Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Dewatanisasi Insani: Pemaknaan Pendidikan dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Hindu Nengah Bawa Atmadja
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 43 No 1 (2010): April 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.501 KB) | DOI: 10.23887/jppundiksha.v43i1.1702

Abstract

Kajian pustaka menunjukkan, bahwa hakikat pendidikan dalam perspektif Filsafat Pen-didikan Hindu adalah mendewatakan manusia atau dewatanisasi insani guna mewujudkan divine human (daiwisampat) yang sekaligus berarti mencegah kemunculan insan berkarakter keraksasaan  (demonic human, asurisampat). Agama Hindu kaya akan resep-resep divine human. Dewatanisasi menuntut penamanan resep-resep divine human di dalam pikiran dan kecerdasan manusia.  Manusia berkarakter kedewataan ditandai oleh pikiran, ucapan dan tindakan yang taat pada resep-resep divine human yang bersumberkan pada agama dan tata aturan lainnya yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Kata kunci: pendidikan, divine human, pikiran, ucapan dan tindakan
Lulusan Sekolah Dasar (Sd) Menjadi Pembantu Rumah Tangga Dan Dagang Kopi Cantik (Dakocan) : Perspektif Dualisme Kultural Nengah Bawa Atmadja
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 43 No 2 (2010): Juli, 2010
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.061 KB) | DOI: 10.23887/jppundiksha.v43i2.1715

Abstract

Ratusan anak wanita lulusan SD di berbagai kecamatan di Kabupaten Buleleng tidak melanjutkan ke SMP. Padalah pemerintah telah menetapkan SMP sebagai sekolah gratis. Mereka lebih suka merantau ke kota menjadi pembantu rumah tangga (PRT) atau tetap tinggalKata kunci: Pendidikan, dualisme kultural, peminggiran wanita
Sertifikasi Guru : Memperkaya atau Menyejahterakan? (Perspektif Semiotika Komunikasi) Anantawikrama Tungga A Atmadja; Nengah Bawa Atmadja
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 41 No 1 (2008): April 2008
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.653 KB) | DOI: 10.23887/jppundiksha.v41i1.1974

Abstract

Guru berperan amat penting dalam sistem pendidikan. Karena itu, pemerintah menerapkan kebijakan sertifikasi yang bertujuan melahirkan guru profesional yang berlanjut pada perbaikan nasib guru. Masalahnya, apakah perbaikan nasib tersebut mengarah kepada memperkaya atau menyejahterakan guru? Berdasarkan perspektif ideologi dominan yang berlaku dalam masyarakat, yakni ideologi pasar, dikaitkatkan dengan hakikat manusia sebagai homo symbolicum sebagai titik tolak dalam perspektif semiotika, maka dapat dikemukakan bahwa sertifikasi guru tampaknya lebih banyak memperkaya daripada menyejahterakan. Berapapun besar gaji yang mereka terima, akan tetap dirasakan kurang, sehingga cita-cita menciptakan guru profesional tetap merupakan impian. Gejala ini memerlukan pemecahan antara lain menggunakan agama Hindu sebagai resep bertindak dalam kehidupan bermasyarakat.   Kata kunci : guru, budaya tontonan, konsumerisme, semiotika, agama Hindu