Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Subchronic Toxicity of Green Algae (Spyrogyra sp.) Ethanolic Extract on Hematologic Parameters Nina Salamah; Wahyu Widyaningsih; Hari Susanti; Anggita Devi; Anita Wening Sejati; Zahra Alya Putri
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 5, No 4: December 2016
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v5i4.5962

Abstract

Green Algae, an organism with active substance such as phytomelatonin, has potential to be developed as Indonesian traditional medicine. As the long term addition of Green Algae ethanol extract (Ekstrak etanol ganggang hijau, EEGH) influences the hematology system, in this paper, the safety test was done to ensure the safety of its use through subchronic toxicity test of EEGH on the hematology parameters of Wistar rats. The test group consisted of three groups treated with EEGH 100 mg/kg, 200 mg/kg, and 400 mg/kg, while the control group was given by 0.5% CMC-Na, with 8 rats each respectively. By using blood samples taken from orbital sinus on the 29th day, common hematologic parameters (erythrocytes, leukocytes, and hemoglobin level), the parameters of hemostasis (platelets, pT, aPTT, BT) and immune parameters (Differential Leukocytes Counts include neutrophils segment, lymphocytes, monocytes, and eosinophils) were finally observed and showed that the 28 days-addition of EEGH increase the hematological parameters of Wistar rats.
EFEK EKSTRAK ETANOL GANGGANG HIJAU (Ulva lactuca , L) TERHADAP EKSPRESI COX-2 MIOKARDIUM TIKUS YANG DIINDUKSI ISOPROTERENOL Wahyu Widyaningsih; Nina Salamah; Suwidjiyo Pramono; Sugiyanto Sugiyanto; Sitarina Widyarini
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.479 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i2.12822

Abstract

Penyakit kardiovaskuler masih merupakan masalah di Indonesia salah satunya adalah Infark Miokardial Akut (IMA). Patofisiologis AMI karena rective oxigen spesies  (ROS) melibatkan stimulasi sitokin pro inflamasi salah satunya adalah  interleukin-1 yang berakibat peningkatan ekspresi COX-2. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak etanol ganggang hijau dalam menurunkan ekspresi COX-2 pada tikus IMA yang diinduksi isoproterenol (ISO). Ekstraksi ganggang hijau dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Tikus berat 200-250 g dibagi menjadi 6 kelompok masing-masing 6 ekor. Kelompok I kontrol, tikus tidak diberi ISO hanya diberi CMC Na, kelompok II kelompok ISO, tikus diberi CMC Na dan ISO, kelompok III, IV dan V tikus diberi ekstrak etanol ganggang hijau dosis 250, 500 dan 750 mg/KgBB peroral dan kelompok VI diberi melatonin 10 mg/KgBB. Perlakuan ekstrak selama 28 hari. Pada hari ke 29 dan 30 tikus diberi isoproterenol dosis 85 mg/KgBB selama 2 kali pemberian secara subkutan kecuali kelompok I. Pada hari ke 31 tikus diambil organ jantung kemudian dibuat preparat histologis dan dilakukan analisis ekspresi COX-2 dengan metode imunohistokimia dengan antibodi anti COX-2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol ganggang hijau dosis 250, 500 dan 750 mg/KgBB dapat menurunkan ekspresi COX-2 pada tikus yang diinduksi isoproterenol.
Aktivitas Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L) pada Mencit Parkinson yang Diinduksi Haloperidol Sapto Yuliani; Mochammad Saiful Bachri; Vivi Sofia; Wahyu Widyaningsih; Dandy Annas Muttaqien; Galuh Rista Putri; Nadia Selvia; Sofina Rahmadita; Intan Dwi Rahmita
Jurnal Sain Veteriner Vol 40, No 3 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.71871

