Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

FENOMENA DEGRADASI SAMPAH ORGANIK TERHADAP STABILITAS TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) Fildzah Raudina Mujaddidah; Benno Rahardyan; Enri Damanhuri; Febrian Hadinata
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 23 No. 1 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.1.8

Abstract

Abstrak: Sampah merupakan permasalahan utama di Indonesia dengan persentase pengolahan sampah sebesar 10.09% dan sisanya langsung ditimbun di TPA tanpa ada pengolahan. Sekitar 50%-70% komposisi sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik yang mengalami degradasi seiring berjalannya waktu, dimana proses degradasi tersebut mempengaruhi kesetimbangan karbon di sampah yang merupakan unsur utama dalam sampah organik. Proses degradasi sampah sendiri dapat membentuk lindi, gas (CH4 dan CO2), atau tetap dalam sampah sendiri. Degradasi sampah akan merubah densitas sampah pada timbulan, sehingga mempengaruhi faktor keselamatan dari timbulan. Degradasi sampah secara anaerobik tidak menghasilkan gas, sehingga kemungkinan besar gas CO2 yang seharunya terbentuk cenderung berubah menjadi asam yang terdapat pada lindi karena pH lindi bersifat asam dengan rentang pH 2,02 -4,56 dan nilai DHL yang terus meningkat 2,505 "“ 30,6 mS/cm.  Semakin kecil void ratio dan tekanan pori sampah, maka semakin besar kontak mikroorganisme di sampah yang dapat mempercepat proses degradasi sampah, dimana proses degradasi ini penurunan karakteristik fisik ini dipengaruhi oleh sirkulasi lindi. Faktor keamaan sampah tanpa kompaksi memiliki rentan antara 1,43 "“ 1,91 dengan rata-rata faktor keamaanan 1,685, Faktor keamaan terkompaksi memiliki rentan faktor keamaan 1,26 - 1,93 dengan rata-rata faktor keamanan 1,535, kedua perlakuan secara rata-rata faktor keamanan sampah terkompaksi melewati standar TPA sementara dan permanen. Kata kunci: densitas, faktor keselamatan, kesetimbangan massa karbon, sampah organik Abstract: Solid waste is one of the major problems in Indonesia. The percentage of processed waste is only 10,09, and the rest of it is dumped in the landfill without any treatment. Approximately 50%-70 %  of waste composition in Indonesia is organic waste that can be degraded easily over time. The degradation process affects the carbon mass balance. Organic waste degradation can form leachate, biogas(CH4 and CO2), and solid. Degradation process will change its density and it affects landfill stability, especially its safety factor. The anaerobic organic waste degradation in this study does not produce gas, the CO2 gas that is supposed to be formed tends to turn into acid contained in leachate. It is this that causes acidic pH leach with a pH range of 2,02 to 4,56 and an increasing EC value of 2,505 "“ 30,6 mS / cm. Organic waste degradation affects the its physical changes by changes in decreasing void ratios and pore pressures, as well as increasing density. The smaller the void ratio and higher the pore pressure, the greater the contact of microorganisms in the waste surcafe that can accelerate the process of degradation declined in physical characteristics influenced by leachate circulation. It also affect it SF. The uncompacted waste SF is between 1,43-1,91 and its average is 1, 685. Uncompacted waste SF  is  safe in the temporary and permanent landfill. The compacted waste SF is between  1,26 - 1,93 and its average is 1,535, although some points are below the standard for the temporary landfill and 5 points below the permanent lanfill standard. However, on average, compacted waste SF is safe for temporary and permanent landfill standards. Keywords: density, carbon mass balance, organic waste, safety factor 
KAJIAN EVALUASI DAN ARAHAN ZONASI TPA BATU LAYANG KOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT Reza Wahyudi; Enri Damanhuri; I Made Wahyu Widyarsana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 23 No. 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.2.9

