Engeline Angliadi
Universitas Sam Ratulangi

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : e-CliniC

PERBANDINGAN KECEPATAN BERJALAN PADA PASIEN NYERI PUNGGUNG BAWAH MEKANIK SUBAKUT DAN KRONIK MENGGUNAKAN TIMED UP AND GO TEST Kalangi, Patricia; Angliadi, Engeline; Gessal, Joudy
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6755

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to know and compare the gait velocity between subacute and chronic mechanical low back pain patients using Timed Up and Go Test at Installation Medical Rehabilitation Hospital Prof. Dr R.D. Kandou Manado. This research used observational analytic design with cross-sectional study. The samples choosen using consecutive sampling technique. Data obtained from the gait velocity measurement using Timed Up and Go Test conducted by researcher. From this research obtained the average gait velocity in patient group of subacute mechanical LBP is 18.92 seconds and the average gait velocity in patient group of chronic mechanical LBP is 17.17 seconds. The results of independent t-test hypothesis testing showed that there is a significant difference between gait velocity in subacute and chronic mechanical LBP patients (p = 0.034). Conclusion, gait velocity in chronic mechanical LBP patients is better than subacute mechanical LBP patients.Keywords: Gait velocity, mechanical LBP, TUG testAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kecepatan berjalan antara pasien nyeri punggung bawah (NPB) mekanik subakut dan kronik menggunakan Timed Up and Go (TUG) Test di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pengamatan sewaktu (studi cross sectional). Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Data diperoleh dari hasil pengukuran kecepatan berjalan menggunakan Timed Up and Go Test yang dilakukan sendiri oleh peneliti. Dari penelitian ini diperoleh kecepatan berjalan rata-rata pada kelompok pasien NPB mekanik subakut adalah 18,92 detik dan kecepatan berjalan rata-rata pada pasien NPB mekanik kronik adalah 17,17 detik. Hasil uji hipotesis independent t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kecepatan berjalan pada pasien NPB mekanik subakut dengan kecepatan berjalan pada pasien NPB mekanik kronik (p = 0,034). Kesimpulan, kecepatan berjalan pasien NPB mekanik kronik lebih baik dibandingkan kecepatan berjalan pada pasien NPB mekanik subakut.Kata kunci: Kecepatan berjalan, NPB mekanik, tes TUG
HUBUNGAN GERAKAN BERULANG LENGAN DENGAN TERJADINYA NYERI BAHU PADA PENATA RAMBUT DI SALON Lumunon, Steicy N.; Sengkey, Lidwina; Angliadi, Engeline
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.9419

Abstract

Abstract: Every human being has his/her own activity or job. Higher demand jobs need higher responsibilities of its workers. For instance, hair dressers have to do their job by using their arms with repetitive movements that can result in a shoulder pain. This study aimed to identify the relationship between repetitive hand movements and shoulder pain of salon hairdressers. This was an analytical observational study with a cross sectional design. There were 30 respondents obtained by using the purposive sampling method. The chi square test showed that there was no relationship between repetitive arm movements and shoulder pain among salon hairdressers viewed from the period of working and the pain level (P = 0.800) as well as viewed form the hairdresser’s height and pain level (P = 0.080). Conclusion: There was no significant relationship between the repetitive arm movements and shoulder pain among the salon hairdressers.Keywords: repetitive arm movement, shoulder pain, salon hair dresserAbstrak: Setiap individu tidak terlepas dari aktifitas ataupun pekerjaan. Semakin tinggi tuntutan pekerjaan semakin besar pula beban pekerjaaan dan aktifitas dari pekerja tersebut. Seperti halnya dengan penata rambut di salon harus melakukan pekerjaannya dengan menggunakan lengan secara berulang yang dapat menimbulkan keluhan nyeri bahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan gerakan berulang lengan dengan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan potong lintang. Sejumlah 30 responden diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil uji Chi square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara gerakan berulang lengan dengan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon dilihat dari lama kerja responden dan tingkat nyeri (P = 0,800), serta tinggi badan responden dan tingkat nyeri (P = 0,800). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara gerakan berulang lengan dan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon.Kata kunci: gerakan berulang lengan, nyeri bahu, peneta rambut di salon
PENGETAHUAN MASYARAKAT MENGENAI PENANGANAN REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA STROKE DI KELURAHAN PINAESAAN KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Sundah, Antony B. M.; Angliadi, Engeline; Sengkey, Lidwina
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.5743

