Ahmad Budiaman
Department Of Forest Management, Faculty Of Forestry And Environment, IPB University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The Impact of Forest Plantation Thinning on Flying Insect Community in Sukabumi Forest Management Unit Ali Akbar; Ahmad Budiaman; Noor Farikhah Haneda
Media Konservasi Vol 24 No 1 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 1 April 2019
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.302 KB) | DOI: 10.29244/medkon.24.1.52-59

Abstract

Insects are part of the forest ecosystem that plays an important role in the sustainability of the ecological functions of the forest plantations. The purpose of this study was to analyze the effect of thinning on insect communities and determine the types of insects which has potential to be bioindicators in order to assess the success of thinning in forest plantations. This research was conducted on forest plantation at the part of Forest Management Unit (BKPH) Cikawung and West Gede, Forest Management Resort (RPH) Ciguha, Forest Management Unit (KPH) Sukabumi Perum Perhutani Regional Division III West Java and Banten. The plot used in this research is a circular plot with a radius of 17.95 m. The traps used are malaise traps that is spread on thinning blocks at thinning intensity of 20%. The type of stand of thinning plots is Pinus merkusii in the age class 3. The obtained insects later identified to the morphospecies level. The results of the study show that thinning affect changes in environmental conditions and insect composition. In thinning blocks, there was decrease in the number of insect compositions by 11 families, 4 genera and also decrease of 3 morphospecies. Overall, thinning activities have no effect on changes over species richness index and evenness index of insect species. Diptera is a type of insect that can be used as a bioindicator, it states based on the consideration of ease in obtaining information related to taxonomy and biological properties, ease of identification, role of the ecosystem, pressure status and abundance parameters. Keywords: bioindicator, ecological assessment, forest disturbance
ESTIMASI POTENSI BIOMASSA DAN MASSA KARBON HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT (Studi Kasus di Areal HTI Kayu Serat di Pelalawan, Propinsi Riau) Yuniawati Yuniawati; Ahmad Budiaman; Elias Elias
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3186.87 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.4.343-355

Abstract

Peran hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon tidak diragukan lagi untuk mengurangi jumlah karbon di atmosfer bumi sehingga mencegah efek gas rumah kaca (GRK) yang dapat menyebabkan pemanasan global. Diantara berbagai jenis hutan, terdapat jenis hutan gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon terbesar. Penelitian dilaksanakan di hutan tanaman kayu serat spesies Acacia crassicarpa yang tumbuh di lahan gambut, secara administratif di bawah perusahaan pulp dan kertas di Pelalawan, propinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh persamaan alomterik yang terkait parameter pertumbuhan pohon A. crassicarpa yaitu diameter pohon (D) dan tinggi baik sebagai total (Htot) atau cabang bebas (Hbc) untuk hasil pertumbuhan biomassa (W) dan massa karbon (C). Metode penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan contoh dari pohon A. crassicarpa dengan umur berturut-turut 2,3,4 dan 5 tahun (antara lain batang utama, cabang, ranting, daun dan akar). Contoh tersebut dilakukan pengujian di laboratorium, dengan menguji kadar air, berat jenis, kadar abu, kadar zat terbang dan kadar karbon. Hasil persamaan alometrik yang diperoleh digunakan untuk mengukur dan memperkirakan potensi biomassa dan massa karbon dari tegakan pohon A. crassicarpa pada kelompok umur, yaitu 2,3,4 dan 5 tahun. Persamaan alometrik yang tepat dan paling mewakili adalah W = 0.398918D2,041Hbc0.165(untuk menghitung potensi biomassa) dan C = 0.131D1.246 Htot1.175(untuk menghitung potensi karbon). Penggunaan persamaan alometrik tersebut, akan menghasilkan potensi biomassa (W) A. crassicarpa untuk kelompok umur 2,3,4 dan 5 tahun berturut-turut yaitu 44,98 tons/ha, 70,35 tons/ha, 134,05 tons/ha dan 234,78 tons/ha. Sedangkan untuk nilai potensi massa karbon (C) sebesar 12,09 tons/ha, 36,23 tons/ ha, 76,09 tons/ha dan 133,10 tons/ha, masing-masing untuk kelompok umur pohon (2,3,4,5 tahun). Untuk menarik kesimpulan hasil penelitian ini bahwa pada berbagai umur tegakan pohon A. crassicarpa dan berbagai bagian pohon memberikan perbedaan nyata didalam biomassa dan massa karbon. Informasi penting ini patut mendapat perhatian secara menyeluruh untuk memperkirakan potensi biomassa dan massa karbon di pohon tertentu dengan tepat dan handal.
Kayu Sisa Setelah Penebangan Hutan Alam di Indonesia: Suatu Tinjauan Sistematis Ahmad Budiaman; Linda Audia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 2 (2022): April 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.2.427-436

