Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

EFISIENSI PRODUKSI RUMPUT LAUT E. cotonii DENGAN METODE BUDIDAYA LONG LINE VERTIKAL SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOLOM AIR Lestari Lakhsmi Widowati; Sri Rejeki; Tristiana Yuniarti; Restiana Wisnu Ariyati
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.585 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.1.47-56

Abstract

ABSTRAK   Kualitas dan kuantitas rumput laut yang baik dan berkelanjutan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi usaha budidaya. Metode budidaya danlama pemeliharaan yang tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas budidaya yang berkelanjutan.Metode long line vertikal diterapkan untuk mengetahui kolom air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan optimum rumput laut. Kualitas terbaik kandungan karaginan dilihat dari lama pemeliharaan. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui interaksi lama pemeliharaan  dan  kedalaman terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (2) Mengetahui lama pemeliharaan  dan  kedalaman yang terbaik terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (3) Mengetahui kedalaman kolom air yang masih menghasilkan pertumbuhan rumput laut secara optimal. Penelitian dilakukan di perairan laut Pulau Pasir Kabupaten Brebes dengan lama pemeliharaan 45 hari dan 60 hari, serta 3 perlakuan pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90cm. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 x 3. Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan dan kandungan karaginan.Hasil yang didapatkan yaitu laju pertumbuhan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 117%, 158%, 111%, dan pada pemeliharaan selama 60 hari adalah 198%, 182% dan 136%. Pada pemeliharaan 45 hari laju pertumbuhan harian pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 2,26%/hari, 2,10%/hari dan 1,66%/hari, dan pada pemeliharaan 60 hari adalah 1,82%/hari, 1,73%/hari dan 1,43%/hari. Dari segi kualitas dilihat pada kandungan karaginan menghasilkan rata-rata karaginan 76,3% pada pemeliharaan 45 hari dan 96,3% pada pemeliharaan selama 60 hari. Kesimpulan yang diambil alah bahwa (1) Kedalaman dan lama pemeliharaan  memberikan pengaruh terhadap produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. (2) Produksi biomassa tertinggi dihasilkan pada pemeliharaan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm dengan pertumbuhan harian 2,26 %/hari dan kedalaman 60 cm  dengan laju pertumbuhan 2,10 %/hari. Kandungan karaginan rata-rata sebesar 96,3% didapatkan pada pemeliharaan selama 60 hari. (3) Kedalaman optimal untuk pemeliharaan rumput laut dengan metode longline vertikal adalah sampai dengan 60cm.   Kata kunci : long line vertikal, E. cottoni, karaginan   ABSTRACT   Good quality, quantity and sustainable still a challenge for aquaculture. The right method and duration of cultivation is expected to be one of the solutions to produce a sustainable quantity and quality of seaweed culture. Long line vertical method is applied to find out the column of water that can be used for optimum growth of seaweed. The best quality of carrageenan content was observed in duration of cultivation. The purpose of the study was (1) To find out the interaction between duration of cultivation and depth for the production of biomass and quality of seaweed. (2) To know the best duration of cultivation and depth for production of biomass and quality of seaweed. (3) To find out the depth of the water column which still produces the growth of seaweed optimally. Research conducted in sea water at Pulau Pasir, Brebes Regency with duration of cultivation were 45 days and 60 days, with 3 treatments at thedepth of 30cm, 60cm, and 90cm . Each treatment was repeated three times. The research used 3 x 2 factorial design. The observed variablewere growth rate and carrageenan content. The results are obtained, relative growth rate for 45 days at a depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 117%, 170%, 110%, and for duration of cultivation  60 days was 187%, 185% and 136%. In 45 days duration of cultivation, the  of specific growth rate at depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 2.26%/day, 2.10%/day and 1.66%/day, and on duration of cultivation 60 days is 1.82%/day, 1.73% and 1.43%/day. In terms of the quality of seaweed the average of karaginan content was 76.3% in 45 days duration of cultivation  and 96.3% on 60 days duration of cultivation . The conclusions were (1) The depth and period of cultivation influence the production of biomass and karaginan content of seaweed. (2 The highest biomass production on 45 days period of cultivation at a depth of 30 cm with specific growth rate of 2.26%/day and in depth of 60 cm with specific growth rate of 2.10%/day The content of carageenan an average of 96.3% obtained on maintenance for 60 days. Optimal depth for the maintenance of seaweed with vertical longline method is up to 60 cm.  Keywords : long line vertikal, E. cottoni, karaginan 
Pengaruh Salinitas yang Berbeda Terhadap Efektivitas Penyerapan Nitrat dan Pertumbuhan (Gracilaria verrucosa) Dari Air Limbah Budidaya Ikan Kerapu Sistem (Epinephelus) Sistem Intensif Dhimas Andreyan; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati; Lestari L. Widowati; Rosa Amalia
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 5, No 2 (2021): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v5i2.7282