Abstract

Abstrak: : Pengelolaan TPA Batu Layang merupakan suatu permasalahan yang terjadi di Kota Pontianak. Seiring dengan perkembangan Kota Pontianak dengan tingkat pertambahan penduduk diperkirakan sebesar 1,123 % per tahun jumlah penduduk pada tahun 2016  sebesar 653.030 jiwa maka timbunan sampah yang diterima berdasarkan kapasitas pengangkutan sampah yang masuk di TPA sebesar 302 ton/hari dari jumlah produksi sampah 431 ton/hari. Berdasarkan hasil survey lapangan ,persentase cakupan layanan dari TPA Batu Layang yaitu 77 %  pelayanan dari jumlah penduduk Kota Pontianak. Pengolahan disposal sampah yang belum maksimal menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan sekitar seperti  pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara dan berkembangnya vektor penyakit. Hasil pengujian laboratorium terkait kualitas BOD lindi TPA Batu Layang yaitu 818,30 mg/l dan kualitas COD lindi mencapai 1.259 mg/l, kedua indikator tersebut sudah melewati ambang batas maksimal.  Untuk membatasi pemanfaatan ruang sekitar kawasan TPA, maka diperlukan penataan kawasan sekitar sekitar TPA dengan tujuan untuk menetapkan kegiatan dan penggunaan lahan sekitar kawasan TPA. Oleh Karena itu perlu dilakukan penelitian agar TPA Batu Layang  dapat beroperasi sesuai dengan peraturan dalam pengelolaan TPA dan  kesesuaian dalam penataan ruang disekitar kawasan TPA  serta menjadikan TPA Batu Layang menjadi TPA yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Tahap pertama dalam penelitian ini melakukan evaluasi TPA untuk melihat resiko yang ditimbulkan dari adanya aktivitas TPA tersebut. Analisis TPA menggunakan metode penilaian  27 atribut dalam Asian Regional Research Program On Enviromental Technology (ARRPET), evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting TPA, hasil dari evaluasi berupa akumulasi mendapat nilai 566,75. Hasil dari evaluasi menyatakan bahwa TPA Batu Layang memiliki potensi bahaya sedang serta direkomendasikan untuk rehabilitasi segera dan menjadikan TPA yang berkelanjutan. Berdasarkan analisa kesesuaian pola ruang pada RTRW dengan PERMEN PU Nomor 19 Tahun terdapat tidak kesesuaian oleh karena itu berdasarkan aturan tersebut, daerah sekitar TPA dengan radius 500 meter semestinya digunakan antara lain industri daur ulang, ruang terbuka hijau dan hutan rakyat.  Kata kunci: ARRPET, evaluasi TPA, kawasan sekitar TPA, zonasi Abstract : The management of  Batu Layang landfill  is a problem that occurred in Pontianak City. Along with the development of the city of Pontianak with an estimated population increase of 1.123% per year the population in 2016 amounted to 653,030 people then the garbage pile received based on garbage transport capacity in the landfill of 302 tons / day from the amount of waste production 431 tons / day. Based on the result of field survey, the percentage of service coverage from TPA Batu Layang is 77% service from population of Pontianak City. The processing of waste disposal that has not been maximally causes various negative impacts on the environment such as water pollution, soil contamination, air pollution and the development of disease vectors. The results of laboratory tests related to the BOD leachate quality of the Layang Landfill is 818,30 mg / l and the quality of COD leachate reaches 1,259 mg / l, both indicators have passed the maximum threshold. To limit the utilization of space around the landfill area, it is necessary to arrange the area around the landfill in order to establish activities and land use around the landfill area. Therefore, research needs to be done so that TPA Batu Layang can operate in accordance with regulations in landfill management and suitability in spatial arrangement around TPA area and make TPA Batu Layang become landfill with environment and sustainable view. The first stage in this study conducted a landfill evaluation to see the risks posed by the landfill activity. TPA analysis used the method of appraisal of 27 attributes in Asian Regional Research Program On Environmental Technology (ARRPET), the evaluation was conducted to determine the condition of existing landfill, the result of evaluation in the form of accumulation got the value 566,75. The results of the evaluation indicate that the Batu Layang landfill has potential for moderate hazards and is recommended for immediate rehabilitation and sustainable landfill. Based on the analysis of spatial pattern suitability in RTRW with Public Work Regulation Number 19   there is no compliance therefore based on the regulation, the area around landfill with 500 meter radius should be used such as recycling industry, green open space and community forest. Keyword: ARRPET, landfill evaluation, landfill space arrangement, zonation
ANALISA STRATEGI KEBERLANJUTAN TPS 3R DALAM UPAYA MINIMASI PENGANGKUTAN SAMPAH KE TPA (Studi Kasus : program TPS 3R Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat) Athaya Dhiya Zafira; Enri Damanhuri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.2.3

