Dudi Muhammad Wildan
Department Of Aquatic Resources Management, Faculty Of Fisheries And Marine Science, IPB University, Agatis Street, Campus Of IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENDUGAAN PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI PERAIRAN KARANGSONG, INDRAMAYU, PROVINSI JAWA BARAT Iqra Putra Sanur; Sulistiono Sulistiono; Yonvitner Yonvitner; Dudi Muhammad Wildan; Ayu Ervinia
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2880.965 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.12.27-38

Abstract

Mudcrab (Scylla serrata Forskal) is one of several dominant species in the fish production from Karangsong coastal waters, Indramayu Regency. However, effort to manage the mudcrab in the waters is still limited. This study aimed to estimate a growth of the mudcrab as a base for crab management at the waters. Monthly sampling of the crab in the study area was conducted according to fisherman catch using bamboo trap for 4 months (Juni-September 2013). Carapace width and weight were employed for calculating frequency distribution, growth pattern, and growth. Growth estimation of the crab was calculated using Von Bertalanffy equation. This study revealed that the carapace width of the mudcrab ranged of 60-138 mm (male), and 74-139 mm (females). Crab’s growth patterns of the mud crab was negative allometric, W = 0.0003L2.8793 (male) dan W = 0.003L2.3210 (female). Through analysis of growth parameter estimation, it was obtained the following equatiosn: Lt = 157.35 [1-e(-0.39(t+0.26)] (male), and Lt = 147.99 [1-e(-0.42(t+0.24)] (female).
Kemampuan Kijing Lokal (Pilsbryoconcha exilis) Mereduksi Limbah Organik Budidaya Ikan Sidat (Anguilla sp.) Dudi Muhammad Wildan; Ridwan Affandi; Niken Tunjung Murti Pratiwi
Musamus Fisheries and Marine Journal Volume 4 Number 1, October 2021
Publisher : Faculty of Agriculture Musamus University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mfmj.v0i0.3532

Abstract

The release of organic waste into the waters due to the Eel (Anguilla sp.) rearing activity will cause eutrophication. Efforts to reduce organic waste can be done by using local mussel (Pilsbryoconcha exilis) because it has biofiltration capabilities. The purpose of this study was to determine the ability of local mussels in reducing organic waste. The research design used in this study was a randomized block design (RBD), with treatment in the form of differences in waste concentration (50% and 100%), while the group was in the form of differences in the size of the gravestone (small, medium, and large). The results showed that mussel was able to reduce organic matter, the effective time of local mussel (P. exilis) to reduce organic waste from the cultivation of eel (Anguilla sp.) Was in the first 6 days. The most effective treatment is the use of 100% waste concentration and small mussel. This treatment was able to reduce COD values ​​by 66.1 mg/L (28%), turbidity by 187.2 NTU (16%), TSS by 134 mg/L (36%), and ammonia by 0.004 mg/L (24%), and increased biomass by 7.21 grams (3%).
KEMAMPUAN IKAN TAWAR MENCERNA MIKROPLASTIK SECARA IN VITRO Dudi Muhammad Wildan; Lia Sutiani; Ridwan Affandi
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3199.028 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.13.209-220

Abstract

Microplastics that pollute waters can accumulate and clog in the digestive tract of fish. It is still not well known whether microplastics can be digested by fish or not. Therefore, this research is important. The purpose of this study was to analyze the ability of digestive fluids in fish to digest microplastics in vitro. This research was conducted from January to April 2021 at the Laboratory of Aquatic Animal Physiology and Environmental Productivity (ProLing), Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University, Bogor. This research consisted of two stages, namely preliminary research (prelim test) and core research (core test). The parameters observed consisted of the digestive fluid performance (temperature, pH, turbidity) and microplastic conditions (size, color, and shape). The measurement results for each parameter of the digestive fluid performance of catfish (carnivore) and tilapia (omnivore) showed that there was no significant change in value for each treatment. Observation of the condition of microplastics after testing also showed no change in microplastics. This proved that in vitro fish digestive fluids were unable to digest microplastics.
KARAKTER BIOMETRIK DAN FISIOLOGIS BENIH IKAN SIDAT (Anguilla sp.) DI MUARA SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT: KARAKTER BIOMETRIK DAN FISIOLOGIS BENIH IKAN SIDAT (Anguilla sp.) DI MUARA SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT Aulia Nur Larasati; Ridwan Affandi; Mohammad Mukhlis Kamal; Dudi Muhammad Wildan
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 1 (2025): FEBRUARY 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.1-11