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, karena pemanfaatannya yang demikian luas, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia industri. Salinitas merupakan faktor kimia yang mempengaruhi sifat fisik air, diantaranya adalah tekanan osmotik yang ada pada rumput laut dengan cairan yang ada dilingkungan. Nitrat merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan (G.verrucosa) sangat sensitif terhadap konsentrasi nitrogen yang rendah.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut (G. verrucosa) yang memberikan pertumbuhan terbaik dan penyerapan laju nitrat.. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2019 di PT Indmira Yogyakarta. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 pengulangan, dimana A (20 ppt), B (25 ppt), C (30 ppt), D (35 ppt). Nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan laju penyerapan nitrat ditentukan setelah 42 hari pemeliharaan. Nilai SGR dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian, laju pertumbuhan spesifik (SGR) tertinggi adalah perlakuan A sebesar 2,78±0,08%/hari, sedangkan nilai laju penyerapan nitrat yang terbaik pada perlakuan B sebesar 0,0105±0,001 mg/g dan puncak laju penyerapan nitrat tertinggi saat 21 hari awal masa pemeliharaan rumput laut sebesar 0,6 mg/l. Hasil pengukuran kualitas air yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas air pada lokasi penelitian berada dalam kisaran yang masih dapat ditoleransi oleh rumput laut.
LAJU FILTRASI BAHAN ORGANIK OLEH KERANG HIJAU (Perna viridis) SEBAGAI BIOFILTER SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) Diyah Retnosari; Sri Rejeki; Titik Susilowati; Restiana Wisnu Ariyati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.823 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.4031