Abstract

Abstrak: Berdasarkan data tahun 2016, beban sampah di TPA Sarimukti mencapai 3.000 m3 setiap harinya. Kondisi ini menyebabkan TPA Sarimukti sudah jenuh dan masa aktifnya seharusnya sudah berakhir sejak tahun 2017. Kabupaten Bandung sebagai salah satu kabupaten yang menjadi wilayah pelayanan TPA Sarimukti terpaksa harus mencari alternatif TPA lain. Salah satu alternatif yang direncanakan untuk menangani hal tersebut sesuai dengan amanat Perpres Jakstranas, yakni sejumlah TPST direncanakan dibangun dan pengoptimalan kembali TPST serta TPS 3R yang ada di wilayah studi. Namun kenyataannya saat ini di wilayah Kabupaten Bandung sebenarnya telah terbangun 112 TPS 3R, namun 88 diantaranya tidak aktif. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi fasilitas TPS 3R yang telah terbangun saat ini dan merumuskan strategi-strategi untuk peningkatan kinerja dan keberlanjutan TPS 3R. Metoda yang digunakan ialah analisa deskriptif kualitatif dan kuantitatif, serta analisis matriks IFAS, EFAS, dan matriks SWOT. Berdasarkan hasil analisa IFAS dan EFAS, diperoleh nilai strength posture sebesar 0,421 dan nilai competitive posture sebesar 0,063. Posisi nilai tersebut bila diposisikan pada kuadran strategi perencanaan berada pada kuadran 1. Alternatif strategi yang direkomendasikan yakni pengembangan (strategi agresif) atau strategi S-O. Strategi yang diusulkan yakni pembentukan seksi khusus di pemerintahan yang bertugas sebagai aparat penegak peraturan terkait pemilahan sampah sejak dari sumber dan retribusi, riset dan pengembangan produk TPS 3R melalui diversifikasi produk, dan kolaborasi/kerja sama dengan pihak lain seperti kerja sama antar TPS 3R, dengan pihak swasta, LSM, atau dinas pertanian dan pertamanan. Rekomendasi skenario pengelolaan sampah di masa mendatang yakni pengoptimalan TPS 3R terbangun dengan minimal cakupan pelayanan sebesar 500 KK. Hal ini dengan pertimbangan bahwa alternatif terpilih pada tahun 2020 mampu mengurangi sampah terangkut ke TPA sebesar + 7300 ton/tahun, menghemat biaya operasional pengangkutan sebesar Rp. +3,5 milyar/tahun.,dan mengurangi emisi sebesar 1.268 MTCO2e/tahun dibandingkan kondisi business as usual.Kata kunci: keberlanjutan, sampah, strategi, SWOT, TPS 3R Abstract: Based on data in 2016, waste load in Sarimukti Landfill reaches 3.000 m3 each day. This condition caused Sarimukti Landfill to be saturated and the active period should've ended since 2017. Therefore, Bandung Regency Government has to look for another landfill alternative as a substitute for Sarimukti Landfill to become final processing site for waste produced by Bandung Regency. One of the alternatives planned to deal with this issue is in accordance with presidential mandate of Jakarta Regional Regulation, such as a number of TPST are planned to be built and re-optimalization of existing TPST and TPS 3R in area of study. However, currently in Bandung Regency there are actually 112 TPS 3R with unfortunately 88 of them inactive. Therefore, this study aim to evaluate current TPS 3R facilities that have been built and formulate strategies to improve TPS 3R performances and maintain the program's sustainability. Method used in this research is descriptive qualitative and quantitative analysis, IFAS, EFAS, as well as SWOT matrix analysis. Results of TPS 3R evaluation show that there are 10 variables that influence 3R-based waste management sustainability such as, regulations, organizations, mentoring, counseling, monitoring (qualitatively evaluated), and technical variables, financing, reduction efficiency, Public satisfaction and participation (quantitatively evaluated). Based on the results of IFAS and EFAS analysis, obtained a posture strength value of 0,421 and a competitive posture value of 0,063. Position of the value when positioned in the planning strategy quadrant is in quadrant 1, therefore, recommended for planning strategy is development (aggressive strategy) or S-O Strategy. The proposed strategy are as follows: regulations enforcement related to sorting waste from sources and levies, improving the quality of TPS 3R products through products diversification, and collaboration with other parties.Future waste management scenario recommended yakni pengoptimalan is TPS 3R optimization with at least serving 500 KK. This is decided because the chosen alternative can reduce transported waste to TPA up to 7300 ton/year in 2020, saving transport and operational expenditures up to +3,5 billion Rupiah/year and reduce emission up to 1.268 MTCO2e/year compared to business as usual condition. Keywords : strategy sustainability, SWOT, TPS 3R, waste.
Enri Damanhuri EVALUATION of LANDFILL AND COST BENEFIT ANALYSIS WASTE MANAGEMENT SYSTEM LANDFILL (CASE STUDY TPA BAKUNG CITY BANDAR LAMPUNG) Arlina Phelia; Enri Damanhuri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.2.6

