Kusumawardani, Larasati Arrum
Laboratory Of Clinical Pharmacy And Social Pharmacy, Faculty Of Pharmacy, Universitas Indonesia, Depok, West Java, 16424, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Potential drug interactions analysis of COVID-19 patients at a hospital in West Java Larasati Arrum Kusumawardani; Nisa Maria; Yumna Nabila Fanani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 17 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol17.iss2.art8

Abstract

Background: Treatment guidelines of COVID-19 are changing continuously by involving many off-label and various symptomatic or supportive drugs. The use of these various drugs might increase the patient’s risk of developing drug interactions.Objective: The study aimed to analyze potential drug-drug interactions in COVID-19 inpatients and the correlated factors.Method: A cross-sectional study was conducted in a hospital by using inpatients admitted from August-December 2020. Potential drug-drug interaction was analyzed by using Lex-Interact® software.Results: From 107 patients, the majority of them are in moderate severity-degree (98.1%), having comorbidities (93.5%), and polypharmacy (98.1%). The average of potential drug interactions was 8.47±8,04, with most of the interaction in risk rating C-monitor therapy. Major potential drug interactions found were prolongation of QT interval and disturbance of drug absorption in the gastrointestinal tract. A positive correlation occurred between drug interactions found and comorbidity (r=0.436), number of drugs per prescription (r=0.674), and length of stay (r=0.222)Conclusions: COVID-19 patient is at risk for developing potential drug interactions that can affect the patient's physiological condition and reduce drug effect. It is necessary to manage the medication schedule, therapy modification, administration route changing, dosage adjustment, and monitoring of effects that might occur because of the drug interactions.Keywords: drug interaction, COVID-19, inpatient, correlated factor IntisariLatar belakang: Tatalaksana pengobatan COVID-19 terus berkembang dengan melibatkan berbagai jenis obat off-label dan berbagai obat terapi simptomatik ataupun suportif. Penggunaan berbagai jenis obat ini membuat pasien berisiko mengalami interaksi obat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi antar obat yang dapat terjadi pada pasien COVID-19 rawat inap serta faktor yang mempengaruhinya.Metode: Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan sampel pasien rawat inap di rumah sakit pada periode Agustus-Desember 2020. Analisis potensi interaksi antar obat dilakukan dengan menggunakan Lexi-Interact®Hasil: Sebanyak 107 sampel pasien didapatkan mayoritas dalam tingkat keparahan sedang (98,1%), memiliki komorbid (93,5%), dan polifarmasi (98,1%). Rata-rata jumlah potensi interaksi obat yang dialami adalah 8,47± 8,04 dengan tingkat interaksi paling banyak pada kategori C (pantau terapi) (54,61%). Potensiinteraksi obat mayor yang banyak ditemukan adalah adanya perpanjangan pada interval QT serta gangguan absorpsi obat di saluran cerna. Terdapat korelasi positif antara potensi interaksi obat dengan faktor komorbid (r=0,436), jumlah obat per resep (r=0,674), serta lama rawat inap (r= 0,222).Kesimpulan: Pasien COVID-19 memiliki risiko tinggi untuk mengalami potensi interaksi obat yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien dan mengurangi efek terapi obat. Maka dari itu, perlu dilakukan pengaturan waktu minum, modifikasi terapi, perubahan rute pemberian, penyesuaian dosis, serta pemantauan efek obat yang mungkin muncul akibat interaksinya.Kata kunci : interaksi obat, COVID-19, rawat inap, faktor yang mempengaruhi
Pelaksanaan Pelayanan Farmasi Klinik di Apotek Pada Masa Pandemi COVID-19: Suatu Literature Review Maria, Nisa; Kusumawardani, Larasati Arrum; Yunita, Nurma; Sutantoputri, Dini Badriyanti
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 1 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : LPPM, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/sfj.v15i1.1091

Abstract

Selama masa pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19), apoteker harus tetap memberikan pelayanan farmasi klinik di apotek. Apoteker di apotek merupakan sumber informasi terkait penggunaan obat yang mudah diakses oleh masyarakat. Tetapi pelaksanaan kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek tentu mengalami hambatan dan tantangan selama pandemi ini. Tinjauan literatur dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dampak pandemi terhadap pelaksanaan pelayanan farmasi klinik dan perubahan yang dilakukan oleh apoteker di apotek selama situasi pandemi ini. Penelusuran artikel dilakukan melalui search engine PubMed dan ScienceDirect. EndNote X9 digunakan sebagai alat bantu untuk pengorganisasian artikel hasil penelusuran. Hasil penelusuran didapatkan tujuh artikel penelitian observasional atau eksperimental yang memenuhi persyaratan inklusi dan eksklusi lain yang sudah ditetapkan. Hasil tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa pengkajian resep, dispensing, pelayanan informasi obat, konseling, home pharmacy care, pemantauan terapi obat, dan monitoring efek samping obat tetap dapat dilakukan selama masa pandemi dengan persyaratan yang ketat. Pelayanan informasi obat dan konseling di apotek dilakukan dalam waktu yang singkat, pasien kemudian diberikan informasi tambahan melalui telepon atau flyer. Pemantauan terapi dan efek samping obat dapat dilakukan melalui telepon. Home pharmacy care hanya dilakukan jka sangat diperlukan. Pelayanan farmasi klinik di apotek dilakukan secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan dan modifikasi sistem. Pelayanan online menjadi alternatif yang bisa diterapkan untuk mengisi kekurangan pelaksanaan secara tatap muka.
Penyesuaian Dosis dan Potensi Interaksi Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih dengan Penyakit Ginjal Kronis Maria, Nisa; Arrum Kusumawardani, Larasati; Rinaldi, Dinar Syifa Ulya; Wilda Risni, Hindun
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v16i1.222

