Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGARUH PUPUK KANDANG SAPI DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max L. Merrill) VARIETAS EDAMAME Jhon Hardy Purba; I Putu Parmila; Kadek Karimas Sari
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.626 KB) | DOI: 10.37637/ab.v1i2.396

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang sapi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai edamame dilaksanakan bulan Mei - Juli 2016 di Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, pada ketinggian tempat ± 500 meter di atas permukaan laut. Penelitian lapang ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari dua faktor yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah pemberian dosis pupuk kandang sapi yaitu: tanpa menggunakan pupuk kandang sapi, pemberian dosis pupuk kandang sapi 10 ton.ha-1, pemberian dosis pupuk kandang sapi 20 ton.ha-1, dan pemberian dosis pupuk kandang sapi 30 ton.ha-1. Faktor kedua adalah jarak tanam yaitu: menggunakan jarak tanam 40 x 10 cm, menggunakan jarak tanam 40 x 15 cm, dan menggunakan jarak tanam 40 x 20 cm. Dengan demikian terdapat 12 perlakuan kombinasi masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Pemberian pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap jumlah polong total per tanaman. Jumlah polong total per tanaman terbanyak diperoleh pada pemberian pupuk kandang sapi 30 ton.ha-1 yaitu 50,38 polong. Jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah polong total per tanaman dengan penggunaan jarak 40 x 20 cm yaitu 50,78 buah. Interaksi antara dosis pupuk kandang sapi dan jarak tanam berpengaruh sangat nyata (p
Response of Mungbean [Vigna radiata (L.)Wilczek] Varieties to Plant Spacing under Irrigation at Gewane, Northeastern Ethiopia Nuru Seid Tehulie; Tarikua Fikadu; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.384 KB) | DOI: 10.37637/ab.v0i0.613

Abstract

Production of mungbean has been increasing in Ethiopia because of its high importance as a source of protein and foreign exchange earnings. Determination of appropriate plant density for the varieties of mungbean can increase its productivity. Therefore, an experiment was conducted to determine the effect of inter and intra row spacing on growth, yield components and yield of mung bean varieties under irrigation. The treatments consisted of factorial combinations of three inter row spacing (30, 40, and 50 cm), three-intra row spacing (5, 10 and 15 cm) and two mungbean varieties (N-26 and MH-97) laid out in randomized complete block design with three Replications. The main effect of varieties, inter row spacing and intra row spacing was highly significant and significant on plant height, secondary branch and where the longest plant height (41.71 cm) was for variety MH-97 and from 5 cm intra row spacing, respectively and maximum number of secondary branch was recorded for variety MH-97 (8.91) and from 15cm intra row and 50cm inter row spacing, respectively.  The interaction effect of the variety, inter and intra row spacing was highly significant on number of primary branch per plant, number of pod per plant and crop stand count percentage where the highest number of primary branches (7.00) was recorded from variety MH-97 at 50 cm inter row spacing and highest number pods per plant (30.15) were recorded for variety MH-97 at 40 cm inter row and (31.34) at 15cm intra row spacing. Where the highest crop stand count at harvest were recorded from variety MH-97  (97.00%) at 40 cm inter row spacing .The main effect of inter row spacing and intra row spacing were highly significant and significant on above ground dry biomass and the highest above ground dry biomass at inter row spacing of 30 cm ( 5968.8 kg ha-1) and intra row spacing 5cm 6145.9 kg ha-1).The main effect of variety, inter-row and intra-row spacing were highly significant on harvest index and grain yield where the highest harvest index was from variety MH-97 (20.91%), inter row spacing of 40 cm which give (21.18%) and intra row spacing 10 cm which give  (20.30%) and the highest grain yield from Variety MH-97 (1117.94 kg ha-1), inter row spacing 40 cm (1213.75 kg ha-1) and intra row spacing 10 cm which give (1151.67 kg ha-1) However, this tentative generalization based one season at one location requires further studies over years and locations to give a valid recommendation.
KAJIAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM PEDAGING DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PETSAI (Brassica chinensis L.) Jhon Hardy Purba; Putu Sri Wahyuni; Irwan Febryan
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.566 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang ayam pedaging dan pupuk hayati BiotamaxTM serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil petsai dilaksanakan di Desa Selat, Kabupaten Buleleng, Bali pada bulan November - Desember 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial, terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang ayam pedaging (A), terdiri atas 3 tingkat, yaitu kontrol (A0), dosis 15 ton.ha-1 (A1), dan 30 ton.ha-1 (A2). Faktor ke dua adalah frekuensi pemberian pupuk hayati dengan empat tingkat, yaitu kontrol (B0), pemberian sekaligus yaitu 7 hari sebelum tanam dengan dosis 0,09 g.petak-1 (B1); frekuensi pemberian 2 kali yaitu 7 hari sebelum tanam dan 14 hari sesudah tanam (hst) dengan dosis setiap pemberian 0,045 g.petak-1 (B2); frekuensi pemberian 3 kali yaitu 7 hari sebelum tanam, 14 hst dan 28 hst dengan dosis setiap pemberian 0,03 g.petak-1 (B3). Hasil penelitian, frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM sekaligus, memberikan berat kering oven tajuk per tanaman terberat, yaitu 9,39 g. Perlakuan dosis pupuk kandang ayam pedaging dosis 30 ton.ha-1 (A2), menghasilkan berat kering oven tajuk per tanaman terbaik yaitu 9,26 g. Hubungan antara dosis pupuk kandang ayam pedaging dengan berat kering oven tajuk per tanaman menunjukan hubungan linier, yaitu y = 0,0608x + 7,2483 (R2=32,53). Berat ekonomis per hektar terbaik didapatkan pada pemberian dosis pupuk kandang ayam pedaging 30 ton.ha-1 (A2), yaitu seberat 30,10 ton.ha-1. Hubungan antara dosis pupuk kandang ayam pedaging dan berat ekonomis per hektar menunjukan hubungan linier, yaitu y = 0,3247x + 21,699 R2=59,88%. Frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM sekaligus yaitu 7 hari sebelum tanam dengan dosis 0,09 g.petak-1 (B1) memberikan berat ekonomis per hektar terberat, yaitu 28,21 ton.ha-1. Kombinasi dosis pupuk kandang ayam pedaging dan frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM berpengaruh tidak nyata (p≥0,05) terhadap pertumbuhan dan hasil petsai.DOI:https://doi.org/10.37637/ab.v2i2.383
PENGARUH DOSIS PUPUK PETROGANIK DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SEMANGKA (Citrulus vulgaris SCARD) Putu Parmila; Jhon Hardy Purba; Luh Suprami
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.229 KB) | DOI: 10.37637/ab.v2i1.407

