Haryo Tejo Bawono
Department of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Film Review - Menumpulkan Taring Rasisme Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 28 No. 2 (2012)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v28i2.284.237-239

Abstract

Mungkin benar bahwa karya ini terlalu menyederhanakan dan melembutkan fakta rasisme. Mungkin benar bahwa pada kenyataannya brutalitas dan kekejaman sejarah seperti sekedar menjadi karikatur dalam film ini. Namun, film ini justru ingin menampilkan tidak sekedar fakta bahwa rasisme adalah bagian dari sejarah manusia, lebih dari itu rasisme akan selalu ada, sampai saat ini. Rasisme masih hidup. Itulah mengapa para aktris dituntut untuk berakting sedemikian bagus dan naturalnya untuk menampilkan rasa kebersungguhan. Dan mereka tampil sungguh luar biasa, memukau, gemilang.
Film Review - Menjawab Rahasia Gyges Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 28 No. 1 (2012)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v28i1.291.100-103

Abstract

Sebuah karya dengan budget terbesar sepanjang sejarah sinema China, sebuah kisah dengan setting sejarah yang cukup kontroversial, seorang sutradara anak “Revolusi Kebudayaan” yang gemar bermain dengan warna dan keindahan, seorang westerner pada sebuah budaya easterner, dan pemain-pemain pendatang baru yang menjadi salah satu pemain utama. Film ini bagi sebagian orang dianggap sebagai sebuah propaganda, atau sebuah cacat karena tontonan yang berlebihan, namun bagi sebagian orang yang lain dianggap sebagai sebuah kisah mengharukan tentang perjuangan, cinta, dan pengorbanan. Seperti sebuah cermin, film ini persis memantulkan nilai-nilai personal bagi siapapun yang menyaksikannya. Dan karenanya, ini sebuah karya yang gemilang.
Film Reviews - "Keindahan di Luar Galeri" Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 3 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i3.298.325-332

Abstract

Ketika keindahan dipindahkan kedalam galeri dalam bentuk apapun, ia memang menjadi sesuatu yang terbaca agak jelas, ternikmati, namun tetap saja ia adalah keindahan yang bisa diperdebatkan. Hanya keindahan yang dibiarkan berserakan di luar galeri, dalam bentuk arkhaiknya, ia adalah keindahan yang tak terdebatkan. Film ini mencoba untuk setia pada sumber keindahan itu sendiri: hidup, tak peduli betapa muram, suram, dan ganjil geliat hidup itu sendiri. Itulah mengapa film ini diberi judul “Biutiful”, yaitu menuliskan “Beautiful” sebagaimana kata ini diucapkan. Keindahan hidup, sebuah keindahan sebagaimana adanya, sebagaimana dirasakan, sebagaimana diucapkan.
Film Reviews - "Dongeng setelah Dongeng" Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 3 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i3.299.325-332

Abstract

Natalie Portman berakting dan menari dalam kondisinya yang dasyat. Lawan mainnya, Mila Kunis dan Vincent Cassel, memberikan respon yang juga tak kalah memukaunya. Bahkan pemeran pembantu (Wynona Rider), memberikan kilasan-kilasan akting yang membuat penonton menghasrati: “berikan durasi dan spasi yang lebih!”. Darren Aronofsky memang sutradara yang dikenal piawai berurusan dengan para aktor film-filmnya, ditangannya sebuah batu bisa menjadi sebuah berlian (ingatlah lagi akting Ellen Burstyn dalam “Requiem for a Dream” dan “The Fountain” atau Mickey Rourke dalam “The Wrestler”). Koreografinya tidak menciptakan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Mise-en-scene nya pun tertata dengan apik dan efektif. Kamera berhasil menciptakan atmosphere mencekam dan tak terduga. Namun ada sebuah pertanyaan yang tersisa: apakah semua itu bisa menyelamatkan cerita?
Film Reviews - "Manusia, Ilusi, dan Waktu" Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i2.307.215-221

Abstract

Pertama, ini bukan sebuah film. Kedua, ini bukan sebuah film cerita. Ketiga, sinematografi dan mise-en-scéne karya ini seperti berdiri sendiri. Keempat, karya ini berada di luar wilayah emosi. Kelima, apapun nama untuk karya ini, teknik dan peralatan yang digunakan tidaklah up to date. Keenam, karya ini masuk dalam nominasi empat festival film internasional yang berbeda, dan diganjar Best Foreign Film di Toronto Film Critics Association Award dan “Palm D’Or” di Cannes (sutradara pertama asia tenggara yang pertama menerima piala prestigious ini). Benar, karya ini berada di dua pilihan ekstrem yang berbeda: atau sangat bagus atau sejenis sampah, atau sangat teramat disukai atau sangat teramat dibenci. Tidak ada dasar untuk berdiri ditengah.
Insight: Tuhan Yang Mungkin Namun Serius Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 1 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i1.314.89-108