Abstract

Abstrak : Tempat pemrosesan akhir (TPA) Bakung merupakan salah satu tempat pemrosesan akhir sampah yang dikelola oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. Peningkatan jumlah timbulan sampah di Kota Bandar Lampung sendiri setiap harinya mencapai 750 "“ 800 ton/hari atau sekitar 292.000 ton/tahun. Dalam mengevaluasi sistem pengelolaan sampah di TPA Bakung dilakukan dengan menggunakan metode ARRPET, yang dilanjutkan dengan perencanan skenario pengembangan sistem pengelolaan sampah di TPA melalui pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA) sehingga efisiensi dari segi biaya ekonomi serta daerah pelayanan untuk Kota Bandar Lampung dan perkembangannya di masa mendatang dapat dijadikan perhatian yang lebih baik pada perencanaan dalam bidang persampahan. Hasil analisis TPA menggunakan metode ARRPET didapatkan nilai indeks risiko sebesar 476,962 dimana tindakan yang direkomendasikan adalah segera merehabilitasi TPA menjadi TPA berkelanjutan. Rehabilitasi TPA yang direncanakan menjadi controlled landfill, dengan perbaikkan secara bertahap. TPA yang sudah direhabilitasi nantinya akan dilakukan perencanaan skenario pengelolaan sampah kota. Hasil analisis biaya manfaat untuk skenario A (business-as-usual) diperoleh nilai BCR 0,67 dan NPV Rp."“4.858.570.081, skenario B (pengelolaan sampah dengan pola 3R) diperoleh nilai BCR tahun 2037 sebesar 0,28 dan NPV Rp."“153.823.436.569, dan skenario C (pola 3R dan pengembangan fasilitas TPA) diperoleh nilai BCR tahun 2037 sebesar 0,30 dan NPV Rp."“125.147.291.399. Hal ini menunjukkan bahwa nilai NPV yang dihasilkan negatif, dimana biaya operasional yang dikeluarkan untuk pengelolaan sampah di TPA Bakung akan lebih besar dibandingkan dengan pemasukannya. Oleh karenanya, nilai tersebut dapat dijadikan informasi untuk pengelola khususnya di TPA, dimana pemerintah bisa mensubsidi biaya baik dalam investasi maupun operasional. Kata Kunci : Analisis Manfaat- Biaya, ARRPET, Bandar Lampung, Skenario, TPA. Abstract: The final processing site (TPA) of Bakung is one of the final waste processing sites managed by the Bandar Lampung City Government. Increasing the amount of waste in the city of Bandar Lampung itself every day reaches 750 - 800 tons / day or around 292,000 tons / year. In evaluating the waste management system in Bakung Landfill, the ARRPET method was carried out, followed by a scenario plan for the development of a waste management system in the TPA through the Cost Benefit Analysis (CBA) approach so that economic costs and service areas for Bandar Lampung and its development in future can be made a better attention to planning in the waste sector. The results of the TPA analysis using the ARRPET method obtained a risk index value of 476,962 where the recommended action is to immediately rehabilitate the landfill into a sustainable landfill. Rehabilitation of landfill planned to be a controlled landfill, with gradual improvement. The rehabilitated landfill will be planned for the city waste management scenario. The results of the benefit cost analysis for scenario A (business-as-usual) obtained a BCR value of 0,67 and NPV Rp.-4.858.570.081, scenario B (waste management with a 3R) obtained BCR values in 2037 of 0,28 and NPV Rp .-153.823.436.569, and scenario C (3R and development of landfill facilities) obtained BCR values in 2037 of 0,30 and NPV of Rp.-125.147.291.399. This shows that the NPV value produced is negative, where the operational costs incurred for waste management in Bakung Landfill will be greater than the income. Therefore, this value can be used as information for managers, especially in landfill, where the government can subsidize costs both in investment and operations. Keywords: ARRPET, Benefit Cost Analysis, Bandar Lampung, Landfill, Scenario.