Joanes Catur Wibono
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Membaca Sandur Bojonegoro dan Sandur Tuban J. Catur Wibono; Trisno Tri Susilowati; M. Ali As’ad
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v10i2.481

Abstract

Reading Bojonegoro and Tuban’s Sandur Performances. Sandur performance is a form of social and culturalactivities of agrarian society. This study focuses on the difference between Bojonegoro and Tuban’s Sandurperformances. This performance is a form of expression patterns of thought and feeling into a tangible folk art. Itwill compare the themes of the stories, the actors, makeup and fashion, properties, music accompaniment, stages,time of performances and audiences. Comparative study of aesthetic forms an important aspect in order to analyze atraditional theater. Based on the research concluded that Sandur performance is one way to present the creative ideaswith aesthetic value. Performing of Sandur also has a complexity of meaning contained therein.
PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN OLAH TUBUH BERBASIS SILAT PGB BANGAU PUTIH UNTUK PENGAYAAN MATA KULIAH OLAH TUBUH DI JURUSAN TEATER Philipus Nugroho Hari Wibowo; Joanes Catur Wibono
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v14i1.3302

Abstract

Abstrak: Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan pelatihan olah tubuh berbasis silat untuk pengayaan mata kuliah olah tubuh di Jurusan Teater. Tujuan khusus penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan gerak-gerak silat Bangau Putih; (2) mengidentifikasi gerak-gerak silat Bangau Putih untuk penyusunan gerak-gerak olah tubuh; (3) menyusun pelatihan olah tubuh berdasarkan gerak silat Bangau Putih untuk mata kuliah olah tubuh di Jurusan Teater. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan reseach and development. Penelitian ditindaklanjuti dengan pengembangan metode dan aplikasi metode dalam pelatihan dan pementasan. Penelitian ini bersifat multi years yang dirancang dalam dua tahap. Tahap pertama adalah  mendeskripsikan gerak silat Bangau Putih dan melakukan identifikasi gerak-gerak yang dapat dikembangkan menjadi gerak-gerak untuk olah tubuh. Tahap kedua merancang gerak-gerak olah tubuh berdasarkan gerak silat bangau putih dan mengaplikasikan pada mata kuliah olah tubuh. Aplikasi dilakukan untuk menguji kelayakan rancangan gerak yang telah disusun. Kata kunci: model pelatihan, silat, Bangau Putih, olah tubuh Abstract: The general objective of this research is to develop silat-based movement exercise for the enrichment of body movement courses at the Theater Department. The specific objectives of this study are: (1) to describe the movements of silat Bangau Putih ; (2) identify the movements of silat Bangau Putih for the preparation of body movements; (3) arrange movement exercise based on the motion of the Bangau Putih silat for movement exercise courses in the Theater Department. This research was designed for the course research and development. The research then followed up with the development of methods and application in training and staging. This research is a multi-year study designed in two stages: first, to explore the Bangau Putih silat movements and to identify the movements that can be developed for the body movement exercise course;  second, to design the body movements exercise based on the Bangau Putih silat for the body movement course. The application of the results of the study was carried out to test the feasibility of the body movement exercise designed. Key words: lecture course model, silat, Bangau Putih, body movement exercise
Pemeranan Tokoh Rangda Dalam Naskah Rangda Ing Jirah Karya Jeannete Lauren Adaptasi Novel Janda Dari Jirah Karya Cok Sawitri Surya Chintya Dharma; Wahid Nurcahyono; Catur Wibono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh Rangda Ing Jirah dalam naskah Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang karya Jeannete Lauren menjadi salah satu daya tarik untuk diwujudkan kedalam bentuk tokoh tiga dimensi diatas panggung karena peran yang dimainkan dalam satu karakter tokoh mengalami perkembangan dari tokoh sebagai Rangda Ing Jirah serta kemudian menjadi manifestasi Durga, di mana hal tersebut menggambarkan persona dan shadow seperti yang disampaikan Carl Jung. Pemilihan karakter tokoh Rangda sebagai karya tugas akhir keaktoran dilatar belakangi oleh sudut pandang tentang kisah Calonarang, kali ini tokoh Rangda Ing Jirah ialah tokoh protagonis. Adapun teori pemeranan dalam penciptaan tokoh Rangda Ing Jirah yang digunakkan ialah teori pemeranan representasi menurut Uta Hagen. Dalam merepresentasikannya didukung pula oleh teknik substitusi di mana menempatkan diri aktor dalam kenyataan kehidupan sendiri tanpa menggunakan kata seakan-akan. Pementasan tokoh ini bertajuk dramatari. Selain dialog tokoh, pemeranan akan didukung dengan tembang geguritan serta tarian Bali.Rangda Character Acting in Jeannete Lauren's Play “Rangda Ing Jirah”, Adaptation Of Cok Savitri’s Novel “Janda dari Jirah”The figure of Rangda Ing Jirah in the script Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang by Jeannete Lauren is one of the attractions to be embodied in the form of a three-dimensional character on stage because the role played in one character develops from a character as Rangda Ing Jirah and then becomes the manifestation of Durga, where it describes the persona and shadow as conveyed by Carl Jung. The background of the selection of the character Rangda as his final acting work is the perspective of the Calonarang story, this time the character Rangda Ing Jirah is the protagonist. The role theory used in the creation of the character Rangda Ing Jirah is the theory of representational play according to Uta Hagen. In representing it, it is also supported by substitution techniques in which the actor places himself in the reality of his own life without using the word “as if”. The performance of this character is entitled “dramatari”. In addition to character dialogue, the performance will be supported by “geguritan” songs and Balinese dances.
Penciptaan Wayang Beber Kontemporer Sang Jendral dan Relevansinya Bagi Pendidikan Karakter Sahid, Nur; Sukistono, Dewanto; Arisona, Nanang; Lephen, Purwanto; Farid Sathotho, Surya; Wibono, J. Catur
PANGGUNG Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i1.3753

