Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Analisis Respon Dinamis Core Wall dengan Belt Truss dan Core Wall dengan Belt Wall pada Struktur Gedung 40 Lantai Majid, Faqih Adillah; Andayani, Relly; Sulardi, Sulardi; Pramono, Didiek
SEIKO : Journal of Management & Business Vol 7, No 1.1 (2024)
Publisher : Program Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/sejaman.v7i1.6568

Abstract

Struktur Belt Truss dan Belt Wall berfungsi dalam meningkatkan kekakuan bangunan untuk mengurangi displacement lateral. Tujuan penelitian ini menganalisis respon dinamis pada struktur core wall, belt truss, dan belt wall. Penlitian ini menggunakan gedung berjumlah 40 lantai, dengan tinggi 118m. Proses analisis menggunakan struktur beton bertulang dengan metode sistem struktur yaitu sistem ganda (Duall System), pemodelan struktur terdapat 3 variasi yaitu struktur gedung dengan core wall, core wall dengan belt truss, dan core wall dengan belt wall. Hasil analisis menunjukkan bahwa lokasi optimum pemasangan belt truss dari beberapa ketinggian 0,25h, 0,5h, 0,75h dan cap truss, terletak di 0,5h belt trus mampu mereduksi simpangan 6,45% sumbu X dengan 5,99% sumbu Y. Model gedung dengan core wall digunakan sebagai acuan menghasilkan simpangan maksimum 203mm (arah X) dan 190mm (arah Y). Struktur gedung core wall+0,5h belt truss menghasilkan simpangan maksimum 189,9mm (arah X) dan 179mm (arah Y). Dan apabila struktur gedung core wall+0,5h belt wall menghasilkan simpangan maksimum 186,8mm (arah X) dan 176 mm (arah Y). Jadi model yang terbaik adalah gabungan antara core wall dengan belt wall mampu mereduksi simpangan 8,08% arah X dan 7,56% arah Y.
Analisis Kandungan Mineral Pasir Pantai Tanjung Pasir Kota Tangerang Menggunakan Difraksi Sinar-X Ellysa, Ellysa; Pranata , Andi Asnur; Handayani, Tri; Suprapto, Heri; Andayani, Relly; Wulan, Asri
Jurnal Ekonomi Teknologi dan Bisnis (JETBIS) Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Ekonomi, Teknologi dan Bisnis
Publisher : Al-Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/jetbis.v2i1.25

Abstract

Identifikasi kandungan mineral pada tanah merupakan hal yang sangat penting agar dapat mengetahui sifat tanah. Salah satu teknik untuk mengetahui mineral yang terkandung pada tanah dapat dilakukan dengan mengunakan alat X-Ray Diffraction (XRD). Tanah pasir merupakan tanah yang tersebar cukup banyak di wilayah Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral Tanah pasir pantai Tanjung Pasir. Sampel tanah pasir pantai Tanjung Pasir diambil pada titik pengambilan sampel yang terletak pada 6o00’54,5”S; 106o40’51,5”E. Uji kandungan mineral dilakukan setelah uji sifat fisik tanah berupa uji kadar air tanah dan uji gradasi saringan. Kandungan mineral pada sampel tanah di uji di Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) yang berlokasi di Serpong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral dalam tanah pasir pantai Tanjung Pasir dapat disimpulkan bahwa tanah pasir tersebut mengandung Magnetite (Fe2+Fe3+2O4) sebesar 62,1 % dan kandungan mineral Quartz (SiO2) sebesar 37,9 %.
Analisis Perbandingan Sistem Struktur Gedung Baja Konvensional dan Sistem Struktur Diagrid dengan Konfigurasi Batang Diagonal yang Berbeda Nugroho, Bima Candra; Andayani, Relly
Jurnal Teknik Sipil Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jts.v20i1.6303

Abstract

Diagrid is known as a grid structure where the exterior structure of the building is diagonal, this is one of the most innovative and adaptable approaches and also evolved into its use for high-rise buildings. Diagrid is formed from diagonally shaped frames that are interconnected by materials which can be steel, concrete or wood. The purpose of this study is to determine the performance of the diagrid building structure and how the optimal diagonal member configuration for the diagrid building is. There are 6 types of buildings to be reviewed, consisting of 1 conventional building type and 5 diagrid building types, namely diagrid type 2L20M with diagonal members slope of 33,94°, diagrid type 4L10M with a diagonal angel of 53,39°, diagrid type 8L5M with a diagonal angel of 69,62°, type 10L4M diagrid with a diagonal angle of 73,45° and 20L2M type diagrid with a diagonal angle of 81,55°. The buildings will be analyzed using the ETABS program and following the SNI regulations in Indonesia. The performance result to be compared include cross-sectional dimensions, total structure weight and base shear, service limit performance and time period. The result analysis show that the diagrid building has better structural performance. The diagrid model with the most optimal performance is the 10L4M type with a diagonal member length of 36,51 meters that extends up to 10 floors with a module height of 35 meters and an angle of 73,45°. Diagrid model with the second-best performance is type 8L5M, then in third place is type 4L10M and in fourth place is type 20L2M. The diagrid building with the lowest performance is the 2L20M type which has no better performance than conventional buildings.
PERENCANAAN FONDASI BORED PILE UNTUK TANAH GRANULER PADA GEDUNG APARTEMEN 10 LANTAI DI BOGOR Wulan, Asri; Ellysa, Ellysa; Handayani, Tri; M.H, Andi Asnur Pranata; Andayani, Relly; Laksono, Alya Tasya Putri
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v4i3.1761

