Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGEMBANGAN KPOP PLUS BERBASIS DIGITAL UNTUK EFISIENSI DAN TRANSPARANSI LAYANAN ORTOTIK PROSTETIK DI RSUD SUMBERGLAGAH Sunarto, Gatot; Rahmadho, Praviko; Winardi, Bahana Rizka; Septianiputri, Dea; Apriyanto, Rahmat; Permatasari, Riska
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v5i8.12263

Abstract

Background: Access to orthotic–prosthetic services is often limited by administrative delays, patient unpreparedness, and inefficient workflows, particularly in developing countries. KPOP Plus (Integrated Orthotic–Prosthetic Service Channel) was developed at RSUD Sumberglagah to address these challenges by integrating two prior innovations: KPOP, a WhatsApp-based pre-visit consultation service, and SI-KEPO, a digital system for monitoring service progress. Methods: A quasi-experimental design with mixed-methods was employed in 2025, involving 250 purposively selected patients from a total of 880. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, paired t-tests, Wilcoxon tests, and Spearman correlations to assess administrative and medical readiness, staff efficiency, progress transparency, and patient satisfaction. Results: Implementation of KPOP and SI-KEPO significantly improved service outcomes: patient understanding of service processes increased from 3.21 to 4.61 (p<0.001), administrative readiness from 3.08 to 4.55 (p<0.001), overall satisfaction from 3.98 to 4.67 (p<0.001), and progress transparency from 28% to 86%. The integrated KPOP Plus platform is projected to reduce service delays by up to 90%, enhance workflow efficiency, and increase patient satisfaction to 97% in 2026. Achievements include nomination in the 2024 East Java Innovation Government Awards, administrative qualification in the 2025 KIPP–SINOVIK, and recognition as 2025 Top Innovation Kovablik Award. Conclusion: KPOP Plus provides a replicable, sustainable model for digital transformation in orthotic–prosthetic services, improving efficiency, transparency, and patient-centered care in public healthcare facilities.
INOVASI KONSULTASI ORTOTIK PROSTETIK BERBASIS WHATSAPP MENINGKATKAN AKSES DAN KESIAPAN PELAYANAN Sunarto, Gatot; Apriyanto, Rahmat; Septianiputri, Dea; Permatasari, Riska; Rahmadho, Praviko
Jurnal Kreativitas dan Inovasi (Jurnal Kreanova) Vol 6 No 1 (2026): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24034/kreanova.v6i1.7747

Abstract

Akses pelayanan ortotik prostetik (OP) di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan fasilitas layanan, jarak geografis, kesiapan medis pasien, serta kelengkapan administrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kondisi ini berdampak pada keterlambatan pelayanan, meningkatnya biaya transportasi pasien, serta rendahnya pemanfaatan layanan ortotik prostetik. RSUD Sumberglagah sebagai rumah sakit rujukan rehabilitasi medik mengembangkan inovasi KPOP (Konsultasi Pelayanan Ortotik Prostetik) berbasis aplikasi WhatsApp sebagai solusi konsultasi daring tanpa biaya sebelum pasien datang ke rumah sakit. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi inovasi KPOP serta dampaknya terhadap peningkatan akses dan kesiapan pelayanan ortotik prostetik. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis dengan memanfaatkan data pelayanan sebelum dan sesudah inovasi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan jumlah kunjungan pasien, penurunan signifikan ketidaksiapan kondisi stump dan kegagalan administrasi, serta peningkatan kepuasan pasien. Inovasi KPOP terbukti efektif dalam meningkatkan aksesibilitas, efisiensi pelayanan, dan kualitas layanan ortotik prostetik.
PENGARUH WORKPLACE STRETCHING MELALUI MICROBREAK 5 MENIT TERHADAP PENURUNAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGRAJIN SEPATU Gusma, Ellysa Okky; Sunarto, Gatot; Adityasiwi, Gian Lisuari; Khenda, Nathan Agwin; Susanto, Nicolas Adi Perdana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.54676

Abstract

Low back pain merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering dialami pekerja sektor informal, termasuk pengrajin sepatu, akibat paparan postur kerja statis dan aktivitas berulang dalam durasi panjang. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga berdampak pada keterbatasan fungsi aktivitas dan penurunan produktivitas kerja. Salah satu pendekatan ergonomi yang berpotensi mengatasi permasalahan tersebut adalah workplace stretching yang dilakukan melalui microbreak singkat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh microbreak workplace stretching selama 5 menit terhadap intensitas nyeri punggung bawah dan disabilitas fungsional pada pengrajin sepatu di Mojokerto. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan rancangan one-group pretest–posttest. Populasi penelitian adalah seluruh pengrajin sepatu di Mojokerto dengan sampel sebanyak 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel penelitian meliputi intensitas nyeri punggung bawah dan disabilitas fungsional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) dan Roland–Morris Disability Questionnaire (RMDQ). Intervensi microbreak workplace stretching diberikan selama 5 menit, dua kali sehari, selama dua minggu. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada intensitas nyeri saat gerak, nyeri saat diam, serta disabilitas fungsional setelah intervensi (p < 0,05). Simpulan penelitian ini adalah microbreak workplace stretching merupakan intervensi ergonomi yang efektif dalam menurunkan nyeri punggung bawah dan meningkatkan kapasitas fungsional pekerja, serta relevan sebagai strategi promotif–preventif dalam kesehatan kerja sektor informal.
IMPLEMENTASI INOVASI SPINALKES PADA KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL ELEKTRONIK TENAGA KESEHATAN RSUD SUMBERGLAGAH Sunarto, Gatot; Lestari, Ayu Dwi; Rofik, Ainur; Setryawan, Agus; Riyadhaty, Lutfiyah; Suciati, Nunik; Rahmadho , Praviko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.54414

