Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PEMANFAATAN SITUS SEJARAH PAHLAWAN MARI LONGA SEBAGAI MEDIADALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA SISWA KELAS XI SMAN 1 ENDE Fransiskus Xaverius Rema; Karolus Charlaes Bego; Damianus Rikardo Sumbi Wasa
Jurnal Artefak Vol 8, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.233 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i1.3840

Abstract

Penelitian ini mengacu pada proses pembelajaran tentang pemanfaatan situs Sejarah Pahlawan Marilonga Sebagai Media dalam pembelajaran sejarah yang banyak tersebar di kabupaten Ende dan di Watunggere khususnya. Adapun tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui perencanaan pembelajaran sejarah pemanfaatan media situs Sejarah Pahlawan Marilonga kelas XI SMAN 1 Ende, 2) Mengetahui pelaksanaan pembelajaran pemanfaatan media situs Sejarah Pahlawan Marilonga kelas XI SMAN 1 Ende, 3) Mengetahui dampak pembelajaran sejarah pemanfaatan media situs Sejarah Pahlawan Marilonga kelas XI SMAN 1 Ende. Jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif deskriptif menuju arah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Hasil penelitian menjelaskan bahwa situs sejarah pahlawan Marilonga merupakan salah satu warisan sejarah di daerah yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah sesuai denganlangkah-langkah kurikulum 2013. Relevansi pembelajaran dengan memanfaatkan media situs Sejarah Pahlawan Marilonga dengan kegiatan belajar mengajarmelaui perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, dan dampak pembelajaran. Setiap tahap pelaksanaan pembelajaran membutuhkan keterlibatan aktif, ketelitian guru dalam menyusun, menyampaikan, dan memfasilitasi aktivitas belajar agar siswa dapat memahami secara baik proses pembelajaran.This research refers to the learning process about the utilization of the Historical Site of the Marilonga Heroes as a Media in learning history which is widely spread in Ende district and in Watunggere in particular. The purpose of this study is 1) Knowing the learning planning history of the use of media sites of the History of Marilonga Heroes class XI 1ND Ende, 2) Knowing the learning implementation of the use of media sites of the Heroes of Marilonga History class XI SMAN 1 Ende, 3) Knowing the impact of historical learning on the use of media sites History Heroes of Marilonga in class XI of SMAN 1 Ende. This type of research is descriptive qualitative research leading to a single embedded case study (embedded case study research). The results of the study explained that the historical site of the Mari Longa hero was one of the historical legacies in the area that could be used in historical learning in accordance with the 2013 curriculum steps. The relevance of learning by using the Marilonga Heroes History media site with learning activities through learning planning, implementation, and impact of learning. Each stage of the implementation of learning requires active involvement, the accuracy of the teacher in compiling, delivering, and facilitating learning activities so that students can understand the learning process well.
Analysis of the Potential Development of Sa'o Traditional House Tourism in Bajawa Ethnic Communities, Ngada District Fransiskus Xaverius Rema; Enok Maryani
Tunas Geografi Vol 11, No 2 (2022): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v11i2.40243

Abstract

Tourism is an industrial sector that provides many benefits for survival, one of which is economic benefits. Tourism consists of three parts: style, culture, and artificial. One of the tours that are currently being developed is cultural tourism. Cultural tourism is tourism that displays local wisdom to attract tourists. One cultural tour that requires management development is the cultural tourism of the Sa'o traditional house in Ngada Regency, East Nusa Tenggara Province. The Sa'o traditional house is an original traditional house belonging to the Bajawa ethnic community, which is in the traditional Bena village. This study aims to analyze the cultural tourism potential of the Sa'o traditional house for tourism development. The research method used in this research is mini research which is qualitative with a literature study approach. This research is a type of library research. The study results show that the Sa'o traditional house located in the traditional village of Bena has enormous potential to be developed and promoted in cultural tourism. The Sa'o traditional house has its characteristics: special sections consisting of teda Wewa, teda one, and one. The Sa'o traditional house has a symbolic meaning for the Bajawa ethnic community consisting of Ngadhu, Bhaga, Watu Lewa, and Nabe. In developing the cultural tourism of the Sa'o traditional house, the participation of the government and the surrounding community is needed. An analysis of the inhibiting factors for cultural tourism of the Sa'o traditional house is needed.Keywords: Sa'O Traditional House, Bajawa Ethnicity, Cultural Tourism, Development
MENELUSURI JEJAK SEJARAH PENINGGALAN PORTUGIS DI KAMPUNG NUMBA Hasti Sulaiman; Fransiskus Xaverius Rema; Anita Anita
HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2018): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.089 KB) | DOI: 10.24127/hj.v6i2.1528