Abstract

The construction of an apartment building that is used as a residential community has stages of construction work that will support the building to remain strong, stable and safe. Planning a building construction can not be separated from the planning of the foundation that must be calculated and designed properly to support the working load without experiencing shear failure and excessive settlement to ensure the stability of the building. The purpose of this plan is to design a bored pile foundation for the construction of a 10 floors apartment in Bogor. Based on the results of soil investigations in the planning area in Bogor, West Java, it was found that the type of soil was dominant granular soil. In the calculation of the foundation planning using a circular bored pile foundation type with a diameter of 0,7 meters at a depth of 18 meters. Calculation of the axial bearing capacity of single and group piles using the Reese & Wright and Converse- Labarre methods. Calculation of pile settlement using the semi-empirical method and the Vesic method. Calculation of lateral bearing capacity using the Broms method. Based on the calculation results, the bearing capacity of the foundation permit is 113,542 tons with the many piles needed as 132 piles. The pile subsidence in the group is 10,770 cm for the 6 pile group and the largest lateral pile deflection is 1,470 mm. The foundation uses 14D19 longitudinal reinforcement and D16-54 shear reinforcement and pile cap dimensions of 1,1 m – 4,5 m with a thickness of 0.9 m. Budget Plan The cost of planning the bored pile foundation for a 10 floors apartment building in Bogor, the total cost is Rp. 3,160,217,000.000 with a foundation price per pile of Rp. 15,626,817.010.
Analisis Pengaruh Konfigurasi Menara Pada Jembatan Cable Stayed Akibat Beban Gempa Siahaan, Yessi Stani Beata; Andayani, Relly
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrs.17.1.37-51.2021

Abstract

Perkembangan teknologi jembatan cable stayed khususnya untuk jembatan bentang panjang berkembang sangat pesat. Jembatan cable stayed merupakan pilihan yang tepat karena desain geometri struktur yang relatif ringan, ekonomis dan lebih kaku dibandingkan dengan jembatan gantung. Analisis beban gempa yang terjadi dalam perhitungan struktur jembatan cable stayed sangat penting, karena sistem menara jembatan bersentuhan langsung dengan tanah keras sebagai media pelepasan energi sesaat saat terjadi gempa bumi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis struktur menara jembatan cablye stayed dengan konfigurasi bentuk menara jembatan yang berbeda dalam memikul beban akibat beban gempa sehingga didapatkan bentuk menara yang memiliki gaya dalam minimum. Perencanaan bentuk menara bervariasi antara lain menara tipe A, menara tipe H, menara tipe berlian, menara tipe inverted Y, dan menara tipe X. Penyusunan kabel menggunakan Konfigurasi Semi Fan dan metode analisis dinamis menggunakan Time History Analysis. Bentuk struktur jembatan menara cable stayed sangat mempengaruhi kinerja dari struktur jembatan secara keseluruhan karena menara merupakan komponen utama jembatan yang menenerima gaya tekan dan momen yang besar. Hasil analisis diperoleh menara yang mengalami perpindahan minimum adalah menara tipe Inverted Y. Hasil analisis diperoleh semakin banyak tarikan kabel yang ditopang menara, semakin sedikit tumpuan pada menara dan geometri pada puncak menara yang tidak menyatu maka semakin besar gaya-gaya dalam yang dialami menara. Menara yang mengalami gaya-gaya dalam yang minimum yang dapat direkomendasi untuk digunakan pada jembatan cable stayed adalah menara tipe A, tipe H dan tipe Inverted Y.
Pengaruh Penerapan SNI 1726:2019 Terhadap Desain Struktur Rangka Momen Beton Bertulang Di Indonesia Nurul Sodik, Ahmad Sobah; Andayani, Relly
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrs.17.1.1-12.2021

Abstract

Telah diterbitkan peraturan gempa yang terbaru, yaitu tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur gedung dan non gedung SNI 1726:2019 menggantikan peraturan gempa sebelumnya, SNI 1726:2012. Dalam penelitian ini spektra desain yang ada dalam SNI 1726:2019 dibandingkan dengan spektra desain dalam SNI 1726:2012 dengan mengambil sampling 21 kota besar yang dianggap mewakili seluruh wilayah Indonesia. Dari hasil perbandingan tampak sebagian besar mengalami kenaikan walaupun tidak sedikit yang mengalami penurunan dan ada pula yang tetap. Penerapan faktor amplifikasi Fa menurut SNI 1726:2019 menyebabkan adanya fenomena anomali di daerah-daerah rawan gempa, dimana nilai spektra desain untuk perioda pendek di situs Tanah Lunak (SE) dapat lebih rendah daripada nilai untuk Tanah Sedang (SD) dan Tanah Keras (SC). Fenomena anomali tersebut terjadi di kota-kota dengan SS di atas 0,75 g. Penelitian dilanjutkan dengan melakukan studi komparasi dengan membandingkan besaran gaya gempa yang dihitung menggunakan SNI 1726:2012 dan SNI 1726:2019 terhadap suatu sampel model struktur gedung yang diasumsikan terletak di Jakarta pada kondisi tanah lunak (SE). Terjadi kenaikan base shear desain pada gedung yang dihitung menggunakan SNI 1726:2019 dibandingkan gedung yang dihitung menggunakan SNI 1726:2012 sebesar 128,93% untuk arah x dan 131,23% untuk arah y. Sampel model struktur gedung memiliki level kinerja life safety jika dievaluasi terhadap peraturan gempa SNI 1726:2012 dan mengalami penurunan kinerja dari level life safety ke collapse prevention jika dievaluasi terhadap gempa peraturan baru, SNI 1726:2019.