Abstract

Abstract: Medical rehabilitation in patients with stroke is an action to improve motor function, speech, cognitive, and other function are impaired, as well as social and mental readaptation to restore interpersonal relationship and social activity, and train the patient in order to carry out activities of daily living. Stroke is a disease that is caused by blockages in the blood vessels of the brain or the rupture of blood vessels in the brain which leads to reduces oxygen supply to certain parts of the brain therefore the brain tissue is damaged or died. Stroke is more common made disability than dead. Permanent disability occurs because the patient is not get rehabilitation and frequently family indulged excessive helped patients with excessive and makes the patient lying passively waiting for conditions become better. Because that, medical rehabilitation in patient with stroke is very important to be able to restore the condition of stroke patients in order to indulge as normal person. The purpose of this study was to obtain data on the public knowledge of patient with stroke in the rehabilitation of sub-district Wenang district Pinaesaan. This study is a descriptive study with a quantitative approach using cross-sectional methods. Subjects were adult people living in sub-district Wenang district Pinaesaan. From the 89 respondent who are willing to study respondents, by sex obtained 34 respondents (38.2%) men, and 55 respondents (61.8%) women. Based on the level of knowledge, elemantary school education gained 2 respondents (2.2%), high school education 68 respondents (76.4%), and university education 19 respondents (21.3%). Based on public knowledge of medical rehabilitation in stroke patients, good knowledge obtained 34 respondents (38.2%), moderate knowledge obtained 48 respondents (53.9%), and lack of knowledge obtained 7 respondents (7.9%). Conclusion: Based on this study, the level of education affect the knowledge of medical rehabilitation in stroke patients. Keywords: knowledge, Medical Rehabilitation, Stroke.   Abstrak: Rehabilitasi medik pada penderita stroke merupakan tindakan untuk memperbaiki fungsi motorik, wicara, kognitif dan fungsi lain yang terganggu, serta readaptasi sosial dan mental untuk memulihkan hubungan interpersonal dan aktivitas sosisal, dan melatih penderita agar dapat melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Stroke merupakan penyakit yang terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak sehingga jaringan otak tersebut rusak atau mati. Stroke lebih sering meninggalkan kecacatan dibandingkan kematian. Kecacatan menetap terjadi karena penderita tidak diberi rehabilitasi dengan baik dan keluarga seringkali memanjakan penderita dengan membantu secara berlebihan dan menjadikan penderita terbaring pasif menunggu kondisi menjadi lebih baik. Karena itu, rehabilitasi medik pada penderita stroke sangat penting untuk dapat mengembalikan kondisi penderita stroke agar dapat beraktivitas seperti orang normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data pengetahuan masyarakat tentang rehabilitasi pada penderita stroke di kelurahan Pinaesaan Kecamatan Wenang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian adalah masyarakat dewasa yang bermukim di kelurahan Pinaesaan kecamatan Wenang. Dari 89 responden yang bersedia menjadi responden penelitian, berdasarkan jenis kelamin didapatkan 34 responden (38,2%) pria, dan 55 responden (61,8%) wanita. Berdasarkan tingkat pengetahuan, didapatkan pendidikan dasar 2 responden (2,2%), pendidikan menengah 68 responden (76,4%), dan pendidikan tinggi 19 responden (21,3%). Berdasarkan pengetahuan masyarakat tentang rehabilitasi medik pada penderita stroke, didapatkan pengetahuan baik 34 responden (38,2%), pengetahuan sedang 48 responden (53,9%), dan pengetahuan kurang 7 responden (7,9%). Simpulan: Berdasarkan penelitian ini tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan rehabilitasi medik pada penderita stroke. Kata kunci: Pengetahuan, Rehabilitasi Medik, Stroke.
PROFIL PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DENGAN OBESITAS DI INSTALASI REHABILITASI MEDIK BLU RSUP PROF. DR. R. D KANDOU MANADO Kusuma, William; Angliadi, Engeline; Angliadi, L. S.
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.6038

