Diagnosis ISK umumnya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan urinalisis, dan kultur urin, namun keterbatasan fasilitas di layanan primer sering menyebabkan diagnosis hanya berpedoman pada keluhan klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik klinis serta metode diagnosis ISK yang digunakan di Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan data sekunder dari rekam medis pasien ISK tahun 2024–2025. Data dari 284 rekam medis dianalisis secara kuantitatif dan disajikan dalam bentuk table distribusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ISK lebih banyak terjadi pada perempuan (70%) dibanding laki-laki (30%), dengan kelompok usia terbanyak 26–35 tahun (29%). Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah nyeri saat berkemih (80%), diikuti nyeri pinggang (21%) dan nyeri perut bawah (19%), sementara demam hanya muncul pada 15% pasien. Pemeriksaan laboratorium urinalisis hanya dilakukan pada 10% pasien, dan hanya sebagian kecil parameter yang tercatat, seperti mikroskopik (71%), nitrit (50%), dan leukosit esterase (21%). Minimnya pemeriksaan penunjang menunjukkan bahwa penegakan diagnosis lebih banyak bergantung pada gejala klinis. Kesimpulan penelitian ini menegaskan perlunya optimalisasi pemeriksaan urinalisis dan pencatatan medis yang lebih lengkap untuk meningkatkan akurasi diagnosis ISK di layanan primer.