Abstract

Generasi sekarang kurang mengenal nama pahlawan, kecuali sebagai nama  universitas, jalan, bandara. Mereka lebih mengenal film animasi, drama Korea.  Untuk itu,  peneliti tertarik mengalihwahanakan perjuangan  Jendral Sudirman yang  religius dan  patriotik ke format wayang beber kontemporer. Tujuannya adalah menciptakan wayang beber kontemporer bersumber dari perjuangan Sudirman,  memperkenalkan  pendidikan karakter dari perjuangan Sudirman, dan  menciptakan video pembelajaran bagi siswa kelas VI  SD.  SD.   Penelitian ini menggunakan teori alih wahana. Metode penciptaan menggunakan metode kreativitas  dari Graham Wallas yang mencakup preparation, incubation, illumination, verification.  Hasil penelitian ini berupa pertunjukan (video) paduan wayang beber dengan  monolog, yakni durasi 30 menit, menggunakan Bahasa Indonesia, mengandung nilai nilai pendidikan karakter, tata cahaya dan panggung dibuat menarik, ilustrasi musik  modern dan menggunakan sound effect, narator seorang aktor teater, lukisan wayang  beber berwarna terdiri tiga gulungan, dan tiap gulungan berisi enam adegan.  Penelitian ini berkontribusi dalam menghasilkan model  mengalihwahanakan peristiwa sejarah ke  wayang beber kontemporer.
Pemeranan Tokoh Clara dalam Naskah Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) Karya Seno Gumira Ajidarma Sari, Intan Permata; Sumarno, Rano; Wibono, Joanes Catur
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12558

Abstract

Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) karya Seno Gumira Ajidarma mengisahkan tentang tindakan rasisme dan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat etnis Tionghoa khususnya perempuan. Tragedi ini terjadi pada Mei 1998, dimana tragedi ini terdapat penjarahan, kekerasan, dan pemerkosaan terhadap masyarakat etnis Tionghoa yang dipicu oleh krisis moneter pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. Argumentasi utama dari penciptaan ini berdasar pada peristiwa kekerasan yang menimpa perempuan etnis Tionghoa pada Mei 1998. Penciptaan ini berfokus pada kronologi kejadian dan trauma yang dialami oleh tokoh bernama Clara yang diakibatkan oleh pemerkosaan. Penciptaan karakter tokoh Clara dengan menggunakan pendekatan akting representasi dan menggabungkan panggung teater dengan teknologi media berbentuk imersif. Playing the Character of Clara in the Script “Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After May 13-14, 1998)” by Seno Gumira AjidarmaThe text "Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After 13-14 May 1998)" by Seno Gumira Ajidarma tells the story of the human tragedy, racism and discrimination experienced by the ethnic Chinese community, especially women. This tragedy occurred in May 1998, where this tragedy involved looting, violence and fraud against the ethnic Chinese community which was triggered by the monetary crisis at the end of the New Order government. The main argument of this article is based on the violent incident that befell an ethnic Chinese woman in May 1998. The case in this article focuses on the chronology of events and the trauma experienced by a character named Clara which was caused by this human tragedy. The character creation of Clara uses a representational acting approach and combines the theater stage with immersive technological media.
Revitalisasi Seni Pertunjukan Rakyat Kethoprak di Yogyakarta Wibono, Joanes Catur
Ekspresi Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v10i2.12344

Abstract

Kethoprak revitalization in Yogyakarta. This writing scrutinize kethoprak as one of the performing art varieties that develops along with the age transformation. It is because of its devotees ensure the kethoprak revitalization process to take place. The process is carried out both textually and contextually. The revitalization is not merely done by repeating the show as an action to perpetuate the tradition but also covers undertaking the efforts to improve and to renew it, in its textual as well as contextual aspects, to fulfill the existing demand. Keywords: kethoprak, revitalization, textual, contextual