Abstract

Sisa pakan dan feses dalam budidaya udang windu (Penaeus monodon) yang terakumulasi menjadi sumber bahan organik dapat memicu peningkatan konsentrasi amonia (NH­3). Solusi untuk menurunkan kandungan bahan organik yaitu menggunakan kerang hijau (Perna viridis) sebagai biofilter. Kerang hijau sebagai hewan filter feeder dapat mengasimilasi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju filtrasi kerang hijau dalam menurunkan kandungan bahan organik yang berasal dari kepadatan udang windu  yang berbeda dan mengkaji  pertumbuhan serta kelulushidupan udang windu yang dibudidayakan dengan air hasil filtrasi kerang hijau. Biota uji yang digunakan adalah udang windu post larva 45 kepadatan 40 ekor/m2 dan kerang hijau ukuran 3-4 cm kepadatan 30 ekor/m2. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 3 perlakuan dengan 3 kali pengulangan, yaitu: A (kepadatan udang windu 20 ekor/m2), B (kepadatan udang windu 60 ekor/m2), dan C (kepadatan udang windu 100 ekor/m2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik dari kepadatan udang windu yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhahap laju filtrasi (FR) kerang hijau dalam menurunkan kandungan bahan organik. Air limbah hasil filtrasi kerang hijau tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhahap pertumbuhan dan kelulushidupan udang windu. Laju filrasi perlakuan A berkisar antara -1,83–1,31L/hari, perlakuan B -2,07–0,96 L/hari, dan perlakuan C -2,03–1,06 L/hari. Penurunan bahan organik perlakuan A sebesar 44,92 mg/L, perlakuan B 36,58 mg/L, dan perlakuan C 39,84 mg/L. Laju pertumbuhan relatif perlakuan A sebesar 12,32±1,02%, perlakuan B 12,46±0,81%, dan perlakuan C 13,68±1,28%. Kelulushidupan (SR) udang windu perlakuan A sebesar 92,50±6,61%, perlakuan B sebesar 76,67±11,81%, dan perlakuan C sebesar 95,83±3,82%.
PROGRAM IPTEK BAGI DESA BINAAN UNDIP PRODUKSI TAMBAK TERDAMPAK ABRASI DENGAN PENERAPAN LEISA DAN IMTA Restiana Wisnu Ariyati; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati; Tri Winarni Agustini; Indah Susilowati
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produksi budidaya tambak tradisional terdampak abrasi merupakan masalah utama di Desa Tambak Bulusan Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak kerena tambak mengalami kerusakan fisik. Selain itu, kegiatan budidaya intensif pada, yaitu penggunaan bahan kimia ataupun inovasi lainnya mengakibatkan penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan ikan/udang yang dibudidayakan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat Program Iptek Bagi Desa Binaan Undipbermitra dengan Kelompok Petambak Jaya Bakti dan Rizqua adalah menerapkan konsep Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA), yakni budidaya dengan teknologi yang ramah lingkungan dan Intergated Multi Thropic Aquaculture (IMTA), yaitu budidaya terintegrasi beberapa komoditas organisme budidaya, sebagai upaya pemulihan produksi tambak. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan efiseiensi yang semula hanya dibudidayakan bandeng dan udang dengan hasil panen udang yang kurang memuaskan. Konsep LEISA dan IMTA yang mengintegrasikan budidaya udang, bandeng, kerang darah dan rumput laut. Hasil panen menunjukkan: udang (± size 40) = 235 kg; bandeng (± size 5) = 2.078 kg dan kerang darah (± size 135) = 437 kg. Pada saat pengabdian berakhir, Sebagian bandeng dan kerang darah masih ada di tambak dan masih bisa dipanen.
PEMULIHAN PRODUKSI TAMBAK PADA LAHAN TERABRASI DENGAN PENERAPAN LOW EXTERNAL INPUT FOR SUSTAINABLE AQUACULTURE (LEISA) Sri Rejeki; Tri Winarni Agustini; Indah Susilowati; Lestari Lakhsmi Widowati; Restiana Wisnu Ariyati
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 4 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produksi budidaya tambak tradisional terdampak abrasi merupakan masalah utama di Desa Tambak Bulusan Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak kerena tambak mengalami kerusakan fisik. Selain itu, kegiatan budidaya intensif pada, yaitu penggunaan bahan kimia ataupun inovasi lainnya mengakibatkan penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan ikan/udang yang dibudidayakan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat Program Iptek Bagi Desa Binaan Undipbermitra dengan Kelompok Petambak Jaya Bakti dan Rizqua adalah menerapkan konsep Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA), yakni budidaya dengan teknologi yang ramah lingkungan dengan menggunakan kompos dan pupuk cair organik yang disebut Mikro organisme Lokal (MOL) dan dibuat oleh para petambak dengan bahan baku local yaiti limbah sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai upaya pemulihan produksi tambak. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan  peningkatan produksi tambak  yang signifikan:  udang (± size 20-30) = 140 kg; bandeng (± size 4-5) = 1.850 kg dan kerang darah (± size 115-135) = 305 kg; rumput laut 785 kg. Petambak memanen rumput laut ,d ikeringkan  untuk pakan bandeng
PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) PADA STADIA CRAB MUDA Sri Rejeki; Citra Ayu Furi; Restiana Wisnu Ariyati
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 1 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.55 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i1.712

