MADE KOTA BUDIASA
Laboratorium Reproduksi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jl. PB Sudirman, Denpasar, Bali.

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Penambahan ?-Karoten untuk Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing Kintamani yang Diencerkan Bovine Serum Albumin Subagyo, Widodo Cipto; Bebas, Wayan; Budiasa, Made Kota
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.988 KB)

Abstract

Anjing kintamani merupakan hewan peliharaan yang berfungsi sebagai hewan kesayangan, penjaga maupun peliharaan. Namun dalam usaha pembudidayaannya sering mengalami kesulitan, sehingga perlu diterapkan inseminasi buatan (IB). Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa kualitas semen yang diperoleh harus baik. Pada saat proses pengambilan, pengenceran dan penyimpanan semen berlangsung akan terjadi reaksi antara spermatozoa dengan oksigen yang akan menyebabkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan ?-karoten terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang diencerkan dengan BSA kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 50C. Penelitian ini menggunakan anjing jantan kintamani yang berumur 2,5 tahun. Setelah semen diambil dibuatkan pengencer kuning telur fosfat + BSA 1% dan ?-karoten konsentrasi 0,001%, konsentrasi 0,002%, dan konsentrasi 0,003%. Pengencer BSA kuning telur fosfat tanpa campuran (sebagai kontrol) pengencer BSA kuning telur fosfat ditambah dengan etanol 0,05 ml (sebagai kontrol etanol). Selanjutnya semen anjing yang sudah di beri BSA kuning telur fosfat dan ?-karoten disimpan pada suhu 50C. Pemeriksaan motilitas dan daya hidup spermatozoa dilakukan setiap 12 jam selama 60 jam. Pemeriksaan motilitas dilakukan terhadap spermatozoa yang memiliki gerakan progresif dan pemeriksaan daya hidup dilakukan dengan pewarnaan eosin negrosin. Rataan hasil penelitian terhadap motilitas spermatozoa anjing kintamani dengan waktu pengamatan 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Pada kelompok T0 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,84%, 74,20±0,84%, 63,40±1,67%, 52,60±2,51%, 41,80±3,35%. Pada kelompok T1 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,45%, 74,40±1,14%, 63,60±1,95%, 52,80±2,78%, 42,00±3,61%. Pada kelompok T2 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,84%, 74,40±1,14%, 63,60±1,95%, 52,80±2,78%, 42,00±3,61%. Pada kelompok T3 adalah : 85,00±0,00%, 84,40±0,55%, 76,00±0,71%, 66,40±1,52%, 56,80±2,39%, 47,20±3,27%, dan pada kelompok T4 adalah : 85,00±0,00%, 83,00±1,73% 75,40±0,89%, 65,20±1,30%, 55,00±1,73%, 45,00±2,24%. Rataan hasil penelitian terhadap daya hidup spermatozoa anjing kintamani dengan waktu pengamatan 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Pada kelompok T0 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,84%, 84,20±0,84%, 73,40±1,68%, 62,60±2,51%, 51,80±3,35%. Pada kelompok T1 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,45%, 84,40±1,14%, 73,60±1,95%, 62,80±2,78%, 52,00±3,61%. Pada kelompok T2 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,84%, 84,40±1,14%, 73,60±1,95%, 62,80±2,78%, 52,00±3,61%. Pada kelompok T3 adalah : 95,00±0,00%, 94,40±0,55%, 86,00±0,71%, 76,40±1,52%, 66,80±2,39%, 57,20±3,27%, dan pada kelompok T4 adalah : 95,00±0,00%, 93,00±1,73%, 85,40±0,89%, 75,20±1,30%, 65,00±1,73%, 54,80±2,17%. Analisis dan pengujian statistik dilakukan dengan General Linear Model (Multivariate), hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa penambahan ?-karoten memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang diencerkan dengan BSA kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 50C. Uji lanjutan dengan uji Duncan diperoleh bahwa penambahan ?-karoten dengan konsentrasi 0,002% memberikan hasil rata-rata motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok T0, T1, T2 dan T4.
Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) yang Disimpan Selama 24 Jam pada Suhu 4°C dengan Penambahan Bovine Serum Albumin pada Pengencer Fosfat Kuning Telur Tani Bina, Elyas Herybertus; Bebas, Wayan; Budiasa, Made Kota
