Ningsih, Rika
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM AKUN TIKTOK @SHABIRAALULA&AYAH Yeni Maryati; Rika Ningsih
Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Vol. 13 No. 2 (2023): Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/literasi.v13i2.8839

Abstract

Tindak tutur ekspresif pada akun TikTok @Shabriaalula&Ayah ini bertujuan yang bertujuan untuk mengeksplorasi serta meelaborasi tindak tutur ekspresif dalam akun TikTok ShabiraAlula&Ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dari penelitian ini yaitu dengan cara teknik catat dan teknik simak. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui tindak tutur ekspresif oleh Shabira Alula Adnan. Langkah-langkah analisis data adalah (1) Mentranskripkan data tuturan Shabira Alula Adnan, (2) mengidentifikasi jenis dan konteks tutur. (3) menafsirkan interpretasinya yang berkaitan dengan klasifikasi tuturan yang menjadi objek kajian (4) menginventarisasikan semua temuan, (5) memaparkan argument atas data yang telah diinventarisasikan sesuai dengan objek kajian (6) menarik kesimpulan. Sumber tuturan data penelitian ini yaitu semua tuturan Shabira Alula Adnan pada akun TikTok @Shabiraalula&Ayah yaitu postingan 01 Januari sampai dengan postingan 04 April 2023. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui empat jenis tindak tutur yaitu tindak tutur ekspresif mengkritik, tindak tutur ekspresif memuji, tindak tutur ekspresif menyalahkan dan tindak tutur ekspresif mengeluh. Dalam penelitian menunjukkan banyak terdapat tindak tutur ekspresif mengkritik dari penutur dibandingkan tindak tutur ekspresif memuji, tindak tutur ekspresif menyalahkan dan tindak tutur ekspresif mengeluh.
PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA MAKSIM KEARIFAN DI DALAM KOLOM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM NADIEM MAKARIM DI POSTINGAN HARI GURU SEDUNIA Muliana Sari; Rika Ningsih
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 8, No 3 (2023): LINGUISTIK: JURNAL BAHASA & SASTRA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/linguistik.v8i3.548-560

Abstract

Language politeness is essentially an ethic of socializing in society. When speaking is done politely, a person is able to maintain his own dignity and respect for others. Politeness of a person can also be seen from the use of language. Language is principally a tool for communicating and exchanging information with the interlocutor. A language process is said to be running well if the meaning conveyed by the speaker to the interlocutor can be understood and does not cause misinterpretation. Maxims are principles that must be obeyed by speech participants in interacting, both textually and interpersonally in expediting the course of the communication process. The problem studied in this study is how politeness in the language of netizens applies to the maxim of wisdom in the comments column on the World Teacher's Day post on Nadiem Makarim's Instagram account. The purpose of this study is to find out politeness in the language of netizens on the maxim of wisdom in the comments column on World Teacher's Day posts on Nadiem Makarim's Instagram account. The main theory used in this research is Leech's theory. The research data is in the form of comments from netizens that contain the maxim of wisdom contained in the comment column on Nadiem Makarim's Instagram account. The approach used is a qualitative approach. The method used is content analysis method. Data collection techniques that the authors use are documentation techniques, reading techniques and note-taking techniques. The data analysis technique that the author uses is content analysis technique or content analysis. The research results obtained in the principle of politeness in the maxim of wisdom in the comments column of Nadiem Makarim's Instagram account in the World Teacher's Day post, namely that there were as many as 30 utterances included in the maxims of wisdom.
KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET DALAM KOLOM KOMENTAR INSTAGRAM @JOKOWI ‘RUANG CAKAP DIGITAL’ Rezki Dwi Salsabil; Rika Ningsih
JURNAL KONFIKS Vol 10, No 1 (2023): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/konfiks.v10i1.10770

