Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Perancangan Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Produk Air Minum Dalam Kemasan (Amdk) Q-Zulal Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Anang Sujoko; fariza yuniar rakhmawati; Akhmad Muwafik Saleh; Misbahuddin Azzuhri
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/2020.006.01.8

Abstract

Program ini dilandasi potensi usaha Air Minum dalam Kemasan (AMDK) Q-Zulal yang dikelola Pondok Pesantren Nurul Haromain Kabupaten Malang.  Kendala pemasaran menjadi halangan produk Q-Zulal untuk dikonsumsi target segmen secara optimal. Pemasaran bertujuan untuk menumbuhkan relasi antara produk Q-Zulal dengan konsumen yang bertujuan mempertahankan pangsa pasar. Pemasaran dapat menciptakan dampak yang luar biasa jika dipadukan dengan komunikasi yang efektif dan efisien. Oleh karena itu perancangan strategi komunikasi pemasaran penting dilakukan. Pada era Industri 4.0 pemasaran bergerak pada marketing 4.0 yang menggabungkan interaksi perusahaan dengan pelanggan secara online dan offline.  Relasi yang humanis dengan pelanggan akan memperkuat customer engagement. Perumusan strategi komunikasi pemasaran terpadu produk Q-Zulal dilakukan melalui segmenting, targeting, dan positioning, analisis situasi dan analisis SWOT, kemudian perancangan alat promosi yang memadukan media tradisional dan media online.
Experience of Indonesian Working Mothers during Covid-19 Pandemic Fariza Yuniar Rakhmawati
Islamic Research Vol 5 No 1 (2022): Islamic Research
Publisher : Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47076/jkpis.v5i1.128

Abstract

Indonesia is in a state of emergency related to the Covid-19 pandemic which has brought major disruptions to social and economic aspects, including in the family. When schools and daycare facilities are closed due to the Covid-19, working mothers faced professional problems in balancing work and family duties. This research aims to understand the motherhood experience of Indonesian working mothers in the Covid-19 pandemic. The study was conducted to collect in-depth interview data with a semi-structured scale on six working mothers in various fields. The results showed that the strain of Indonesian working mothers escalates during the Covid-19 pandemic. Working mothers are finding it challenging to divide their time and energy between employment and childcare. They felt guilty for their children because they prioritized working rather than parenting. They also experience burnout in the form of physical and emotional exhaustion with professional obligations and child caretaking. The mothers’ emotional turbulence may lead to children maltreatment. However, some mothers reported their work and motherhood dynamic can be resolved with a good support system, particularly from husband.
Experience of Indonesian Working Mothers during Covid-19 Pandemic Fariza Yuniar Rakhmawati
Islamic Research Vol 5 No 1 (2022): Islamic Research
Publisher : Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47076/jkpis.v5i1.128

Abstract

Indonesia is in a state of emergency related to the Covid-19 pandemic which has brought major disruptions to social and economic aspects, including in the family. When schools and daycare facilities are closed due to the Covid-19, working mothers faced professional problems in balancing work and family duties. This research aims to understand the motherhood experience of Indonesian working mothers in the Covid-19 pandemic. The study was conducted to collect in-depth interview data with a semi-structured scale on six working mothers in various fields. The results showed that the strain of Indonesian working mothers escalates during the Covid-19 pandemic. Working mothers are finding it challenging to divide their time and energy between employment and childcare. They felt guilty for their children because they prioritized working rather than parenting. They also experience burnout in the form of physical and emotional exhaustion with professional obligations and child caretaking. The mothers’ emotional turbulence may lead to children maltreatment. However, some mothers reported their work and motherhood dynamic can be resolved with a good support system, particularly from husband.
KEPUTUSAN ETIS PEKERJA MEDIA DALAM MENGHADAPI KEKUATAN PEMILIK MEDIA Fariza Yuniar Rakhmawati
An-Nida : Jurnal Komunikasi Islam Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.304 KB) | DOI: 10.34001/an.v6i2.224