Abstract

Abstract: osteoarthritis is derived from greek meaning bone, arthro meaning joint and itis meaning inflammation. Osteoarthritis is a degenerative joint disease that is chronic,progessive runing slow, often inflamed or causes only mild inflammation, and characterized by deterioration and abrasion of articular cartilage as well as by two risk factor are: risk factors that cannot be changed and modifable risk factors. Obesity is a global epidemic in developed countries and developing countries such as Indonesia, particularly in urban strip. This situation is caused by unbalanced energy intake with energy expenditure and excess energy is stored as body fat within a specified period. Objectives: this study aimed to determine the role of risk factor of obesity on the incidence of osteoarthitis of the knee in patients who visit the Rehabilitation Medical Installation BLU Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Method: this type of research is descriptive research by taking medical record in medical rehabillitation installation at BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Result: in this study was obtained from descriptive data/medical record(MR) found the number of patients diagnosed with osteoarthritis of the knee by 74 people. Obtained as many as 31 people who have data(weight and height),3 complete lack data because just have weight and 40 people don’t have either weight or height. Research results knee OA patient who come control in the installation of medical rehabillitation only 31are listed the data Body Mass Indeks(weight and height), there are 5 people who have normal BMI, and 26 people who had a BMI of both overweight and obesity excess. Conclusion: from here we may see one of the risk factor for OA knee is obesity Keywords: Knee osteoarthritis, obesity.     Abstrak: Osteoartritis (OA) berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang, arthro yang berarti sendi dan itis yang berarti inflamasi. Osteoartritis adalah penyakit degeneratif sendi yang bersifat kronik,  berjalan progresif lambat, seringkali tidak meradang atau hanya menyebabkan inflamasi ringan, dan ditandai dengan adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi serta  oleh 2 faktor resiko yaitu: faktor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah. Obesitas merupakan epidemi global pada negara-negara maju dan negara berkembang seperti di Indonesia,  terutama di daerah perkotaan. Keadaan ini diakibatkan  karena pemasukan energi tidak seimbang dengan pengeluaran energi dan kelebihan energi ini disimpan dalam bentuk lemak tubuh dalam jangka waktu tertentu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan faktor resiko obesitas terhadap angka kejadian osteoartritis lutut pada penderita yang berkunjung di Instalasi Rehabilitasi Medik BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil data rekam medik di Instalasi Rehabilitasi Medik BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado.  Hasil: Pada penelitian yang didapatkan dari data deskriptif/rekam medik (RM) didapatkan jumlah penderita yang didiagnosis dengan osteoartritis lutut sebanyak 74 orang. Didapatkan sebanyak 31 orang yang memiliki data BB dan TB, 3 data kurang lengkap yaitu hanya terdapat data BB dan 40 data yang tidak mempunyai baik BB maupun TB. Hasil penelitian menyatakan penderita OA lutut yang datang kontrol di Instalasi Rehabilitasi Medik,hanya 31 yang tercantum data IMT (BB&TB),terdapat 5 orang yang memiliki IMT normal,dan 26 orang yang memiliki IMT berlebih baik overweight maupun obesitas. Simpulan: Dari sini kita bisa melihat salah satu faktor resiko OA lutut adalah obesitas. Kata Kunci: Osteoartritis lutut, Obesitas.
HUBUNGAN LAMA DUDUK DENGAN KEJADIAN LOW BACK PAIN PADA OPERATOR KOMPUTER PERUSAHAAN TRAVEL DI MANADO Sari, Ni Putu L. N. I.; Mogi, Theresia Isye; Angliadi, Engeline
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8602

