Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Dialog

Tradisi Pangngan Sebagai Sarana Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal di Toraja Rerung, Alvary Exan
Jurnal Dialog Vol 46 No 2 (2023): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v46i2.870

Abstract

Abstrak Penelitian ini berbicara tentang penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal sebagai respon kampanye Kementerian Agama Republik Indonesia tentang moderasi beragama yang telah berlangsung sejak 2019. Moderasi beragama bertujuan untuk mencegah sikap, pemahaman, dan tindakan yang eksterm dari setiap agama, seperti intoleransi, kekerasan, ujaran kebencian hingga terorisme. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan etnografi, dengan mekanisme pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi, dan wawancara mendalam. Data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian serta penulisan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil kajian etnografi tersebut menghasilkan unsur toleransi yang terkandung di dalam tradisi pangngan, antara lain: Pertama, tradisi pangngan mengedepankan sikap toleransi. Sikap tersebut merupakan sebuah hospitalitas yang menghilangkan sekat-sekat sosial, seperti perbedaan agama dan golongan yang ada. Kedua, tradisi pangngan menghilangkan rasa curiga terhadap yang diberi atau menerima pangngan walaupun berbeda agama atau golongan. Hilangnya rasa curiga yang terbentuk pada relasi tradisi pangngan menjadikan hubungan antara satu dengan yang lain menjadi harmonis. Kedua unsur teologis inilah yang kemudian menjadikan tradisi pangngan sebagai salah satu sarana moderasi beragama berbasis kearifan lokal di Toraja. Abstract This research sheds light on strengthening religious moderation based on local wisdom in response to the Ministry of Religious affairs of the Republic of Indonesia’s campaign on religious moderation since 2019. Religious moderation is aimed to prevent extreme attitudes, mislead understandings of religious teachings, such as intolerance, violence, hate speech, and terrorism. This is a descriptive qualitative research based on ethnographic approach. Data were collected through literature review, observation, and in-depth interviews. These were analyzed through data reduction, categorization, conclusions, and verification. This study found that pangngan tradition shows attitude of tolerance. This attitude was shown in a form of hospitality that removed social barriers, such as religious and social-class differences. In addition, the tradition enabled to minimize suspicion. Suspicion was dismissed through food sharing. These two elements of pangngan tradition has been evidence of religious moderation based on local wisdom in Toraja.
Tradisi Cium Hidung: Sarana Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal di Nusa Tenggara Timur Hermanus, Rio Rocky; Rerung, Alvary Exan
Jurnal Dialog Vol 47 No 2 (2024): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v47i2.908

Abstract

Abstrak Fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme, dan fanatisme berlebihan dari agama mana pun yang mengakibatkan kekerasan, intoleransi, dan skeptisisme terhadap perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi salah satu model penguatan moderasi beragama berdasarkan kearifan lokal, seperti tradisi mencium hidung di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini ditulis menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan etnografi, serta mekanisme pengumpulan data menggunakan studi literatur, observasi, dan wawancara dengan masing-masing sumber untuk memperkuat analisis dalam tulisan ini. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman tentang elemen-elemen toleransi yang terkandung dalam tradisi mencium hidung, termasuk sebagai ikatan hubungan, simbol penyelesaian masalah, introspeksi diri, dan kontrol sosial masyarakat. Sikap tersebut adalah keramahtamahan yang menghilangkan batasan sosial, seperti perbedaan agama, etnis, budaya, dan bahasa. Tradisi mencium hidung dipahami sebagai sarana untuk menciptakan keramahan dan sebagai bentuk realisasi nilai-nilai yang terkandung dalam narasi moderasi beragama. Mencium hidung juga menghadirkan simbol kekerabatan yang lengket, simbol penyelesaian masalah, simbol toleransi, dan fungsi kontrol sosial dalam masyarakat untuk menciptakan hubungan harmonis antara satu pihak dengan pihak lainnya. Akhirnya, eksplorasi narasi moderasi beragama berdasarkan tradisi mencium hidung membawa kita pada kesimpulan bahwa ada beberapa elemen komitmen nasional, anti-kekerasan, toleransi, dan sikap akomodatif terhadap budaya lokal yang tergambar dalam tradisi mencium hidung.   Abstract: Fundamentalism, radicalism, extremism, and excessive fanaticism from any religion that results in violence, intolerance, and skepticism towards differences. This research aims to explore one model of strengthening religious moderation based on local wisdom, such as the tradition of nose kissing in Kupang City, East Nusa Tenggara. This research is written using a descriptive qualitative method and an ethnographic approach, as well as data collection mechanisms using literature study, observation, and interviews with each source to strengthen the analysis in this paper. The results of this research provide an understanding of the elements of tolerance contained in the tradition of nose kissing, including: as a bond of relationships, a symbol of problem-solving, self-introspection, and social control of the community. That attitude is hospitality that eliminates social boundaries, such as differences in religion, ethnicity, culture, and language. The tradition of nose kissing is understood as a means to create hospitality and a form of realization of the values contained in the narrative of religious moderation. Kissing the nose also presents a sticky symbol of relationships, a symbol of problem-solving, a symbol of tolerance, and a function of social control within the community to create harmonious relationships between one party and another. Finally, the exploration of the narrative of religious moderation based on the tradition of nose kissing leads us to a conclusion that there are several elements of national commitment, anti-violence, tolerance, and an accommodating attitude towards local culture depicted in the tradition of nose kissing.