Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengetahuan, Afeksi, dan Adopsi Pengolahan Kotoran Ternak Menjadi Kompos pada Kelompok Peternak Sapi Potong di Kabupaten Bantul Emiliana Anggriyani; F. Trisakti Haryadi; Suharjono Triatmojo
Buletin Peternakan Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v36i2.1590

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan peternak tentang pembuatan kompos terhadap afeksi peternak dalam pembuatan kompos dan menganalisis pengaruh afeksi peternak terhadap adopsi inovasi kompos. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua anggota dari dua kelompok peternak sapi potong (sebagai sistem) yakni kelompok Sido Rejo dan kelompok Sido Mulyo yang memperoleh informasi mengenai inovasi kompos. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai November 2011. Metode penelitian dilakukan dengan survei melalui wawancara kepada peternak. Pengaruh pengetahuan peternak terhadap afeksi peternak dalam pembuatan kompos, pengaruh afeksi peternak terhadap adopsi pembuatan kompos, dianalisis dengan metode regresi binomial logistik. Hasil penelitian menunjukkan peternak kelompok Sido Mulyo yang memiliki pengetahuan tinggi cenderung mempunyai afeksi positif dalam inovasi kompos (P<0,05). Peternak kelompok Sido Rejo yang memiliki afeksi yang tinggi cenderung mengadopsi pembuatan kompos (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan peternak mempengaruhi afeksi peternak terhadap inovasi kompos pada kelompok Sido Mulyo. Afeksi peternak berpengaruh pada adopsi inovasi kompos pada kelompok Sido Rejo.(Kata kunci: Pengetahuan, Afeksi, Adopsi, Inovasi, Kompos)
Optimization of Chromium (VI) Adsorption using Microalgae Biomass (Spirulina sp.) and its Application in Leather Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
CHEESA: Chemical Engineering Research Articles Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/cheesa.v6i2.16315.105-117

Abstract

This study was conducted to examine the adsorption of Cr (VI) metal using Spirulina sp (inactive) biomass and its application in leather tannery wastewater. The treatment was carried out to determine the influence of independent variables on Cr (VI) adsorption with variations in pH, contact time, and metal solution concentration. The values of the solution pH, adsorption time, and concentration of the best metal solution were used to determine the center points of the optimization variables through Response Surface Methodology (RSM). The results showed that based on the FTIR test, macromolecules present in Spirulina sp biomass included amino, carboxylate, and hydroxy groups. The combination of factor variables that produced the optimum response was at pH 3.165, contact time of 66.58 minutes, and Cr (VI) metal ion solution concentration of 22.9 mg/L, resulting in a Cr (VI) adsorption efficiency of 69.66%. The adsorption pattern was included in the Freundlich adsorption isotherm, and the application of Spirulina sp biomass adsorbent to tannery waste reduced the concentration of Cr (VI) from 3.9 g/L to an undetectable level at <1.4 g/L.
Utilization Of Chlorella Pyrenoidosa As A Phytoremediator For Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
Walisongo Journal of Chemistry Vol 7, No 1 (2024): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v7i1.20749

Abstract

This study aims to analyze the effect of phytoremediation on the bioremoval of COD, ammonia, and Cr (VI) from tannery wastewater and examine its effect on the growth of Chlorella populations. The research method consisted of two stages: first, preparation of liquid waste media. The second is culturing pure cultures followed by microalgae cultivation using leather tanning liquid waste media with a concentration variation of 0%, 10%, 20%, and 30% v/v. Filtrate samples after harvest were analyzed for COD, ammonia, and Cr (VI). The results obtained in this study show that Chlorella can grow in tanning waste media. The highest exponential phase occurs at a concentration of 20% with a growth rate of 0.557. Tannery liquid waste contains inorganic minerals utilized by Chlorella pyrenoidosa cells for growth. Cultivation of Chlorella pyrenoidosa can reduce leather tanning liquid waste parameters, namely COD, ammonia, and Cr (VI).
Pemanfaatan Limbah Feses Sapi dan Fleshing untuk Produksi Pupuk Organik di Kelompok Ternak Bantul Baskoro Ajie; Nur Mutia Rosiati; Mustafidah Udkhiyati; Laili Rachmawati; Emiliana Anggriyani; Nais Pinta Adetya; Fadzkurisma Rabbika; Ragil Yuliatmo; Swatika Juhana
JPM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): July 2024
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/jpm.v5i1.1918

