Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KORELASI ANTARA HORMON TESTOSTERON, LIBIDO, DAN KUALITAS SPERMA PADA KAMBING BLIGON, KEJOBONG, DAN PERANAKAN ETAWAH Laili Rachmawati; Ismaya (Ismaya); Pudji Astuti
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v38i1.4598

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hormon testosteron, libido, dan kualitas sperma kambing Bligon, Kejobong, dan Peranakan Etawah (PE). Sampel terdiri dari 3 ekor kambing Bligon, 3 ekor kambingKejobong, dan 3 ekor kambing PE jantan. Kadar testosteron diukur menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Tingkat libido diketahui dengan pengamatan waktu pertama mencumbu betina, menaiki betina, sampai ejakulasi. Penampungan sperma menggunakan metode vagina buatan. Data yang diperoleh kemudian ditentukan nilai korelasi antara kadar testosteron dengan libido dan kualitas sperma. Hasil menunjukkan testosteron pagi kambing Bligon berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,79 dan Y= 20,91-6,52X), menaiki betina (R= -0,80 dan Y= 20,28-7,16X), ejakulasi (R= -0,81 dan Y= 14,03-7,56X), volume sperma (R= 0,65 dan Y= -0,78+0,03X), dan motilitas spermatozoa (R= 0,70 dan Y= -73,83+1,43X) (P<0,01). Testosteron pagi kambing Kejobong berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,75 dan Y= 14,96-0,68X), menaiki betina (R= -0,69 dan Y= 21,59-0,86X), ejakulasi (R= -0,66 dan Y= 28,51-0,83X), dan konsentrasi spermatozoa (R= 0,59 danY= 430,73+12,75X) (P<0,01), sedangkan testosteron sore berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,90 dan Y= 21,50-1,06X), menaiki betina (R= -0,90 dan Y= 24,89-1,16X), dan ejakulasi (R= -0,84 dan Y= 34,27-1,14X)(P<0,01). Testosteron sore kambing PE berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,72 dan Y= 12,83-7,31X), menaiki betina (R= -0,72 dan Y= 9,11-7,67X), ejakulasi (R= -0,69 dan Y= 2,02-8,25X), viabilitas spermatozoa(R= 0,77 dan Y= -90,99+2,20X) dan konsentrasi spermatozoa (R= 0,72 dan Y= -452,10+9,56X) (P<0,01). Disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara kadar hormon testosteron dengan tingkat libido dan kualitas sperma, serta terdapatvariasi korelasi diantara bangsa kambing.(Kata kunci: Korelasi, Testosteron, Libido, Kualitas sperma, Kambing)
The Use of Glutaraldehyde Tanning Materials for Goat Skin Tanning Laili Rachmawati; Emiliana Anggriyani
Buletin Peternakan Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v42i2.27721

Abstract

Tanning process using free chromed material is needed to reduce toxic content in leather. The aims of this study is to increase byproducts of livestock by goat skin tanning with free chrome tanning materials. This study used glutaraldehyde as tanning materials. Goat skins were tanned become upholstery leather, and then physical quality was determined. The materials of this study were pickle goat skin. Physical testing conducted in Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta. The results were analyzed descriptively using SPSS version 17.0 for Windows. Statistical analysis showed that the value of tensile strength, elongation, tear strength, sewing strength, scrub resistance of paint to dry and wet were 166.025 ± 72.315 kg/cm²; 69.910 ± 9.107%; 26.785 ± 6.031 N/cm; 115.120 ± 18.681 kg/cm; 0.775 ± 0.353; 0.775 ± 0.353 respectively. This study showed that the physical quality of upholstery leather which tanned using free chrome tanning materials have the physical qualities that met with SNI standard for leather upholstery.
Kualitas Fisis Kulit Ikan Lencam (Lethrinus lentjan) dengan Penyamakan Menggunakan Glutaraldehyde Laili Rachmawati; Emiliana Anggriyani; Nurwantoro Nurwantoro
Jurnal FishtecH Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/fishtech.v12i1.17087

