Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Edukasi dan Partisipasi Masyarakat untuk Mengatasi Masalah Sampah Laut di Pantai Pangandaran Muhammad Yusuf Awaluddin; Qurnia Wulan Sari; Sunarto
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v5i2.1687

Abstract

Sampah laut telah menjadi masalah global yang berdampak signifikan terhadap ekosistem laut, ekonomi, pariwisata, dan perubahan iklim. Pengabdian masyarakat ini berfokus di Pantai Pangandaran, dimana aktivitas pariwisata, populasi penduduk, dan kegiatan nelayan menyumbang terhadap persoalan sampah laut di wilayah ini. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengevaluasi kesadaran masyarakat dan mencari solusi penanganan sampah laut yang efektif di Pantai Pangandaran. Melalui survei dan edukasi secara interaktif kepada 25 peserta, kami menemukan peningkatan kesadaran. Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan tentang pengetahuan jenis sampah laut dari 55% menjadi 70% dan peningkatan dari 33% menjadi 67% untuk aspek inisiatif memerangi sampah laut. Sementara itu, pelaksanaan praktik di pantai secara langsung berhasil memberikan pengalaman dan pemahaman penanganan sampah laut bagi peserta. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi dan partisipasi masyarakat bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi dan menjaga kebersihan pantai dari sampah laut.
Edukasi Urban Farming Bagi Ibu Rumah Tangga Rt 02/Rw10 Desa Cisempur, Jatinangor, Sumedang Anggraeni, Santi Rukminita; Hakim, Ayyas Ziya Ul; Asyam, Abdullah; Sari, Qurnia Wulan; Sofiana, Neng Tanty
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.20183

Abstract

ABSTRAK Urban farming muncul sebagai salah satu strategi pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di daerah perkotaan, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan lahan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pkm) ini bertujuan untuk memberikan edukasi urban farming kepada kaum ibu rumah tangga Desa Cisempur, Jatinangor. Metode pelaksanaan program terdiri dari edukasi penyuluhan dan praktik urban farming dengan menanam sayuran dalam polibag. Kegiatan dilaksanakan selama bulan November hingga Desember 2024 bagi 18 orang ibu rumah tangga warga RT 02/RW 10, Desa Cisempur, Jatinangor Sumedang. Hasil evaluasi menunjukkan 66,7% peserta menyatakan bahwa program yang diberikan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang tidak memiliki halaman untuk mendapatkan sayuran segar. Sebanyak 80% peserta menyampaikan minat untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 46,7% sangat tertarik untuk berpartisipasi pada program sejenis di masa mendatang. Umpan balik peserta memberikan informasi bahwa edukasi yang telah dilakukan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang urban farming yang dapat diterapkan dengan mudah. Program ini juga berpotensi bermanfaat dalam penyediaan bahan pangan segar untuk konsumsi pribadi namun belum memberikan dampak ekonomi yang dapat dirasakan. Dukungan sarana serta kebijakan pemerintah setempat dapat menjadi upaya tindak lanjut agar program urban farming yang telah diinisiasi dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat untuk ketahanan pangan lokal sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.  Kata Kunci: Pertanian Kota, Ketahanan Pangan Lokal, Edukasi  ABSTRACT Urban farming emerged as one of the strategies to address food security, environmental sustainability, and community involvement in urban areas, especially in areas that have limited land. This community service activity (pkm) aimed to provide urban farming education to housewives in Cisempur Village, Jatinangor. The method of implementing the program consisted of counseling education and practice of urban farming by planting vegetables in polybags. The activities were carried out from November to December 2024 for 18 housewives from RT 02 / RW 10, Cisempur Village, Jatinangor Sumedang. The evaluation results showed that 66.7% of participants stated that the program was very useful for people who do not have a yard to get fresh vegetables. As many as 80% of participants expressed interest in applying the knowledge gained in their daily lives. 46.7% were very interested in participating in similar programs in the future. Participant feedback provided information that the carried-out education had increased knowledge and experience that urban farming can be applied easily. The program was also potentially useful in providing fresh food for personal consumption but has not yet provided a tangible economic impact. Supports of facilities and local government policies can be a follow-up effort for the urban farming program that has been initiated can be a means of empowering communities for local food security while improving environmental quality.  Keywords: Urban Agriculture, Local Food Security, Education
Karakteristik Gelombang Panas Laut Di Perairan Selatan Jawa Barat Alfianu Adhi Riztiawan; Hadi Firdaus; Muhammad Khairan Saptari; Yudha Setiawan Djamil; Mega Laksmini Syamsuddin; Fadli Syamsudin; Qurnia Wulan Sari
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.31731

