Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Identifying the Use of Smart Enforcement in Citarum River Environmental Law Enforcement Nadia Astriani; Andri Gunawan Wibisana; Anindrya Nastiti; An Nissa Ayu Mutia; Hajriyanti Nuraini
PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law) Vol 10, No 1 (2023): PADJADJARAN JURNAL ILMU HUKUM (JOURNAL OF LAW)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Citarum River is one of the most strategic rivers in West Java Province, Indonesia. It has been a major water supplier for various agricultural and industrial needs. Unfortunately, human activity increases around the watershed. Thus, the water quality of the river decreases due to pollution. The central and regional governments launched the Citarum Harum program to reduce pollution in the Citarum River. One of the main issues of the program is related to environmental law enforcement. A lengthy process, high case costs, and light sanctions make law enforcement through the courts ineffective. This study discusses whether the environmental law enforcement in the Citarum River is smart enforcement. The study used normative empirical legal analysis with a juridical approach. This study concludes that the government should plan the law enforcement by means of Smart Enforcement strategy to make the enforcement more effective and efficient. It will provide clearer directions to law enforcement officers in the law enforcement. In addition, the efforts to carry out effective and efficient environmental law enforcement need more human and financial resources.DOI: https://doi.org/10.22304/pjih.v10n1.a3   
ANALISIS TUGAS DAN FUNGSI BANK TANAH DALAM MELAKUKAN REDISTRIBUSI TANAH UNTUK PENYEDIAAN TANAH REFORMA AGRARIA Mutia, An Nissa Ayu; Nurlinda, Ida; Zamil, Yusuf Saepul
LITRA: Jurnal Hukum Lingkungan, Tata Ruang, dan Agraria Vol. 3 No. 2 (2024): Vol. 3 No. 2 (2024): LITRA Jurnal Hukum Lingkungan Tata Ruang dan Agraria, Volu
Publisher : Departemen Hukum Lingkungan, Tata Ruang, dan Agraria, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23920/litra.v3i2.1716

Abstract

ABSTRAK Badan bank tanah merupakan badan khusus (sui generis) berbadan hukum yang diberi kewenangan untuk mengelola pertanahan di Indonesia. Dalam penyelenggaraannya Badan Bank Tanah dilekatkan beberapa fungsi dan tugas yang salah satunya ialah pendistribusian tanah dengan melakukan kegiatan penyediaan dan pembagian tanah reforma agraria. Desember 2023 badan bank tanah merilis aset yang dimiliki seluas 18.478 ha tersebar di 28 kabupaten/kota dan merilis wilayah-wilayah yang telah dialokasikan untuk kegiatan reforma agraria. Namun, Masyarakat yang masuk kedalam wilayah delineasi yang ditetapkan oleh badan bank tanah untuk pendistribusian tanah reforma agraria tersebut memberikan respon penolakan sehingga hal tersebut menimbulkan konflik baru. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan meninjau berbagai data sekunder mengenai reforma agraria dan bank tanah. Hasil penelitian menunjukan bahwa peraturan pelaksana dari penyelenggaraan bank tanah ini perlu untuk dilakukan beberapa penyesuaian, dimana diharapkan peraturan pelaksana dapat lebih jelas mengatur terkait kriteria pemilihan delineasi lahan bank tanah untuk kegiatan redistribusi tanah penyediaan tanah reforma agraria melalui aset bank tanah khususnya pada lahan yang sebelumnya telah menjadi delineasi TORA, sehingga diharapkan peraturan pelaksana tersebut dapat meminimalisir konflik agraria baru dan dapat mewujdkan keadilan agraria. Kata kunci: Bank Tanah; Reforma Agraria; Redistribusi; Tanah. ABSTRACT The land bank is a sui generis that is authorized to manage land in Indonesia. In its implementation, the Land Bank is attached to several functions and tasks, which is the distribution of land by carrying out agrarian reform land provision and distribution activities. In December 2023, the land bank assets covering an area of 18,478 ha spread across 28 districts/cities and released the areas that have been allocated for agrarian reform activities. However, the community that enters the delineation area set by the land bank for the distribution of agrarian reform land responds to rejection so that it causes new conflicts. This study uses a normative juridical method by reviewing various secondary data regarding agrarian reform and land banks. The results of the study show that the implementing regulations of the implementation of the land bank need to be adjusted, where it is hoped that the implementing regulations can more clearly regulate the criteria for selecting land bank land delineation for land redistribution activities, the provision of agrarian reform land through land bank assets, especially on land that has previously been a TORA delineation, so it is hoped that the implementing regulations can be minimized agrarian conflicts are new and can promote agrarian justice. Keywords: Agrarian Reform.; land; land bank.; redistribution.
PENGATURAN PEMBANGUNAN FOOD ESTATE PADA KAWASAN HUTAN UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA Mutia, An Nissa Ayu; Nurlinda, ida; Astriani, Nadia
Bina Hukum Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 6, Nomor 2, Februari 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 yang sedang melanda dunia saat ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap berbagai sektor, utamanya pada sektor pangan. Ancaman krisis pangan menjadi hal yang paling dikhawatirkan saat ini. Pembangunan food estate sebagai penyedia cadangan pangan nasional menjadi solusi yang ditawarkan. Keterbatasan lahan pertanian yang ada menjadi hambatan pemerintah dalam mengembangkan program ini. Kawasan hutan menjadi salah satu area yang dapat digunakan untuk program food estate, sebagaimana diatur dalam Permen Nomor 7 Tahun 2021 melalui skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji berbagai data sekunder mengenai program food estate dan kawasan hutan. Kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi menjadi dua kawasan yang dapat digunakan dalam skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan. Namun, Pemerintah masih perlu untuk memberikan batasan yang jelas terkait penggunaan kawasan hutan lindung yang tidak berfungsi lindung pada skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan ini, karena dikhawatirkan akan berdampak kepada kawasan hutan lindung yang masih berfungsi lindung, mengingat area yang dibutuhkan oleh food estate ini sangat luas. Pemerintah juga perlu untuk memperhatikan hak-hak pemanfaatan sebelumnya agar persengketaan antar pemilik hak dapat terhindarkan.
PENGATURAN PEMBANGUNAN FOOD ESTATE PADA KAWASAN HUTAN UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA Mutia, An Nissa Ayu; Nurlinda, ida; Astriani, Nadia
Bina Hukum Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 6, Nomor 2, Februari 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 yang sedang melanda dunia saat ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap berbagai sektor, utamanya pada sektor pangan. Ancaman krisis pangan menjadi hal yang paling dikhawatirkan saat ini. Pembangunan food estate sebagai penyedia cadangan pangan nasional menjadi solusi yang ditawarkan. Keterbatasan lahan pertanian yang ada menjadi hambatan pemerintah dalam mengembangkan program ini. Kawasan hutan menjadi salah satu area yang dapat digunakan untuk program food estate, sebagaimana diatur dalam Permen Nomor 7 Tahun 2021 melalui skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan mengkaji berbagai data sekunder mengenai program food estate dan kawasan hutan. Kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi menjadi dua kawasan yang dapat digunakan dalam skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan. Namun, Pemerintah masih perlu untuk memberikan batasan yang jelas terkait penggunaan kawasan hutan lindung yang tidak berfungsi lindung pada skema kawasan hutan untuk ketahanan pangan ini, karena dikhawatirkan akan berdampak kepada kawasan hutan lindung yang masih berfungsi lindung, mengingat area yang dibutuhkan oleh food estate ini sangat luas. Pemerintah juga perlu untuk memperhatikan hak-hak pemanfaatan sebelumnya agar persengketaan antar pemilik hak dapat terhindarkan.
The Implementation of Agrarian Reform for Achieving Food Security: Lessons from West Jawa Ida Nurlinda; Lego Karjoko; Farida Patittingi; An Nissa Ayu Mutia
Sriwijaya Law Review Volume 10 Issue 1, January 2026
Publisher : Faculty of Law, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/slrev.v10i1.5408