Abstract

Kayu sisa penebangan selain berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, juga berpotensi memberikan kontribusi ekonomi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menghimpun dan menganalisis hasil-hasil penelitian terkait kuantitas, sumber dan potensi pemanfaatan kayu sisa tebangan pada pengusahaan hutan alam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematis. Pencarian literatur yang sistematis dan komprehensif dilakukan di SINTA, Research Gate, Science Direct, dan Google Scholar, yang dipublikasikan dalam kurun waktu 1990-2020. Kombinasi kata kunci yang digunakan dalam pencarian literatur adalah kayu sisa pemanenan hutan, limbah pemanenan hutan, kayu sisa penebangan hutan, limbah penebangan hutan, felling waste, felling residue,  cutting waste, cutting residue logging residue, logging waste dan forest residue.  Kayu sisa tebangan pada pengusahaan hutan alam dapat mencapai 45% dari volume kayu yang ditebang.  Sebagian besar penelitian melaporkan bahwa kayu sisa tebangan pada pengusahaan hutan alam berasal dari batang bebas cabang.  Sebagian kecil kayu sisa penebangan memiliki potensi sebagai bahan baku industri perkayuan. Pemanfaatan kayu sisa tebangan secara komersial masih mengalami kendala teknis dan ekonomi.ABSTRACTLogging residues, besides playing an important role in maintaining the balance of forest ecosystems, also have potential economic and social contributions. This study aimed to collect and analyze research results related to the quantity, source, and potential use of logging residues in natural forest concessions in Indonesia. This study used a systematic review method. A systematic and comprehensive literature search was conducted at SINTA, Research Gate, Science Direct, and Google Scholar, published between 1990 and 2020. The combination of keywords used in the literature search were timber harvesting residues, forest harvesting waste, logging residues, logging waste, felling waste, felling residue, cutting waste, cutting residue, logging waste, and forest residue. The volume of logging residues in the natural forest concessions can reach up to 45% of the volume of the felled tree. Most of the studies reported that the logging residues in the natural forest concessions came mainly from the branch-free stem. A small portion of the logging residue has potential as raw material for the timber industries. The commercial use of logging residues is still facing a technical and economical problem.
ESTIMASI POTENSI BIOMASSA DAN MASSA KARBON HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT (Studi Kasus di Areal HTI Kayu Serat di Pelalawan, Propinsi Riau) Yuniawati Yuniawati; Ahmad Budiaman; Elias Elias
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.4.343-355