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.007 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan Bovine Serum Albumin (BSA) terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa puyuh yang disimpan pada suhu 4°C selama 24 jam. Penelitian ini menggunakan 30 ekor burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang berumur 8 minggu. Penampungan semen menggunakan metode pemijatan kemudian diencerkan dengan pengencer kuning telur fosfat yang ditambahkan BSA dengan berbagai konsentrasi masing-masing : 0 w/v % (sebagai kontrol), 1,5 w/v %, 2 w/v %, dan 2,5 w/v %. Setelah pengenceran, semen disimpan pada suhu 4oC selama 24 jam dan dilakukan pengamatan terhadap motilitas dan daya hidupnya. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi BSA berpengaruh nyata (P
Pengaruh Frekuensi Penampungan Semen terhadap Volume, Konsentrasi dan Motilitas Spermatozoa Ayam Pelung Saridewi, I Gusti Ayu Made; Budiasa, Made Kota; Trilaksana, I Gusti Ngurah Bagus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.91 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi penampungan semen terhadap volume semen, konsentrasi spermatozoa, dan motilitas spermatozoa ayam pelung. Penelitian ini menggunakan 4 ekor ayam pelung jantan berumur 8 bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kelompok perlakuan. Perlakuan I (T1): Frekuensi penampungan setiap 7 hari. Perlakuan II (T2): Frekuensi penampungan setiap 3 hari. Perlakuan III (T3): Frekuensi penampungan setiap 2 hari. Pengamatan dilakukan tehadap volume semen (ml), konsentrasi spermatozoa (107/ml) dan motilitas spermatozoa (%). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila berbeda nyata (P<0,05) dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume semen, konsentrasi dan motilitas spermatozoa pada perlakuan T1, T2, dan T3 masing- masing: (0.246 ± 0.011) ml,( 0.240 ± 0.007 )ml, dan( 0.148 ± 0.022) ml; konsentrasi spermatozoa masing- masing: (35,24 ± 4,5 x 106) sel/ml, (35,21 ± 4,0 x 106 ) sel/ml, dan (25,60 ± 6,3 x 106 ) sel/ml; dan motilitas spermatozoa masing -masing: ( 86,80 ± 1,303) %, (84,60 ± 1,67)% , dan (60,60 ± 2,19)%. Secara statistik frekuensi penampungan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap volume semen, konsentrasi spermatozoa dan motilitas spermatozoa ayam Pelung.
Penambahan Fruktosa Mempertahankan Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Kalkun yang Disimpan pada Suhu 4°C Atmaja, Wahyu Kusuma; Budiasa, Made Kota; Bebas, Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (4) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.927 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui akibat penambahan fruktosa pada pengencer kuningtelur fosfat terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa kalkun yang disimpan pada suhu 4°C. Sumbersemen berasal dari seekor kalkun berumur 1,5 tahun yang diambil dengan teknik penampungan semenmenggunakan metode pemijatan. Kemudian semen diencerkan dengan pengencer kuning telur fosfat yangditambahkan fruktosa 0 w/v%, 0,3 w/v%, 0,6 w/v %, dan 0,9 w/v %. Pengamatan dilakukan setiap 12 jamdengan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400x dimulai pada waktu penyimpanansampai 84 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan fruktosa memberikan perbedaan yangnyata (p<0,05) terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa kalkun yang disimpan pada suhu 4°C,kemudian uji lanjutan Duncan menunjukkan bahwa penambahan fruktosa dengan konsentrasi 0,6 w/v %memberikan hasil terbaik dalam mempertahankan motilitas spermatozoa kalkun hingga 46 w/v % dan dayahidup mencapai 51,33 w/v % selama 72 jam penyimpanan pada suhu 4°C. Kesimpulannya adalahpenambahan fruktosa pada pengencer kuning telur fosfat mampu mempertahankan motilitas dan dayahidup spermatozoa kalkun yang disimpan pada suhu 4°C.
PREGNANT MARES SERUM GONADOTROPHIN INCREASES NUMBER OF EGGS AND ACCELERATES LAYING PERIOD OF BALI DUCK WITH DELAYED EGG PRODUCTION Made Kota Budiasa; Wayan Bebas
Jurnal Veteriner Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.451 KB)