Abstract

Abstract: Low Back Pain (LBP) is commonly found in society. LBP often results in decreased of productivity and disability. The most frequent causes of LBP are prolonged sitting, improper sitting position, bad body posture, excessive activity, and trauma. Risks of LBP are prolonged working such as computer operator. This study aimed to obtain the correlation of sitting duration of computer operators in travel agencies in Manado to LBP. This was an analytical observasional study with a cross sectional design. Data were collected by using questionnaires. The result showed that of 30 subjects, 27 (90%) had suffered from LBP. An upright sitting position is the most position that caused LBP in 18 subjects (60%). The sitting position where the knees were as high as the hip caused LBP in 25 subjects (83,33%). Prolonged sitting of 7-8 hours contributed in 21 subjects (70%). The alternative Fisher exact test showed a strong correlation (P=0.014) between prolonged sitting and LBP in computer operators of travel agencies. An upright sitting position (P=0.028) and the sitting position where knees were as high as the hips (P=0.003) were also correlated with LBP.Keywords: low back pain, computer operator, sitting position, knee positionAbstrak: Low Back pain (LBP) merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam masyarakat. LBP sering menyebabkan penurunan produktivitas kerja juga disabilitas. Penyebab LBP yang paling sering ialah duduk terlalu lama, sikap duduk yang tidak tepat, postur tubuh yang tidak ideal, aktivitas berlebihan, serta trauma. Pekerjaan yang berisiko menimbulkan LBP antara lain yang memiliki jam kerja panjang seperti operator komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama duduk dan angka kejadian LBP pada operator komputer perusahaan travel di Manado dengan menggunakan metode analitik observasional dan desain potong lintang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kemudian dianalisis. Hasil penelitian memperlihatkan dari jumlah 30 subjek penelitian, 27 orang (90%) mengalami LBP. Posisi duduk tegak merupakan posisi terbanyak yang menimbulkan LBP pada 18 subjek penelitian (60%). Posisi lutut sejajar pinggul menimbulkan LBP pada 25 subjek penelitian (83,33%). Lama duduk 7-8 jam paling banyak menimbulkan LBP yaitu pada 21 subjek penelitian (70%). Uji alternatif Fisher exact memperlihatkan adanya korelasi kuat (P=0,014) antara lama duduk dan kejadian LBP pada operator komputer perusahaan travel. Posisi duduk tegak (P=0,028) dan posisi lutut sejajar pinggul (P=0,003) juga berkorelasi dengan LBPKata kunci: low back pain, lama duduk, operator komputer, posisi duduk, posisi lutut,
HUBUNGAN PENGGUNAAN RANSEL DENGAN NYERI PUNGGUNG DAN KELAINAN BENTUK TULANG BELAKANG PADA SISWA DI SMP NEGERI 2 TOMBATU Dumondor, Stefany V.; Angliadi, Engeline; Sengkey, Lidwina
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6824

Abstract

Abstrak: Tas jenis ransel sangat diminati oleh anak sekolah.Banyaknya peminat yang menggunakan ransel disebabkan karena tas ini lebih praktis dan memiliki daya tampung yang lebih besar. Meskipun banyak diminati, penggunaan ransel yang tidak sesuai dari segi desain, berat beban, maupun cara pemakaiannya memiliki dampak negatif yang cukup besar bagi anak sekolah karena dapat meningkatkan stres pada struktur tulang belakang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Penggunaan ransel yang tidak sesuai dapat menyebabkan nyeri punggung, perubahan postur tubuh dan gaya berjalan dan jika dilakuan terus menerus dapat mengakibatkan perubahan yang bersifat irreversible karena ligamen dan tulang belakang terus mengalami proses degeneratif sejalan dengan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan ransel dengan nyeri punggung dan kelainan bentuk tulang belakang pada siswa yang dilakukan di SMP Negeri 2 Tombatu. Penelitian ini bersifat obsevasional analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung kepada subjek penelitian dengan penyebaran kuesioner dan pemeriksaan tulang belakang dengan teknik adam forward bending test. Hasil penelitian dari 30 sampel, didapati 25 orang pernah merasakan nyeri di daerah leher, bahu, punggung bagian atas, maupun punggung bagian bawah. Berdasarkan pemeriksaan tulang belakang, dari 30 sampel 12 orang memiliki tulang belakang normal, sedangkan 18 orang didapati memiliki kelainan tulang belakang yaitu 6 orang dengan skoliosis, 10 orang kifosis dan 2 orang lordosis. Analisis statistik yang digunakan adalah Chi-Square karena salah satu variabel yang diuji berskala nominal dan uji Spearman karena kedua variabel yang diuji berskala ordinal dengan menggunakan α = 5% atau 0,05.Kata Kunci: ransel, nyeri punggung, kelainan bentuk tulang belakang, anak sekolah