Articles
Film Reviews - "Dongeng setelah Dongeng"
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 3 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.717 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v27i3.299.325-332
Natalie Portman berakting dan menari dalam kondisinya yang dasyat. Lawan mainnya, Mila Kunis dan Vincent Cassel, memberikan respon yang juga tak kalah memukaunya. Bahkan pemeran pembantu (Wynona Rider), memberikan kilasan-kilasan akting yang membuat penonton menghasrati: “berikan durasi dan spasi yang lebih!”. Darren Aronofsky memang sutradara yang dikenal piawai berurusan dengan para aktor film-filmnya, ditangannya sebuah batu bisa menjadi sebuah berlian (ingatlah lagi akting Ellen Burstyn dalam “Requiem for a Dream” dan “The Fountain” atau Mickey Rourke dalam “The Wrestler”). Koreografinya tidak menciptakan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Mise-en-scene nya pun tertata dengan apik dan efektif. Kamera berhasil menciptakan atmosphere mencekam dan tak terduga. Namun ada sebuah pertanyaan yang tersisa: apakah semua itu bisa menyelamatkan cerita?
Film Reviews - "Manusia, Ilusi, dan Waktu"
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (83.702 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v27i2.307.215-221
Pertama, ini bukan sebuah film. Kedua, ini bukan sebuah film cerita. Ketiga, sinematografi dan mise-en-scéne karya ini seperti berdiri sendiri. Keempat, karya ini berada di luar wilayah emosi. Kelima, apapun nama untuk karya ini, teknik dan peralatan yang digunakan tidaklah up to date. Keenam, karya ini masuk dalam nominasi empat festival film internasional yang berbeda, dan diganjar Best Foreign Film di Toronto Film Critics Association Award dan “Palm D’Or” di Cannes (sutradara pertama asia tenggara yang pertama menerima piala prestigious ini). Benar, karya ini berada di dua pilihan ekstrem yang berbeda: atau sangat bagus atau sejenis sampah, atau sangat teramat disukai atau sangat teramat dibenci. Tidak ada dasar untuk berdiri ditengah.
Insight: Tuhan Yang Mungkin Namun Serius
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 1 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (538.334 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v27i1.314.89-108
Derrida, memang pernah berkata bahwa dia “quite rightly passes for an atheist”, namun dilihat dari sudut yang berbeda, pemikiran-pemikirannya menggemakan keseriusan ‘religius” dan ‘teologis’ juga, dan karenanya menantang dengan sangat pengrefleksian kembali bagi siapapun yang datang dari tradisi religius. Dan tidak tanggung-tanggung, membawa energi dekonstrusi Derridean ke dalam ranah agama bisa menjadi latihan yang membuat kita mampu memikirkan kembali apa yang kita pikir sebagai agama itu sendiri, bahkan tentang Tuhan.
Film Reviews - "Lahirnya Fasisme"
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 3 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (456.698 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v26i3.322.339-342
Telah banyak pemikiran yang mencoba membedah akar-akar fasisme, bentuk-bentuk fasisme. Namun fasisme sepertinya tetap menjadi sesuatu yang sepertinya tak terhindarkan dan menakutkan. Seperti virus, fasisme lahir dengan bentuk-bentuknya yang selalu baru tetapi selalu mencemaskan, seperti benalu yang sulit untuk dibersihkan, seperti rumput yang selalu tumbuh dimana-mana. Masih adakah harapan? Film ini menyodorkan sebuah tawaran via-negativa atas keputusasaan kita berhadapan dengan fasisme dalam segala bentuknya yang selalu baru. Divisualisasikan dengan hitam-putih, film ini hendak berkata,hanya ada dua pilihan: atau iya atau tidak. Dan maaf, tidak ada jalan yang lain.