Abstract

ABSTRAK                                                                                                                                                                         Rajungan (P. pelagicus) merupakan hasil perikanan yang sangat potensial dan menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan. Faktor lain yang menjadi kunci kesuksesan dalam budidaya di tambak adalah pengelolaan budidaya selama pelaksanaan di tambak. Hasil pemantauan lingkungan budidaya tambak dapat dijadikan dasar dalam menentukan  tindakan yang akan dilaksanakan dalam pengelolaan budidaya tambak. Kualitas air merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya di tambak karena komoditas yang dibudidayakan di tambak hidup dalam badan air. Salinitas berhubungan erat dengan osmoregulasi hewan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh salinitas yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan rajungan (P. pelagicus). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017 – Juli 2017 di Desa Tambak Bulusan, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hewan uji adalah crab muda rajungan yang berukuran 5 cm. Padat tebar yang digunakan adalah 10 ekor/m. Pakan yang diberikan adalah udang rebon yang diberikan secara fix feeding rate 5%.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan salinitas yang digunakan yaitu 15 ppt, 20 ppt, 25 ppt, dan 30 ppt. Pemeliharaan dilakukan selama 42 hari dan dilakukan pengukuran kualitas air setiap  hari. Perbedaan salinitas memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan RGR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kelulushidupan rajungan (P. pelagicus) yaitu pada perlakuan D sebesar 83,33±5,77%. Pertumbuhan bobot mutlak terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 81,87±2,42 g. Laju pertumbuhan relatif rajungan (P. pelagicus) terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 9,11±0,70%/hari. Perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan D dibandingkan dengan perlakuan A, B dan C.                Kata kunci: Kelulushidupan, Pertumbuhan, Rajungan, Salinitas, Osmoregulasi ABSTRACT                     Blue swimming crab (P. pelagicus) is a potential fishery comodity and has become the leading export. Another factor that becomes the key to success in the cultivation in the pond is the management of cultivation during the implementation in the pond. The results of environmental monitoring of pond farming can be used as a basis in determining the actions to be implemented in the management of pond farming. Water quality is a critical determinant of the success of the cultivation in the ponds because of the commodities cultivated in live ponds in water bodies. Salinity is closely related to the osmoregulation of aquatic animals, in the event of a sudden drop in salinity and within a considerable range. The objectives of this research was to find out the effects of different salinity levels the survival rate and growth of blue swimming crab. This reaserch was conducted in Bulusan village, Karang Tengah districts, Demak district, Central Java start from Mei until July 2017. Theof blue swimming crab with average size of 5 cm/ind with stocking density was 10 individuals/tank. The feed given was shrimp rebon. This research was conducted by experimental method using Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. There were salinity from treatments A with 15ppt, B with 20ppt, C with 25 ppt, and D with 30 ppt. The maintenance performed for 42 days and water quality monitored daily. The different salinity gave sicnificant effect of survival rate, growth and RGR. The results showed that the best absolute value survival rate of  Blue swimming crab (P. pelagicus) that is at treatment D equal to 83,33 ± 5,77%. The weight growth value was in treatment D of 81.87 ± 2.42 g. The relative growth rate of Blue swimming crab (P. pelagicus) is best at treatment D equal to 9,11 ± 0,70% / day. The best treatment was treatment D compared to treatments A, B and C. Keyword: Survival Rate, Growth, Blue Swimming Crab, Salinity, Osmoregulation
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Gracilaria sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI PERAIRAN TAMBAK TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Muhammad Rizky Hasan; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.459 KB)

