Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : AGRIKA

STIMULAT AUXIN ALAMI DAN INTERAKSINYA DENGAN NPK ANORGANIK UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN AWAL BIBIT DAN MENINGKATKAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascallonicum L) Palupi Puspitorini; Eko Wahyu Budiman
Agrika Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v14i2.1616

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mempunyai tujuan untuk  mengetahui  durasi perendaman bibit   dengan auxin alami dan dosis pupuk NPK yang tepat  pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L). Dalam budidaya bawang merah sering dijumpai pertumbuhan benih yang lambat disebabkan karena faktor dalam bibit (endogenous factor) yang merugikan karena akan berdampak pada serangan penyakit busuk umbi. Maka mempercepat munculnya tunas dengan perlakuan pemberian auxin dan pemberian pupuk NPK ini diharapkan akan diperoleh bibit yang segera tumbuh supaya dapat berproduksi dalam keadaan sehat. Pada penelitian ini akan dikaji bagaimana mempercepat pertumbuhan bibit bawang merah dengan perendaman cepat dalam auxin alami yang diinteraksikan dengan pemberian pupuk NPK. Penelitian disusun dalam  RAK  faktorial dengan 2 faktor sebanyak 3 x ulangan. Faktor 1 adalah perlakuan lama perendaman bibit bawang merah (D), yang terdiri dari D0 = tanpa perendaman , D1= perendaman 0,5 jam, D2 = perendaman 1 jam, D3= perendaman 1,5 jam, D4 = perendaman 2 jam. Sedangkan faktor kedua  adalah pemberian pupuk NPK, P1= 100 kg/ha, P2= 200 kg/ha, P3= 300 kg/ha.  Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah batang/rumpun, bobot segar bawang merah/rumpun, jumlah umbi bawang merah/rumpun. Data dianalisis dengan menggunakan Anova dan uji DMRT 5%.  Hasil Penelitian didapatkan  bahwa ada pengaruh interaksi nyata antara perlakuan D (lama perendaman) dan P (dosis pupuk NPK) pada variabel tinggi tanaman, jumlah batang/rumpun, bobot segar bawang merah/rumpun dan jumlah umbi/rumpun.  Perlakuan terbaik adalah D4P3 yaitu perendaman bibit bawang merah selama 2 jam dengan pemupukan NPK anorganik 300 kg/ha.  ABSTRACTThe aims of the study was to  determine  the duration of bulb dipping with  natural auxin on the growth and yield of shallot (Allium ascalonicum L). In shallot cultivation, it is found that the slow growth of bulb is caused by the factors in the bulbs (endogenous factors) because it will impact on bulb rot disease. Then accelerating the emergence of shoots with the treatment of auxin and NPK fertilizer, it is hoped that the bulbs will grow well so that they will be harvested in a healthy condition. In this research, we will study how to accelerate the growth of shallot bulbs with rapid immersion in natural auxin which is interacted with NPK fertilizer. The research was  arranged  in a factorial randomized block design with 2 factors and repeated 3 times, where the first factor was the treatment was the length of dipping the shallot seeds. (D). consisting of D0 = without dipping, D1 = dipping 0.5 hours, D2 = dipping 1 hour, D3 = dipping 1.5 hours, D4 = dipping 2 hours. While the second factor is the provision of  . NPK . fertilizer, P1 = 100 kg / ha, P2 = 200 kg / ha, P3 = 300 kg.ha. The variables observed were plant   height, number of clumps / plant, fresh weight of shallots / plant, number of shallot bulbs / plant. Observation data  were  analyzed by ANOVA and 5% DMRT test. The results showed that there was a significant   interaction effect between D and P treatment on the variable plant height, number of clumps/plant, fresh weight of shallots / plants and number of tubers / plants. The best treatment is D4P3, which is soaking shallot seeds for 2 hours with 300 kg / ha of inorganic NPK fertilization. 
DOSIS HIJAUAN DAN MULSA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN OKRA (Abelmoschus esculentus L. Moench.) Palupi Puspitorini
Agrika Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.497 KB) | DOI: 10.31328/ja.v14i1.1270

