Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Effect of Elderly Exercise on Changes in Pain Intensity in Rheumatoid Arthritis Patients In Paranginan Health Center: Effect of Elderly Exercise on Changes in Pain Intensity in Rheumatoid Arthritis Patients In Paranginan Health Center Rosetty Rita Sipayung; Lasma Rina Efrina Sinurat; Henny Syapitri
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6 No 1 (2023): JURNAL MUTIARA NERS
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmn.v6i1.3575

Abstract

Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic, systemic disease that typically develops slowly and is characterized by recurrent inflammation of the joints. Elderly gymnastics is a series of movements specifically designed for the elderly, and can be used as an independent therapy to reduce RA pain. This study aims to analyze the Effect of Elderly Gymnastics on Changes in Pain Intensity in Rheumatoid Arthritis Patients at the Paranginan Health Center. The research design used was a Quasi-experimental one group pre test-post test design. The population is all elderly people who have RA. The number of samples in this study were 20 respondents, taken using a random sampling technique. The statistical test used is Wilcoxon. The results of the study showed that the intensity of joint pain before exercise for the elderly experienced severe pain, and afterward experienced mild pain, and there was a significant effect of giving exercise to the elderly on changes in RA pain with a value of p=0.000 (p<0.05). It is expected that the elderly routinely intervene in elderly exercise independently to reduce RA pain.
Self Management Berhubungan dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronis di Unit Hemodialisa Lasma Rina Efrina Sinurat; Darwita Barus; Marthalena Simamora; Henny Syapitri
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 4 No 1 (2022): Februari 2022, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v4i1.804

Abstract

Gagal ginjal kronik dapat berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir, dimana ginjal tidak mampu lagi mempertahankan zat-zat tubuh sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut sebagai terapi pengganti ginjal berupa dialysis / cuci darah atau transplantasi ginjal. Dalam hal ini, pasien gagal ginjal kronis dapat bertahan hidup dengan menjalani pengobatan hemodialisis. Pasien GGK hidup dengan pengalaman yang berbeda dan banyak rasa sakit, hidup dalam ketakutan dan ancaman kematian, dan terus-menerus bergantung pada peralatan dialisis dan petugas kesehatan, yang berdampak negatif pada kualitas hidup pasien. Salah satu upaya dalam mengelola penderita GGK adalah dengan meningkatkan manajemen diri (self management). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self management dengan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis di unit hemodialisa Rumah Sakit Ginjal Rasyida Medan. Jenis penelitian ini adalah analitik korelasi dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 165 responden. Teknik pengambilan sampel mengunakan metode Non probabality sampling (purposive Sampling). Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan menggunakan uji spearman. Hasil penelitian didapatkan self management mayoritas kurang baik yaitu 53,9%, kualitas hidup mayoritas kurang baik yaitu 51,5% dan hasil uji spearman correlation p value 0,000 < α 0,05 r = 0,880 yang menunjukkan bahwa keeratan hubungan sangat kuat. Semakin tinggi self management pasien GGK, maka akan semakin tinggi pula kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronis.
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI Henny Syapitri; Lasma Rina Efrina Sinurat; Agnes Silvina Marbun; Raudha Yulisma
Jurnal Online Keperawatan Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Online Keperawatan Indonesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Worldwide, hypertension is on the rise, with the World Health Organization (WHO) projecting that by 2025, 29% of individuals would have the condition.  Presently, worldwide efforts to improve health are focusing on hypertension as a non-communicable illness.  The autogenic relaxation method is one non-pharmacological option for managing blood pressure.  The purpose of this research is to determine if hypertensive individuals' blood pressure may be reduced using the autogenic approach.  The researchers used a pretest-posttest control group design, making this study quasi-experimental.  One hundred forty-one hypertension patients who were seen at the Pante Raya Community Health Center made up the study's population.  Using a purposive sampling approach, the research comprised 40 participants as samples.  Seven days in a row, for a total of fifteen minutes per session, the autogenic relaxation method was given.  Using a digital sphygmomanometer, the patient's blood pressure was monitored.  The data was evaluated using a dependent t-test to compare the pre- and post-autogenic blood pressure levels, and an independent t-test to compare the intervention group's and control group's blood pressure levels.  Both the pre- and post-autogenic relaxation systolic and diastolic blood pressures were found to be significantly lower (p < 0.05).  This research found that hypertension individuals whose blood pressure was significantly reduced by using autogenic relaxation methods.  Thus, autogenic approaches provide a non-pharmacological approach to managing blood pressure that is both effective and safe.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PENDERITA HIPERTENSI DALAM MINUM OBAT HIPERTENSI Lasma Rina Efrina Sinurat; Agnes Silvina Marbun; Henny Syapitri; Metalitas Zega
Jurnal Online Keperawatan Indonesia Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Online Keperawatan Indonesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Keberhasilan suatu pengobatan tidak hanya dipengaruhi oleh akses pelayanan kesehatan, pengetahuan, peran petugasnya dan dukungan keluarga, tetapi juga dipengaruhi oleh kepatuhan pasien. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan penderita hipertensi dalam minum obat antihipertensi. Kepatuhan penderita hipertensi dalam minum obat penting karena obat antihipertensi mengkontrol tekanan darah dan dalam waktu jangka panjang resiko terjadinya kerusakan organ-organ dapat dikurangi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan penderita hipertensi dalam mengkonsumsi obat hipertensi di Puskesmas Parsingkaman. Metode: Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 75 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Alat pengumpulan data adalah kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square. Hasil: Hasil penelitian diperoleh ada hubungan yang signifikan antara faktor keterjangkauan akses pelayanan kesehatan, pengetahuan, dukungan keluarga dan peran petugas kesehatan dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam mengkonsumsi obat hipertensi dengan p value= 0.003, 0.001, 0.002, 0.004. Kesimpulan: Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dalam menyusun strategi untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam minum obat.
KOMPONEN YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN DIRI PENDERITA DIABETES DI UPT. PUSKESMAS DESA LAMA SEI LEPAN Agnes Silvina Marbun; Lasma Rina Efrina Sinurat; Henny Syapitri; Eliasna Sembiring; Popi Paranita Harefa
Jurnal Online Keperawatan Indonesia Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Online Keperawatan Indonesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/keperawatan.v9i1.6481