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh survei yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bekerja sama dengan Katadata Insight Center (KIC) dengan tema “Indeks Literasi Digital Indonesia”, survei tersebut melaporkan bahwa pilar etika digital (digital Etchics) pada indeks literasi digital tahun 2021 mengalami penurunan dibandingkan indeks literasi digital tahun 2020. Pilar etika digital (digital Etchics) pada indeks literasi digital tahun 2020 berada pada skor 3,72, sementara pada tahun 2021 mendapat skor 3,53. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi kesantunan berbahasa warganet dalam kolom komentar Instagram @jokowi postingan “Ruang Cakap Digital” merujuk pada skala kesantunan Leech. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode analisis isi. Teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi, dokumentasi, Teknik simak bebas libat cakap. Teknik analisis data Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi, Bungin sebagai berikut: Identifikasi, Coding, Klasifikasi, Analisis, dan Deskripsi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka diperoleh kesimpulan bahwa kesantunan berbahasa warganet dalam kolom komentar Instagram @jokowi diukur dengan skala kesantunan Leech lebih dominan tidak santun. Sementara skala kesantunan yang paling banyak dirujuk yaitu ketidaklangsungan dengan total hasil analisis sebanyak 80. Sedangkan skala kesantunan paling sedkit dirujuk yaitu jarak sosial dengan total hasil analisis sebanyak 13.
Tindak Tutur Ekspresif dalam Perspektif Cyberpragmatics Fatmawati Fatmawati; Rika Ningsih
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i1.3165

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beragamnya fungsi tindak tutur ekspresif berdasarkan cyberpragmatics. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah fungsi-fungsi tindak tutur ekspresif berdasarkan perspektif cyberpragmatics. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi fungsi-fungsi tindak tutur ekspresif berdasarkan perspektif cyberpragmatics. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode analisis isi. Sumber data dalam penelitian ini adalah aktivitas berbahasa yang terdapat dalam kolom komentar akun Instagram @detikcom yang diposting pada tanggal 9 Juni 2023 berjumlah 2509 komentar. Data dalam penelitian ini adalah seluruh tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam kolom komentar yang berjumlah 511 tuturan. Pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik yakni teknik dokumentasi dan teknik baca. Analisis data dilakukan dengan identifikasi data, klasifikasi data, dan interpretasi hasil penelitian. Setelah dilakukan rangkaian prosedur penelitian, diperoleh 13 fungsi tindak tutur ekspresif yakni fungsi memuji, mengucapkan terima kasih, memohon maaf/memaafkan, menyalahkan, mengucapkan belasungkawa, menuduh, menaruh simpati, mengeluh, mencaci, mendukung, menolak, dan mengejek. Fungsi tindak tutur ekspresif yang dominan muncul adalah fungsi menolak. Sikap psikologis yang menyebabkan muncul tindak tutur ekspresif menolak dalam perspektif cyberpragmatics adalah tidak suka, kesal, marah, dan kecewa. Sementara itu, fungsi tindak tutur yang tidak ditemukan adalah fungsi tindak tutur ekspresif menyelak, mengucapkan selamat, menyambut, dan mengampuni. Ketidakmunculan fungsi-fungsi tindak tutur ekspresif tersebut berkaitan dengan konten postingan yang tidak mendukung. Berdasarkan perspektif cyberpragmatics, kemunculan fungsi-fungsi tindak tutur ekspresif berbeda-beda tergantung konten postingan yang ditampilkan.
Realitas Kesantunan Berbahasa Gen-Z di Era Digital Rika Ningsih; Fatmawati Fatmawati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i1.3167

