Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Resiliensi Iman Kristen dalam Refleksi Kehidupan Habakuk Andreas Fernando; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.36

Abstract

The ministry and life of the prophet Habakkuk occurred in difficult times, but these conditions shaped the solidity of his faith in God. The prophet Habakkuk's response to the current situation can be a reflection and an example for God's people who live in today's era. This study aims to describe Habakkuk's experience of faith and provide his reflection on God's people so that they can have faith resilience when facing difficult situations and injustices in life. Qualitative methods are used in this study with a literature study approach and narrative excavation in the book of Habakkuk. The study yielded an understanding that all the problems, crushes, and burdens of life's questions actually led the prophet Habakkuk to seek and find God so that he obtained answers to questions, strength, guidance, and strength of faith from Him. This pattern can be applied in the lives of believers when faced with difficult situations and injustice through five steps of strengthening faith. First, open communication with God through the expression of the heart. Second, diligently waiting for God's answer by transforming the perspective from a human perspective to God's perspective. Third, to be His witness so that through the life experiences they go through, they can bring themselves and others to know God better. Fourth, patiently waiting for God's time for His help and acts of justice through prayer and thanksgiving. Fifth. Faith resilience will be formed when believers depend on God - rely on Him completely and make Him a source of strength.  AbstrakPelayanan dan kehidupan nabi Habakuk terjadi dalam masa yang sulit, namun justru kondisi itu membentuk kekokohan imannya di dalam Tuhan. Respons nabi Habakuk atas keadaan yang terjadi dapat menjadi refleksi dan teladan bagi umat Tuhan yang hidup di zaman ini. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman iman Habakuk dan memberikan refleksinya bagi umat Tuhan agar dapat memiliki resiliensi iman ketika menghadapi situasi sulit dan ketidakadilan dalam hidup ini. Metode kualitatif dipergunakan dalam kajian ini dengan pendekatan studi pustaka dan penggalian narasi pada kitab Habakuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segala persoalan, himpitan dan beban pertanyaan kehidupan justru membawa nabi Habakuk mencari dan menemukan Tuhan sehingga diperolehnya jawaban pertanyaan, kekuatan, tuntunan dan kekuatan iman dariNya. Pola ini dapat diterapkan dalam kehidupan orang percaya ketika menghadapi situasi sulit dan ketidakadilan melalui lima langkah penguatan iman. Pertama, membuka komunikasi dengan Tuhan melalui ungkapan hati. Kedua, transformasi cara pandang dari perspektif manusia kepada perspektif Tuhan. Ketiga, menjadi saksiNya agar melalui pengalaman kehidupan yang dilalui dapat membawa diri dan orang lain lebih mengenal Tuhan. Keempat, bersabar menantikan waktu Tuhan atas pertolongan dan tindakan keadilanNya melalui doa dan ucapan syukur. Kelima, resiliensi iman akan terbentuk tatkala umat percaya bergantung kepada Tuhan-mengandalkanNya secara penuh dan menjadikanNya sumber kekuatan. 
Membangun Sikap Kebersamaan Guru Pendidikan Kristiani di tengah Perilaku Intoleransi Yunida Bawamenewi; Yonatan Alex Arifianto; Andreas Fernando
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 12 No. 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.032 KB)

Abstract

Keadaan bangsa yang majemuk ini, membuat masyarakat yang ada dibangsa ini untuk menerima kemajemukan yang ada terutama bagi guru PAK dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Oleh berbagai keberagaman yang ada di bangsa ini membuat suatu keunikan sekaligus menjadi pemicu konflik sehingga terjadinya perpecahan dan penyerangan dari berbagai belah pihak. Penulisan dalam paper ini, dengan menggunakan penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan berharap dapat  peserta didik dan masyarakat untuk memiliki jiwa toleransi yang tingggi dalam menjaga kerukunan di bangsa ini, sehingga peran guru PAK sangat penting dalam mengayomi dan mendidik peserta didik agar sejak dini memahami nilai-nilai agama dan mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat sejak sekarang dan seterusnya. 
Pelayanan dan Kehidupan Tuhan Yesus Sebagai Pola Dasar bagi Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Kristen Andreas Fernando; Carolina Etnasari Anjaya
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 1 (2022): Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.262 KB) | DOI: 10.55967/manthano.v1i1.9