Abstract

Teluk Palabuhan Ratu merupakan tempat bertemunya beberapa muara sungai, antara lain Sungai Cimandiri, Sungai Ciletuh, Sungai Cikaso, dan Sungai Cibuni, yang merupakan jalur masuknya glass eel atau benih ikan sidat (Anguilla spp.) dari perairan laut ke muara-muara tersebut. Sungai yang berbeda memiliki kondisi kualitas air yang berbeda. Kondisi kualitas air yang berbeda ini akan menyebabkan adanya perbedaan kualitas dan kuantitas benih ikan sidat yang masuk ke muara tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi yang memiliki benih unggul dan benih yang mutunya rendah berdasarkan karakteristik biometrik dan tingkat stres benih sidat di beberapa muara di selatan Sukabumi, Jawa Barat. Informasi yang diperoleh akan dijadikan dasar dalam menetapkan lokasi yang memiliki potensi benih sidat unggul dan menetapkan lokasi yang perlu dikonservasi dan rehabilitasi. Penelitian dilakukan di empat lokasi yaitu Muara Sungai Cimandiri, Ciletuh, Cibuni, dan Cikaso, dari bulan Desember 2021-Januari 2022 waktu tersebut merupakan waktu puncak ruaya benih sidat. Parameter yang diamati meliputi fisika dan kimia air, biometrik, dan glukosa darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap lokasi memiliki nilai parameter fisika dan kimia air yang berbeda-beda, akan tetapi memiliki tingkat stres yang relatif sama. Nilai biometrik benih ikan sidat terbaik terdapat pada benih sidat yang berasal dari Muara Sungai Cimandiri, sedangkan benih yang mutunya rendah adalah benih yang ditangkap di Muara Sungai Cibuni. Oleh sebab itu, sidat yang cocok untuk kegiatan budidaya berasal dari Muara Sungai Cimandiri, sedangkan lokasi sidat yang perlu di konservasi adalan Muara Sungai Cibuni.
VARIASI GLUKOSA DAN KORTISOL: STUDI AWAL RESPONS FISIOLOGIS KEPITING BAKAU SETELAH KEGIATAN TRANSPORTASI: VARIASI GLUKOSA DAN KORTISOL: STUDI AWAL RESPONS FISIOLOGIS KEPITING BAKAU SETELAH KEGIATAN TRANSPORTASI Sulistiono Sulistiono; Marisa Marisa; Dudi Muhammad Wildan; Wildan Nurussalam
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 1 (2025): FEBRUARY 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.85-91

Abstract

Sistem pengangkutan kepiting bakau (Scylla spp.) yang selama ini dilakukan oleh masyarakat dengan meletakkan pada kotak sterofoam diperkirakan dapat menjadi pemicu tingkat stress pada biota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai variasi glukosa dan kortisol kepiting bakau sebagai respons fisiologis setelah kegiatan transportasi. Analisis dilakukan terhadap 2 kelompok populasi kepiting bakau (I-Februari dan II-Maret 2024). Masing-masing populasi diamati sebanyak 3 kali, yaitu populasi kepiting yang baru datang dari pengambilan di lapang (H0), populasi kepiting yang sudah dipelihara 5 hari (H5), dan populasi kepiting yang sudah dipelihara selama 10 hari (H10) di karanjang plastik (30x25x20 cm3) dalam bak semen (180x180x75 cm3) yang berisi air laut (25 PSU). Kepiting diberi pakan berupa potongan ikan sebanyak dua kali. Pada populasi I, nilai glukosa dan kortisol rata-rata dari perlakuan H0 adalah 78,3±30,5 mg/100ml dan 0,5±0,1 ng/dL, pada H5 berkisar 42,7±4,9 mg/100ml dan 1,0±0,3 ng/dL, dan pada H10 berkisar 47,0±8,5 mg/100ml dan 0,6±0,2 ng/dL. Pada populasi II, pada H0 berkisar 60,4±37,4 mg/100ml dan 0,5±0,2 ng/dL, pada H5 berkisar 44,2±3,6 mg/100ml dan 0,9±0,3 ng/dL, dan pada H10 berkisar 75,2±19,7 mg/100ml (glukosa). Berdasarkan pengamatan tersebut, nilai glukosa pada kedua populasi kepiting bakau bervariasi (3,6-37,4 mg/100ml), dan melalui ANOVA nilai tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05). Namun demikian terdapat tren penurunan pada H0 sampai H5.
Pelatihan Teknologi Wanamina Dan Manajemen Usaha Kepada Pembudidaya Kepiting Di Muaragembong, Bekasi Dudi Muhammad Wildan; Gatot Yulianto; Nurul Hidayati; Auliaullah Nabighah
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.7970

Abstract

Kelompok Pembudidaya Kepiting Muge Crab di Muaragembong menghadapi permasalahan rendahnya produksi akibat tingkat kematian tinggi dan teknik budidaya yang masih konvensional. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas anggota melalui pelatihan penerapan teknologi wanamina dan manajemen usaha. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan dan praktik langsung pada empat materi: pembuatan wanamina kepiting, pembuatan pakan, pembuatan kolam terpal, dan penyusunan jadwal produksi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kompetensi anggota yang sangat signifikan pada semua materi, dengan rata-rata kenaikan tertinggi pada pembuatan jadwal produksi (89%) dan terendah pada pembuatan kolam terpal (50%). Dampak ekonomi yang dicapai sangat transformatif, dengan produksi kepiting meningkat 400% (dari 5 kg/bulan menjadi 25 kg/bulan) dan pendapatan anggota melonjak 402% (dari Rp.650.000/bulan menjadi Rp.3.262.500/bulan). Disimpulkan bahwa program pelatihan yang komprehensif berhasil meningkatkan kapasitas teknis dan manajerial anggota, yang secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi, sekaligus mendukung kelestarian ekosistem mangrove melalui pendekatan wanamina.