Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Urban

Identifikasi Dampak Keberadaan Pengolahan Pabrik Kelapa Sawit terhadap Lingkungan berdasarkan Persepsi Masyarakat di Kelurahan Pematang Pudu Kabupaten Benkalis Fajrul Amri; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.73 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1411

Abstract

Abstract. This study aims to identify the impact of the existence of the factory on the environment. The palm oil processing factory was established in 2017, the existence of this palm oil processing has a negative impact on the environment. It is characterized by environmental pollution including: air pollution, river water pollution, and even damage to roads. The analysis used in this research is Land Use Analysis, Scoring Weighting Analysis, Air Quality Analysis, Water Quality Analysis using quantitative descriptive methods. The results of this analysis indicate that the most dominant land use in Pematang Pudu is plantations based on the total area. Air quality conditions based on the results of physical analysis using sentinel 5-P NO2 gas images show that the air quality in Pematang Pudu Village is poor or polluted, this is seen from the 2017 trend of increasing NO2 gas to 2019, while based on public perception, the quality of the air produced Factory chimneys emit thick black smoke and a strong stench. Physical analysis of water quality using the analysis of the pollution index method with laboratory tests showing the results into the heavily polluted category, water sampling was carried out in the upstream and downstream parts of the Pematang Pudu river. Meanwhile, based on the results of community perception by conducting field observations and interviews that the existence of an oil palm processing factory has polluted the pudu river because the waste pool has burst and leads to the river flow. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak keberadaan pabrik terhadap lingkungan. Pabrik pengolahan kelapa sawit berdiri pada tahun 2017, keberadaan pengolahan kelapa sawit ini menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Hal tersebut ditandai dengan adanya pencemaran lingkungan diantaranya : pencemaran udara, pencemaran air sungai , dan bahkan kerusakan pada jalan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Penggunaan Lahan, Analisis Pembobotan Skoring, Analisis Kualitas Udara, Analisis Kualitas Air dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil analisis ini menunjukan bahwa penggunaan lahan yang paling dominan di Kelurahan Pematang Pudu adalah perkebunan berdasarkan jumlah luasan. Kondisi kualitas udara berdasarkan hasil analisis fisik menggunakan citra sentinel 5-P gas NO2 menunjukan bahwa kualitas udara di Kelurahan Pematang Pudu buruk atau tercemar, ini dilihat dari tren tahun 2017 mengalami kenaikan gas NO2 hingga 2019, sedangkan berdasarkan persepsi masyarakat menilai bahwa kualitas udara yang dihasilkan cerobong asap pabrik mengeluarkan asap hitam pekat dan bau busuk yang menyengat. Analisis fisik kualitas air dengan menggunakan analisis metode indeks pencemaran dengan dilakukannya uji laboratorium menunjukan hasil kedalam kategori cemar berat, pengambilan sampel air dilakukan di bagian hulu dan hilir sungai pematang pudu. Sedangkan berdasarkan hasil persepsi masyarakat dengan dilakukannya observasi lapangan dan wawancara bahwa keberadaan pabrik pengolahan kelapa sawit membuat sungai pudu tercemar dikarenakan kolam limbah jebol dan mengarah ke aliran sungai.
Arahan Penggunaan Ruang berdasarkan Tingkat Kekritisan Lahan di Desa Lagadar Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung Irfan hilmi; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.071 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1560

