Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN SEJARAH ISLAM DENGAN SIKAP KRITIS SISWA TERHADAP BUDAYA BARAT DI MI AL AMIN GARAHAN JEMBER Permana, Mufidatur Rizqiya; Dwi Cahyani; Akhiyat; Fathiyaturrahmah
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 5 No 4 (2025): Vol. 5 No. 4 Edisi November 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v5i4.4251

Abstract

Penelitian Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembelajaran sejarah Islam dalam membentuk cara berpikir kritis siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tengah pengaruh budaya Barat yang semakin kuat. Di era globalisasi, siswa tidak hanya dituntut memahami fakta sejarah, tetapi juga mampu menilai dan menyaring nilai-nilai asing berdasarkan prinsip keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan sejarah Islam dengan sikap kritis siswa terhadap budaya Barat di MI Al Amin Garahan Jember. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif korelasional, dengan jumlah responden 60 siswa kelas V dan VI yang dipilih secara proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui angket berskala Likert dan dianalisis menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson. Hasil analisis menunjukkan nilai r = 0,86, lebih besar dari r_tabel = 0,254, yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara kedua variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan siswa tentang sejarah Islam, semakin tinggi pula kemampuan mereka berpikir kritis terhadap pengaruh budaya Barat. Dengan demikian, pembelajaran sejarah Islam memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran identitas, karakter selektif, dan kemampuan berpikir reflektif siswa MI di era globalisasi budaya.
Tragedi Gerbong Maut Bondowoso 1947: Rekonstruksi Sejarah dan Makna Perjuangan Bangsa Akhiyat; Ridho, Akhsin
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12578

Abstract

Peristiwa tragis yang dikenal sebagai "Death Carriage" atau insiden gerbong Maut di Bondowoso pada tahun 1947 ini berfungsi sebagai refleksi pedih tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan bergema jauh dalam narasi sejarah identitas nasional dan memori kolektif. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi konteks sejarah tragedi, meneliti bagaimana implikasinya telah membentuk nasionalisme Indonesia kontemporer dan pelajaran moral yang dipetik dari perjuangan. Memanfaatkan metodologi kualitatif yang berakar pada analisis sejarah, penelitian ini meneliti sumber primer dan sekunder, termasuk literatur tentang nasionalisme dan penggambaran sejarah perjuangan Indonesia, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang peristiwa tersebut. Kerangka teoritis seputar nasionalisme dan memori kolektif merupakan bagian integral dari penyelidikan "Death Carriage" sebagai situs memori yang merangkum tema pengorbanan, ketahanan, dan kerinduan kolektif akan kebebasan, seperti yang dibahas. Selanjutnya, peran wacana pendidikan dalam menanamkan narasi ini ke dalam kesadaran nasional ditekankan, menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dalam menumbuhkan rasa identitas dan solidaritas di antara masyarakat Indonesia, seperti yang disebutkan. Temuan ini mengungkapkan bahwa tragedi tersebut melambangkan harga kemerdekaan, tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah tetapi juga sebagai katalis untuk refleksi berkelanjutan tentang nilai-nilai dan identitas nasional dalam menghadapi tantangan kontemporer. Rekonstruksi ini memberikan wawasan penting tentang warisan abadi "Carriage of Death" dan perannya dalam membentuk identitas nasional dan kerangka pendidikan Indonesia. Kata Kunci: gerbong maut; nasionalisme; rekonstruksi sejarah; Kemerdekaan Indonesia