Abstract

Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif dengan gangguan motorik seperti bradikinesia, rigiditas, dan tremor yang dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh.  Hal ini terjadi karena penurunan kadar dopamin yang dapat dipicu oleh adanya stres oksidatif. Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkumin yang mempunyai aktivitas antioksidatif dan neuroprotektif yang potensial sehingga dapat mencegah gangguan neurodegeneratif karena stres oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak rimpang kunyit pada mencit model Parkinson yang diinduksi haloperidol. Ekstraksi rimpang kunyit dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sebanyak 60 ekor mencit dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing mendapat perlakukan sebagai berikut : Kelompok normal diberi CMC-Na per oral (p.o) dan NaCl fisiologis intraperitoneal (i.p), kelompok haloperidol diberi CMC -Na (p.o) dan larutan haloperidol i.p (1 mg/kg BB), kelompok levodopa diberi levodopa (p.o) dan larutan haloperidol i.p, Kelompok ekstrak 100 diberi ekstrak kunyit dosis 100 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p , Kelompok ekstrak 200 diberi ekstrak kunyit dosis 200 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p, Kelompok ekstrak 400 diberi ekstrak kunyit dosis 400 mg/kg BB dan larutan haloperidol i.p. Pemberian CMC-Na, levodopa dan ekstrak kunyit diberikan selama 21 hari. Lima belas menit setelah pemberian perlakuan hari terakhir, semua hewan uji kecuali kelompok 1 diinjeksi haloperidol dosis 1 mg/kg BB secara i.p. Kemudian dilakukan uji batang, uji roda berputar, uji refleks geotaksis, uji refleks menghindari jurang dan uji kemampuan penciuman pada menit ke 5, 60, 120 dan 180. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji anova satu jalur dilanjutkan dengan uji post hoc LSD. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemberian haloperidol dapat meningkatkan waktu katalepsi, meningkatkan jumlah jatuh dan mempercepat waktu jatuh pertama kali, menurunkan refleks geotaksis, meningkatkan waktu refleks menghindari jurang serta menurunkan kemampuan indera penciuman. Sedangkan pemberian ekstrak kunyit dosis 200 dan 400 mg/kgBB dapat menurunkan waktu katalepsi, menurunkan jumlah jatuh dan memperlama waktu jatuh pertama kali, menurunkan refleks geotaksis, menurunkan lama waktu pada uji refleks menghindari jurang serta meningkatkan kemampuan indera penciuman jika dibandingkan dengan Haloperidol (P<0.05). Pemberian ekstrak 200 dan 400 mg/kg tidak berbeda bermakna (P>0,05) dengan pemberian levodopa. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa ekstrak rimpang kunyit dosis 200 dan 400 mg/kgBB memiliki aktivitas untuk mencegah terjadinya Parkinson pada mencit yang diberi haloperidol.
Standardisasi dan Penetapan Kadar Kuersetin dalam Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum Conyzoides L) dan Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam) Sayyidah Mafisah; Hari Susanti; Nining Sugihartini; Wahyu Widyaningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57847

Abstract

Latar Belakang: Kuersetin merupakan flavonoid alami yang umum terdapat pada tanaman herbal dan menunjukkan aktivitas biologis yang signifikan, seperti antioksidan dan antiinflamasi. Daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) dan daun kelor (Moringa oleiferaLam.) diketahui mengandung kuersetin, namun diperlukan analisis kuantitatif dan standardisasi untuk menjamin mutu ekstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan menstandardisasi parameter spesifik maupun nonspesifik serta memvalidasi metode penetapan kadar kuersetin dalam ekstrak etanol dari kedua tanaman tersebut. Metode: Standardisasi dilakukan berdasarkan parameter organoleptik, penetapan kadar air, kadar abu total, serta kadar abu tidak larut asam dilakukan mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Kadar kuersetin dianalisis menggunakan metode KLT-densitometri, dan divalidasi melalui uji selektivitas, linearitas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), presisi, dan akurasi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa kedua ekstrak memenuhi persyaratan mutu. Kadar kuersetin yang diperoleh dari ekstrak daun kelor sebesar 0,014 ± 0,001% dan daun bandotan sebesar 0,015 ± 0,001%. Validasi metode menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9967, nilai presisi (% RSD) sebesar 1,75%, serta akurasi (% perolehan kembali) pada rentang 101,06%– 103,58%. Nilai LOD dan LOQ masing-masing sebesar 7,54 ppm dan 25,15 ppm. Kesimpulan: Metode KLT-densitometri dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk analisis kuantitatif kuersetin. Hasil ini mendukung pemanfaatan daun bandotan dan daun kelor sebagai bahan baku herbal yang terstandar.
Combination of Essential Oils of Ylang-Ylang (Cananga Odorata), Jasmine (Jasminum Sambac), and Mint Leaves (Mentha Piperita) TestingAphrodisiac on Male Mice Formulated in Candle Forms Tio Widia A. marpaung; Kintoko; Wahyu Widyaningsih; Moch Saiful Bachri; Amelia Regina Arsyad
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/7q01y176