Abstract

Kulit ikan memiliki potensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan produk kulit, salah satunya adalah kulit ikan lencam (Lethrinus lentjan). Permasalahan yang dihadapi saat ini, bahan penyamak pembuatan produk kulit ikan yang digunakan masih belum aman, yaitu didominasi oleh penggunaan bahan penyamak formaldehyde. Salah satu alternatif bahan penyamak pengganti formaldehyde yaitu glutaraldehyde, karena bahan penyamak ini dianggap lebih aman dan lebih ramah lingkungan. Therefore, this study tried to use glutaraldehyde tanner as a substitute for formaldehyde for tanning lencam fish skin. Phase I research aims to examine and compare the physical and chemical qualities of lencam fish skin that has been tanned with formaldehyde and glutaraldehyde tanners. Hasil pengujian fisis menunjukkan kuat tarik, kuat sobek, kemuluran, kelemasan, ketebalan, dan suhu kerut kulit ikan lencam yang disamak dengan bahan penyamak formaldehyde berturut-turut sebesar 3889,71 ± 184,80 N/cm2; 673,22 ± 24,80 N/cm2; 83,68 ± 0,92%; 4,27 ± 0,33 mm; 0,33 ± 0,04 mm;  dan 68,67 ± 0,33 °C, serta untuk kulit ikan lencam yang disamak dengan bahan penyamak formaldehyde berturut-turut sebesar 4070 ± 201,43  N/cm2; 621,74 ± 20,75 N/cm2; 84,75 ± 0,98%; 4,59 ± 0,37 mm; 0,39 ± 0,04 mm;  dan 65,44 ± 0,48 °C. Tidak terdapat perbedaan nyata (sig. p>0,05) antara kualitas fisis kulit kulit ikan lencam yang disamak dengan bahan penyamak formaldehyde dan glutaraldehyde. Kualitas fisis kedua jenis kulit samak telah memenuhi SNI 06-4586-1998, kecuali untuk nilai kemuluran yaitu lebih tinggi dan nilai suhu kerut yaitu lebih rendah.
Optimization of Chromium (VI) Adsorption using Microalgae Biomass (Spirulina sp.) and its Application in Leather Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
CHEESA: Chemical Engineering Research Articles Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/cheesa.v6i2.16315.105-117

Abstract

This study was conducted to examine the adsorption of Cr (VI) metal using Spirulina sp (inactive) biomass and its application in leather tannery wastewater. The treatment was carried out to determine the influence of independent variables on Cr (VI) adsorption with variations in pH, contact time, and metal solution concentration. The values of the solution pH, adsorption time, and concentration of the best metal solution were used to determine the center points of the optimization variables through Response Surface Methodology (RSM). The results showed that based on the FTIR test, macromolecules present in Spirulina sp biomass included amino, carboxylate, and hydroxy groups. The combination of factor variables that produced the optimum response was at pH 3.165, contact time of 66.58 minutes, and Cr (VI) metal ion solution concentration of 22.9 mg/L, resulting in a Cr (VI) adsorption efficiency of 69.66%. The adsorption pattern was included in the Freundlich adsorption isotherm, and the application of Spirulina sp biomass adsorbent to tannery waste reduced the concentration of Cr (VI) from 3.9 g/L to an undetectable level at <1.4 g/L.
Utilization Of Chlorella Pyrenoidosa As A Phytoremediator For Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
Walisongo Journal of Chemistry Vol 7, No 1 (2024): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v7i1.20749

Abstract

This study aims to analyze the effect of phytoremediation on the bioremoval of COD, ammonia, and Cr (VI) from tannery wastewater and examine its effect on the growth of Chlorella populations. The research method consisted of two stages: first, preparation of liquid waste media. The second is culturing pure cultures followed by microalgae cultivation using leather tanning liquid waste media with a concentration variation of 0%, 10%, 20%, and 30% v/v. Filtrate samples after harvest were analyzed for COD, ammonia, and Cr (VI). The results obtained in this study show that Chlorella can grow in tanning waste media. The highest exponential phase occurs at a concentration of 20% with a growth rate of 0.557. Tannery liquid waste contains inorganic minerals utilized by Chlorella pyrenoidosa cells for growth. Cultivation of Chlorella pyrenoidosa can reduce leather tanning liquid waste parameters, namely COD, ammonia, and Cr (VI).
Pemanfaatan Limbah Feses Sapi dan Fleshing untuk Produksi Pupuk Organik di Kelompok Ternak Bantul Baskoro Ajie; Nur Mutia Rosiati; Mustafidah Udkhiyati; Laili Rachmawati; Emiliana Anggriyani; Nais Pinta Adetya; Fadzkurisma Rabbika; Ragil Yuliatmo; Swatika Juhana
JPM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): July 2024
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/jpm.v5i1.1918

