Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA PELAJARAN PKN DI SMA NEGERI 1 WATANSOPPENG FITRIANI B; HASNAWI HARIS
Jurnal Tomalebbi Volume III, Nomor 3, September 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.446 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1). Pertimbangan guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pelajaran PKn di SMA Negeri 1 Watansoppeng; 2). Cara guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pelajaran PKn di  SMA Negeri 1 Watansoppeng; 3). Faktor yang dapat menghambat dan mendukung terlaksananya model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pelajaran PKn di SMA Negeri 1 Watansoppeng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh yaitu data primer yang didapat melalui terjun langsung ke lapangan untuk wawancara dan observasi, serta data sekunder yang diperoleh dengan pengkajian beberapa literatur yang berhubungan dengan penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertimbangan guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pelajaran PKn di SMA Negeri 1 Watansoppeng adalah: 1)  Memudahkan bagi guru mengenal tipe pembelajaran kooperatif dengan konsep kerja yang sederhana; 2) Melatih siswa untuk bekerjasama; 3) Melatih siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, melatih siswa aktif berdiskusi; 4) Melatih siswa untuk terhindar dari sifat individual dan ingin menang sendiri; 5) Guru harus menyesuaikan Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang materi pelajarannya banyak memuat aspek nilai, pengetahuan dan keterampilan. Adapun cara guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Faktor penghambat yaitu: 1) Siswa tidak memperhatikan guru saat mengajar; 2) Siswa lebih sering diam saat berdiskusi; 3) Siswa kurang menggunakan waktu seefesien mungkin;  4) Jumlah siswa yang banyak dalam kelas; 5) Suasana kelas yang panas. Adapun faktor pendukung yaitu: 1) Siswa senang mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD; 2) Siswa diajarkan cara bertanggung jawab dengan penyelesaikan tugas pelajaran; 3) Terciptanya hubungan yang akrab di kelas antara guru dan siswa begitupun siswa dengan siswa; 4) Dilengkapi sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran serta; 5) Guru yang sudah mampu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif This study aims to determine: 1). Consideration teachers use cooperative learning model STAD on Civic Education in SMA Negeri 1 Watansoppeng; 2). How teachers implement cooperative learning model STAD on Civic Education in SMA Negeri 1 Watansoppeng; 3). Factors that can hinder and support the implementation of cooperative learning model STAD on Civic Education in SMA Negeri 1 Watansoppeng. This research is a qualitative descriptive study. Data obtained by the primary data obtained through direct foray into the field to interview and observation, and secondary data was obtained with an assessment of some of the literature related to the research. The data obtained and analyzed using qualitative descriptive analysis. The results showed that the consideration of teachers implement cooperative learning model STAD on Civic Education in SMA Negeri 1 Watansoppeng are: 1) Make it easier for teachers to know the type of cooperative learning with the simple concept of work; 2) To train students to work together; 3) To train students to interact and communicate well, train students to actively discuss; 4) To train students to avoid individual properties and to be selfish; 5) The teacher must adjust the Basic Competency (KD) in accordance with the model type STAD cooperative learning that lesson material contains many aspects of values, knowledge and skills. As for how teachers use cooperative learning model STAD was in accordance with the steps of cooperative learning model STAD. While the factors inhibiting and supporting the implementation of cooperative learning model STAD, inhibiting factors, namely: 1) Students do not pay attention to the teacher while teaching; 2) Students are more often silent during the discussion; 3) Students are spending less time as efficiently as possible; 4) The number of students in a class; 5) The classroom atmosphere is hot. The supporting factors, namely: 1) Students are happy using cooperative learning model type STAD; 2) Students are taught how to be responsible with lessons task completion; 3) The creation of an intimate relationship in the classroom between teachers and students as well as students with students; 4) Equipped with facilities and infrastructure that support learning and; 5) Teachers who are already capable of using cooperative learning model STAD.Keywords: Cooperative Learning Model
Pelatihan Penggunaan Peralatan Laboratorium untuk Meningkatkan Pemahaman dan Keterampilan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Andarias, S. Hafidhawati; Fitriani B; Onde, Mitrakasih La Ode; Ferriyanti; Sapna Pertiwi
Room of Civil Society Development Vol. 4 No. 2 (2025): Room of Civil Society Development
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Masyarakat Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59110/rcsd.472