Abstract

Abstract. Critical land is unproductive land and has suffered physical, chemical and water damage. Critical land has an impact on decreasing soil quality, decreasing conservation and production functions. In Lagadar Village, Margaasih District, Bandung Regency. Land use is increasing, for various purposes such as the presence of industry in Lagadar Village as the impact of disturbing environmental sustainability and the existence of mines which can trigger erosion due to soil erosion in mining areas, therefore this incident can trigger land criticality. The purpose of this study was to develop a direction for the use of space based on the critical level of land in Lagadar Village, Margaasih District, Bandung Regency. The analytical method for determining land criticality uses a quantitative descriptive research design by describing the conditions observed in the field and being more specific. And to determine the criticality of land by scoring criticality parameters and map overlays referring to the P.4V-Set/2013 guideline regarding technical guidelines for compiling spatial data on critical land. The results of this study, for critical land, the distribution is in the use of land around mining with a critical land area of ​​about 3.1 Ha or equivalent to 0.74%. Some of the land is somewhat critical in areas around mining, agriculture and some are found in residential areas in Lagadar Village with a slightly critical land area of ​​42.2 Ha or about 9.90%. The direction of land rehabilitation is through vegetative conservation activities and technical civil conservation for handling critical land. Abstrak. Lahan kritis merupakan lahan yang tidak produktif dan telah mengalami kerusakan fisik, kimia, dan tata air. Lahan kritis berdampak kepada penurunan kualitas tanah, penurunan fungsi konservasi serta produksi. Di Desa Lagadar Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Penggunaan lahan semakin bertambah, untuk berbagai kepentingan seperti keberadaan industri di Desa Lagadar menjadi dampak terganggunya keberlangsungan lingkungan dan keberadaan tambang yang dapat memicu terjadinya erosi karena terjadi pengikisan tanah pada wilayah pertambangan, maka dari kejadian tersebut dapat memicu terjadinya kekritisan lahan. Tujuan dari penelitian ini untuk menyusun arahan penggunaan ruang berdasarkan tingkat kekritis lahan di Desa Lagadar Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Metode analisis penentuan kekritisan lahan menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan mendekripsikan keadaan yang diamati dilapangan serta lebih spesifik. Dan untuk penentuan kekritisan lahan dengan skoring parameter kekritisan dan overlay peta yang mengacu kepada pedoman P.4V-Set/2013 tentang petunjuk teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Hasil dari penelitian ini, untuk lahan kritis sebarannya pada penggunaan lahan sekitaran pertambangan dengan luasan lahan kritis sekitar 3,1 Ha atau setara dengan 0,74%. Lahan agak kritis beberapa pada wilayah sekitar pertambangan, pertanian dan terdapat pada beberapa wilayah permukiman di Desa Lagadar dengan luasan lahan agak kritis 42,2 Ha atau sekitar 9,90%. Arahan rehabilitasi lahan adalah melalui kegiatan konservasi secara vegetatif dan konservasi sipil teknis untuk penanganan kekritisan lahan. Kata Kunci: Lahan Kritis, Rehabilitas, Dampak.
Kajian Kualitas Air Sub DAS Citanduy Menggunakan Metode Indeks Pencemaran dan Keterkaitannya dengan Guna Lahan Rahmi Zulhayati Hanifah; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.771 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1986

Abstract

Abstract. One of the resources that is used regularly is water. The water quantity and quality is influenced by land use. If land use in watersheds are not accompanied by management and maintenance can cause erosion and deposition and increase critical land. Watersheds are ecosystems that have interrelated components either directly or indirectly. Based on the BPLHD of West Java Province in 2012, water quality status in Citanduy Watershed in all locations is heavily polluted. Thus, this study aims to examine the water quality of Citanduy River, Cimuntur River, Ciseel River and identify the impact caused by land use on the water quality of the river. The analysis used in this study is the analysis of clean water quality using the Pollution Index (PI) method and land use classification analysis. The result of this research is dominant land-use area is plantations of 34.3% with an area of 115,924 hectares. The smallest land-use area for residential land is 12.7% with an area of 43,177 hectares. At each site the water quality status is lightly polluted and does not fulfill the river water quality standard class 1. Sub-watershed Citanduy Hulu sites 1 and 2 have PIs 4.32 and 4.82. In Cimuntur Sub-watershed sites 3 and 4 have PIs 4.35 and 4.72. In the Cijolang sub-watershed sites 5 and 6 have PIs of 3.29 and 3.90. The Ciseel sub-watershed sites 7 and 8 have an PI of 3.50 and 4.31 and on the Citanduy River with the Combined Watershed it has an PI value of 3.7. Abstrak. Salah satu sumber daya yang dimanfaatkan secara berkala yaitu air. Kondisi kuantitas dan kualitas air dipengaruhi penggunaan lahan di sekitar sungai. Perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai tidak disertai dengan upaya pengelolaan dan pemeliharaan dapat menyebabkan erosi dan pengendapan serta menambah lahan yang kritis. Daerah aliran sungai merupakan ekosistem yang memiliki komponen saling terkait baik langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan BPLHD Provinsi Jawa Barat pada tahun 2012, Status mutu air di Daerah Aliran Sungai Citanduy seluruh lokasi tercemar berat. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas air pada Sungai Citanduy, Sungai Cimuntur, Sungai Ciseel dan mengidentifikasi dampak yang disebabkan oleh guna lahan pada kualitas air sungai tersebut. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis kualitas air bersih menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) dan analisis klasifikasi guna lahan. Hasil dari penelitian ini adalah luas penggunaan lahan dominan adalah kebun sebesar 34,3% dengan luas 115.924 hektar. Luas penggunaan lahan paling kecil guna lahan permukiman sebesar 12,7% dengan luas 43.177 hektar. Pada setiap site status mutu air adalah cemar ringan dan tidak memenuhi baku mutu air sungai pada kelas 1. Sub DAS Citanduy Hulu site 1 dan 2 memiliki IP 4,32 dan 4,82. Pada Sub DAS Cimuntur site 3 dan 4 memiliki IP 4,35 dan 4,72. Pada Sub DAS Cijolang site 5 dan 6 memiliki IP 3,29 dan 3,90. Pada Sub DAS Ciseel site 7 dan 8 memiliki IP 3,50 dan 4,31 serta pada Sungai Citanduy dengan DAS Gabungan memiliki nilai IP 3,7.
Kajian Kerentanan Bencana Longsor yang Ditimbulkan oleh Alih Fungsi Lahan Belinda Cyrena Khairunnisa; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.281 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.2719

