Anita Anita
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Peran Sekolah Kelas II Dalam Pembentukan Struktur Sosial Pada Masa Kolonial Anita Anita
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 2 (2025): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i2.7445

Abstract

Sekolah Kelas II tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai alat rekayasa sosial dan pembentuk struktur sosial kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Sekolah Kelas II dalam pembentukan dan pelestarian struktur sosial pada masa kolonial Hindia Belanda. Sekolah Kelas II merupakan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial dan diperuntukkan bagi masyarakat pribumi dari golongan rakyat biasa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan historis, melalui studi pustaka terhadap buku, arsip, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan sejarah pendidikan dan struktur sosial kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Kelas II berfungsi sebagai instrumen kebijakan kolonial untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tingkat rendah dalam sistem administrasi dan ekonomi kolonial. Kurikulum yang bersifat terbatas dan praktis mengarahkan peserta didik agar memiliki keterampilan dasar, namun tidak memberikan kesempatan yang luas untuk mobilitas sosial. Dengan demikian, Sekolah Kelas II berperan dalam mempertahankan struktur sosial kolonial yang hierarkis dan diskriminatif, di mana masyarakat pribumi tetap berada pada lapisan sosial terbawah. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan Sekolah Kelas II secara tidak langsung membuka akses awal terhadap pendidikan formal bagi masyarakat pribumi. Kemampuan baca tulis yang diperoleh menjadi modal penting bagi tumbuhnya kesadaran sosial dan perubahan masyarakat pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, Sekolah Kelas II memiliki peran ganda, yaitu sebagai alat pelanggeng struktur sosial kolonial sekaligus sebagai awal transformasi sosial di kalangan pribumi.
Koke Bale Sebagai Pusat Identitas Kolektif Masyarakat Di Desa Tenawahang, Kabupaten Flores Timur Pankrasia Elisabeth Bota Keupung; Katarina Dhiki; Anita Anita
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 2 (2025): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i2.7649

Abstract

Rumah adat merupakan salah satu produk budaya dari suatu masyarakat adat tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku atau masyarakat. Sama halnya dengan Rumah adat Koke Bale yang merupakan representasi dari budaya masyarakat di Desa Tenawahang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneilitian ini bertujuan untuk menelusuri asal-usul rumah adat Koke Bale, dan mengidentifikasi simbol beserta makna dari setiap simbol yang ada pada rumah adat Koke Bale. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rumah adat Koke Bale memiliki asal-usul yang erat kaitannya dengan perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Lamaholot. Koke Bale didirikan oleh ketujuh suku yang melarikan diri dari daerah asal mereka akibat peperangan. Rumah adat ini dibangun sebagai eksitensi leluhur yang menetap dan membangun peradaban di wilayah tersebut. Di dalam rumah adat Koke Bale terdapat berbagai simbol penting yang masing-masing memiliki makna filosofis. Simbol parang dan tombak melambangkan keberanian, kekuatan dan kesiapan untuk melidungi keluarga serta adat istiadat. Simbol bulan dan bintang melambangkan hubungan spiritual dengan alam semesta. Figur seorang laki-laki yang memegang parang dan tombak menggambarkan peran laki-laki sebagai pemimpin, penjaga, pelindung keluarga dan masyarakatnya. Sementara itu, simbol motif kain tenun mencerminkan keindahaan, keuletan, ketekunan serta identitas kultural masyarakat Tenawahang. Koke Bale merupakan wujud nyata yang menunjukan eksistensi serta identitas budaya masyarakat desa Tenawahang.