Abstract

Abstract: The era of technology brings new demands and challenges in the world of education. Facing this, Christian Religious Education (PAK) teachers need to adapt to professional development independently. The ministry and life of the Lord Jesus the great teacher became the reference or basic pattern of this development. This study aims to provide a new understanding of the important points of the ministry of the Lord Jesus that can be used as a basic pattern for development and provide practical guidance for its application. The method used is qualitative with literature study and observation. The conclusion as a result of the research found that there are five important aspects or points that can be drawn from the ministry of the Lord Jesus, namely aspects: first (authority and spirituality), the Lord Jesus taught with power and wisdom. As a mandatory, PAK teachers need to continue to communicate with the authority that is God. Communication can be built in two ways: through persistent prayer and Bible study. Second (integrity), the example of the integrity of the Lord Jesus is related to commitment, honesty and responsibility as a PAK teacher. Integrity is grown by applying honest, committed and responsible habits. PAK teachers need to form associations with people of integrity. Third (totality), work ethic and totality can be built by participating in various trainings and forming or joining a community of teachers to share knowledge and experiences. Fourth (capability), God uses very varied and contextual teaching methods. Digital skills are a must and can be done by attending training or self-study by utilizing technology. Fifth (critical thinking), the parable of the Lord Jesus invites educators to practice having a critical mind. Practicing critical thinking skills is through research.Abstrak: Era teknologi membawa pada tuntutan dan tantangan yang baru dalam dunia pendidikan. Menghadapi hal ini para guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) perlu beradaptasi dengan pengembangan profesi secara mandiri. Pelayanan dan kehidupan Tuhan Yesus sang guru agung menjadi acuan atau pola dasar pengembangan tersebut. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman baru poin-poin penting pelayanan Tuhan Yesus yang dapat dipergunakan sebagai pola dasar pengembangan dan memberikan tuntunan praksis penerapannya. Metode dalam riset ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka dan observasi. Kesimpulan sebagai hasil penelitian menemukan ada lima aspek atau poin penting yang dapat diambil dari pelayanan Tuhan Yesus yaitu pertama (otoritas dan spiritualitas), Tuhan Yesus mengajar dengan kuasa dan hikmat. Sebagai seorang mandataris, guru PAK perlu terus berkomunikasi dengan pemberi otoritas yaitu Tuhan. Komunikasi dapat dibangun dengan ketekunan doa dan pembelajaran Alkitab. Kedua (integritas), teladan integritas Tuhan Yesus terkait dengan komitmen, kejujuran dan tanggung jawab sebagai pendidik.  Guru PAK perlu membentuk pergaulan dengan orang-orang yang berintegritas. Ketiga (totalitas), etos kerja dan totalitas. Ini dapat dibangun dengan mengikuti pelbagai pelatihan dan membentuk atau bergabung dengan komunitas guru untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. Keempat (kapabilitas), Tuhan  mempergunakan metode pengajaran yang sangat variatif dan kontekstual. Kecakapan digital menjadi keharusan dan dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan atau belajar mandiri dengan memanfaatkan teknologi. Kelima (rasionalitas - kritis berpikir), melatih kemampuan berpikir kritis adalah melalui penelitian ilmiah. Guru PAK wajib mendedikasikan diri pada penelitian ilmiah sesuai bidangnya.
Pengaruh Pendidikan Kristen melalui Kelompok Tumbuh Bersama terhadap Pertumbuhan Rohani Noni Yutersi; Andreas Fernando; Analita Analita
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 2 (2022): Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.245 KB) | DOI: 10.55967/manthano.v1i2.22

