Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kriteria Joget Tiktok yang Dianggap Wajar dalam Perspektif Etika Publik dan Norma-Norma Islam Imamul Arifin; Ajeng Amelia Veganesa; Putri Nur Cahyani
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol 19 No 1 (2022): Jurnal Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM STAI Diniyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/al-mutharahah.v19i1.451

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui hukum berjoget Tiktok menurut perspektif norma-norma Islam dan mengetahui segi pandang sosial terhadap kriteria joget yang wajar. Penelitian ini, merupakan metode penelitian kualitatif dan tafsir maudhu’i yang mengacu pada penerapan ilmu ilmu Al-Qur'an dan pada perspektif masyarakat. Berdasarkan hukum Islam, berjoget adalah suatu hal yang dilarang karena menjurus pada kesenangan duniawi dan bertingkah laku yang berlebihan, selain itu berjoget dan menari biasanya menampakan aurat yang menimbulkan syahwat dan dilarang serta diharamkan dalam Islam. Dalam hukum Islam menari diperbolehkan dengan syarat tidak menampakan aurat, tidak menimbulkan syahwat dan untuk menjaga kesehatan. Tren masyarakat Indonesia saat ini salah satunya adalah joget Tik tok yang seringkali mengadopsi budaya barat baik lagu maupun gerakan, sehingga memberikan dampak positif dan negatif. Joget Tiktok saat ini sering kali diselewengkan oleh para penggunanya yang sudah melanggar etika dalam bersosial maupun norma-norma Islam seperti menggunakan pakaian yang tidak layak, berjoget berlebihan sehingga memancing hawa nafsu, dan menunjukkan sesuatu yang seharusnya tidak ditunjukkan. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa, kriteria joget yang dianggap wajar adalah ketika joget itu tidak berlebihan yang mana dapat memancing hawa nafsu.
Sistem Kepercayaan, Sistem Nilai, dan Sikap Warga Kampus PENS Terhadap Mahasiswi Bercadar Amarain Syahwa Zamalia; Albanoza Tamyda; Imamul Arifin
INTERAKSI PERADABAN: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.051 KB) | DOI: 10.15408/interaksi.v1i1.15808

Abstract

This article describes  the social interactions  between residents of college students at the Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya (EEPIS)  on veiled female, including lecturers.Differences of belief, values, and attitudes in cultural pattern influences perception, especially the veil and Gamis clothes  are Arabic culture. It is dangerous for technical practice in Laboratium. Choosing students used purposive techniques with criteria as veiled college students of the EEPIS.The informants were 14 campus residents;  13 students and 1 lecturer. Data collection techniques  has used questionnaires about their beliefs, values, and Attitude on  veiled female college students in EEPIS. It found:1) four beliefs,2) four values, and various attitudes agree and  disagree on the veil female students  in EEPIS with their different arguments.  
Peran Manajemen Waktu dalam Meningkatkan Produktivitas Belajar Mahasiswa Teknologi Rekayasa Internet Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dengan Tinjauan Keagamaan Imamul Arifin; Rifda Qurrotul ‘Ain; Afifah Alhamidiyah
Sultra Educational Journal Vol 1 No 3: Desember (2021)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (939.093 KB) | DOI: 10.54297/seduj.v1i3.199

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh keinginan penulis untuk mengetahui peran manajemen waktu dalam meningkatkan produktivitas belajar mahasiswa Teknologi Rekayasa Internet Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendapat pengetahuan akan pentingnya memanfaatkan manajemen waktu dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam menempuh pendidikan akademik. Subjek dalam penelitian ini adalah 15 orang mahasiswa Muslim Teknologi Rekayasa Internet Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode survei. Survei dibuat menggunakan aplikasi formulir online yaitu Google Form lalu disebarkan melalui grup media sosial WhatsApp mahasiswa Teknologi Rekayasa Internet. Formulir survei berisi enam pertanyaan yang mencakup pandangan mahasiswa tentang peran manajemen waktu terhadap dalam produktivitas belajar di kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa yakni 80% sudah memahami konsep manajemen waktu dan produktivitas yang benar dan bagaimana penerapannya di kehidupan nyata. Sebanyak 86,6% mahasiswa mengaku bila penerapan manajemen waktu yang telah dilakukan memiliki pengaruh terhadap produktivitas belajar. Hal ini berarti dari hasil survei yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa peran manajemen waktu tersebut membawa efek yang signifikan terhadap produktivitas belajar mahasiswa.
Hukum dan Eksistensi Jual Beli Crypto untuk Investasi Dalam Perspektif Ekonomi Islam dan Ekonomi Sosial "Studi Literasi dan Komparasi pada Masyarakat" Meriyati; Imamul Arifin; Dimas Fahrul Putra Arismanto; Muhammad Rizal; Mustamiruddin
Jurnal Justisia Ekonomika: Magister Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/justeko.v7i2.20456