Abstract

Penelitian ini menelusuri sejarah awal kedatangan dan peninggalan Portugis di Kampung Numba, Kabupaten Ende Provinsi Nusa. Kajian ini menggunakan pendekatan historis dalam melihat persoalan. Untuk mendapatkan paparan data dan kesimpulan penelitian ini penulis memanfaatkan beberapa kesempatan dengan mengunjungi dan melihat langsung lokasi fokus penelitian. Data dikumpulkan dengan tehnik penelusuran sejarah Ende dari berbagai sumber kepustakaan, termasuk dari sumber internet mengenai gambaran NTT Secara umum. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedatangan bangsa Portugis di kampung Numba tidak lepas dari persaingan dengan Islam di Pulau Ende. Sebelum Potugis berpindah dari pulau Ende  ke pesisir selatan pulau Flores pada tahun 1620-1630 terjadi penyerbuan kepada orang Portugis yang saat itu berada di dalam benteng. Dari beberapa sumber informasi terpercaya melalui ingatan dan cerita lokal yang masih berkembang dapat dibuktikan bahwa kedatangan Portugis di kampung Numba meninggalkan jejak sejarah dalam bentuk fakta-fakta sejarah secara fisik. Bukti-bukti peninggalan Portugis diantaranya: perigi, meriam, dan gereja, makam dari seorang uskup serta patung bunda Maria. Walaupun bukti fisik beberapa peninggalan sejarah ini sudah tidak terawat lagi, namun menjadi bagian penting dalam dinamika sejarah yang oleh warga setempat masih terus dikisahkan karena merupakan bagian dari sejarah masyarakat setempat akan masa lampaunya.
JEJAK SEJARAH KERAJAAN NAGE Wona, Maria Y.; Rema, Fransiskus X.
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 5 No 1 (2020): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v5i1.1349

Abstract

After the Dutch took control of Nage, this system of government then changed to follow the policy of the Dutch who formed a new system called the Zelfbestuurende Landschap which was led by Bestuurder who was a King. The leadership structure under the king was the Hamente who was appointed by the Dutch and the Village Head who was appointed by the Hamente Head who came from the aristocrats from the swapraja area. Swapraja region is a region that has the right of self-government known as Zelfbestuur during the Dutch colonial period, this region is a form recognized by the Dutch. The status of this area states that the area is led by an indigenous leader who has the right to regulate administrative affairs, law and internal culture. In the period 1912 to 1917, the Netherlands formed 6 Landschap Bestuur in the Ngada region, one of which was: Nage was led by Roga Ngole. Landschap Bestuur Nage is the essence of this writing, Nage which in the Roga Ngole government there are many changes, both in a more organized social system that has only one leader, namely the King formed by the Netherlands so that all things related to the customary law system and all events in the kingdom can be governed by King. As for the new government structure, the Netherlands, namely the King, was assisted by the Head of Hamente / Head of Mere, the Head of the Village who was appointed by Hamente, and the last was Opas who became the king's arm.
PEMANFAATAN SAO ENDA SEBAGAI CAGAR BUDAYA SELALEJO DI DESA SELALEJO TIMUR KECAMATAN MAUPONGGO KABUPATEN NAGEKEO Noe, Magdalena; Rema, Fransiskus Xaverius; Seto Se, Bonaventura R.
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 7 No 1 (2022): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v7i1.1959