Abstract

Derrida, memang pernah berkata bahwa dia “quite rightly passes for an atheist”, namun dilihat dari sudut yang berbeda, pemikiran-pemikirannya menggemakan keseriusan ‘religius” dan ‘teologis’ juga, dan karenanya menantang dengan sangat pengrefleksian kembali bagi siapapun yang datang dari tradisi religius. Dan tidak tanggung-tanggung, membawa energi dekonstrusi Derridean ke dalam ranah agama bisa menjadi latihan yang membuat kita mampu memikirkan kembali apa yang kita pikir sebagai agama itu sendiri, bahkan tentang Tuhan.
Film Reviews - "Lahirnya Fasisme" Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 3 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v26i3.322.339-342

Abstract

Telah banyak pemikiran yang mencoba membedah akar-akar fasisme, bentuk-bentuk fasisme. Namun fasisme sepertinya tetap menjadi sesuatu yang sepertinya tak terhindarkan dan menakutkan. Seperti virus, fasisme lahir dengan bentuk-bentuknya yang selalu baru tetapi selalu mencemaskan, seperti benalu yang sulit untuk dibersihkan, seperti rumput yang selalu tumbuh dimana-mana. Masih adakah harapan? Film ini menyodorkan sebuah tawaran via-negativa atas keputusasaan kita berhadapan dengan fasisme dalam segala bentuknya yang selalu baru. Divisualisasikan dengan hitam-putih, film ini hendak berkata,hanya ada dua pilihan: atau iya atau tidak. Dan maaf, tidak ada jalan yang lain.
Book Review - "Derrida and Religion–OtherTestaments" Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 2 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v26i2.884.219-221

Abstract

Dekonstruksi yang dihadirkan Derrida pada akhirnya mengajak setiap pribadi yang datang dari tradisi religius tertentu untuk merumuskan kembali penghayatan imannya, mencairkan kembali apa yang selama ini mungkin sudah terlalu membeku. Salah satu nya adalah pemahaman kita dengan apa yang disebut iman itu sendiri. Selama ini iman dipahami sebagai kebenaran obyektif yang diwahyukan, yang dipercaya (fides quae) atau penyerahan diri secara pribadi kepada Allah (fides que). Namun, jika tidak berhati-hati, kebenaran – yang objektif – ini bisa menjadi pengetahuan ilmiah-saintifik, kalau saja kita tidak menyadari “ada masalah” pada kata “Allah”. Ketidaksadaran ini lantas sangat berisiko, karena apa yang tadi dianggap sebagai ‘kebenaran’ kita berubah menjadi ‘pembenaran’. Kekerasan, pembunuhan, intoleransi, terorisme, radikalisme yang berasal dari agama adalah karena ketidaksadaran akan hal ini.
Agama dan Sinema: Sebuah Dialog Interkultural Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 1 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v26i1.911.63-94

Abstract

A relation can be mapped between religion and cinema. More than a superficial discourse, this relation appears as an intercultural dialogue, a kind of reflective and critical dialogue. At the end of the ongoing conversation we eventually can hope that religion, as well as cinema, may remain as a quest and construction of meanings rooted in the day-to-day life, which is supposed to be very normal without being banal, vulgar without being filthy.
LAYAR – LAYAR FILOSOFIS: Tentang Puisi, Narasi dan Diri dalam Sinema Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 25 No. 3 (2009)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v25i3.919.385-403

Abstract

Film can be philosophical in the sense that it leads to a profound reflexion. But philosophy can also be filmic in that the ideas are alive and imaginative. Notwithstanding such general impression, this article seeks to look at the connection between philosophy and film in a different way. On the one hand each of them has its own peculiar characteristics. On the other, if there is a possible connection at all, it should be a dialogical connection. And the connection is to be viewed in terms of their poetic and narrative relation to the self. Both film and philosophy -in different ways- are activities of converting the outer world into human inner world; both are activities of creating concept (poetic) that reconfigure again and again the narrative of the self.