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah 1), menentukan dosis tithonia optimal dan perlakuan mulsa jerami pada tanaman okra, 2) membandingkan pemupukan tithonia organik dan anorganik, 3). untuk menentukan sisa nutrisi dalam tanah setelah panen okra. Percobaan disusun dalam rancangan petak faktorial. Petak utama adalah Mulsa jerami terdiri 2 tingkat (0 dan 5 tonha-1). Anak petak adalah Thitonia terdiri dari 6 tingkat (0, 60, 120, 180, 240 kg Nha-1 dan 120 kgha-1 pupuk anorganik sebagai kontrol. Tanah memiliki C organik 1,47% (rendah), total tanah N 0,2% (sedang), rasio C / N 6,0 (rendah), K2O 48 me100 gr-1 (tinggi) dan P2O5 (olsen) 27,64 mgkg-1 (sedang), kandungan bahan organik 2,53% (sedang). adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering total tanaman, luas daun.Hasil penelitian ini adalah tidak terdapat interaksi dosis tithonia dan mulsa jerami. Pertumbuhan dan hasil okra dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat tithonia. Mulsa jerami sangat penting dibandingkan tanpa perlakuan mulsa. Perlakuan pemupukan meningkatkan 25% dari rata-rata hasil polong segar dibandingkan tanpa pemupukan. Pertumbuhan dan hasil nilai tithonia terbaik adalah 180 kgNha-1. Bobot kering total tanaman 90 - 200% lebih tinggi daripada tanpa pemupukan. Pemupukan anorganik meningkat 36% berat segar polong dari pemupukan organik. Mulsa jerami memiliki efek negatif terhadap okra pada musim hujan, penurunan jumlah polong segar masing-masing 26 - 48%, hasil okra polong segar berkurang 57 - 98%. Kadar polong dan kadar gula total polong tidak dipengaruhi oleh tingkat tithonia dan mulsa jerami.
PEMANGKASAN TUNAS APIKAL DAN POSISI BUAH PADA RUAS TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) VAR. HONEYDEW ORANGE YANG DIBUDIDAYAKAN DALAM SCREENHOUSE Palupi Puspitorini; Tri Kurniastuti
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4513

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia produksi melon tahun 2014 mencapai 150.347 ton/ha dengan produktivitas 18,40 ton/ha, serta luas panen 8.185 ha. Konsumsi melon di Indonesia terhitung tahun 2015-2018 terus meningkat. Produksi melon terus meningkat mencapai 332.698 ton/tahun. Kebutuhan melon juga harus selalu stabil agar permintaan dapat terpenuhi. Upaya meningkatkan produksi melon diperlukan strategi modifikasi pengelolaan tanaman dengan intensifikasi, di antaranya memperbaiki teknologi budidaya. Penanaman dalam screenhouse dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu budidaya tanaman melon. Pemangkasan cabang tanaman dengan cara memangkas ujung apikal dapat meningkatkan besar dan kualitas buah. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-Juni 2022 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak kelompok  faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pemangkasan (P) terdiri atas P0 = tanpa pemangkasan pucuk, P1 = pemangkasan pucuk.  Faktor kedua adalah letak buah (B) terdiri dari B1 = Letak  Buah pada ruas ke-6-7 , B2 = Letak buah pada ruas ke-8-9, B3 = Letak buah pada ruas ke-10-11,  B4 = Letak buah pada ruas  ke-12-13. Analisis data menggunakan analisis ragam dengan taraf 5%. Jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pemangkasan dan peletakan buah pada ruas 10-13 adalah perlakuan terbaik yang ditunjukkan oleh parameter diameter batang tanaman, bobot buah dan volume buah melon pada saat panen. Sedangkan kadar kemanisan hanya dipengaruhi pada masing-masing perlakuan pemangkasan dan pengaturan letak buah pada ruas 8-9, 10-11 dan 12-13. ABSTRACTIn Indonesia melon production in 2014 reached 150,347 tons/ha with a productivity of 18.40 tons/ha, and a harvested area of 8,185 ha. Melon consumption in Indonesia from 2015-2018 continues to increase. Melon production continues to increase, reaching 332,698 tonnes/year. The need for melons must also always be stable so that demand can be met. Efforts to increase melon production require modification of plant management strategies with intensification, including improving cultivation technology. Planting in a screenhouse can improve and increase the quality of melon cultivation. Pruning plant branches by pruning the apical tip can increase the size and quality of the fruit. The research was carried out in May-June 2022 at the Screen house of the Faculty of Agriculture, Balitar Islamic University (Unisba) Blitar. This study used a factorial randomized block design with two factors. The first factor was pruning (P) consisting of P0 = without top pruning, P1 = top pruning. The second factor is the location of the fruit (B) consisting of B1 = Location of the fruit on the 6-7th segment, B2 = Location of the fruit on the 8-9th segment, B3 = Location of the fruit on the 10-11th segment, B4 = Location of the fruit on the 12-13th segment. Data analysis used analysis of variance with a level of 5%. If there is a significant effect, proceed with the 5% DMRT test. The results showed that the interaction of pruning and fruit placement on internodes 10-13 was the best treatment as indicated by the parameters of plant stem diameter, fruit weight and melon fruit volume at harvest. Meanwhile, the level of sweetness was only affected by each treatment of pruning and arrangement of fruit position on segments 8-9, 10-11 and 12-13.