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah memanfaatkan limbah feses sapi di Kelompok Ternak Sido Rukun dan Sido Mulyo, Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta untuk dibuat menjadi pupuk organik dengan tambahan limbah fleshing dari sisa proses pengolahan kulit di PT Budi Makmur Jayamurni, Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan ini dibagi menjadi 3 tahap: 1) persiapan dan survey kondisi kelompok ternak Sido Rukun dan Sido Mulyo (Agustus 2023), 2) penyuluhan materi dan praktek pembuatan pupuk organik (September dan Oktober 2023), 3) evaluasi kegiatan, diklat (Oktober 2023). Pembuatan pupuk dibagi menjadi 3 perlakuan, yaitu A: dengan penambahan kapur, B: dengan penambahan limbah fleshing, dan C: tanpa penambahan kapur maupun limbah fleshing. Perbedaan perlakuan tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah fleshing terhadap kualitas pupuk organik, serta untuk mengetahui formula terbaik untuk pembuatan pupuk organik. Proses pembalikan dan pemantauan pengomposan dilakukan 1 kali seminggu selama 4 minggu. Pupuk organik terbaik diperoleh dariPerlakuan B (kombinasi kotoran ternak dengan limbang fleshing) dengan hasil pupuk organik memiliki bentuk remah, warna coklat tua, dan bau seperti tanah. Tingkat pemahaman peserta terhadap materi dikategorikan baik, ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata dari pre-test (48,6) menjadi post-test(67,5). Instruktur telah memenuhi kriteria dalam ketepatan waktu, kehadiran setiap proses dan mampu menyampaikan materi dengan baik dengan nilai rata-rata 84,4 (sangat baik). Penilaian seluruh aspek kegiatan yang meliputi tema atau materi diklat secara umum, instruktur, metode diklat, fasilitas, dan penyelenggaraan diklat menunjukkan nilai rata-rata 4,51 (baik).
Utilization Of Chlorella Pyrenoidosa As A Phytoremediator For Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
Walisongo Journal of Chemistry Vol. 7 No. 1 (2024): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v7i1.20749

Abstract

This study aims to analyze the effect of phytoremediation on the bioremoval of COD, ammonia, and Cr (VI) from tannery wastewater and examine its effect on the growth of Chlorella populations. The research method consisted of two stages: first, preparation of liquid waste media. The second is culturing pure cultures followed by microalgae cultivation using leather tanning liquid waste media with a concentration variation of 0%, 10%, 20%, and 30% v/v. Filtrate samples after harvest were analyzed for COD, ammonia, and Cr (VI). The results obtained in this study show that Chlorella can grow in tanning waste media. The highest exponential phase occurs at a concentration of 20% with a growth rate of 0.557. Tannery liquid waste contains inorganic minerals utilized by Chlorella pyrenoidosa cells for growth. Cultivation of Chlorella pyrenoidosa can reduce leather tanning liquid waste parameters, namely COD, ammonia, and Cr (VI).
Rancang Bangun Prototipe Alat Pengukuran Suhu Kerut Kulit Tersamak Analog Robbika, Fadzkurisma; Atiqa Rahmawati; Baskoro Ajie; Laili Rahmawati; Emiliana Anggriyani; Mario Sariski Dwi E; Ikbal Rizky Putra
Journal of Energy, Materials, & Manufacturing Technology Vol 3 No 01 (2024): Journal of Energy, Materials, & Manufacturing Technology
Publisher : Unit Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Politeknik ATI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jemmtec.v3i01.749