Abstract

Peran hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon tidak diragukan lagi untuk mengurangi jumlah karbon di atmosfer bumi sehingga mencegah efek gas rumah kaca (GRK) yang dapat menyebabkan pemanasan global. Diantara berbagai jenis hutan, terdapat jenis hutan gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon terbesar. Penelitian dilaksanakan di hutan tanaman kayu serat spesies Acacia crassicarpa yang tumbuh di lahan gambut, secara administratif di bawah perusahaan pulp dan kertas di Pelalawan, propinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh persamaan alomterik yang terkait parameter pertumbuhan pohon A. crassicarpa yaitu diameter pohon (D) dan tinggi baik sebagai total (Htot) atau cabang bebas (Hbc) untuk hasil pertumbuhan biomassa (W) dan massa karbon (C). Metode penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan contoh dari pohon A. crassicarpa dengan umur berturut-turut 2,3,4 dan 5 tahun (antara lain batang utama, cabang, ranting, daun dan akar). Contoh tersebut dilakukan pengujian di laboratorium, dengan menguji kadar air, berat jenis, kadar abu, kadar zat terbang dan kadar karbon. Hasil persamaan alometrik yang diperoleh digunakan untuk mengukur dan memperkirakan potensi biomassa dan massa karbon dari tegakan pohon A. crassicarpa pada kelompok umur, yaitu 2,3,4 dan 5 tahun. Persamaan alometrik yang tepat dan paling mewakili adalah W = 0.398918D2,041Hbc0.165(untuk menghitung potensi biomassa) dan C = 0.131D1.246 Htot1.175(untuk menghitung potensi karbon). Penggunaan persamaan alometrik tersebut, akan menghasilkan potensi biomassa (W) A. crassicarpa untuk kelompok umur 2,3,4 dan 5 tahun berturut-turut yaitu 44,98 tons/ha, 70,35 tons/ha, 134,05 tons/ha dan 234,78 tons/ha. Sedangkan untuk nilai potensi massa karbon (C) sebesar 12,09 tons/ha, 36,23 tons/ ha, 76,09 tons/ha dan 133,10 tons/ha, masing-masing untuk kelompok umur pohon (2,3,4,5 tahun). Untuk menarik kesimpulan hasil penelitian ini bahwa pada berbagai umur tegakan pohon A. crassicarpa dan berbagai bagian pohon memberikan perbedaan nyata didalam biomassa dan massa karbon. Informasi penting ini patut mendapat perhatian secara menyeluruh untuk memperkirakan potensi biomassa dan massa karbon di pohon tertentu dengan tepat dan handal.
KETERBUKAAN AREAL HUTAN AKIBAT PENEBANGAN INTENSITAS RENDAH DI SALAH SATU IUPHHK-HA DI PAPUA Ahmad Budiaman; A Sektiaji Sektiaji
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i3.5979

Abstract

Harvesting of natural production forest with selective cutting system creates felling gaps and reduces canopy cover. Treefall gaps play important roles in forest ecology. The information of size and form of treefall gaps due to low harvest intensity (0,58 tree ha-1) in tropical natural forest is poorly established. This study aims to calculate the size of treefall gaps and to correlate nature of felled tree (tree height, tree diameter, crown height, crown diameter) and slope with size of treefall gaps. The study was carried out in a cutting block of a forest concession in Papua province. The plot used is a circular plot of 1.7 ha. The 15 sample plots were placed in the cutting block randomly. The size of treefall gaps is calculated by measuring the length and wide of area openness after tree felling. The average area of forest gap before tree felling, canopy gaps and expanded gaps respectively was 0,04%, 1,52% (258,7 m2), and 2,66% (451,7 m2). Tree height of felled tree has significant relationship to the size of treefall gaps.Penebangan hutan alam produksi dengan sistem tebang pilih menciptakan ruang terbuka (gaps) dan mengurangi tutupan tajuk. Keterbukaan tajuk hutan akibat penebangan memiliki peran penting dalam ekosistem hutan. Hingga saat ini masih sedikit informasi yang diketahui tentang ukuran dan bentuk keterbukaan tajuk akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah di hutan tropis yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah (0,58 pohon ha-1), dan menganalisis faktor pohon yang ditebang (tinggi pohon, diameter pohon, tinggi tajuk dan diameter tajuk) dan kemiringan lapangan, yang mempengaruhi luas keterbukaan area hutan akibat penebangan. Penelitian ini dilakukan di salah satu petak tebangan pada salah satu pengusahaan hutan alam produksi di propinsi Papua. Plot contoh yang digunakan adalah plot lingkaran dengan luas 1,7 ha. Jumlah plot contoh sebanyak 15 plot yang tersebar secara acak di petak tebangan. Luas keterbukaan areal hutan dihitung dengan cara mengukur panjang dan lebar areal terbuka setelah penebangan pohon. Ratarata luas keterbukaan tajuk tegakan hutan alam produksi yang belum ditebang sebesar 0,04%. Rata-rata luas keterbukaan tajuk dan areal hutan yang terbuka akibat penebangan pohon dengan intensitas rendah berturut-turut adalah 1,52% (258,7 m2) dan 2,66% (451,7 m2). Tinggi pohon yang ditebang berpengaruh nyata terhadap luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan.
KAYU SISA PENJARANGAN DAN TEBANG HABIS HUTAN TANAMAN JATI Wood residues of Thinning and Final Cutting of Teak Plantation Forest Ahmad Budiaman; Devi Muhtariana; Nensi Yunita Irmawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i1.1607