Abstract

Pembelajaran IPA merupakan salah satu bidang yang membutuhkan pembelajaran di laboratorium. Pembelajaran daring yang diterapkan selama pandemi Covid-19 belum dapat mengakomodir kebutuhan pelaksanaan praktikum secara efektif, salah satunya pada mata kuliah Konsep Dasar IPA SD. Hal ini dikarenakan tidak semua praktikum dapat dilakukan secara virtual. Selain itu, terdapat keterbatasan dalam mengakses dan menggunakan alat dan bahan di laboratorium. Oleh karena itu, pelatihan pengenalan dan penggunaan alat laboratorium perlu dilakukan agar dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang fungsi dan cara penggunaan alat laboratorium, melatih keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan eksperimen sederhana, dan memberikan wawasan tentang cara mengintegrasikan eksperimen dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan pelatihan meliputi sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Materi disampaikan dengan metode presentasi, tanya jawab, dan praktik oleh peserta. Pelatihan laboratorium ini terbukti meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa calon guru dalam penggunaan alat laboratorium IPA. Peningkatan skor rata-rata dari 56 menjadi 83 menunjukkan efektivitas metode pelatihan, yang diharapkan dapat berdampak positif terhadap pembelajaran IPA di masa depan. Dengan keterampilan yang diperoleh, mahasiswa akan lebih familiar dengan alat laboratorium dan lebih siap dalam mengajar IPA secara praktis dan interaktif.
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik melalui Penerapan Model Pembelajaran Discovery dan Media Card Sort Pada Pelajaran IPAS Elma; Rizkayati, Anisa; Fitriani B
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 4 No 2: Juni (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v4i2.1321

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Discovery dan media pembelajaran card sort pada pelajaran IPAS kelas IV SD Negeri I Wakinamboro. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, pada tiap siklusnya terdapat empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan observasi dan tes. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SD Negeri I Wakinamboro Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan yang terdiri dari 20 peserta didik. Data observasi yang diperoleh pada prasiklus adalah kurangnya perhatian peserta didik selama proses pembelajaran di kelas, hasil belajar peserta didik yaitu terdapat 9 peserta didik (45%) yang mencapai KKTP sedangkan 11 peserta didik (55%) yang tidak mencapai nilai KKTP dengan skor rata-rata kelas 53,68. Setelah menerapkan model pembelajaran discovery berbantuan media Card Sort pada siklus I hasil belajar peserta didik meningkat, sebanyak 13 peserta didik yang mencapai KKTP dan 7 peserta didik yang tidak mencapai KKTP. Pada siklus II hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan sebanyak 17 peserta didik mencapai KKTP dan 3 peserta didik yang tidak mencapai KKTP. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery berbantuan media Card Sort dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran IPAS materi aku dan kebutuhanku.
Pelatihan Penggunaan Peralatan Laboratorium untuk Meningkatkan Pemahaman dan Keterampilan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Andarias, S. Hafidhawati; Fitriani B; Onde, Mitrakasih La Ode; Ferriyanti; Sapna Pertiwi
Room of Civil Society Development Vol. 4 No. 2 (2025): Room of Civil Society Development
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Masyarakat Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59110/rcsd.472

Abstract

Pembelajaran IPA merupakan salah satu bidang yang membutuhkan pembelajaran di laboratorium. Pembelajaran daring yang diterapkan selama pandemi Covid-19 belum dapat mengakomodir kebutuhan pelaksanaan praktikum secara efektif, salah satunya pada mata kuliah Konsep Dasar IPA SD. Hal ini dikarenakan tidak semua praktikum dapat dilakukan secara virtual. Selain itu, terdapat keterbatasan dalam mengakses dan menggunakan alat dan bahan di laboratorium. Oleh karena itu, pelatihan pengenalan dan penggunaan alat laboratorium perlu dilakukan agar dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang fungsi dan cara penggunaan alat laboratorium, melatih keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan eksperimen sederhana, dan memberikan wawasan tentang cara mengintegrasikan eksperimen dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan pelatihan meliputi sosialisasi, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Materi disampaikan dengan metode presentasi, tanya jawab, dan praktik oleh peserta. Pelatihan laboratorium ini terbukti meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa calon guru dalam penggunaan alat laboratorium IPA. Peningkatan skor rata-rata dari 56 menjadi 83 menunjukkan efektivitas metode pelatihan, yang diharapkan dapat berdampak positif terhadap pembelajaran IPA di masa depan. Dengan keterampilan yang diperoleh, mahasiswa akan lebih familiar dengan alat laboratorium dan lebih siap dalam mengajar IPA secara praktis dan interaktif.