Abstract

  Abstract: God's will for His people is to grow into conformity with the image of His son. But in the reality of life not all people can continue to grow as ideally. The challenges of life and the demands of economic needs in particular in the era of the Covid-19 pandemic are obstacles in realizing spiritual growth. Through Christian Education in the group growing together is not just taught, but guided and strengthened, edifying each other so that it has an impact on spiritual growth together. The purpose of this study is to test and prove the influence of Christian Education through growing together groups on spiritual growth. This study used a correlational method. The results showed that the implementation of Christian education through groups to grow together had an impact on increasing the spiritual growth of the people. Through the learning process in Christian Education the group grows together which mutually expands life experiences, shares experiences in the application of God's word, reminds, strengthens each other and learns to implement the values of the Christian faith taught, becoming a joint encouragement that has an impact on spiritual growth.Abstrak: Kehendak Allah bagi umatNya adalah bertumbuh menjadi serupa dengan gambar anakNya. Namun dalam realita kehidupan tidak semua umat bisa terus bertumbuh sebagaimana idealnya. Tantangan kehidupan dan tuntutan kebutuhan ekonomi secara khusus di era pandemic covid-19 menjadi hambatan dalam mewujudkan pertumbuhan rohani. Melalui Pendidikan Kristen dalam kelompok tumbuh bersama tidak hanya sekedar diajar, melainkan dibimbing dan saling menguatkan, meneguhkan, sehingga berdampak pada pertumbuhan rohanis ecara bersama-sama. Tujuan penelitian ini untuk menguji dan membuktikan pengaruh Pendidikan Kristen melalui kelompok tumbuh bersama terhadap pertumbuhan rohani. Penelitian ini menggunakan metode korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksaan Pendidikan Kristen melalui kelompok tumbuh bersama berdampak pada peningkatan pertumbuh rohani umat. Melalui proses pembelajaran dalam Pendidikan Kristen kelompok tumbuh bersama yang saling membagi pengalaman hidup, membagi pengalaman dalam penerapan firman Tuhan, mengingatkan, saling menguatkan dan saling belajar mengimplementasikan nilai-nilai iman Kristen yang diajarkan, menjadi dorongan bersama-sama yang berdampak pada pertumbuhan rohani. 
Pendidikan Kristen dalam Pelayanan Konseling Pranikah di Era Disrupsi Carolina Etnasari Anjaya; Andreas Fernando; Wahju Astjarjo Rini
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.203

Abstract

The era of disruption encourages all humans to adapt to the changes that occur. Christian youth and Christian families are required to be able to withstand these changes by living in the firmness of the Christian faith, according to God's will. Christian education in premarital counseling is very important in this era because through it Christian families will be able to survive in an increasingly uncertain world. This research method is descriptive qualitative, with literature study and observation techniques. The author uses the Bible and various relevant literature. The purpose of this study is to provide a description of how Christian education can form premarital counseling that can guide Christian families in this era. The results of the study conclude that it is necessary to transform premarital counseling from just a church service program to Christian education to provide a new form. Christian education in pre-marital counseling is developed to post-marital counseling, which is carried out continuously throughout life according to the principles of Christian education. The implementation of Christian education in pre-marital counseling is as follows: First, the teaching materials emphasize the development of the personal dimension as a creation that is in the image and likeness of God and the relational dimension, building a relationship that is holy and pleasing to God. Second, the implementation of Christian education in pre-marital counseling includes six stages: First, the preparation of young people to find a life partner. Two, at a time when a future husband and wife decided to start a new family. Three, the young family stage. Four, pre-adolescent and adolescent family stages. Five, the family stage of adulthood, when the children in the family have started to grow up. Six, the stages of old age. Third, forming counselors as guides and guides who fear God, living the truth of God's word so that they can become examples of life.  Era disrupsi mendorong semua manusia untuk beradaptasi dalam perubahan yang terjadi. Orang muda Kristen dan keluarga Kristen dituntut untuk dapat bertahan menghadapi perubahan tersebut dengan tetap hidup dalam kekokohan iman Kristen, sesuai kehendak Allah. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah menjadi sesuatu hal yang sangat penting di era ini karena melaluinya  keluarga Kristen akan mampu bertahan di dalam dunia yang semakin penuh ketidakpastian.  Metode  penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik studi pustaka dan observasi. Penulis mempergunakan Alkitab dan berbagai literatur yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan deskripsi mengenai  bagaimana pendidikan Kristen dapat membentuk konseling pranikah dapat menjadi penuntun keluarga Kristen di era ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perlu transformasi konseling pranikah dari sekadar program pelayanan gereja menjadi pendidikan Kristen untuk memberikan bentukan baru. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah dikembangkan sampai pada konseling paska menikah, diselenggarakan secara terus menerus berkesinambungan sepanjang hayat memenuhi prinsip pendidikan Kristen. Implementasi pendidikan Kristen dalam konseling pranikah sebagai berikut: Pertama, materi pengajaran menekankan kepada  pengembangan dimensi personal sebagai ciptaan yang segambar dan serupa Tuhan dan dimensi relasional, membangun hubungan yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.  Kedua, Penyelenggaraan  pendidikan Kristen dalam konseling pra nikah  meliputi enam tahap: Satu, persiapan kaum muda mencari pasangan hidup. Dua,  pada masa ketika sepasang calon suami istri memutuskan untuk membina keluarga baru. Tiga, tahap keluarga usia muda. Empat, tahapan keluarga pra remaja dan remaja. Lima, tahapan keluarga masa dewasa, ketika anak-anak dalam keluarga sudah mulai tumbuh dewasa. Enam, tahapan masa tua.  Ketiga, membentuk konselor sebagai  pembimbing dan penuntun yang takut akan Tuhan, menghidupi kebenaran firman Tuhan sehingga mampu menjadi teladan hidup.  
Pendidikan Kristen dalam Pelayanan Konseling Pranikah di Era Disrupsi Carolina Etnasari Anjaya; Andreas Fernando; Wahju Astjarjo Rini
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.203