Abstract

Kayu jati (Tectona grandis) merupakan hasil hutan utama hutan tanaman industri di pulau Jawa yang dikelola oleh Perum Perhutani dan telah memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia selama beberapa dekade. Jenis tebangan yang banyak dilakukan di hutan tanaman ini adalah penjarangan dan tebang habis.  Kedua jenis tebangan ini berpotensi menghasilkan kayu sisa.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya kayu sisa dari kegiatan tebang habis kelas umur (KU) VII dan penjarangan KU VI.   Metode kuantifikasi kayu bundar yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pohon penuh.  Penelitian ini dilaksanakan di dua anak petak di KPH Madiun, Jawa Timur.  Jumlah pohon contoh untuk penjarangan sebanyak 42 pohon dan tebang habis sebanyak 48 pohon.  Dari penelitian ini diperoleh bahwa faktor residu dari  penjarangan jati kelas umur VI sebesar  0,15, dan tebang habis KU VII sebesar 0,14.  Penjarangan dan tebang habis  jati menghasilkan sortimen kayu bundar kecil yang lebih banyak dibandingkan sortimen kayu bundar sedang dan kayu bundar besar.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk sortimen kayu sisa yang paling banyak dihasilkan dari tebang penjarangan dan tebang habis adalah sortimen kayu kecil. Kata kunci: kayu sisa, kelas umur, tebang habis, penjarangan, jati.
Efek Penyaradan Kayu terhadap Keanekaragaman Ekor Pegas (Collembola) di Hutan Alam Produksi Kalimantan Tengah Ahmad Budiaman; Noor Farikhah Haneda; Ria Dwi Afsari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 3 (2023): July 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.3.609-615

Abstract

Penyaradan kayu pada pengusahaan hutan alam produksi dapat menimbulkan pengaruh terhadap mikro fauna tanah, termasuk Collembola.  Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efek penyaradan   kayu  terhadap keanekaragaman Collembola di hutan alam produksi. Plot yang digunakan adalah jalur transek sepanjang 100 m.  Sebanyak empat jalur diletakan di salah satu petak yang baru selesai dilakukan penyaradan kayu.  Jarak antar jalur adalah 20 m ditempatkan di petak tebang yang baru selesai disarad.  Dua jalur transek merupakan jalan sarad dan dua jalur lainnya adalah jalur yang tidak disarad.  Perangkap pitfall digunakan untuk menangkap Collembola.  Faktor lapangan yang diukur meliputi  suhu, kelembaban, kepadatan tanah, tutupan tajuk, ketebalan serasah, dan kerapatan tumbuhan bawah.  Indek biologi Collembola yang diukur dan dihitung adalah kelimpahan, indek keanekaragaman jenis, indek kekayaan jenis, dan indek kemerataan jenis.  Indek-indek ini digunakan untuk menganalisis perbedaan komposisi dan keanekaragaman Collembola antar perlakuan. Perbedaan kelimpahan Collembola antar perlakuan diuji dengan uji T dengan taraf nyata 5%. Uji Friedman digunakan untuk menguji perbedaan komposisi Collembola pada jalur tidak disarad dan jalan sarad. Hubungan antara faktor lingkungan dan kelimpahan Collembola diuji dengan menggubnakan uji  korelasi Pearson.  Kelimpahan Collembola di jalan sarad lebih rendah dibandingkan di jalur tidak disarad.  Komposisi Collembola di jalan sarad berbeda dengan di jalur yang tidak disarad.  Indek keanekaragaman, kekayaan jenis, dan kemeratan Collembola di jalan sarad tidak berbeda dengan jalur yang tidak disarad
KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL PADA TEKNIK REDUCED IMPACT LOGGING DI INDONESIA: TINJAUAN SISTEMATIS Ahmad budiaman; Nazma Rahayu
Jurnal Belantara Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Forestry Study Program University Of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbl.v6i2.959