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk petroganik, dosis pupuk kalium dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil semangka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei - Juli 2016 di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dengan ketinggian ± 7 meter dari atas permukaan laut. Rancangan yang akan digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk petroganik yang tediri atas tiga tingkatan, yaitu: tanpa pupuk petroganik, pupuk petroganik dosis 4 ton.ha-1 (160 g/tanaman/1,6 kg/petak), dan pupuk petroganik dosis 8 ton.ha-1 (320 g/tanaman/3,2 kg/petak). Faktor ke dua dosis pupuk kalium yang terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: tanpa pupuk kalium KNO3, pupuk kalium KNO3 dosis 80 kg.ha-1 (16 g/ tanaman/160 g/petak), dan pupuk kalium KNO3 dosis 160 kg ha-1 (32 g/tanaman/320 g/petak). Penggunaan pupuk petroganik pada dosis 8 ton/ha (P2) dan 4 ton/ha memberikan hasil buah segar per hektar secara berurut sebesar 19,189 ton dan 15,844 ton, atau terdapat peningkatan hasil buah segar per hektar secara nyata sebesar 32,24% dan 9,19% bila dibandingkan dengan hasil buah segar per hektar pada tanpa penggunaan pupuk petroganik. Hasil buah segar per hektar menunjukkan bahwa dengan pupuk kalium dosis 160 kg/ha dan 80 kg/ha memberikan hasil buah segar per hektar secara berurut sebesar 18,789 ton dan 16,844 ton, atau secara nyata lebih berat 35,07% dan 21,08% dibandingkan dengan hasil buah segar per hektar pada tanpa pemupukan kalium. Pengaruh interaksi antara dosis pupuk petroganik dan pupuk kalium berpengaruh tidak nyata (p>0,05) terhadap semua variabel pengamatan.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN FENOTIP PADI BERAS HITAM (Oryza sativa L.) var CEMPO IRENG HASIL PERLAKUAN KOLKISIN Putu Shantiawan Prabawa; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.824 KB) | DOI: 10.37637/ab.v2i1.403