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah memanfaatkan limbah feses sapi di Kelompok Ternak Sido Rukun dan Sido Mulyo, Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta untuk dibuat menjadi pupuk organik dengan tambahan limbah fleshing dari sisa proses pengolahan kulit di PT Budi Makmur Jayamurni, Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan ini dibagi menjadi 3 tahap: 1) persiapan dan survey kondisi kelompok ternak Sido Rukun dan Sido Mulyo (Agustus 2023), 2) penyuluhan materi dan praktek pembuatan pupuk organik (September dan Oktober 2023), 3) evaluasi kegiatan, diklat (Oktober 2023). Pembuatan pupuk dibagi menjadi 3 perlakuan, yaitu A: dengan penambahan kapur, B: dengan penambahan limbah fleshing, dan C: tanpa penambahan kapur maupun limbah fleshing. Perbedaan perlakuan tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah fleshing terhadap kualitas pupuk organik, serta untuk mengetahui formula terbaik untuk pembuatan pupuk organik. Proses pembalikan dan pemantauan pengomposan dilakukan 1 kali seminggu selama 4 minggu. Pupuk organik terbaik diperoleh dariPerlakuan B (kombinasi kotoran ternak dengan limbang fleshing) dengan hasil pupuk organik memiliki bentuk remah, warna coklat tua, dan bau seperti tanah. Tingkat pemahaman peserta terhadap materi dikategorikan baik, ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata dari pre-test (48,6) menjadi post-test(67,5). Instruktur telah memenuhi kriteria dalam ketepatan waktu, kehadiran setiap proses dan mampu menyampaikan materi dengan baik dengan nilai rata-rata 84,4 (sangat baik). Penilaian seluruh aspek kegiatan yang meliputi tema atau materi diklat secara umum, instruktur, metode diklat, fasilitas, dan penyelenggaraan diklat menunjukkan nilai rata-rata 4,51 (baik).
Characteristic of Chrome-Tanned and Vegetable-Tanned Goat Garment Leathers Rosiati, Nur Mutia; Rachmawati, Laili; Udkhiyati, Mustafidah
Jurnal Peternakan Vol 21, No 2 (2024): September 2024
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v21i2.28919

Abstract

ABSTRACT. Chrome tanning material is still widely used in the tanning process for garment leather production. Its use began to be reduced to overcome its negative environment impact. Vegetable tannin of a mimosa and tara combination was used in this study to substitute chrome tanning material. Garment made from vegetable-tanned leather with a ratio mimosa to tara of 5:13 was compared to garments made from chrome-tanned leather, both the production methods and resulting leather characteristics. To obtain garment leather characteristics, chrome-tanned leather requires auxiliary materials and two fatliquoring steps. Vegetable-tanned leather requires more auxiliary materials and fatliquoring steps (3 steps). Physical test results show that chrome-tanned leather gives better tensile strength, elongation, tear strength, and softness that meet with SNI (Standar Nasional Indonesia or Indonesian National Standard). Meanwhile, garments from vegetable-tanned leather exhibit elongation, tear strength, and softness that meet with SNI. However, adding auxiliary materials and fatliquoring steps in the garment-making process from vegetable-tanned leather is still unable to produce the softness, smoothness, and elasticity of a garment from chrome-tanned leather.
Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Wakaf Tunai untuk Pembangunan Infrastruktur Desa Sakuroh, Lilis; Rachmawati, Laili; Supriatna, Yana Achmad
Co-Value Jurnal Ekonomi Koperasi dan kewirausahaan Vol. 14 No. 7 (2023): Co-Value: Jurnal Ekonomi, Koperasi & Kewirausahaan
Publisher : Program Studi Manajemen Institut Manajemen Koperasi Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan dan pendampingan pengelolaan wakaf tunai memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur desa yang berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pelatihan dan pendampingan terhadap efektivitas pengelolaan wakaf tunai di tingkat desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei pada 10 desa yang terpilih sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pelatihan dan pendampingan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wakaf tunai sebesar 40% dan mempercepat proses pembangunan infrastruktur desa. Artikel ini juga memberikan rekomendasi untuk optimalisasi strategi pengelolaan wakaf tunai di masa depan.
ANALISIS PENGARUH TEKNOLOGI ULTRASONIK TERHADAP PROSES DAN HASIL PEWARNAAN PADA KULIT SAPI TERSAMAK Robbika, Fadzkurisma; Rachmawati, Laili; Ajie, Baskoro; Hermawan, Prasetyo
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 4 No 1 (2025): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v4i1.1094