Abstract

Forest harvesting in the natural production forest management in Indonesia is mostly carried out using conventional logging techniques and causes serious damage to residual stands and soil resources. One of the efforts made to reduce this environmental damage is the application of reduced impact logging (RIL) techniques. This study aimed to collect and analyze research results related to the damage to residual stands caused by RIL in the natural production forest management in Indonesia. This study used a systematic review method. A systematic literature search was carried out at data sources such as Google Scholar, Research Gate, Science Direct, and SINTA, which were published between 1996-2021. All studies reported that applying RIL techniques can reduce the damage to the residual stands.
Harvesting Systems of Private Forests in Indonesia: A Review Budiaman, Ahmad; Hardjanto
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 29 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.29.3.219

Abstract

Private forests are spread over almost all the islands of Indonesia. Private forest harvesting has an important and strategic role in improving the welfare of the Indonesian people, especially in rural areas. Therefore, this research presents a review of harvesting systems used in private forests in Indonesia. This research uses literature searching and a statistical database. The basic criteria for selecting a harvesting system of private forest are a timber sales system, low equipment capital costs, and labor-intensive as well as adaptivity to local wisdom. Harvesting of private forests is mainly carried out by small-scale contractors Forest harvesting systems are partly mechanized and non-mechanized. Chainsaw was the cutting tool used for felling, debranching, and bucking. The most commonly used forest harvesting systems are manual and those involving modified motorbikes. Another less common system is conducted with animals, winches, and simple skyline systems. Loggers in private forests are self-taught workers and have not received special training in harvesting techniques, log bucking and wood extraction, and chainsaw maintenance. Improvement of wood extraction techniques is urgently needed, especially in aspects of the operating system, occupational health, and safety in forest harvesting with modified motorbikes, winches, and simple skyline systems.
Time Consumption and Productivity of Sandat Felling Technique in Agroforestry Private Forests in Probolinggo, Indonesia Budiaman, Ahmad; Hardjanto; Agustin, Sarah; Lawrensia; Rahayaan, Yohana Natalia; Maharani, Chandra Puspita; Limbong, Zest
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 30 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.30.1.1

Abstract

Agroforestry is a cropping pattern that is commonly applied to private forest management in Indonesia. Agroforestry based private forest is a land-based silviculture that incorporates forestry plants with agricultural crops, plantation crops, and multi-purpose plants. One of the felling techniques used in agroforestry based private forests is the sandat-felling technique (SFT), which is a rope-assist felling technique. The felling technique was used to protect the remaining stand of the agroforestry based private forest. This technique is an innovation in the harvesting of agroforestry based private forests in Indonesia. The time consumption and productivity of this technique are not yet known. This study aims to assess the working time and productivity of SFT in agroforestry based private forests in Probolinggo, East Java, Indonesia. The observed tree-felling technique included rope installation and tree-felling operations. The performance of the SFT was evaluated by analyzing its working time and productivity. The results of the study showed that the total working time of the SFT was 8.65 minutes tree-1, which consisted of 33.34% for rope installation and 66.66% for felling operation. The productivity of the SFT was 2.02 m3 hour-1.