Abstract

Penggunaan mutagen kimiawi kolkisin sebagai bahan untuk menginduksi poliplodi pada tanaman, memberikan peluang bagi peningkatan produksi beras hitam yang sampai saat ini produktivitasnya masih rendah. Hal ini berkaitan dengan banyaknya manfaat beras hitam untuk kesehatan, sehingga menyebabkan meningkatnya permintaan konsumen. Perlakuan berbagai dosis kolkisin diharapkan mampu meningkatkan dosis gen, sehingga tanaman mimiliki penampilan dan produksi yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan fenotip pada genotip padi beras hitam (Oryza sativa L.) var Cempo Ireng akibat perlakuan berbagai dosis kolkisin. Penelitian menggunakan desain petak tunggal dengan 4 perlakuan konsentrasi colchicine (0, 250, 500 dan 750 ppm) pada 2 genotipe padi beras hitam (Ungaran dan Cempo Ireng). Analisis data menggunakan independent t-test level signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kolkisin dengan konsentrasi 750 ppm efektif dalam menginduksi mutasi sehingga menyebabkan perubahan fenotip pada sebagian besar karakter tanaman pada kedua genotip.
Enhancing Faba Bean Production through Promoting Integrated Faba Bean Gall Management Practices in Eastern Amhara Region of Ethiopia Negussie Siyum; Dessalegn Getu; Jhon Hardy Purba; Mesfin Bahta
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.395 KB) | DOI: 10.37637/ab.v5i2.898

Abstract

In Ethiopia, a great variety of diseases affects faba bean production. However, gall forming faba bean new disease has become a very serious disease that seriously affected faba beans producing areas of Wollo. This prescalling up of integrated faba bean gall technology has been conducted at Meket and Wadla woredas of north Wollo in 2017/18 to create wider demand on the management of gall disease and to enhance integrated gall disease management  technology dissemination. The study areas were selected purposively due to high infestation of the disease. A total of 32 farmers were selected based on a voluntary base. Adjacent farms of 5.7 ha at Wadla and 3 ha at Meket was selected and clustered accordingly. Integrated disease management i.e seed dressing with 300 gm Baylaton/100Kg seed, improved varieties and hand weeding were applied as a package for the control of the disease. Dosha with chemical gave an average gain yield of 2.2 tons/ha at Meket whereas Wolki with chemical gave an average grain yield of 2.5 tons/ha at Wadla woreda. However, the local variety with farmers’ practice gave an average grain yield of 100 kg/ha and 900 kg/ha at Wadla and Meket woredas respectively. The result of economic analysis also indicate that the technology is by far advantageous than the local variety and practice. So, the technology should be further disseminated to other hot spot areas of faba bean gall diseases.
GROWTH, PHENOLOGICAL, YIELD AND YIELD COMPONENTS EVALUATION OF SWEET ORANGE (Citrus sinensis L.) CULTIVARS IN RAYA AZEBO WOREDA OF SOUTHERN TIGRAY, ETHIOPIA Wakuma Biratu; Haile Abebe; Mola Berhe; Kidane Tesfay; Haileslassie Gebremeskel; Mulashu Tuemay; Haregua Feleke; Jhon Hardy Purba
AGROLAND The Agricultural Sciences Journal (e-Journal) Vol 10 No 1 (2023): june
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agroland.v0i0.1206

Abstract

Sweet orange (Citrus sinensis L.) is an important fruit produced and consumed worldwide and it’s an excellent source of vitamin C. However, citrus industry in Ethiopia is at an infant stage; which is particularly due to shortage of improved and adapted cultivars and their distribution. Considering these, six sweet orange cultivars were evaluated to select adapted, high yielding and quality cultivar/s. Different growth, phenological, yield and yield component data were collected and analyzed using SAS. Days to maturity was also highly significantly (p<0.01)) affected by cultivars in 2017 cropping year. Fruit weight without rind (flesh weight) and juice weight were highly significantly (p<0.05) affected by cultivars in 2018 harvesting year. Marketable yield, unmarketable yield, and total yield tree-1 were significantly affected by cultivars in both 2017 and 2018 harvesting year. O. Valencia is late matured cultivars which took 1622 days from planting to first harvest. While, P.W.N. is early matured cultivars with average number of days of 1104 from planting to first harvest. In 2017, Hamlin, gave the highest marketable fruit yield tree-1 (68.61 kg) and total yield tree-1 (68.94kg). Jaffa gave significantly the maximum marketable fruit yield tree-1 (197.24 kg) and total yield tree-1 (198.81 kg) in 2018 cropping year. In 2019 harvesting year, Hamlin gave the highest marketable (63.3 kg) and total (64.02 kg) fruit yield tree-1. In average Jaffa and Hamlin gave the maximum marketable fruit yield tree-1 from the three consecutive harvesting years with mean value of 95.38 kg and 72.24 kg respectively. So, in Raya Azebo, and other areas having similar agro-ecologies Jaffa and Hamlin cultivars are recommended. Further, studying the nutritional content and water requirements of these cultivars are suggested.