Abstract

The era of disruption encourages all humans to adapt to the changes that occur. Christian youth and Christian families are required to be able to withstand these changes by living in the firmness of the Christian faith, according to God's will. Christian education in premarital counseling is very important in this era because through it Christian families will be able to survive in an increasingly uncertain world. This research method is descriptive qualitative, with literature study and observation techniques. The author uses the Bible and various relevant literature. The purpose of this study is to provide a description of how Christian education can form premarital counseling that can guide Christian families in this era. The results of the study conclude that it is necessary to transform premarital counseling from just a church service program to Christian education to provide a new form. Christian education in pre-marital counseling is developed to post-marital counseling, which is carried out continuously throughout life according to the principles of Christian education. The implementation of Christian education in pre-marital counseling is as follows: First, the teaching materials emphasize the development of the personal dimension as a creation that is in the image and likeness of God and the relational dimension, building a relationship that is holy and pleasing to God. Second, the implementation of Christian education in pre-marital counseling includes six stages: First, the preparation of young people to find a life partner. Two, at a time when a future husband and wife decided to start a new family. Three, the young family stage. Four, pre-adolescent and adolescent family stages. Five, the family stage of adulthood, when the children in the family have started to grow up. Six, the stages of old age. Third, forming counselors as guides and guides who fear God, living the truth of God's word so that they can become examples of life.  Era disrupsi mendorong semua manusia untuk beradaptasi dalam perubahan yang terjadi. Orang muda Kristen dan keluarga Kristen dituntut untuk dapat bertahan menghadapi perubahan tersebut dengan tetap hidup dalam kekokohan iman Kristen, sesuai kehendak Allah. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah menjadi sesuatu hal yang sangat penting di era ini karena melaluinya  keluarga Kristen akan mampu bertahan di dalam dunia yang semakin penuh ketidakpastian.  Metode  penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik studi pustaka dan observasi. Penulis mempergunakan Alkitab dan berbagai literatur yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan deskripsi mengenai  bagaimana pendidikan Kristen dapat membentuk konseling pranikah dapat menjadi penuntun keluarga Kristen di era ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perlu transformasi konseling pranikah dari sekadar program pelayanan gereja menjadi pendidikan Kristen untuk memberikan bentukan baru. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah dikembangkan sampai pada konseling paska menikah, diselenggarakan secara terus menerus berkesinambungan sepanjang hayat memenuhi prinsip pendidikan Kristen. Implementasi pendidikan Kristen dalam konseling pranikah sebagai berikut: Pertama, materi pengajaran menekankan kepada  pengembangan dimensi personal sebagai ciptaan yang segambar dan serupa Tuhan dan dimensi relasional, membangun hubungan yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.  Kedua, Penyelenggaraan  pendidikan Kristen dalam konseling pra nikah  meliputi enam tahap: Satu, persiapan kaum muda mencari pasangan hidup. Dua,  pada masa ketika sepasang calon suami istri memutuskan untuk membina keluarga baru. Tiga, tahap keluarga usia muda. Empat, tahapan keluarga pra remaja dan remaja. Lima, tahapan keluarga masa dewasa, ketika anak-anak dalam keluarga sudah mulai tumbuh dewasa. Enam, tahapan masa tua.  Ketiga, membentuk konselor sebagai  pembimbing dan penuntun yang takut akan Tuhan, menghidupi kebenaran firman Tuhan sehingga mampu menjadi teladan hidup.  
Pendidikan Kristiani Menangkal Budaya Pergaulan Bebas: Sebuah Pendekatan Sosio-teologis Meilani Meilani; Mariajina Soares; Andreas Fernando
DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Duta Harapan Vol 5, No 2: Desember 2022
Publisher : STIPAK Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32490/didaktik.v5i2.147