Abstract

In traditional economics, money serves as a universally accepted medium for exchanging goods or services. However, in today's ultramodern economy, cryptocurrencies like Bitcoin have emerged as widely accepted means of payment, wealth accumulation, and value measurement. Despite their potential for simplifying transactions and fostering trade, these digital currencies are viewed cautiously in some contexts. Indonesia, while legalizing Bitcoin and crypto assets, restricts their use as a payment method due to concerns about preserving the value of its national currency and the prevalence of existing e-wallets and mobile banking systems. From an analytical standpoint, investing in cryptocurrencies is recognized as highly volatile, carrying unpredictable risks of value fluctuations. Furthermore, in Islamic Sharia law, such transactions are considered haram lighairihi due to their speculative nature. This research delves into the legal and economic aspects of digital currencies, particularly Bitcoin, highlighting their implications within Indonesia's economic framework while acknowledging their risks and regulatory considerations.Top of Form
MAQASID SHARIA'S VIEW ON THE SCARCITY OF SUBSIDIZED FERTILIZERS ON THE WELFARE OF FARMERS IN EAST OKU INDONESIA Meriyati Meriyati; M. Nasyah Agus Saputra; Imamul Arifin; Maya Panorama; Mahmoud Saleh Mubarak Bin Humaid
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 24 No. 02 (2023): Profetika Jurnal Studi Islam 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v24i02.1954

Abstract

In addition to functioning to meet food needs, the agricultural sector also plays an important role, becoming a provider of employment and a source of income for regional communities. Unfortunately, almost every year this sector is faced with a scarcity of subsidized fertilizers and poorly controlled prices. The problem in this East OKU Belitang is the scarcity of subsidized fertilizers and price increases, as well as the purchasing system for both farmer cooperative members and independently, causing hardship for farmers. The method used is qualitative; fertilizer problems continue to occur, starting from a suboptimal planning and supervision system to a lack of realization of the allocation of fertilizer needs by farmers. The two main human needs that I conveyed above are basic needs that must be met to achieve a prosperous life. Although, of course, there are many other needs that humans have.
IMPLEMENTATION OF USHUL FIQH AS A LEGAL BASIS FOR SOLVING SHARIA-BASED ECONOMIC PROBLEMS Choiriyah; Saprida; Dwi Noviani; Imamul Arifin; Mahmoud Saleh Mubarak Bin Humaid
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 25 No. 01 (2024): Profetika Jurnal Studi Islam 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v25i01.4127

Abstract

The purpose of this study is how models of the application of Usul Fiqh are used as a basic source for solving Sharia-based economic problems. Where Usul Fiqh has always been considered an essential discipline for Muslims, it lies in its position that it can easily understand modern economic laws that are not covered by other sciences. In addition, the science of Fiqh Ushul is considered to help understand and solve problems surrounding furu'iyah or fiqhiyyah that continue to develop from time to time and from various uncertain situations and conditions. The method used in this study is qualitative, with a normative approach and analytical content. The primary source of this research is text documents related to this theme. The results of the study concluded that Ushul Fiqh is considered to be a solution to legitimize and provide support for the law regarding every economic activity in every field of the transaction (muamalah), as long as it adheres to the basic principles of law, namely not violating the text and maqhasid al-Sharia.
PRODUKSI SENI PATUNG DALAM DUNIA BISNIS PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Imamul Arifin; Fika Firdha Fara; Lailatul Yulia Wati
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.16805

Abstract

Jual beli barang merupakan transaksi paling kuat dalam dunia bisnis bahkan secara umum adalah bagian terpenting dalam aktivitas usaha. Sesungguhnya diantara bentuk jual beli ada juga yang di haramkan ada juga yang dipersilahkan hukumnya. Oleh sebab itu, menjadi satu kewajiban bagi seorang usahawan muslim untuk mengenal hal-hal yang menentukan sahnya jual beli tersebut, dan mengenal mana yang halal dan mana yang haram dari kegiatan itu sehingga ia betul-betul mengerti persoalan tentang akad jual beli. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana pelaksanaan jual beli patung dan berfokus pada tinjauan hokum pembuatan patung dalam syari’at Islam. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan yaitu mengamati secara langsung praktik jual-beli patung yang dilakukan oleh pengrajin patung, seniman, dan konsumen. Tujuan lainnya juga untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan jual-beli patung, kemudian di analisis tentang bagaimana peran hokum agama dalam menjamin kegunaan para pihak yang berkecimpung dalam industri pahat patung tersebut. Pada dasarnya, setiap patung itu adalah gambar, tetapi tidak semua gambar adalah patung. Dari yang telah kita telusuri, menurut para ulama yaitu sepakat bahwa hukum membuat patung baik berbentuk manusia maupun hewan itu haram. Mereka juga sepakat tentang keharaman memperoleh dan memajangnya. Selain itu juga diharamkan menjual belikan serta memakan hasil penjualannya. Menurut etika bisnis Islam, bahkan patung juga menjadi pengecualian karena dapat disebut komoditi bisnis yang dijual adalah barang yang tidak suci dan halal, atau haram, setara babi, anjing, minuman keras, ekstasi, dan lain sebagainya.
Penerapan Protokol Kesehatan pada Masyarakat Sukodono dalam Perspektif Islam dan Sosial Kemasyarakatan Khanjun Azenno; Aldorama Satriagung Aziz; Imamul Arifin
JIE (Journal of Islamic Education) Vol. 7 No. 1 (2022): JIE: (Journal of Islamic Education) Mei
Publisher : Yayasan Letiges Konsultan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35723/jie.v7i1.241

