Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Self-Efficacy dan Emotional Intelligence dengan Stress Akademik Mahasiswa Sarjana Keperawatan di STIKES Sukabumi Novianty, Lia; Utami , Rima Novianti; Ahmad, Ghulam; Pusparini , Denisa
Jurnal Kesehatan Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46815/jk.v11i2.95

Abstract

During their education, students are required to carry out various lecture processes and tasks, and also to complete academic assignments. The lots of lecture assignments that must be completed on time, and also a poor self-management of some students can cause academic stress. Self-efficacy and Emotional intelligence are possible factors that can reduce academic stress in students. This study aimed to determine the correlation between self-efficacy and emotional intelligence on student academic stress. Quantitative research method with a cross sectional approach was used to achieve the aim of the study. The population of this study was undergraduate nursing students of STIKes Sukabumi with a sample of 197 people, using stratified random sampling techniques. The instruments used in this study are self-efficacy variables using the Development of a College Academic Self-Efficacy, Emotional intelligence using the Emotional intelligence Self-Assessment Tool and academic stress using the Perception of Academic Stress scale (PASS). The data then analyzed using simple linear regression and multiple linear regression. The results of the study showed that the factors correlate to academic stress are self-efficacy variables (p 0.000; b -0.385; R2 0.883) and Emotional intelligence variables (p 0.000; b -0.862; R2 0.893). Self-efficacy and Emotional intelligence simultaneously have a negative relationship to academic stress (p 0.000; R2 0.899 with the equation Y=105.694+(-0.148X1)+(-0.540X2)+ε). In conclusion, there is a significant relationship between self-efficacy and emotional intelligence with academic stress of undergraduate nursing students.
Hubungan Sikap, Self Efficacy dan Sumber Informasi dengan Kesiapsiagaan Remaja dalam Menghadapi Bencana Tsunami Ahmad, Ghulam
Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Science Journal
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jikbh.v16i01.1608

Abstract

Latar Belakang: Indonesia, berada di ring of fire dengan lebih dari 180 gunung berapi aktif, sangat rawan bencana shingga penting bagi remaja harus diberi pemahaman yang tepat tentang bentuk-bentuk bencana yang mungkin menimpa daerahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sikap, self efficacy dan sumber informasi dengan kesiapsiagaan remaja.Metode: Jenis penelitian korelasional pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh Remaja di SMK Mutiara Terpadu Palabuhanratu dengan sampel yang berjumlah 153 orang menggunakan proportional random sampling. Pengambilan data menggunakan kuisioner dan analisis statistik menggunakan chi-square dan regresi logistik.Hasil: Terdapat hubungan parsial sikap (p = < 0,001, OR = 47,882), self efficacy (p = < 0,001, OR = 8,895), sumber informasi (p = < 0,001, OR = 10,08) dengan kesiapsiagaan remaja. Lalu terdapat hubungan simultan sikap, self efficacy dan sumber informasi dengan kesiapsiagaan remaja (p < 0,05, R2 = 0,584).Kesimpulan: Penelitian menunjukkan sikap, self-efficacy, dan sumber informasi berpengaruh pada kesiapsiagaan remaja, dengan sikap sebagai faktor paling dominan (OR = 34,345).
Optimalisasi kohesi sosial sebagai upaya penguatan kesiapsiagaan bencana gempa bumi Ahmad, Ghulam
Jurnal Pemberdayaan dan Pendidikan Kesehatan Vol. 4 No. 02 (2025): Jurnal Pemberdayaan dan Pendidikan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jppk.v4i02.1724

Abstract

Latar Belakang: Indonesia terletak di wilayah cincin api yang merupakan titik pertemuan empat lempeng, sehingga berpotensi mengalami bencana. Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi hal penting dalam upaya penanggulangan bencana. Dalam hal ini, optimalisasi kohesi sosial dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Tujuan pengabdian kepada masyarakat adalah optimalisasi kohesi sosial sebagai upaya penguatan kesiapsiagaan bencana gempa bumi.Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk non-formal dengan melakukan edukasi dan sosialisasi. Kegiatan ini dilaksanakan selama sehari di SMK Mutiara Terpadu Kabupaten Sukabumi. Sasaran adalah remaja SMK Mutiara Terpadu Kabupaten Sukabumi sebanyak 51 orang. Instrumen adalah kuesioner kohesi sosial yang mengacu pada skala guttman. Analisis data menggunakan uji statistik paired sample t test.Hasil: Nilai p-value pada uji paired sample t test sebesar (p = < 0,001) sehingga dapat dikatakan bahwa sosialisasi dan edukasi efektif dalam meningkatkan kohesi sosial sebagai upaya penguatan kesiapsiagaan remaja. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai mean pre test dan post test kohesi sosial dari nilai 8,47 menjadi 10,94.Kesimpulan: Edukasi dan sosialisasi mengoptimalkan kohesi sosial sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa bumi pada remaja.
Penguatan Self Efficacy dalam Meningkatkan Resiliensi Remaja dalam Menghadapi Bencana Tsunami Melalui Edukasi Ahmad, Ghulam
Abdimas Galuh Vol 6, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i1.13730