Abstract

Abstract. Lembang subdistrict is an administration located in the area of the foot of Mount Tangkuban Parahu which greatly affects the shape of the topography. The geographical shape of Lembang District consists of two formations including iereng or ridge and plains. Lembang sub – district has a slope between 8 - >40% so that puts the Lembang Sub-District as a disaster-prone area. In 2022 there was a landslide in Kampung Cikole, Cikole village RT 3 RW 6 which threatened 3 residents 'houses, and the last one occurred in April 2022 a landslide caused damage to residents' houses and closed road access precisely in Kampung Sukanagara Pagerwangi Village, Lembang District. The purpose of this study is to determine the level of vulnerability of landslides due to land function aIih and determine the level of vulnerability of landslides due to land function aIih. The study approach used in this study is to use a quantitative descriptive research approach by calculating the vulnerability of landslides and calculate the landslide Vulnerability Index which refers to the regulation of the head of BNPB No. 2 of 2012. The results of this study found that the highest rate of iahan use that occurred in Lembang district was found in the use of residential Iahan from 2011 to 2019 increased by 2,527 Ha, landslides with high potential including Suntenjaya Village, Langensari Village, Mekarwangi Village, Cibogo Village and Cikole Village and the vulnerability of landslides obtained was low vulnerability. Abstrak. Kecamatan Lembang merupakan administrasi yang berada dalam kawasan kaki Gunung Tangkuban Parahu yang dimana sangat mempengaruhi bentuk topografinya. Bentuk geografis Kecamatan Lembang terdiri dari dua bentukan diantaranya lereng atau punggung bukit dan dataran. Wilayah Kecamatan Lembang memiliki kemiringan lereng antara 8 – >40% sehingga menempatkan wilayah Kecamatan Lembang sebagai daerah rawan bencana. Pada tahun 2022 terjadi longsor di Kampung Cikole, Desa Cikole RT 3 RW 6 yang mengancam 3 rumah warga, dan yang terakhir terjadi pada bulan April 2022 terjadi longsor yang mengakibatkan kerusakan rumah warga dan menutup akses jalan tepatnya di Kampung Sukanagara Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan tingkat kerawanan bencana longsor akibat alih fungsi lahan dan menentukan tingkat kerentanan bencana longsor akibat alih fungsi lahan. Pendekatan studi yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menghitung kerawanan bencana longsor dan menghitung indeks kerentanan bencana longsor yang mengacu pada Peraturan Kepala BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil dari penelitian ini didapatkan laju penggunaan Iahan yang terjadi di Kecamatan Lembang tertinggi terdapat di penggunaan lahan permukiman dari tahun 2011 ke 2019 mengalami peningkatan seIuas 2.527 Ha, longsor dengan potensi tinggi diantaranya Desa Suntenjaya, Desa Langensari, Desa Mekarwangi, Desa Cibogo dan Desa Cikole serta kerentanan bencana longsor yang didapatkan adalah kerentanan rendah.
Pengaruh Kegiatan Industri terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang Muhammad Luthfi Abdul Wahid; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.664 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3331

