Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Triton

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional terhadap Partisipasi Kelompok Wanita Tani dengan Motivasi sebagai Variabel Intervening Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari Kabupaten Bantul Septi Wulandari; Sunarru Samsi Hariadi; Siti Andarwati
JURNAL TRITON Vol 14 No 2 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i2.400

Abstract

Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan kegiatan pemberdayaan kelompok wanita tani (KWT) yang dapat menjadi pondasi ketahanan pangan terutama di tingkat keluarga. Penerapan gaya kepemimpinan yang tepat memiliki fungsi agar keterlibatan anggota dalam suatu organisasi atau kelompok lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan bantul terhadap partisipasi KWT dengan motivasi sebagai variabel intervening pada kegiatan P2L. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bantul pada bulan Mei sampai dengan Juli Tahun 2022. Pengambilan data primer dilakukan melalui wawancara secara langsung menggunakan kuisioner kepada 111 responden anggota KWT yang diambil secara sensus. Data dianalisis menggunakan path analysis dengan program AMOS 24. Berdasarkan hasil analisis jalur menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan situasional ketua KWT yang terdiri dari gaya kepemimpinan telling, gaya kepemimpinan participating dan gaya kepemimpinan delegating mampu meningkatkan partisipasi anggota KWT melalui kuatnya motivasi anggota dalam kegiatan P2L. Namun, kesesuaian gaya kepemimpinan selling tidak memengaruhi kuatnya motivasi karena kondisi anggota yang tidak mampu melaksanakan kegiatan P2L dari segi waktu, tenaga ataupun pengetahuan. Peningkatan kapasitas ketua KWT dapat dilakukan melalui bimbingan teknis kepemimpinan situasional sehingga ketua mampu mengidentifikasi dan memahami kondisi anggota untuk mendukung keberlanjutan kegiatan P2L. Pemilihan ketua KWT sebaiknya diutamakan yang mempunyai kemampuan bidang pertanian. Motivasi anggota KWT dapat pula ditingkatkan melalui pelatihan teknik budidaya sayuran yang tepat pada musim hujan, inovasi penggunaan air saat musim kemarau, pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida nabati serta olahan pasca panen.
Praktik Petani dalam Menghadapi Perubahan Iklim (Studi Petani di Sentra Pertanian Selopamioro Kabupatan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta) Novendra Cahyo Nugroho; Siti Andarwati; Ratih Ineke Wati
JURNAL TRITON Vol 14 No 2 (2023): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v14i2.502

Abstract

Perubahan iklim merupakan salah satu masalah lingkungan yang saat ini paling kritis dihadapi berbagai negara. Perubahan iklim memiliki banyak konsekuensi terhadap berbagai keberlanjutan proses pembangunan. Oleh sebab itu perubahan iklim masuk dalam agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Bappenas mencatat potensi kerugian akibat perubahan iklim mencapai Rp. 544 triliun pada 2020-2024. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim sebab sangat berpengaruh terhadap cekaman lingkungan. Di sisi lain sektor pertanian merupakan tumpuan lapangan kerja dan pemasok kebutuhan pangan, pakan, dan energi. Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian antara lain meningkatnya hama dan menurunnya musuh alami, terjadinya cekaman yang membuat lahan kering maupun banjir, yang pada akhirnya menurunkan hasil produksi tanaman. Namun disisi lain petani selama bertahun tahun telah melakukan berbagai praktik budidaya yang sejatinya memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat praktik-praktik yang dilakukan petani dalam menghadapi perubahan iklim. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan pada penelitian ini dengan melibatkan tujuh informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani melakukan manajemen pengairan melalui embung, diversifikasi komoditas, serta penggunaan input organik dalam upaya menghadapi perubahan iklim. Melalui berbagai aksi iklim tersebut, masyarakat Selopamioro menjadi lebih adaptif terhadap fenomena perubahan iklim. Akumulasi upaya adaptasi melalui berbagai praktik yang diterapkan oleh petani Selopamioro telah mendorong masyarakat untuk lebih siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pengelolaan sumber daya alam yang didukung dengan kearifan lokal menjadi aspek penting dalam merespons perubahan iklim.