Abstract

Seiring dengan perkembangan jaman, industri penyamakan kulit dituntut untuk memiliki proses produksi yang lebih bersih namun tetap efektif dan efisien, khususnya pada proses pewarnaan. Proses pewarnaan pada kulit merupakan salah satu tahapan proses penyamakan kulit yang cukup krusial dan menentukan kualitas dari kulit yang akan di hasilkan nantinya. Ultrasonik merupakan teknologi yang memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi untuk meningkatkan interaksi antara pewarna dan kulit. Teknologi ultrasonik dapat meningkatkan efisiensi pewarnaan dengan mempercepat penetrasi pewarna ke dalam serat kulit. Pada penelitian kali ini dilakukan analisis pada dua metode pewarnaan kulit yaitu metode pewarnaan konvensional dengan menggunakan drum kayu tradisional dan metode pewarnaan kulit dengan menggunakan bantuan mesin ultrasonik. Mesin Mesin ultrasonik yang digunakan yaitu mesin ultrasonik cleaner dengan frekuensi operasi 48 KHz. Selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknologi ultrasonik dalam proses pewarnaan kulit, dengan fokus analisis pada konsentrasi cairan pewarna selama proses pewarnaan serta warna yang dihasilkan pada kulit. Pada analisis pengaruh waktu terhadap konsentrasi cairan pewarna selama proses pewarnaan, menunjukkan bahwa metode konvensional mengalami penurunan konsentrasi yang cepat pada 15 menit pertama. Sedangkan pada metode pewarnaan ultrasonic, penurunan konsentrasi zat pewarna lebih stabil dan penyerapan warna dapat efisien. Selain itu, pada hasil pewarnaan berdasarkan nilai luminansi menunjukkan bahwa metode ultrasonik menghasilkan warna yang lebih pekat dan mencapai kestabilan warna lebih awal yaitu pada menit ke 30. Sedangkan pada metode konvensional tercapai kestabilan warna pada menit ke 45. Dengan demikian, pewarnaan ultrasonik tidak hanya mempercepat proses tetapi juga meningkatkan kualitas dan kestabilan warna pada produk kulit.
Utilization Of Chlorella Pyrenoidosa As A Phytoremediator For Tannery Waste Adetya, Nais Pinta; Arifin, Uma Fadzilia; Anggriyani, Emiliana; Rachmawati, Laili
Walisongo Journal of Chemistry Vol. 7 No. 1 (2024): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v7i1.20749

Abstract

This study aims to analyze the effect of phytoremediation on the bioremoval of COD, ammonia, and Cr (VI) from tannery wastewater and examine its effect on the growth of Chlorella populations. The research method consisted of two stages: first, preparation of liquid waste media. The second is culturing pure cultures followed by microalgae cultivation using leather tanning liquid waste media with a concentration variation of 0%, 10%, 20%, and 30% v/v. Filtrate samples after harvest were analyzed for COD, ammonia, and Cr (VI). The results obtained in this study show that Chlorella can grow in tanning waste media. The highest exponential phase occurs at a concentration of 20% with a growth rate of 0.557. Tannery liquid waste contains inorganic minerals utilized by Chlorella pyrenoidosa cells for growth. Cultivation of Chlorella pyrenoidosa can reduce leather tanning liquid waste parameters, namely COD, ammonia, and Cr (VI).