Abstract

Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, hal ini terkait dengan kondisi geografis, geologis, dan demografis, salah satu bencana yang banyak memakan korban yaitu bencana tsunami. Bencana tsunami memberikan pengaruh pada kesiapan individu terutama usia remaja dalam menghadapi bencana. Resiliensi dalam konteks bencana berarti kapasitas atau kemampuan untuk menghadapi atau bangkit dari bencana. Tingkat resiliensi yang tinggi dapat dilakukan dengan penguatan self eficacy melalui edukasi. self efficacy adalah persepsi tentang kemampuan individu untuk mengorganisasikan dan mengimplementasikan tindakan untuk menampilkan kecapakan tertentu. Metode yang digunakan yaitu edukasi dalam penguatan self efficacy dalam meningkatkan resiliensi remaja dengan melakukan penyebaran modul dan pemberian kuesioner. Peserta yang mengikuti sebanyak 194 orang dengan kriteria usia yang ditentukan yaitu usia 17-25 tahun dengan diberikan kuesioner mengenai resiliensi dan self efficacy. Hasil pengabdian masyarakat juga menunjukan bahwa terdapat peningkatan resiliensi remaja melaui peningkatan self efficacy
Self-esteem dan regulasi emosi dalam pencegahan bullying pada anak usia sekolah dalam kerangka social emotional learning (SEL): Sebuah tinjauan literatur sistematis Jehan, Reisha Zahra Syah; Rahayu, Rita; Ahmad, Ghulam
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2914

Abstract

Background: Bullying is a form of repeated violence that seriously impacts adolescent mental health, with a global prevalence of approximately 30%. Self-esteem and emotion regulation act as risk and protective factors, while social emotional learning (SEL) approaches have potential as preventative strategies, but their integration remains limited. Purpose: To identify and evaluate the role of social emotional learning (SEL) in strengthening self-esteem and emotion regulation as a bullying prevention effort. Method: This was a systematic literature review, adhering to the PRISMA 2020 guidelines. Analysis used quantitative narrative synthesis and JBI quality assessment. A literature search was conducted through four databases: ScienceDirect, ERIC, Google Scholar, and PubMed. A total of 2,137 articles were identified, 79 duplicates were removed, and 1,872 were eliminated during initial screening. Of the 186 articles screened, 16 studies met the inclusion criteria. Results: Self-esteem and emotion regulation were significantly associated with bullying behavior. Self-esteem positively influences emotion regulation and negatively influences bullying involvement, while bullying experiences negatively impact self-esteem and social adjustment. Emotion regulation also negatively impacts bullying behavior. Furthermore, Social Emotional Learning (SEL)-based interventions have been shown to improve social-emotional competence and decrease bullying behavior in students. Conclusion: Self-esteem and emotion regulation are key protective factors in reducing bullying, and strengthening them through SEL is effective as a school-based preventive strategy. Suggestion: Future research is recommended to use a more robust design, such as a longitudinal or experimental approach, to further analyze the relationship between self-esteem, emotion regulation, and bullying behavior.   Keywords: Bullying; Emotional Regulation; Self-Esteem; Social Emotional Learning.   Pendahuluan: Bullying merupakan kekerasan berulang yang berdampak serius pada kesehatan mental remaja, dengan prevalensi global sekitar 30%. Self-esteem dan regulasi emosi berperan sebagai faktor risiko dan protektif, sementara pendekatan social emotional learning (SEL) berpotensi sebagai strategi pencegahan, namun integrasinya masih terbatas. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi peran social emotional learning (SEL) dalam penguatan self-esteem dan regulasi emosi sebagai upaya pencegahan bullying. Metode: Penelitian systematic literature review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Analisis menggunakan sintesis naratif kuantitatif dan penilaian kualitas JBI. Penelusuran literatur dilakukan melalui 4 basis data, yaitu ScienceDirect, ERIC, Google Scholar, dan PubMed, sebanyak 2,137 artikel teridentifikasi, 79 duplikat dihapus, dan 1,872 dieliminasi pada penyaringan awal. Dari 186 artikel yang diseleksi, tersisa 16 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Self-esteem dan regulasi emosi berhubungan signifikan dengan perilaku bullying. Self-esteem berpengaruh positif terhadap regulasi emosi dan negatif terhadap keterlibatan bullying, sementara pengalaman bullying berdampak pada penurunan harga diri dan penyesuaian sosial. Regulasi emosi juga berpengaruh negatif terhadap perilaku bullying. Selain itu, intervensi berbasis Social Emotional Learning (SEL) terbukti berdampak pada peningkatan kompetensi sosial-emosional serta penurunan perilaku bullying pada siswa. Simpulan: Self-esteem dan regulasi emosi merupakan faktor protektif utama dalam menurunkan bullying dan penguatannya melalui SEL efektif sebagai strategi preventif berbasis sekolah. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain yang lebih kuat, seperti longitudinal atau eksperimental, agar hubungan antara self-esteem, regulasi emosi, dan perilaku bullying dapat dianalisis secara lebih mendalam.   Kata Kunci: Bullying; Regulasi Emosi; Self-Esteem; Social Emotional Learning.