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme pada tubuh seseorang dengan gejala hiperglikemia yang mana hal ini berhubungan dengan produksi karbohidrat, lemak, dan protein yang terjadi karena penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin. Penurunan kualitas hidup pada pasien diabetes melitus tipe 2 dikarenakan pasien tidak mampu melakukan management diri. Tujuan: untuk mengetahui penyebab dikaitkan kepada pengaturan diri penderita diabetes. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua pasien dengan DM tipe 2 yang berobat yang berjumlah 35 orang, sampel pada penelitian ini berjumlah 35 orang dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Hasil: menunjukkan ada pengaruh usia terhadap diabetes self management pada pasien DM tipe 2 nilai p value 0,039 (p<0,05), ada pengaruh jenis kelamin terhadap Diabetes Self-Management pada pasien DM tipe 2 dengan nilai p value 0,004 (p<0,05), ada pengaruh pendidikan terhadap Diabetes Self-Management pada pasien DM tipe 2 dengan nilai p value 0,000 (p<0,05), ada pengaruh pengetahuan terhadap Diabetes Self-Management pada pasien DM tipe 2 dengan nilai p value 0,000 (p<0,05), ada pengaruh dukungan terhadap Diabetes Self-Management pada pasien DM tipe 2 dengan nilai p value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: faktor-faktor yang mempengaruhi Diabetes Self-Management pada pasien DM tipe 2 adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, dan dukungan keluarga. Disarankan dapat memberikan pengetahuan baru bagi pasien DM tipe 2 tentang faktor yang mempengaruhi diabetes self-management dan bagaimana cara meningkatkannya sehingga pasien memiliki kesehatan yang lebih baik lagi, dapat menjadi acuan bagi perawat untuk memberikan penyuluhan mengenai pentingnya melakukan self-management.
PENATALAKSANAAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEJADIAN PINGSAN DI SMP SWASTA KATOLIK MARIANA MEDAN Lasma Rina Efrina Sinurat; Agnes Silvina Marbun; Henny Syapitri; Meytri Kristiani Duha; Mahdalina
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 7 No. 2 (2026): JURNAL ABDIMAS MUTIARA (IN PRESS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jam.v7i2.6494

Abstract

Pingsan (sinkop) merupakan kondisi hilangnya kesadaran sementara yang terjadi akibat berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Kejadian pingsan sering ditemukan pada remaja usia sekolah dan dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti kelelahan, dehidrasi, kurangnya asupan makanan, anemia, tekanan darah rendah, serta paparan panas yang berlebihan. Penatalaksanaan Pertolongan Pertama pada Kejadian Pingsan dilaksanakan di SMP Swasta Mariana Medan sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi kejadian pingsan di lingkungan sekolah. Metode pelaksanaan dilakukan melalui penyuluhan kesehatan menggunakan media PowerPoint, leaflet, dan video edukasi yang disampaikan dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, serta demonstrasi pertolongan pertama. Materi yang diberikan meliputi pengertian pingsan, faktor penyebab dan faktor risiko, tanda dan gejala, dampak dan komplikasi, penatalaksanaan pertolongan pertama, serta upaya pencegahan kejadian pingsan di lingkungan sekolah. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 14 siswa (60,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pertolongan pertama pada kejadian pingsan setelah mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan. Siswa juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung, terutama pada sesi diskusi dan demonstrasi. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa mampu menerapkan pengetahuan dan memberikan pertolongan pertama yang tepat apabila terjadi kejadian pingsan di lingkungan sekolah, serta semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan melalui pola makan yang teratur, istirahat yang cukup, dan menjaga kondisi fisik untuk mencegah terjadinya pingsan.