Abstract

This study aims to open the community's mindset to their response to Covid-19 from the point of view of Islam, social society, and science to end the Covid-19 pandemic. This research uses qualitative methods and case studies. The data were obtained from the results of surveys, interviews, observations, and analysis of the substance under investigation and added data from the literature as a reference. The study results show that people's mindsets can affect the spread of the Covid-19 virus because this wrong mindset will result in those who underestimate the virus so that it spreads more widely. Therefore, it is necessary to instil an understanding that ending this pandemic requires an open mind to all solutions provided by the government because the government always provides the best solutions for its people, such as implementing Health protocols and vaccinations.
Ḥukm Idnā' al-Jilbāb: Dirasah an-Niẓām al-Ijtimā'ī fī Naẓor Naqdi al-Ḥadīth wa Āyāt al-Aḥkām Imamul Arifin; Choliliyah Thoha; Dianidza Arodha; Meriyati; Sukataman
Al-Ihkam, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Vol 21 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v21i1.22342

Abstract

This study examines the concept of lowering the jilbab in Islamic jurisprudence (fiqh) through an integrative approach that combines a textual study of the Qur’an and the Prophetic Hadith with a socio-religious analysis of contemporary practice. The study takes as its starting point the Qur’anic verse in Sūrah al-Ahzāb (59) as the legislative basis for the command to let the jilbāb hang down, then focuses on the relevant hadith, tracing its transmission, examining its chain of transmission, and comparing it with the accounts found in the exegesis. It provides a practical description of how the women of the Ansar complied with the command to let the jilbab hang down, as recorded in the reasons for revelation. The research adopts a qualitative methodology by combining desk-based and field research, analysing the views of exegetes and jurists on the meaning of the jilbab and ‘idna’, and conducting field observations and in-depth interviews with Muslim women from diverse social and educational backgrounds. The findings reveal that the motivations for wearing the long jilbab vary, including religious commitment, the construction of social identity, the influence of fashion and social media, and family and cultural factors. The research also highlights a significant jurisprudential difference regarding the issue of face covering, whereby ‘idna’ is not understood as an absolute obligation to cover the face but is linked to the objectives of Sharia, such as covering the ‘awrah’, preventing fitnah, and preserving dignity.
Fenomena Living Together di Kalangan Mahasiswa dalam Perspektif Larangan Mendekati Zina dalam Al-Qur’an Grendy Aditya Pangestu; Damarwinasis Dahzat Octaviano; Isaiah Ronggo Kuswanto; Imamul Arifin
Al-Muhajirin: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2026): EDISI JANUARI-JUNI 2026 (DALAM TERBITAN)
Publisher : STIT Hamzah Al Fansuri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63911/gzq3eh64

Abstract

Fenomena living together di kalangan mahasiswa telah bereskalasi menjadi krisis sosial dan moral yang menyimpang secara signifikan dari kerangka etika Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya hidup tersebut melalui perspektif teologis mengenai larangan mendekati zina dalam Al-Qur'an, dengan fokus utama pada Surah Al-Isra ayat 32, serta diperkuat oleh Surah Al-Mu’minun ayat 5-7, Surah An-Nur ayat 2, dan Surah An-Nur ayat 30–31. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research) dan analisis isi (content analysis) dengan teori sadd adz-dzari’ah sebagai pisau analisis utama. Teks-teks tafsir otoritatif seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir dikaji secara mendalam dan dikomparasikan dengan literatur sosiologis empiris sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa living together bertindak sebagai bentuk khalwat modern yang terstruktur dan menjadi perantara langsung yang meruntuhkan batasan psikologis serta spiritual menuju perzinaan. Secara sosiologis, praktik ini diakselerasi oleh lemahnya kontrol keluarga, lingkungan kos mahasiswa yang permisif, serta internalisasi nilai liberal melalui media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep sadd adz-dzari’ah memberikan landasan normatif yang kokoh untuk menolak living together