Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Sedentary Lifestyle dengan Status Gizi Remaja pada Masa Pandemi COVID-19 Hanna Pradifa; Al Mukhlas Fikri; Ratih Kurniasari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 03 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v12i03.2042

Abstract

Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan di masyarakat, seperti pembatasan aktivitas, selalu menjaga jarak antar sesama, dan menghindari keramaian. Proses pembelajaran dilakukan secara daring sehingga aktivitas anak terbatas. Hal tersebut meningkatkan peluang untuk memiliki sedentary lifestyle. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sedentary lifestyle dengan status gizi remaja pada masa pandemi. Desain penelitian adalah cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cibinong. Sampel penelitian adalah 195 siswa kelas 8 dengan pengambilan sampel secara simple random sampling . Kriteria inklusi sampel yaitu remaja awal siswa berusia 13-15 tahun dan bersedia mengikuti penelitian. Timbangan berat badan dan microtoise untuk menilai status gizi remaja. Kuesioner Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) digunakan untuk menilai tingkat sedentary lifestyle. Sampel dalam penelitian sebagian besar berjenis kelamin perempuan (63,6%), berusia 14 tahun (60%), dan memiliki ayah dengan pendidikan terakahir SMA (49,2%). Asupan energi subjek tergolong defisit berat (80%), dan memiliki status gizi normal (65,1%). Meskipun demikian, sebanyak 15,4% memiliki status gizi gemuk dan 7,2% obesitas. Akan tetapi, penelitian ini belum dapat menunjukkan adanya hubungan sedentary lifestyle dengan status gizi remaja pada masa pandemi (P-value = 0,899). Diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara sedentary lifestyle dengan status gizi remaja pada masa pandemi di SMP Negeri 1 Cibinong.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK, KOMPOSISI PROKSIMAT, KADAR KALIUM DAN MAGNESIUM PADA SMOOTHIE MENTIMUN (Cucumis sativus Linn.) DENGAN USIA PANEN YANG BERBEDA Wani Asri Syawitri; Al Mukhlas Fikri; Eka Andriani
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/d53bes54

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit paling umum yang banyak disandang oleh masyarakat. Mentimun menjadi  salah satu pangan yang dapat digunakan sebagai alternatif penanganan hipertensi karena memiliki banyak kandungan gizi  dan manfaat di dalamnya. Masyarakat biasanya mengonsumsi mentimun dengan usia panen 30-35 hari setelah tanam (hst). Namun, mentimun usia tua (40-50 hst) memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui  pengaruh usia panen mentimun terhadap sifat organoleptik dan kandungan gizi smoothie mentimun. Penelitian ini  merupakan true experimental design dengan metode rancangan acak lengkap dengan penggunaan mentimun usia 35 dan  50 hst dalam smoothie mentimun. Hasil penelitian menunjukkan usia panen berpengaruh terhadap mutu hedonik parameter  warna, aroma, rasa, dan kekentalan. Namun usia panen hanya berpengaruh pada hedonik parameter warna smoothie  mentimun. Analisis zat gizi menunjukkan bahwa usia panen yang digunakan tidak mempengaruhi kandungan gizi smoothie  mentimun karena nilai gizi kedua smoothie mentimun relatif sama. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa tidak  ada perbedaan antara smoothie mentimun dengan usia 35 dan 50 hst terhadap sifat organoleptik, kandungan proksimat,  kadar kalium dan magnesium. Smoothie mentimun dapat dijadikan sebagai alternatif pangan pengendalian hipertensi.
Gut Microbiota Types between Well-Grown and Stunted Children: A Systematic Review Eriyanti Astika; Ahsanal Kasasiah; Jekmal Malau; Al Mukhlas Fikri
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 10, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus July 2024
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v10i2.5871

Abstract

Stunting, one of the malnutrition in the prenatal period up to the first two years of life and often exacerbated by recurrent gastrointestinal infections after birth. This study explores from various databases including Pubmed, Scopus, Science Direct, Sage Journal, Springer Link, with keywords: "stunting, gut microbiota, toddler". In this study, 10 open access articles published in 2016-2024 were used as sources of information using PRISMA 2020 guideline. It was found that the presence of gut microbiota plays a role in stunting. Gastrointestinal infections have specific mechanisms that can lead to impaired growth and postnatal growth. Deficiency of non-pathogenic gut microbiota is considered to be the main cause. Changes in gut bacterial composition in children under five are associated with increased gastrointestinal frequency, which in turn leads to chronic growth disorders.
Studi Literatur: Hubungan antara Asupan Zat Gizi Makro, Status Gizi, dan Fungsi Kognitif pada Anak Usia Sekolah Nizrina Gadzani Firmansyah; Al Mukhlas Fikri; Ratih Kurniasari
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1728

Abstract

Fungsi kognitif pada anak usia sekolah dipengaruhi oleh asupan zat gizi makro dan status gizi yang berperan penting dalam perkembangan otak. Namun, hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan variasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bukti ilmiah mengenai hubungan antara asupan zat gizi makro, status gizi, dan fungsi kognitif pada anak usia sekolah. Penelitian menggunakan metode literature review dengan menelaah artikel ilmiah dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect terbitan tahun 2020–2025. Sebanyak tujuh artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa asupan protein, karbohidrat, dan lemak berhubungan dengan fungsi kognitif, khususnya memori, perhatian, konsentrasi, dan fleksibilitas kognitif. Status gizi baik juga cenderung berhubungan dengan fungsi kognitif yang optimal, meski beberapa studi menemukan hasil tidak signifikan akibat variasi karakteristik subjek, indikator status gizi, serta kebiasaan makan seperti sarapan. Kesimpulannya, asupan zat gizi makro dan status gizi berperan penting terhadap fungsi kognitif anak usia sekolah, walaupun dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan. Penelitian longitudinal lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat hubungan kausal antarvariabel.