Abstract

Land tenure and ownership in Indonesia are marked by two interrelated structural problems: limited land availability to meet development needs and the concentration of land ownership in the hands of a small group of individuals or business entities. This concentration restricts access to land for much of the population, particularly marginal farming communities whose livelihoods depend on land cultivation. Accordingly, agrarian reform is necessary to restructure land tenure, ownership, use, and utilisation in a more equitable and sustainable manner. West Java Province, as Indonesia’s most densely populated region, faces acute challenges due to limited state land availability and a high proportion of low-income residents. In this context, agrarian reform must be treated as a development priority. This article examines agrarian reform as a regulatory and social engineering instrument aimed at achieving national development objectives, particularly food self-sufficiency and poverty alleviation, using West Java Province as a case study. The findings demonstrate that although agrarian reform in West Java has been relatively well planned and implemented, its effectiveness is constrained by insufficient budgetary support and limited involvement of Regional Government Agencies (Organisasi Perangkat Daerah/OPD), especially in the execution of access reform programmes such as economic empowerment initiatives for agrarian reform beneficiaries. The study argues that stronger institutional coordination and enhanced collaboration among OPD are essential to improve access reform and to realise food security as a central objective of agrarian reform.
Food Security Policy in Indonesia: The Impact to Land Ownership and Farmers’ Welfare Yusuf Saeful Zamil; Ida Nurlinda; An Nissa Ayu Mutia; Puja Anudiwanti
BESTUUR Vol 13, No 1 (2025): Bestuur
Publisher : Administrative Law Departement Faculty of Law Universitas Sebelas Mare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/bestuur.v13i1.102837

Abstract

Events such as the war between Russia and Ukraine are just one of many examples causing food crises across the globe, possibly leading to widespread famine. Given such a necessity, each state should make food security its main priority for development. An ideal food security policy must show an impact on agrarian reform or agrarian justice, particularly meant for the welfare of small farmers. The agrarian reform may help to increase the welfare of the small farmers as a program that gives access to the control and ownership of agricultural lands. This paper studies on how far the effect of food policy against agrarian reform in Indonesia. The result of the research shows that the food security policy in Indonesia is not yet capable of increasing the welfare of small farmers. Facts show that food security policy in Indonesia prioritizes allotment over agricultural and farming lands for big companies. The approach is claimed to entrust the role of food security development to the big companies or sometimes landlords. Only a small amount of access is granted to small farmers in terms of ownership and control over such lands. In facing such conditions, the authors come with a concept to transfer the Directorate of Agrarian Management from the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency to the Ministry of Agriculture. This way, food security programs will have no choice but to have farmers’ welfare to be included as one of their main objectives. A single chain of command will ease the process of implementation, and it will help the Government to have a better focus on achieving its goals, either for food security or the farmers’ welfare.