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ditemukan banyaknya ketidaksantunan berbahasa Gen Z (mahasiswa) ketika berkomunikasi dengan dosen. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah realitas kesantunan berbahasa Gen Z (mahasiswa). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kenyataan kesantunan berbahasa Gen Z (mahasiswa) dalam berkomunikasi melalui media sosial Whatsapp dengan dosennya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data dalam penelitian ini adalah aktivitas berbahasa yang terdapat dalam chat mahasiswa kepada dosennya pada aplikasi Whatsapp. Data dalam penelitian ini adalah chat mahasiswa yang mengandung skala kesantunan berbahasa Leech. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi, FGD, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan sesuai dengan prosedur penelitian analisis isi yaitu coding, klasifikasi, analisis dan deskripsi. Berdasarkan pengumpulan dan analisis data penelitian ditemukan 162 data chat mahasiswa yang mengandung beberapa skala kesantunan Leech. Skala kerugian dan keuntungan (Cost- benefit scale) ditemukan sebanyak 14 data. Skala pilihan (Optionality scale) ditemukan sebanyak 21 data. Skala ketidaklangsungan (Indirecness scale) ditemukan sebanyak 31 data. Skala keotoritasan (Authority scale) ditemukan sebanyak 25 data. Skala jarak sosial (Social distance scale ) ditemukan sebanyak 25 data. Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini simpulan. Pertama, mahasiswa (Gen Z) kurang memperhatikan kesantunan dalam berbahasa. Hal tersebut tergambar dari banyaknya pelanggaran skala kesantunan Leech yang ditemukan dalam penelitian ini. Kedua, mahasiswa (Gen Z) tidak bisa lagi menempat posisinya sebagai mahasiswa yang seharusnya santun berbahasa kepada orang yang lebih tua dalam hal ini adalah dosennya. Ketiga, kesantunan berbahasa mahasiswa (Gen Z) dipengaruhi oleh teknologi yang sedang berkembang saat ini.
Analyzing Expressive Speech Acts in Comments on ‘Teacher Welfare Issues in the National Education System Bill’ Dini Artini Dini; Rika Ningsih Rika
JURNAL ARBITRER Vol. 10 No. 3 (2023)
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/ar.10.3.283-291.2023

Abstract

 This research aims to explain and describe expressive speech acts in the comment section of the Ministry of Education and Culture’s YouTube account “Peel Through the Issue of Teacher Welfare in the Sisdiknas Bill”. The comment section contained seventy examples of expressive speaking activities which analyzed using qualitative approach. Results indicate the presence of 70 instances of expressive speech acts within the comment column, categorized as follows: expressions of gratitude (36), apologies (1), praise (16), complaints (5), and expressions of happiness or pleasure (12). The present study provides significant contributions to the understanding of the many forms and functions of expressive speech acts in virtual communication environments. Through the exploration of the diverse range of expressive speech acts observed inside the comment part of this renowned YouTube account, this study enhances our comprehension of contemporary communication dynamics. Moreover, the conducted research not only paves the way for future inquiries but also holds significant practical consequences for instructional practices in educational settings. Promoting digital literacy and effective communication skills in kids requires an understanding of how people express themselves in digital spaces. Educators have the opportunity to integrate these research findings into their instructional programs and facilitate debates regarding internet communication etiquette, thereby cultivating a generation that is more equipped with knowledge and skills in the digital realm. In summary, this study provides light on the nuances of expressive speech acts in digital contexts and establishes the groundwork for future research in this dynamic field of communication.
TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM KOLOM KOMENTAR DI PODCAST DEDDY CORBUZIER PADA EPISODE KULIAH TIDAK PENTING Andriyanti Adrisilvia; Rika Ningsih
SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 11, No 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32682/sastranesia.v11i4.3408

Abstract

Ilmu Bahasa Indonesia memiliki kajian ilmu pragmatik salah satunya adalah tindak tutur. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi dan mengelaborasi  tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam kolom komentar di Podcast Deddy Corbuzier pada episode Kuliah tidak Penting. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data dalam penelitian ini adalah semua aktivitas berbahasa yang mengandung bentuk tuturan ekspresif. Sumber datanya adalah komentar utama yang ada di dalam podcast Deddy Corbuzier pada episode Kuliah tidak Penting. Teknik pengumpulan data adalah teknik dokumentasi, baca, dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah pemberian kode, klasifikasi data, menganalisis dan mencari hubungan, dan draf laporan. Hasil dari penelitian ini terdapa tindak tutur ekspresif yang berisi ungkapan terimakasih, mmemberi selamat, minta maaf, menyalahkan, memuji, dan belasungkawa. Simpulan dari penelitian ini adalah bentuk tindak tutur ekpresif yang paling banyak ditemukan adalah bentuk tindak tutur ekspresif memuji, hal tersebut disebabkan karena banyaknya warganet yang memuji Bapak Nadiem Makarim karena beliau memberikan hal yang positif kepada masyarakat. Selanjutnya, yang paling sedikit adalah bentuk tindak tutur memberi selamat. Implikasi dalam penelitian ini adalah dapat dijadikan refrensi sebagai alternative modul ajar pembelajaran Bahasa Indonesia tentang teks ulasan.