Abstract

Pertambakan di desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes mengalami abrasi sehingga berubah menjadi perairan terbuka dan tidak termamfaatkan. Perairan tambak terabrasi tersebut masih berpotensi memberikan peluang untuk dimanfaatkan kegiatan budidaya. Salah satu bentuk pemanfaatan perairan tambak terabrasi tersebut adalah untuk kegiatan budidaya laut antara lain untuk budidaya rumput laut Gracilaria sp. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bobot awal yang memberikan pertumbuhan terbaik bagi Gracilaria sp dan mengetahui pengaruh bobot awal yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria sp yang dibudidayakan dengan metode longline. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode longline. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (bobot 50 g), B (bobot 100 g), dan C (bobot 150 g).  Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan harian, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RGR terbaik pada perlakuan A (50 g) 26.79% , perlakuan B (100 g) 19.85% ,dan perlakuan C (150 g) 17.45%. Nilai SGR pada perlakuan A (50 g) 14.16%, perlakuan B (100 g) 12.41%, dan perlakuan C (150 g)  11.63%. Kesimpulan yang didapat adalah pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp  dengan bobot awal 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik yaitu sebesar (26.79 0.36) dan SGR terbaik (14.16 0.07) dan di rekomendasikan untuk dibudidayakan. Fishpond in the Kaliwlingi village of Brebes District has been abraded, so that to turned into open water and not utilized. Abraded fishpond water is still potentially provide opportunities to be utilized aquaculture. One of the alternative uses fishpond water abraded is for marine culture activities among others for the cultivation of seaweed Gracilaria sp. The objective of research were to discover the initial weight that gives the best growth and different initial weights on the growth of Gracilaria sp cultivated with longline method. This study was conducted in May-June, 2014. The seaweed used in this study is the seaweed of Gracilaria sp. cultivated with longline method. The experimental design used was a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications: treatment A (weight 50 g), treatment B (weight 100 g) and treatment C (weight 150 g). Variables observed were relative growth rate, daily growth rate, and water quality. The results showed that the value of RGR treatment A (50 g) 26.79%, treatment B (100 g) 19.85%, and treatment C (150 g) 17.45%. SGR value treatment A (50 g) 14.16%, treatment B (100 g) 12.41%, and treatment C (150 g) 11.63%. The conclusion is the growth of seaweed Gracilaria sp cultivated with longline method of initial weight of 50 g (treatment  A) gives the best RGR value 26.79 0.36 and the best value SGR 14.16 0.07 and recommended for cultivation.
KUANTITAS DAN KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria sp. BIBIT HASIL SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN DENGAN BUDIDAYA METODE Longline DI TAMBAK Saesar Agung Trawanda; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.378 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas yang potensial dalam meningkatkan ekonomi rakyat, dan dapat di aplikasikan dengan cara budidaya yang mudah. Permintaan rumput laut semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Hal ini perlu diimbangi dengan kemajuan teknik budidaya rumput laut yaitu dengan menggunakan bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan dengan metode tanam longline. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas rumput laut, agar, dan gel strength dari bibit unggul kultur jaringan dan seleksi benih yang ditanam dengan metode longline. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan blok acak lengkap (RBAL). Rumput laut diberikan 2 perlakuan: bibit hasil seleksi dan bibit kultur jaringan, serta dilakukan sebanyak 21 ulangan. Secara kuantitas hasil produksi bibit hasil seleksi memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dari pada bibit kultur jaringan dengan pertumbuhan mutlak 125,33 ± 4,87 gram bibit hasil seleksi dan 103,76 ± 2,12 gram kultur jaringan, sedangkan pertumbuhan harian 1,55 + 0,15 %  bobot/hari , bibit hasil seleksi dan 1,41 + 0,11 % bobot /hari untuk bibit kultur jaringan. Hasil ini berbeda bermakna dengan uji independent t-test p<0,05.  Secara kualitas bibit kultur jaringan lebih baik dari bibit hasil seleksi, ditunjukkan dengan kandungan agar bibit kultur jaringan memiliki jumlah yang lebih banyak dari pada bibit hasil seleksi dengan rendemen agar 3,70% bibit hasil seleksi dan 4,22% kultur jaringan, sedangkan gel strength sebesar 208,802 (g/f) bibit hasil seleksi dan 129,279 (g/f) untuk bibit kultur jaringan. Seaweeds are one of main commodities to improve the economy of people and coastal civilian, one of kinds of seaweeds is Gracilaria sp. The increasing of demand of seaweeds must be balanced by the improvement of seaweeds culture using tissue culture and seeds selection with longline culture method. This research aims to find out the quality and quantity of seaweeds, gel, and gel strength from both seeds cells those planted by longline method. This research was experimental study with randomize complete block design. Seaweeds was divided in 2 acts: cells culture seeds and selection seeds with 21 repetitions. The selection seeds has a better growth than cells culture with 125.33 ± 4.87 grams for seeds selection and 103.76 ± 2.12 grams for cells culture and the selection growth rate 1.55 + 0.15 %  mass/day for seeds selection and 1.41 + 0.11 % mass/day for cells culture. The tissue culture seeds has a better quality in agar contents and gel strength.  The agar contents of 3.70 % for seeds selection and 4.22% for tissue culture seeds, and gel strength 208.802 (g/f) for seeds selection and 129.279 (g/f) for tissue culture.
PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KERANG DARAH (Anadara granosa) YANG DIBUDIDAYA DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Bahari Sony Atmaja; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.041 KB)