Abstract

Abstract. Based on the Regional Regulation of Subang Regency Number 3 of 2014 concerning Spatial Planning for the RTRW of Subang Regency in 2011-2031, it explains that Cibogo District is one of the industrial designation areas (KPI) in Subang Regency, this study aims to determine the influence of industry on the socio-economic conditions of the community by industrial activities in Cibogo District. The object of research is all people who live in Cibogo sub-district with the criteria men and women of productive age and working in industry or being affected by industrial activities. The method used is multiple linear regression . Based on the results of F test, significance value for the influence of the existence of industry (Y) on the socio-economic conditions of the community (X) is 0.014 < 0.050 and f count 6.242 > f table 3.94 then reject Ho accept Ha means that there is an influence of the existence of industry (X) on the socio - economic condition of the community ( Y ) is significant . Based on the table of T test results, significance value for the influence of the existence of industry (Y) on the socio-economic conditions of society (X) is 0.014 < 0.050, and T count is 2,498 > T table 1,984 then reject Ho accept Ha which means there is an influence of the existence of industry ( X ) on the socio - economic conditions of the community ( Y ) significantly . Abstrak. Berdasarkan Perda Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Kabupaten Subang tahun 2011 – 2031 menjelaskan Kecamatan Cibogo menjadi salah satu kawasan peruntukan industry ( KPI ) di Kabupaten Subang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh industry terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan adanya kegiatan industry di Kecamatan Cibogo . Objek penelitian yaitu seluruh masyarakat asli yang tinggal di kecamatan cibogo dengan kriteria laki-laki dan perempuan usia produktif dan bekerja di industri atau terdampak oleh adanya kegiatan industri . Metode yang digunakan yaitu regresi linier berganda . Berdasarkan hasil uji F dapat diketahui nilai signifkansi untuk pengaruh keberadaan industry ( Y ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( X ) adalah sebesar 0.014 < 0.050 dan f hitung 6.242 > f tabel 3.94 maka tolak Ho terima Ha artinya terdapat pengaruh keberadaan industry ( X ) terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat ( Y ) secara signifkan . Berdasarkan tabel hasil uji T dapat diketahui nilai signifkansi untuk pengaruh keberadaan industry ( Y ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( X ) adalah sebesar 0.014 < 0.050 , dan T hitung 2.498 > T tabel 1.984 maka tolak Ho terima Ha yang artinya terdapat pengaruh keberadaan industry ( X ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( Y ) secara signifkan .
Analisis Kerentanan Bencana Banjir di Kabupaten Majalengka: Studi Kasus: Kecamatan Kertajati Fauziah Al-Amin; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.946 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3561

Abstract

Abstract. Kertajati District is one of the sub-districts that has become an Industrial Designated Area (KPI) in the Rebana Metropolitan New Urban and Industrial Estate program. In line with the program, Kertajati District has been equipped with various adequate infrastructure, such as West Java International Airport (BIJB) and Cikopo - Palimanan (Cipali) Toll Road, one of which is located in Kertajati District, Pakubeureum Village to be exact. However, when the flood occurred in February 2021, the flood submerged 5 (five) villages in Kertajati District and submerged the arterial route to BIJB and GT Kertajati with a height of 70 cm - 1 meter. As a result, GT Kertajati was temporarily closed and drivers were advised to leave in GT Sumberjaya or GT Cikedung. This study aims to analyze the vulnerability of floods that occurred in Kertajati District. The method used in this research is descriptive quantitative by calculating social vulnerability index, physical vulnerability index, economic vulnerability index and environmental vulnerability index. 2 of 2012 and the Technical Module for the Study of Flood Disaster Risk. The results of this study are the index of vulnerability to flooding in Kertajati District is in the medium to high class. Abstrak. Kecamatan Kertajati merupakan salah satu kecamatan yang menjadi Kawasan Peruntukan Industri (KPI) dalam program Kawasan Industri dan Perkotaan Baru Rebana Metropolitan. Selaras dengan program tersebut, maka Kecamatan Kertajati sudah dilengkapi berbagai infrastruktur yang memadai, seperti Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan Jalan Tol Cikopo - Palimanan (Cipali) yang salah satu Gate Tol nya berada di Kecamatan Kertajati, tepatnya di Desa Pakubeureum. Namun, saat banjir yang terjadi pada Februari tahun 2021 lalu, banjir tersebut merendam sebanyak 5 (lima) Desa di Kecamatan Kertajati serta merendam jalur arteri menuju ke arah BIJB dan GT Kertajati dengan ketinggian 70 cm – 1 meter. Akibatnya, GT Kertajati ditutup sementara dan pengendara diimbau untuk keluar di GT Sumberjaya atau GT Cikedung. Penelitian ini bertujuan untuk meganalisis kerentanan bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Kertajati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menghitung indeks kerentanan sosial, indeks kerentanan fisik, indeks kerentanan ekonomi dan indeks kerentanan lingkungan untuk kemudian dilakukan pemodelan spasial sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 dan Modul Teknis Kajian Risiko Bencana Banjir. Hasil dari penelitian ini adalah indeks kerentanan bencana banjir di Kecamatan Kertajati berada pada kelas sedang hingga tinggi.
Kajian Pendekatan Willingness To Accept terhadap Dampak Kegiatan Pertambangan Batu Andesit di Desa Lagadar Maryam Ya Muhaemin; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.059 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3667