Abstract

Kegiatan Proses Kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan  yang dilaksanakan secara berkala (setiap lima tahun) merupakan mekanisme penting dalam menjamin mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan akuntabilitas praktik profesional di rumah sakit. Namun, pelaksanaannya di sebagian besar rumah sakit, baik daerah maupun pusat, masih dilakukan secara manual, sehingga menimbulkan inefisiensi administrasi, duplikasi dokumen, keterbatasan transparansi, serta lemahnya mekanisme pemantauan mutu. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi sistem SPINALKES (Sistem Penilaian dan Layanan E-Kredensial Tenaga Kesehatan dan Medis) sebagai inovasi kredensial elektronik untuk memperkuat tata kelola kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi proses, telaah dokumen kebijakan, dan wawancara terstruktur terhadap 70 tenaga kesehatan pengguna aktif sistem pada tahun 2025, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SPINALKES menurunkan waktu pemrosesan rata-rata sebesar 45%, meningkatkan kelengkapan dokumen hingga 100%, serta memperkuat pemantauan mutu melalui audit trail dan pencatatan Ongoing Professional Practice Evaluation berbasis digital. Sistem ini juga meningkatkan konsistensi penilaian kewenangan klinis lintas profesi serta mendukung kesiapan pemenuhan standar akreditasi rumah sakit dan regulasi nasional. Disimpulkan bahwa SPINALKES efektif dalam memperkuat tata kelola kredensial berbasis digital serta menyediakan model implementatif yang berpotensi direplikasi sebagai strategi penguatan manajemen sumber daya manusia kesehatan di rumah sakit daerah maupun pusat.
Hubungan Riwayat Menarke Dini dengan Derajat Keparahan Skoliosis pada Remaja Putri Pengguna Brace Skoliosis di Klinik Ortotik Prostetik Mojokerto Gusma, Ellysa Okky; Sunarto, Gatot
Excellent Midwifery Journal Vol. 9 No. 1 (2026): Volume 9 No. 1, April Tahun 2026
Publisher : STIKes Mitra Husada Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55541/emj.v9i1.405

Abstract

Latar Belakang: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) merupakan deformitas tulang belakang tiga dimensi yang sering ditemukan pada remaja, terutama perempuan, dan progresinya berkaitan erat dengan fase pertumbuhan pubertas. Riwayat menarke sebagai penanda maturasi pubertas diduga memiliki hubungan dengan derajat keparahan skoliosis, meskipun bukti yang tersedia masih belum konsisten. Pada pasien remaja putri pengguna brace, informasi mengenai usia menarke berpotensi menjadi salah satu indikator klinis tambahan dalam evaluasi penyakit. Tujuan: Menganalisis hubungan riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace di Klinik OP Mojokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah remaja putri pengguna brace skoliosis di Klinik OP Mojokerto tahun 2025. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Variabel independen adalah riwayat menarke dini, sedangkan variabel dependen adalah derajat keparahan skoliosis berdasarkan sudut Cobb. Variabel lain yang dianalisis meliputi usia, tipe skoliosis, dan lama penggunaan brace. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Sebanyak 60 responden dianalisis, dengan 41 pasien (68,3%) memiliki riwayat menarke dini. Derajat skoliosis terdiri atas ringan 18 pasien (30,0%), sedang 30 pasien (50,0%), dan berat 12 pasien (20,0%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis (p=0,014). Rerata sudut Cobb pada kelompok menarke dini lebih rendah dibandingkan kelompok tidak menarke dini. Kesimpulan: Riwayat menarke dini berhubungan dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace. Riwayat maturasi pubertas dapat dipertimbangkan sebagai informasi klinis tambahan dalam evaluasi pasien AIS yang menjalani terapi brace konservatif.
Quality of life and physical activity participation in adolescent girls with idiopathic scoliosis treated with bracing Okky Gusma, Ellysa; Sunarto, Gatot; Lisuari Adityasiwi, Gian; Agwin Khenda, Nathan; Adi Perdana Susanto, Nicolas
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 15 No. 1 (2026): January - June
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v15i1.203

Abstract

Introduction: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) is a common musculoskeletal condition that predominantly affects adolescent girls and often requires prolonged brace treatment. Although bracing is effective in preventing curve progression, it may negatively influence physical comfort, emotional well-being, and psychosocial functioning. Quality of life has therefore become an essential outcome in the management of AIS. Physical activity, particularly swimming, is frequently recommended as a safe form of exercise for adolescents with scoliosis; however, evidence on its association with quality of life during brace treatment remains limited. Research Methodology: This study employed a quantitative cross-sectional design involving 50 adolescent girls aged 10–18 years diagnosed with idiopathic scoliosis and undergoing brace treatment for at least six months. Participants were selected using purposive sampling. Quality of life was assessed using the Brace Questionnaire (BrQ), covering eight domains. Physical activity participation was measured by swimming frequency and categorised as low (1–2 times/week) or high (≥3 times/week). Data were analysed using univariate statistics, independent t-tests, and multivariate regression analysis. Results: The mean total quality-of-life score indicated a moderate level of quality of life among participants. Higher participation in physical activity was significantly associated with better physical and emotional functioning, vitality, and overall quality of life (p < 0.05). Adolescents who swam three or more times per week had higher total quality-of-life scores than those who swam fewer times per week. No significant differences were observed in self-esteem and social functioning domains. Conclusion: Regular physical activity, particularly swimming, is positively associated with improved quality of life among adolescent girls with idiopathic scoliosis undergoing brace treatment. Integrating safe physical activity promotion into conservative scoliosis management may enhance both physical and psychosocial well-being.