Abstract

Kabupaten Nagekeo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan Sa’o Enda sebagai Cagar Budaya Selalejo di Desa Selalejo Timur Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian sebanyak lima orang yang terdiri dari informan kunci satu orang dan informan pendukung empat orang.Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tahapanya itu: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Pemaparan data, 4) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian:Masyarakat Selalejo menganggap rumah adat Sa’o Enda sebagai cerminan kehidupan yang bersifat profan dan sakral, sehingga segala norma yang mengikatnya menjadi suatu kesepakatan yang harus diwajibakan dalam ritual atau upacara adat. Di dalam rumah adat Sa’o Enda juga terdapat simbol-simbol yang mengandung makna tersendiri bagi masyarakat adat Selalejo. Adapun teori yang digunakan untuk mendeskripsikan pemanfaatan Sa’o Enda sebagai Cagar Budaya Selalejo di Desa Selalejo Timur yaitu teori antropogi simbolik yang digagaskan oleh Geertz. Geetz menjelaskan bahwa teori simbolik memandang kebudayaan sebagai suatu sistem simbol yang dimiliki oleh suatu masyarakat yang membutuhkan interpretasi terhadap makna dari simbol yang ada. Kesimpulannya dari penelitian ini adalah bahwa Sa’o Enda merupakan salah satu warisan budaya yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka dan sebagai tempat pelaksanaan ritual adat.
PEMBELAJARAN IPS (SEJARAH) BERBASIS PANGAN LOKAL UWI SEBAGAI LOCAL WISDOM DALAM MASYARAKAT ETNIS BAJAWA Rema, Fransiskus X.
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 1 (2023): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v8i1.2814

Abstract

Pangan lokal adalah makanan yang tersedia di daerah tertentu sebagai makanan khas yang dikonsumsi secara turun temurun bahkan menjadi makanan identitas daerah yang sangat unik dalam pengolahan ataupun cara mengkonsumsinya bahkan disakralkan karena eksistensinya. Pangan lokal menjadi identitas daerah yang juga disakralkan oleh suatu komunitas pengikut budaya di suatu wilayah. Salah satu daerah yang memiliki kekhasan tersebut adalah komunitas masyarakat Bajawa yang sampai saat ini masih memegang teguh keyakinan bahwa umbi atau uwi adalah makanan yang sangat disakralkan sehingga penyebutan disertai keagungan akan bahan pangan ini dapat terlihat dalam aktivitas ritual yang dilakukan dalam periode tertentu yaitu dalam upacara Reba sebagai bagian dari keseluruhan upacara dimaksud. Maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah mengingatkan kembali memori kolektif akan pangan lokal sebagai bagian dari kecintaan generasi penerus terutama siswa sekolah untuk mencintai pangan lokal melalui pembelajaran yang diakomodir oleh guru pendidikan sejarah yang kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran sejarah di kelas dengan materi atau topik yang relevan dengan materi sejarah dengan demikian kebermaknaan dalam pembelajaran yang berkearifan lokal dapat tercapai terinspirasi dari kekhasan pangan lokal.
SISTEM PERKAWINAN TUNGKU CU DALAM TRADISI ADAT MANGGARAI DI DESA GOLO LERO KECAMATAN POCO RANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Sukur, Ordilia K. Nuryati; Rero, Dentiana; Rema, Fransiskus Xaverius
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 8 No 2 (2023): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v8i2.3624