Abstract

Kerang darah merupakan salah satu kelompok hewan moluska dari kelas Bivalvia yang dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani dan bernilai ekonomis. Kondisi perairan terabrasi yang banyak ditumbuhi oleh pohon mangrove dalam upaya bioremediasi perairan tersebut dapat diikuti dengan kegiatan budidaya kerang darah sebagai solusi dari pemanfaatan lahan terabrasi dan juga permasalahan ekonomi masyarakat sekitar perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan Kerang darah (A.granosa), dan mengetahui padat tebar yang menghasilkan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah  kerang darah  dengan bobot individu rata-rata 4,87±1,46 gram yang diperoleh dari pengumpul di sekitar lokasi penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah), B (padat penebaran 30 ekor/wadah), C (padat penebaran 40 ekor/wadah), D (padat penebaran 50 ekor/wadah). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa padat tebar berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah (Anadara granosa) yang dibudidaya di perairan tambak terabrasi Kaliwlingi Kabupaten Brebes. Padat tebar yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah adalah 20 ekor/wadah yang menghasilkan laju pertumbuhan relatif (1,06%), dan kelulushidupan (73,33%). Blood cockles is one of a group of molluscs from the class of bivalvia that can be consumed as a source of animal protein and have economical value. The condition of eroded water territory which is overgrown by mangrove trees for water bioremediation that could followed by blood cockles culture activity to solution the economic problems for community around these area. The purpose of this research is to know the influence of different stocking density for growth and survival rate of blood cockles (A. granosa), and knowing the stocking density that giving the best of growth and best survival rate. The blood cockles obtained from the collector around these area. Experimental design that used in these research was complete randomied design with 4 treatment and 3 replication treatment that are A (stocking density 20/container), B (stocking density 30/container), C (stocking density 40/container), D (stocking density 50/container). Variable observed were relative growth rate,and survival rate. Based on the result can be concluded that the different stocking density effect for the growth and survival rate of blood cockle (A. granosa) that cultivated in the eroded waters teritory of Kaliwlingi Brebes Regency. The best stocking density for growth and survival rate of blood cockles are 20/container that produce relative growth rate (1,06%), and survival rate (73,33%).
PENGARUH CARA PEROLEHAN BIBIT HASIL SELEKSI, NON SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KANDUNGAN AGAR DAN Gel strength RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Broadcast DI TAMBAK Tegar Abdul Basith; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.505 KB)

Abstract

Budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di minati para pembudidaya karena dengan teknologi yang sederhana dapat menghasilkan produk yang tinggi dan biaya produksi rendah. Permasalahan yang dihadapi pembudidaya adalah pemilihan bibit rumput laut G. verrucosa berkualitas yang digunakan dalam budidaya belum seluruhnya diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kualitas produksi rumput laut G. verrucosa dari bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi. Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi dengan berat awal tanam sebesar 100 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, perlakuan A (Bibit hasil seleksi), B (Bibit kultur jaringan) dan perlakuan C (Bibit non seleksi),  masing – masing perlakuan di ulang 21 kali. Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi penimbangan berat dan pengukuran parameter kualitas air secara langsung meliputi (suhu, kecerahan, kedalaman, pH, salinitas) dan kandungan unsur hara yang di uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan G. verrucosa  bibit non seleksi mempunyai pertumbuhan yang paling baik (pertumbuhan relatif rata – rata  106,18%) dari pada G. verrucosa. Bibit hasil seleksi (pertumbuhan relatif rata – rata 90,95%) maupun bibit kultur jaringan (pertumbuhan relatif rata - rata 77,14%). Kandungan agar rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi mempunyai rendemen/kandungan agar terbaik rendemen agar 5,63%, sedangkan bibit dari kultur jaringan mempunyai Gel strength tertinggi yaitu 648, 312 g/f. G. verrucosa. culture becomes highly demanded by tambak farmers because by using simple technology and low production cost can  produce high yield. Good quality seed of G. verrucosa seems to be the main problem of its cultivation. The aims of this research were to find out the growth and quality of different seed of  G. verrucosa : the selection of seeds, tissue culture and non selection seeds with weigth of 100 gram. A completely randomaized design was applied in this research with 3 treatments : A (selection seed), B (tissue culture seed) and C (non selection seed.) each treatment replicated 21 times. Data collection in this study includes growth, water quality parameters (temperature, brightness, depth, pH, and salinity) and the nutrient content. The results show that the best growth was found at non selection seed (average relative growth rate 106,18%) but the best agar content found at the selection seed ( 5,63%) and the best gell strength was found at tissue culture seed (648,312% g/f).