Abstract

ABSTRAKPerairan Selatan Jawa Barat merupakan wilayah dengan dinamika oseanografi yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor regional maupun global. Kompleksitas ini membuat area tersebut sangat rentan terhadap peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim, yang dapat memicu Gelombang Panas Laut (GPL) dan berpotensi mengganggu ekosistem laut. Studi ini menganalisis GPL di wilayah tersebut selama periode 1995-2024 menggunakan data suhu permukaan laut hasil penginderaan satelit. Parameter utama GPL (frekuensi, durasi, dan intensitas maksimum) dievaluasi secara spasial dan temporal. Hasil menunjukkan bahwa wilayah pesisir mengalami frekuensi dan intensitas GPL yang lebih tinggi, menandakan kerentanan perairan dangkal terhadap kejadian suhu ekstrem. GPL paling ekstrem terjadi pada tahun 1998, 2010, dan 2016, dengan tahun 2016 menunjukkan durasi terpanjang (35 hari) dan frekuensi tertinggi (7,28 kejadian). Intensitas maksimum tercatat pada tahun 1998 sebesar 1,89 °C, diikuti oleh tahun 2016 dan 2010. Pola temporal sangat dipengaruhi oleh variabilitas antar-tahunan, kemungkinan didorong oleh mode iklim seperti ENSO, sementara tren jangka panjang yang signifikan tidak terdeteksi. Studi ini berfokus pada parameter utama GPL dan tidak membahas faktor fisik potensial seperti fluks panas udara-laut, sirkulasi arus laut, atau gaya angin lokal. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi upaya konservasi ekosistem pesisir sekaligus mendukung perumusan kebijakan perikanan tangkap yang adaptif terhadap variabilitas iklim di selatan Jawa Barat.Kata Kunci: Gelombang Panas Laut, Satelit, Suhu Permukaan LautABSTRACTThe Western Southern Java Waters are a region with complex oceanographic dynamics influenced by both regional and global factors. This complexity makes the area highly susceptible to increasing sea surface temperatures due to climate change, which can trigger Marine Heatwaves (MHWs) and potentially disrupt marine ecosystems. This study analyzed MHWs in the region over the period 1995-2024 using satellite-derived sea surface temperature data. The primary metrics of MHWs (frequency, duration, and maximum intensity) were evaluated both spatially and temporally. Results show that coastal areas experienced higher MHW frequency and intensity, indicating greater vulnerability of shallow waters to extreme temperature events. The most extreme MHWs occurred in 1998, 2010, and 2016, with 2016 exhibiting the longest duration (35 days) and highest frequency (7.28 events). Maximum intensity peaked in 1998 at 1.89 °C, followed closely by 2016 and 2010. Temporal patterns were strongly influenced by interannual variability, likely driven by climate modes such as ENSO, whereas no significant long-term trends were detected. This study focused on primary MHW metrics and did not explore  potential  physical  drivers such  as air-sea  heat flux,  ocean current circulation, or local wind forcing. These findings provide a scientific basis for coastal ecosystem conservation efforts and support the formulation of climate-adaptive fisheries management policies in southern West Java.Keywords: Marine Heatwaves, Satellite, Sea Surface Temperature