Abstract

In today's era, in facing the influence of globalization on remaining delinquency or promiscuity, Christian education in counteracting the culture of promiscuity in adolescents is very influential. the solution to the problem of promiscuity among adolescents by departing from sociological analysis. This paper uses a descriptive qualitative method with a literature study approach by searching for data and information from the Bible. journal books. trusted news articles and articles related to sociological culture in Indonesia from the point of view of Christian education and articles related to the culture of promiscuity among teenagers. The result is that Christian religious education, in its process and function towards social and cultural change, especially among Indonesian teenagers, plays a role in teaching students to build a culture of holy living reflecting on the behavior of the characterof Christ as the right means to counteract the entry and embedding of a culture of promiscuity among the nation’s next generation.  AbstrakPada zaman ini, budaya pergaulan bebas semakin merebak luas di kalangan remaja Indonesia, maka Pendidikan agama Kristen harus segera mengambil langkah dalam menangkal budaya pergaulan bebas tersebut sehingga tidak semakin berkembang dan menjadi gaya hidup generasi muda di Indonesia yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengupayakan solusi dari permasalahan pergaulan bebas di kalangan remaja dengan berangkat dari mengkaji Pendidikan agama Kristen secara sosiologis. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dengan mencari data dan informasi dari alkitab, buku-buku,jurnal, berita tulis terpercaya dan artikel yang berhubungan dengan sosiologis budaya di Indonesia dalam sudut pandang Pendidikan Kristen serta tulisan yang berkenaan dengan budaya pergaulan bebas di kalangan remaja. Hasil dari penelitian ini adalah Pendidikan agama Kristen dalam proses dan fungsinya terhadap perubahan sosial dan kultural khususnya di kalangan remaja Indonesia berperan untuk mengajarkan peserta didik membangun budaya hidup kudus bercermin dari perilaku karakter Kristus sebagai sarana yang tepat untuk  menangkal masuk dan tertanamnya budaya pergaulan bebas di kalangan generasi muda penerus bangsa. 
Menyiapkan Gereja Figital melalui Dual Literasi sebagai Upaya Merespons Metaverse Carolina Etnasari Anjaya; Andreas Fernando; Yonatan Alex Arifianto
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.77

Abstract

The presence of the metaverse as a new generation of virtual worlds raises pro and con responses from the community, including the church. A proper response is needed in dealing with the presence of the metaverse so that the church will not lose its existential-forming aspects. This study was prepared to provide enlightenment or ideas for the church to criticize and welcome the existence of the metaverse according to the teachings of the Christian faith. The method used is qualitative with literature study techniques. The study found that the church must still be physically present to fulfill its essence and carry out incarnational relations. Still, at the same time, it must prepare itself to accept the metaverse as an instrument of future ministry. In this case, the effort that can be made is the dual literacy method, namely, carrying out two central literacy: life literacy and digital literacy in church. Literacy of life means striving for the development of the congregation's faith toward perfection and preparation for acceptance of the metaverse as a service tool through the development of digital literacy. The literacy of the congregation's life is the basis so digital literacy can run according to the corridor of truth. This dual literacy can be actualized through various activities and programs. AbstrakKehadiran metaverse sebagai dunia virtual generasi baru memunculkan respons pro dan kontra dari masyarakat termasuk kalangan gereja. Dibutuhkan respons yang benar dalam menghadapi kehadiran metaverse sehingga gereja tidak akan kehilangan aspek-aspek pembentuk eksistensinya. Kajian ini disusun dengan maksud agar dapat memberikan pencerahan bagi gereja dalam upaya mengkritisi dan menyambut keberadaan metaverse sesuai ajaran iman Kristen. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif dengan teknik studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa gereja perlu menjalankan gereja figital (phygital) yang berarti melakukan penguatan sebagai gereja dalam bentuk fisik dan bersiap memanfaatkan layanan digital: metaverse. Pengaktualisasiannya  gereja tetap  hadir secara fisik untuk memenuhi hakikatnya sesuai aspek Alkitabiah dan menjalankan relasi inkarnasional namun sekaligus perlu menyiapkan diri menerima metaverse sebagai instrumen pelayanan masa depan. Usulan metode yang dapat digunakan adalah dual litersi yaitu literasi kehidupan dan literasi digital dalam bergereja. Literasi kehidupan berarti mengupayakan perkembangan iman jemaat menuju kesempurnaan dan persiapan akseptasi metaverse sebagai alat bantu pelayanan melalui pengembangan literasi digital. Literasi kehidupan jemaat menjadi dasar agar literasi digital dapat berjalan sesuai koridor kebenaran. Dual literasi ini dapat diaktualisasikan melalui pelbagai aktivitas dan program. 
Tantangan Sekolah Kristen Masa Kini: Amanat Agung Dan Eksklusifisme Yohana Indah Kristianingrum; Jos Sudarman Lauwanto; Andreas Fernando
Shalom: Jurnal Teologi Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Syalom Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56191/shalom.v3i1.76