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat memperburuk kondisi pasien dengan penyakit komorbid seperti Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Pasien ISK dengan PGK yang dirawat inap umumnya mendapatkan terapi antibiotik. Namun, penggunaannya berpotensi menimbulkan Masalah Terkait Obat (MTO) karena adanya risiko nefrotoksisitas pada beberapa antibiotik, gangguan terhadap farmakokinetik obat, dan banyaknya peresepan obat pada pasien PGK. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian dosis dan potensi interaksi obat pada pasien ISK dengan PGK rawat inap pada salah satu RSUD di DKI Jakarta. Sejumlah 78 sampel penelitian diperoleh menggunakan teknik total sampling. Data sekunder pasien meliputi resep, rekam medis, dan hasil laboratorium pasien periode tahun 2018-2022 diambil secara retrospektif. Analisis MTO menunjukkan bahwa 13 pasien (17,1%) menerima dosis antibiotik tidak sesuai dan 34 pasien (43,6%) mengalami potensi interaksi obat. Uji statistik menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa ketidaksesuaian dosis antibiotik lebih sering ditemukan pada kelompok PGK stage 4-5 (p= 0,041; OR=4,744) dan lama rawat inap >6 hari (p= 0,032; OR= 5,067) serta kejadian potensi interaksi obat antibiotik lebih banyak dialami oleh pasien berjenis kelamin perempuan (p= 0,007; OR= 4,667), PGK stage 4-5 (p= 0,024; OR=3,208), jumlah riwayat komorbid selain PGK >2 (p= 0,046; OR= 2,827), dan jumlah obat >10 (p= 0,031; OR= 3,061). RSUD tersebut sudah menerapkan praktik pemberian antibiotik pasien ISK-PGK dengan baik namun dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan pemantauan obat dan pasien secara ketat, terutama terkait penyesuaian dosis dan potensi interaksi obat antibiotik.
Pengembangan Kuesioner PTFKP untuk Mengevaluasi Pelayanan Telefarmasi Berupa Kepuasan Pasien Berdasarkan Mutu Pelayanan WHO Kusumawardani, Larasati Arrum; Puspasari, Annisa; Achmad, Reza Fadillah; Wati, Azizah
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v16i2.221

Abstract

Telepharmacy is one of pharmaceutical service that is currently growing and widely used by community and healthcare facility in the digital era. To ensure the quality, it should meet the dimensions of healthcare service quality. According to WHO, the dimensions of healthcare service quality include effective, efficient, timely, people-centered, equitable, and safe. However, instruments to assess the quality of telepharmacy services are still very limited. This study aims to develop a PTFKP questionnaire to evaluate the quality of telepharmacy services based on WHO quality health services from the perspective of patient satisfaction. Content validation was conducted in two stages by three experts consisting of academicians and community pharmacists. Face validity, construct validity, and reliability testing were conducted on 30 respondents who met the criteria of being over 18 years old and having used telepharmacy services in the last 2 years. Content validity testing showed an I-CVI value of 0.71 (first round) and 1.00 (second round). In construct validity testing using the CITC (corrected item-total correlation) method, 10 questions did not meet the requirements initially. After revision, the r value for each question met the criteria, ranging from r= 0.378-0.857 (rtable = 0.361). Reliability testing using the internal consistency method showed a Cronbach’s alpha value of 0.805-0.900 for each dimension of service quality. The number of valid and reliable questions was 5 for each dimension of effective, efficient, people-centered, and safe, and 4 for each dimension of timely and equity. The questionnaire meets the validity and reliability requirements to be used.
Pendidikan dan Pelatihan untuk Peningkatan Kompetensi Apoteker terkait Telefarmasi: Scoping Review Permata Sari, Kartika Citra Dewi; Maria, Nisa; Kusumawardani, Larasati Arrum; Risni, Hindun Wilda; Syafhan, Nadia Farhanah; Fauziyyah, Afina Nur
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 21 No 2 (2023): JIFI
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v21i2.1487

Abstract

Antihypertensive and antidiabetic drugs in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialyThe high demand for telepharmacy services led to the urge for proper training and education to enhance its quality. This review aimed to assess the implementation and outcomes of telepharmacy training and education programmes. This scoping review was conducted on ScienceDirect, Sage Journal, SpringerLink, and Google Scholar databases using keywords “training” OR “education” AND “telepharmacy,” “training” OR “education” AND “digital competency” AND “pharmacy.” Only English-written articles published between 2000 – 2023, original research and brief report were included in this review. Eight of 171 articles met the criteria and the study’s objectives. Those studies discussed telepharmacy learning programmes for pharmacy students in the USA (5 articles), UAE (2 articles), and Malaysia (1 article). The learning methods included didactic learning, case-based study, simulation/roleplay, and clerkship employing technological tools. Rubrics, quizzes, questionnaires, and objective structured clinical examination (OSCE) were used as assessment methods. All studies reported improved students’ knowledge, perceptions, and telepharmacy competencies. In conclusion, the telepharmacy learning programmes have effectively upgraded students’ knowledge and skills by various methods at every level. However, there remains a considerable need for evidence on suitable training for pharmacists to improve their telepharmacy competencies and service quality.