Abstract

This study explored the potential of Jasminum sambac (jasmine) and Mentha piperita (peppermint) as natural sexual stimulants (aphrodisiacs) to enhance sexual activity in males and females through the use of essential oils. The main objective was to identify the most effective combination of essential oil formulations, which were evaluated through several biological and physiological parameters, including sexual behavior in mice, sperm quality, testicular histopathology, and wax-based formulations as the delivery medium. Three formulations were tested: P1 (3:1:1), P2 (1:3:1), and P3 (1:1:3), administered to mice using a humidifier via inhalation. Sexual behavior was assessed through mounting latency and mounting frequency as indicators of libido. Sperm quality parameters included morphology, motility, viability, and sperm count. Testicular histopathology was examined to evaluate tissue structure and spermatogenesis activity. The results demonstrated that the P1 formulation was the most effective, showing the highest aphrodisiac activity. In the sexual behavior test, P1 recorded an activity value of 21±6.2, indicating enhanced libido. Sperm quality testing also confirmed the superiority of P1, with the lowest sperm abnormalities (5.3±1.53), highest motility (82±7.5), highest viability (85.6±4.58), and the greatest sperm count (53,300±16,653.3). Although testicular histopathology revealed a slight reduction in spermatogenic cells across all treatment groups, the change was not significant in the P1 group compared to the control. Overall, the P1 formulation improved libido and sperm quality more effectively than P3 and the control group, indicating its potential to be developed as an aphrodisiac preparation based on natural essential oils.
Formulation of Emollient Preparation from Rose Essential Oil (Rosa Damascena) Combined with Vanilla Essential Oil (Vanilla Planifolia)in Increasing Body Weight in Baby Rats (Rattus Norvegicus) regina arsyad; Kintoko; Wahyu Widyaningsih; Tio Widia Astuti Marpaung
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/80n03c83

Abstract

Rose and vanilla essential oils have potential as natural active ingredients in emollient formulations due to their moisturizing and aromatherapeutic relaxation effects. This study aimed to formulate an aromatherapy emollient with four variations in the composition of rose and vanilla essential oils: F1 (0.1 mL:0.4 mL), F2 (0.2 mL:0.3 mL), F3 (0.3 mL:0.2 mL), and F4 (0.4 mL:0.1 mL). Each formula contained a total of 0.5 mL essential oil dissolved in 100 mL sunflower seed oil as the base. Organoleptic evaluation showed that all formulas had a yellowish-white color and liquid texture. The resulting aromas differed among formulas: F1 produced a woody scent, F2 and F3 had an oriental woody fragrance, while F4 exhibited a dominant rose aroma. The pH values ranged from 5.12 to 6.00, which is within the normal skin range. Viscosity values were between 4.92–5.30 cPs, specific gravity ranged from 1.0181–1.0682, and refractive indices were 1.470–1.471, indicating good physical stability. Hedonic testing revealed that Formula F2 was the most preferred by panelists in terms of aroma, texture, and after-feel on the skin. Skin irritation tests on rabbits showed no negative reactions, confirming the formulation’s safety for topical use. Biological activity tests on infant mice demonstrated significant increases in body weight and length compared to the control group. Based on overall results, Formula F2 (0.2 mL rose oil and 0.3 mL vanilla oil) was determined to be the best formulation, offering a balanced aroma, good physical stability, and optimal emollient and relaxation effects.