Abstract

Proses penyamakan kulit merupakan suatu proses konversi bahan organik yang mudah membusuk menjadi bahan stabil yang mampu menahan serangan biokimia Salah satu parameter penting dalam proses penyamakan kulit adalah  suhu pengkerutan kulit. Suhu pengkerutan kulit adalah suhu yang dicapai pada saat kulit mengkerut maksimum 0,3% dari panjang awal, jika kulit dipanaskan secara perlahan-lahan dalam media pemanas. Saat ini masih banyak pelaku industri di dalam negeri yang melakukan uji suhu pengerutan kulit penyamakan dengan menggunakan metode manual namun metode tersebut sangat tidak akurat karena tergantung kejelian operator dalam melihat kulit. Selain itu untuk mengetahui kemasakan kulit juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat Leather Shrinkage yang diperjual belikan salah satunya alat Leather Shrinkage merk Gester seri GT-KC23. Namun harga alat tersebut cukup mahal sehingga kurang aplikatif pada industri pengolahan kulit yang berskala kecil dan menengah. Pada penelitian ini akan dilakukan rancang bangun alat pengukuran suhu kerut kulit tersamak yang lebih praktis dan mudah dalam penggunaannya, serta metode pengujiannya sudah baku sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-7127-2005. Alat pengukuran suhu kerut menggunakan sensor suhu air PT-100, pemanas, dan rangkaian indikator pergerakan manual. Data dari sensor suhu akan diproses oleh mikrokontroler Arduino uno.  Pada rancangan alat uji ini dilakukan uji coba pada 4 macam kulit yaitu, kulit nabati, kulit pickle, kulit chamois dan kulit aldehyde. Berdasarkan hasil pengujian alat pada kulit pickle, kulit chamois dan kulit aldehyde juka dibandingkan dengan hasil pengujian dengan alat Leather Shrinkage merk Gester seri GT-KC23 dianggap sudah cukup representatif.
Physical and chemical characteristics of tanned chicken feet skin from freshly slaughtered and dead on arrival chickens Amalia, Dian Nur; Laili Rachmawati; Udkhiyati, Mustafidah; Rosiati, Nur Mutia; Adetya, Nais Pinta; Anggriyani, Emiliana
Jurnal Ilmu Peternakan Terapan Vol 9 No 2 (2026): Jurnal Ilmu Peternakan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jipt.v9i2.6856

Abstract

Dead on arrival (DOA) animals, particularly poultry, refer to animals that die during the pre-slaughter phase and are generally considered waste, despite their potential as raw materials for leather production. However, scientific information regarding the quality of leather produced from DOA chicken feet skin remains limited. Therefore, this study aimed to evaluate the feasibility of utilizing DOA chicken feet skin by comparing its physical and chemical properties with those of fresh chicken feet skin after tanning. Chicken feet skin from both sources was processed through beamhouse operations, tanning, post-tanning, and finishing stages before quality evaluation. Physical properties analyzed included thickness, softness, shrinkage temperature, elasticity, tensile strength, tear strength, and seam strength, while chemical properties included pH, moisture content, and oil/fat content. Differences between treatments were analyzed using an independent samples t-test for parameters with sufficient replicates. The results showed that thickness, softness, and shrinkage temperature were not significantly different (P>0.05). Fresh and DOA leather showed comparable seam strength values of 602.52 N/cm and 600.23 N/cm, respectively. Chemical properties were also similar, with pH of 4, moisture contents of 15.16% and 13.82%, and oil/fat contents of 14.94% and 14.05%. Overall, DOA chicken feet skin showed comparable characteristics and potential for leather production.
Physical structure of leather tanned with aluminium as an alternative tanning agent Anggriyani, Emiliana; Adetya, Nais Pinta; Rachmawati, Laili; Nurwantoro, Nurwantoro
Livestock and Animal Research Vol 21, No 3 (2023): Livestock and Animal Research
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/lar.v21i3.66093

Abstract

Objective: This study aims to examine the physical structure of goat skins tanned with aluminium as an alternative tanning agent.Methods: Twelve pieces of goat skin from the pikle breed were used in the study. Chromosal B, an aluminium tanning agent, Novaltan Al, salt (NaCl), Derminol OCS, MgO, Sodium bicarbonate, a BCG indicator, Permit MLN, and an anti-fungal are among the chemicals utilized. The approach involves tanning using chrome tanning as a control and aluminum tanning with amounts of 2%, 4%, and 6% Al2O3. Cross-sectional tests were used to assess the wet white leather's results, and the SEM-EDX method was used to determine the leather's composition.Results: Leather tanned with aluminium tanning agent shows the distribution of aluminium in the skin section, the increasing use of aluminium tanning materials, the higher the aluminium content in tanned leather.Conclusions: The presence of aluminium tanning agent in the skin indicates an interaction between the material and the skin so that it can be used as an alternative tanning agent.