Abstract

Sistem Perkawinan Tungku Cu Dalam Tradisi Adat Manggarai Di Desa Golo Lero Kecamatan Poco Ranaka Timur Kabupaten Manggarai Timur. Merupakan bentuk perkawinan yang tidak terlepas dari urusan kerabat, keluarga, persekutuan dan martabat atau dapat juga merupakan urusan pribadi bergantung kepada tata susunan masyarakat yang bersangkutan.Perkawinan adat dapat pula dikatakan sebagai perkawinan yang dikukuhkan melalui aturan norma, adat,sosial dan adat yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. Perkawinan adat merupakan warisan para leluhur yang sesuai dengan adat istiadat dan norma dalam masyarakat untuk menyatukan kedua pribadi yaitu suami istri dalam sebuah keluarga. Perkawinan adat merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sering disebut sebagai peneliti naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang ilmiah (Natural setting). dengan teori Fungsional, Emile Durkheim. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah tetua adat dan tokoh masyarakat Desa Golo Lero, Manggarai Timur. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, suatu analisis yang berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa perkawinan Tungku Cu mempunyai, beberapa fungsi yang masing-masing saling berkaitan satu sama lain dan tidak terpisahkan dari adat dan tradisi budaya setempat. Perkawinan Tungku Cu dapat dilakukan dengan baik,apabila ada yang mampu mengatur jalannya prosesi perkawinan adat. Perkawinan Tungku Cu di Manggarai dapat di lakukan apabila kedua bela pihak sudah menyepakati sebuah konsep yang ada disepakati. kedua keluarga penerima dan pemberi istri sudah sepakat dan sesuai dengan konsep yang sudah disepakati bersama. Perkawinan tungku cu cukup berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat Desa Golo Lero, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur.
The Development of Critical Thinking in Public Wealth Education in the Global Era and Its Relevance to the Value of Cultural Symbols Fransiskus Xaverius Rema; Furkan Furkan
Journal of Social Studies Education Vol. 1 No. 1 (2025): Journal of Social Studies Education, May 2025
Publisher : Gema Cendekia Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/josse.v1i1.84

Abstract

The development of quality human resources is the main requirement in facing the era of economic globalization and the communication revolution. Educational institutions have a strategic role in shaping and developing student potential through conducive learning patterns. In this context, Social Sciences (IPS) education faces great challenges, especially in improving the quality of education and educators. Social studies education is required to innovate and present solutions for its relevance and sustainability in the midst of rapid social change. The main objective of social studies education is to prepare citizens to be able to make reflective decisions and actively participate in social life, based on local cultural values. This research uses a qualitative approach with a literature review method (library research) that focuses on the relationship between local symbols in Ngada culture, social thinking skills, and globalization challenges. The three aspects are analyzed as an interrelated unit, emphasizing the importance of a contextual approach in social studies education. Local symbols are not only seen as cultural heritage, but also as a means of learning to develop students' critical and reflective thinking in understanding global social realities without letting go of local cultural roots.
THE URGENCY OF INSTILLING SA'O LOCAL WISDOM VALUES IN ENVIRONMENTAL CONSERVATION EFFORTS FOR STUDENTS IN NGADA REGENCY Fransiskus Xaverius Rema; Nana Supriatna; Dadang Sundawa; Neiny Ratmaningsih
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 Number 4 (October 2025)
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jpm.v6i4.6205

Abstract

The traditional architecture of Sa'o, which is the traditional house of Bajawa, demonstrates the preservation of environmental sustainability through local wisdom. This study aims to: (1) examine the values of local wisdom in the development and governance of Sa'o and the environment in Bena Village, and (2) analyze the role of this local wisdom as respect for nature and its relevance as an educational medium for students. The study concludes that the local wisdom of Bena Village is a valuable form of social and ecological capital. Therefore, a strategy is needed to help students understand, appreciate, and preserve these values so they can face global environmental challenges. The findings reveal that local wisdom in Sa'o enables students to maintain harmony in their lives through traditions and rituals that have been passed down for generations. This wisdom can also serve as a reference for knowledge and understanding to overcome and anticipate current local environmental issues, particularly those related to pollution.