang ental menggunakan boneka berbahan dasar ental yang dikarakterisasikan dengan bentuk menyerupai manusia. Boneka-boneka tersebut kemudian dipakai oleh dalang untuk memerankan cerita dengan teknik manipulasi yang sangat dinamis. Salah satu hal yang membedakan wayang ental dengan seni wayang lainnya adalah penggerakan dari wayang tersebut yang dimana caramenggerakan wayang itu dengan setiap wayang akan digerakan atau dimainkan oleh satu orang.
Pelatihan Pertunjukan Wayang Kulit Tradisi Di Desa Adat Batur “Karya Sudhaningrat” Mahendra, I Kadek Yogi; Hendro, Dru; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3740

Abstract

Dilihat dari perkembangan zaman di masa sekarang dimana segala hal sudah bersifat inovasi hal tersebut menyebabkan tradisi mulai tidak diminati oleh generasi muda. Dilihat dari budaya khususnya seni pertunjukan Wayang Kulit di masa sekarang sudah sangat rendah kesksistensiannya di masyarakat, hal ini tidak hanya di alami di satu daerah namun hampir semua daerah di Bali memiliki masalah sepereti ini. Di Bali Utara khususnya di Desa Adat Batur yang dimana kesenian Wayang Kulit Tradisi sangat berperan penting sebagai pelengakap upacara yang diselenggarakan di Pura Ulun Danu Batur, walaupun demikian sangat susah sekali untuk mendapatkan generasi muda yang mau untuk mempelajari kesenian Wayang Kulit Tradisi. Dari permasalahan yang terdapat di Desa Adat Batur penulis melakukan program pembelajaran pertunjukan Wayang Kulit Tradisi kepada salah satu masyarakat yang ingin mendalami di duni seni Pedalangan bliau adalah I Made Sasmika. Ada beberapa tahapan yang dilakukan di dalam proses pembelajaran pertunjukan Wayang Kulit Tradisi antara lain mulai dari memberikan pemahaman tentang kesenian Wayang dan pemilihan gaya pementasan yang pantas dijadikan sebagai dasar pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini dipilih Style pementasan Sukawati karena di dalam pertunjukan Wayang Sukawati sangat banyak terdapat komponen – komponen yang membangun di dalam pementasan. Pada tahap pertama pembelajaran, peserta didik diberikan materi gending Alasarum diserta gerak Wayang, dilanjutkan dengan Penyacah Parwa sebagai sinopsis di dalam pertunjukan wayang yang menggunakan bahasa kawi, tahap ketiga mempelajari gending Bebaturan dan gerakan Mangkat, dilanjutkan dengan mempelajari Tarian Delem dan Siat Wayang. Dengan adanya program ini semoga kedepannya kesenian Wayang Kulit Tradisi di Desa Adat Batur bisa lestari tidak hanya di Batur saja, juga di tempat lain agar bisa terus diminati dan dilestarikan.