Abstract

A study was carried out to determine the effect of Pregnant Mares Serum Gonadotrophin (PMSG) on the weigth of ovary, the number of developing follicles and the onset egg production in ducks with delayed egg production. In this study, as many as 40 Bali ducks were used and they were divided into 4 groups in a completelty randomized design i.e. control group (TO) treated with NaCl 0,9%, group T1 treated with PMSG dose 5 IU per duck, group T2 treated with PMSG dose 10 IU per ducks and group T3 treated with PMSG dose 20 IU per duck intramuscularly. The weight of ovary increased significantly with the increasing dose of PMSG, i.e dose 0 IU (21,04 + 3,90 gram), dose 5 IU (25,40 + 5,31 gram), dose 10 IU (49,52 + 5,05 gram) and dose 20 IU (59,30 + 4,66 gram). The number of developing folilicles also increased significantly with the increasing dose of PMSG, i.e dose 0 IU (1,4 + 0,5 follicles), dose 5 IU (2,4 + 1,34 follicles), dose 10 IU (5,8+2,07 follicles) and dose 20 IU (8,6+1,67 follicles). In addition, the onset of egg production was shortened significantly with the increasing dose of PMSG, i.e. dose 0 IU (19,0+1,58 days), dose 5 IU (16,8+1,3 days), dose 10 IU (14,2+1,92 days) and dose 20 IU (9,6+14 days). PMSG treatment was proven to increase the egg production capability of ducks with delayed egg production.
Waktu Inseminasi Buatan yang Tepat pada Sapi Bali dan Kadar Progesteron pada Sapi Bunting (THE OPTIMUM TIME FOR ARTIFICIAL INSEMINATION IN BALI CATTLE AND THE PROGESTERONE LEVEL IN PREGNANT COW) Tjok Gde Oka Pemayun; I Gusti Ngurah Bagus Trilaksana; Made Kota Budiasa
Jurnal Veteriner Vol 15 No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.341 KB)

Abstract

This study aims were to determine the proper time for insemination and the progesterone level ofpregnant Bali cattle. Complete randomized design method was used in this study. The study consisted ofthree treatment groups i.e. Group I, animals were inseminated at 0 hour (on estrus), group II, inseminatedat 12 h post-estrus and group III inseminated at 24 h post-estrus. Estrus was observed two times a day ie.in the morning (6:00 to 8:00 am) and afternoon (16:00 to 18:00 pm) which was characterized by transparentvaginal discharge. The results showed that the highest percentage of pregnancy occurred when the cattlewere inseminated at 24 h post-estrus (100%), however, statistically this was not significant different (P>0.05) to animals that were inseminated at 12 h post-estrus (75%). Moreover, no pregnancy (0%) wasobserved in cattle that were inseminated at estrus. The progesterone level of pregnant bali cattle increasedas the period of gestation increased, being 15.43 ± 0.50 ng/mL at 30 days of gestation, 17.16 ± 0.34 ng/mLat 60 days of gestation and 20.78 ± 0.59 ng/mL at 90 days of gestation. In conclusion, the best time forinsemination in Bali cattle is at 24 h post-estrus and progesterone level seems to increase as the older thegestation period.