Abstract

Abstract Concentration of media ownership in Indonesia is considered problematic be- cause the owners of the media as well as a political actor. Activity owners of media conglomerates in the world of politics is feared to threaten the exist- ence of the media as the fourth pillar of democracy. The independence of me- dia workers into the hope that the media remains in the public interest. Ethics deontological, teleological ethics and virtue ethics as a guide ethical decision autonomous realization of media workers. Based on deontological ethics, me- dia workers must be ethical because it conveys reliable information ethically. Basic code of ethics for media workers in Indonesia is a professional organiza- tion code of ethics and code of conduct. Teleological ethics based media work- ers need to pay attention to the public interest. Media workers is important to be prioritized for the public interest over other interests, because the media is a public space that allows the creation of many voices and express a wide range of different views. Based on virtue ethics perspective, the content that is broadcast in the media is a reflection of the values espoused individual media workers. Abstrak Pemusatan kepemilikan media di Indonesia dipandang bermasalah karena pemilik media sekaligus menjadi aktor politik. Aktivitas pemilik konglomerasi media dalam dunia politik dikhawatirkan mengancam eksistensi media sebagai pilar keempat demokrasi. Independensi pekerja media menjadi harapan agar media tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. Etika deontologi, etika teleologi dan etika keutamaan menjadi panduan realisasi otonomi keputusan etis pekerja media. Berdasarkan etika deontologi, pekerja media berlaku etis karena harus menyampaikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis. Dasar kode etik yang berlaku untuk pekerja media di Indonesia adalah kode etik organisasi profesi dan kode etik perusahaan. Pekerja media berdasar etika teleologi perlu memperhatikan kepentingan publik. Pekerja media penting untuk mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan lain, karena media merupakan ruang publik yang memungkinkan terciptanya banyak suara dan mengekspresikan berbagai macam pandangan yang berbeda-beda. Berdasarkan perspektif etika keutamaan, konten yang disiarkan di media merupakan refleksi dari nilai-nilai yang dianut individu pekerja media.
Consumer Fanaticism dalam Mendefinisikan Diri: Studi pada Budaya Konsumsi ARMY atas Merchandise BTS Fadia Aqilla Haya; Fariza Yuniar Rakhmawati
Jurnal Media dan Komunikasi Indonesia Vol 3, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmki.71288

Abstract

Baru-baru ini, BTS memperoleh sorotan dari media global sebagai music influencer. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari kontribusi penggemarnya (ARMY) yang berdedikasi. Bentuk dukungan yang disampaikan oleh ARMY bermacam-macam, mulai dari aktivitas streaming hingga pembelian merchandise. Fenomena pembelian merchandise tersebut ditengarai sebagai bentuk consumer fanaticism. Penelitian ini berfokus untuk melihat bagaimana consumer fanaticism dimaknai dalam diri informan sebagai bagian dari ARMY. Metode yang digunakan yaitu fenomenologi melalui wawancara mendalam dengan 4 penggemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk consumer fanaticism dimaknai penggemar melalui 3 cara: antusiasme terhadap BTS, keberagaman interaksi ARMY, dan fanatisme atas merchandise BTS.
Memahami Konsepsi “Kafir” pada Organisasi Keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Media Sosial Abdul Wahid; Fariza Yuniar Rakhmawati; Nia Ashton Destrity
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v9i2.2371

Abstract

Radikalisme muncul dan berkembang di latar sosial berbeda. Di Asia, radikalisme muncul dalam bentuk identitas kelompok agama seperti ekstrem Buddha di Myanmar, ekstrem Hindu di India, dan militan Muslim di Timur Tengah dan Asia, termasuk Indonesia. Pada perkembangannya, radikalisme mewujud dalam bentuk pelabelan seperti “kafir” yang membawa konsekuensi pada diskriminasi, terutama pada kelompok non-muslim. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga mengambil peran dalam penggunaan istilah ini. Riset ini berupaya untuk mengungkap konstruksi “kafir” oleh media di organisasi keagamaan melalui pendekatan semiotika struktural Saussure. Hasil riset menunjukkan bahwa organisasi Islam NU dan Muhammadiyah memiliki konstruksi berbeda terhadap istilah “kafir”. NU menyepakati bahwa terdapat dua konteks yang berbeda dalam penggunaan istilah “kafir”, yaitu dalam konteks keimanan (agama) dan konteks bernegara. NU merekomendasikan untuk menghilangkan penggunaan istilah “kafir” bagi non-muslim dan menggantinya dengan istilah muwathinun (warga negara) dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menekankan bahwa penggunaan istilah “kafir” memiliki kecenderungan merujuk kepada non-muslim. Istilah “kafir” tidak boleh dihilangkan dalam ajaran Islam, namun penyebutan “kafir” perlu digunakan secara bijak. Komunikasi menjadi perantara sentral dalam diskursus tentang politik identitas di Indonesia.