Abstract

Abstract. Lagadar Village is one of the villages that has the potential in the form of mining, the mining location is less than 100 meters with settlements below, the impact of environmental degradation and social impacts can be handled, one of which is Willingness To Accept. This study aims to conduct a study using the Willingness To Accept approach to the impact of andesite mining activities in Lagadar Village. The approach method used in this study is mixed methods, with descriptive analysis methods, contingent valuation methods, and multiple linear regression. The results of the study show that there are indirect and direct impacts caused by mining activities, namely the absorption of local labor by 69% of 32 workers, 9.83 ha of mining activities are at a level prone to high ground movement which is at risk of erosion, along 1,296 meters of road conditions to Mining activities suffer damage in the form of bumpy roads, cracks, and potholes. Changes in the landscape of ±14.33 Ha within 10 years, 53% of the people felt the vibrations from the blasting, 51% of the people felt that the noise interfered with hearing and activities, and 18% felt that air pollution had occurred in the form of dust and arid. It shows that 59% of respondents are willing to receive compensation funds and 41% of respondents are not willing to receive compensation funds. The estimated average value of WTA in the radius closest to the impact is 0-100 m of IDR 455,200 / month / family, and the total value of WTA is IDR 3,351,439,800, the amount of WTA value is positively influenced by the number of family dependents and is influenced by factors residence distance negatively. Abstrak. Desa Lagadar merupakan salah satu desa yang memiliki potensi berupa pertambangan, lokasi pertambangan berjarak kurang dari 100 meter dengan permukiman di bawahnya, adanya dampak penurunan kualitas lingkungan dan dampak sosial dapat ditangani salah satunya dengan Willingness To Accept. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian dengan menggunakan pendekatan Willingness To Accept terhadap dampak kegiatan pertambangan batu andesit di Desa Lagadar. Metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu mixed methods, dengan metode analisis deskriptif, contingent valuation method, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian terdapat dampak secara tidak langsung dan langsung yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan yaitu penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 69% dari 32 pekerja, 9,83 Ha kegiatan tambang berada pada tingkat rawan gerakan tanah tinggi yang berisiko terjadinya erosi, sepanjang 1.296 meter kondisi jalan menuju kegiatan pertambangan mengalami kerusakan berupa jalan bergelombang, retak, dan berlubang. Perubahan bentang alam sebesar ±14,33 Ha dalam kurun 10 tahun, 53% masyarakat merasakan getaran dari peledakan, 51% masyarakat merasakan kebisingan mengganggu pendengaran dan aktivitas, serta 18% merasakan telah terjadinya polusi udara berupa debu dan gersang. Menunjukkan bahwa sebesar 59% responden bersedia menerima dana kompensasi dan 41% responden tidak bersedia menerima dana kompensasi. Didapatkan nilai estimasi rata-rata WTA pada radius paling dekat dengan dampak yaitu 0-100 m sebesar Rp 455.200 /bulan/KK, dan nilai total WTA sebesar Rp 3.351.439.800, besaran nilai WTA dipengaruhi oleh jumlah tanggungan keluarga secara positif dan dipengaruhi oleh faktor jarak tempat tinggal secara negatif.