Abstract

Christian schools are unique institutions because they can play a dual role in both the educational and spiritual fields effectively. However, in today's educational development, Christian schools are less able to carry out this dual role. In this discussion, the authors observe that several studies reveal that the dual role of Christian schools tends to become exclusive educational institutions with superior and advanced quality education, but are unable to educate students according to the Great Commission of the Lord Jesus. The challenge for today's Christian schools is the difficulty of implementing the Great Commission because they focus more on competition between schools in order to increase school prestige. The method used by the author is literature research, by analyzing and comparing several writings that discuss the topic. The results of this study found a suggestion for Christian schools to return to their original vision, namely to become God's agents to make disciples or bring their students to a real encounter with Him. One of its concrete missions is to provide opportunities for underprivileged children to be able to receive education in Christian schools     Abstrak Sekolah Kristen merupakan lembaga yang unik karena dapat berperan ganda baik dalam bidang pendidikan maupun bidang kerohanian secara efektif. Namun dalam perkembangan pendidikan masa kini sekolah Kristen kurang mampu menjalankan peran ganda tersebut. Dalam pembahasan ini, penulis melihat beberapa kajian  mengungkapkan bahwa peran ganda sekolah Kristen  semakin cenderung menjadi lembaga pendidikan eksklusif dengan kualitas pendidikan yang unggul dan maju, tetapi tidak dapat memuridkan anak didik sesuai Amanat Agung Tuhan Yesus. Tantangan bagi sekolah Kristen masa kini adalah kesulitan menerapkan Amanat Agung dikarenakan lebih berfokus kepada persaingan prestasi antar sekolah guna menaikkan prestis sekolah. Metode yang dipakai oleh penulis adalah penelitian literatur, dengan menganalisa dan membandingkan beberapa tulisan yang membahas topik tersebut. Hasil dari kajian ini adalah ditemukan usulan agar sekolah Kristen mengembalikan kepada visi yang semula yaitu menjadi agen Tuhan untuk memuridkan atau membawa anak didik kepada perjumpaan nyata dengan-Nya. Salah satu misi konkritnya adalah dengan memberikan kesempatan dan kemudahan kepada anak-anak kurang mampu untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah Kristen.
Kecerdasan Spiritual sebagai Dasar Terbentuknya Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto; Andreas Fernando
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.20

Abstract

This study aims to describe the role of spiritual intelligence in increasing the professionalism of Christian Religious Education teachers. The professionalism of Christian Religious Education teachers plays an important role in the success of giving birth to students with Christ's character. Spiritual intelligence is the result of an intimate and intense relationship with God. Through this research, the author conveys that through spiritual intelligence, God actually speaks and guides teachers in living their professional lives and responsibilities. The indicators of spiritual intelligence presented in this study help to understand how spiritual intelligence actually works. The research method used is qualitative. Collecting data using the method of observation and literature study. The results of the study concluded that when a teacher has spiritual intelligence, the ability to understand the nature of oneself is created, able to understand God's will so that the spirit to move his life is the Holy Spirit. Thus his existence both body and soul (all thoughts and feelings) is directed to become a teacher similar to the Lord Jesus Christ. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peranan kecerdasan spiritual dalam peningkatan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen.  Profesionalitas pada guru PAK memegang berperan penting dalam keberhasilan melahirkan anak didik yang berkarakter Kristus. Kecerdasan spiritual merupakan hasil dari hubungan yang intim dan intens dengan Tuhan. Melalui penelitian ini penulis menyampaikan bahwa melalui kecerdasan spiritual, sejatinya Allah berbicara dan menuntun para guru dalam menjalani hidup dan tanggung jawab profesinya. Indikator-indikator kecerdasan spiritual yang dikemukakan dalam penelitian ini membantu memahami bagaimana sesungguhnya kecerdasan spiritual bekerja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Pengumpulan data menggu-nakan metode observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ketika seorang guru memiliki kecerdasan spiritual maka tercipta kemampuan memahami hakikat diri, mampu memahami kehendak Tuhan sehingga spirit untuk menggerakkan hidupnya adalah Roh Kudus. Dengan demikian keberadaan dirinya baik tubuh dan jiwa (segenap pikiran dan perasaan) terarah untuk menjadi guru yang serupa dengan Tuhan Yesus Kristus.