Book Review - "Derrida and Religion–OtherTestaments"
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 2 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (39.774 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v26i2.884.219-221
Dekonstruksi yang dihadirkan Derrida pada akhirnya mengajak setiap pribadi yang datang dari tradisi religius tertentu untuk merumuskan kembali penghayatan imannya, mencairkan kembali apa yang selama ini mungkin sudah terlalu membeku. Salah satu nya adalah pemahaman kita dengan apa yang disebut iman itu sendiri. Selama ini iman dipahami sebagai kebenaran obyektif yang diwahyukan, yang dipercaya (fides quae) atau penyerahan diri secara pribadi kepada Allah (fides que). Namun, jika tidak berhati-hati, kebenaran – yang objektif – ini bisa menjadi pengetahuan ilmiah-saintifik, kalau saja kita tidak menyadari “ada masalah” pada kata “Allah”. Ketidaksadaran ini lantas sangat berisiko, karena apa yang tadi dianggap sebagai ‘kebenaran’ kita berubah menjadi ‘pembenaran’. Kekerasan, pembunuhan, intoleransi, terorisme, radikalisme yang berasal dari agama adalah karena ketidaksadaran akan hal ini.
Agama dan Sinema: Sebuah Dialog Interkultural
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 26 No. 1 (2010)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.933 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v26i1.911.63-94
A relation can be mapped between religion and cinema. More than a superficial discourse, this relation appears as an intercultural dialogue, a kind of reflective and critical dialogue. At the end of the ongoing conversation we eventually can hope that religion, as well as cinema, may remain as a quest and construction of meanings rooted in the day-to-day life, which is supposed to be very normal without being banal, vulgar without being filthy.
LAYAR – LAYAR FILOSOFIS: Tentang Puisi, Narasi dan Diri dalam Sinema
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 25 No. 3 (2009)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (983.34 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v25i3.919.385-403
Film can be philosophical in the sense that it leads to a profound reflexion. But philosophy can also be filmic in that the ideas are alive and imaginative. Notwithstanding such general impression, this article seeks to look at the connection between philosophy and film in a different way. On the one hand each of them has its own peculiar characteristics. On the other, if there is a possible connection at all, it should be a dialogical connection. And the connection is to be viewed in terms of their poetic and narrative relation to the self. Both film and philosophy -in different ways- are activities of converting the outer world into human inner world; both are activities of creating concept (poetic) that reconfigure again and again the narrative of the self.
TEOLOGI ABSENSIA : SEBUAH TAWARAN
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.966 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.971.437-458
Referring back to the age-old tradition of Negative Theology and combining it with deconstructive 'Heuristic Way' of French Postmodern Philosophico-Theology , this article seeks to reiterate the centrality of 'Absence' vis-à- vis 'Metaphysics of Presence'. Theology of absence is offered as a middleway between affirmative and negative theology by incorporating some basic ideasof Derrida, Jean-Luc Marion, Michel Henry, Levinas and Marc C. Tylor. In the final analysis, it is 'Life' itself that is to be the focus of theology.
Resensi: Buku & Film
Purwadi, Y. Slamet;
Borgias M., Fransiskus;
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 1 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (776.181 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v21i1.2644.127-137
Redaksi menerima resensi buku max. 500-600 kata; pe-resensi wajib mengirim 1 ex buku yang diresensi ke alamat redaksi.
Tatapan Medusa dan Okularsentrisme: Budaya Visual dan Persoalan Sinema Kontemporer
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 36 No. 1 (2020)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v36i1.4681.67-97
This article presents some fundamental matters in visual culture. Philosophy has been grappling with important issues of image and ocularcentrism. These matters have shaped and brought impacts on the world’s visual culture. On the one hand, an image with all its possible interpretations today tends to be captured as an object and not so much as something that is at the same time plural and moving. On the other hand, people’s way of seeing tends to be blurred by the ocularcentrism. This might be a crucial problem that brings significant implications on one of the most important aspects of human life, that is, art activity, and particularly on cinema. The author of this article invites the readers to be aware of the negative inclinations around the issues of image and ocularcentrism. Some of the important challenges in the cinematic world are how people continually reformulate their experience of an image and how the ocularcentrism character in our visual culture can be positioned in the heart of the matter. In an effort to respond to these challenges, one can approach philosophy in a different way in order to refresh his or her way of seeing that might have been tiresome and cloudy.