Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The article PENERAPAN BATUK EFEKTIF DAN POSISI SEMI FOWLER PADA ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS PASIEN TUBERKULOSISI Dwi Rizki Ramadina Putri; Suci Khasanah; Teguh Supriyatno
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 2 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i2.242

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagai besar basiil tuberkulosis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection, penyakit ini dapat menular. Tujuan: penelitian ini untuk menggambarakan penerapan batuk efektif dan posisi semi fowler terhadap pasien tuberkulosis paru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus (case study) dan subjek yang di gunakan adalah pasien TB paru yang di rawat di Ruang Rosella RSUD Kardinah Tegal dengan masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Hasil penelitian ini di lakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil: setelah dilakukan intervensi pemberian batuk efektif dan posisi semi fowler hasil menunjukan bahwa setelah dilakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam menunjukan bahwa pasien dapat mengeluarkan sputum, frekuensi pernafasan menurun menjadi 22x/menit. Kesimpulan: penerapan batuk efektif dan posisi semi fowler dapat mengeluarkan sputum dan menurunkan frekuansi napas pasien.
Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Ny. P dengan Post Open Reduction Internal Fixation di Ruang As Sakinah Rumah Sakit Islam Purwokerto Indra Dwi Verawati; Suci Khasanah; Madyo Maryoto
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 20
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v3i1.1196

Abstract

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, baik yang bersifat total maupun sebagaian, biasaya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Fraktur membutuhkan tindakan pembedahan salah satunya dengan Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Pasien post ORIF akan mengalami nyeri akut akibat luka insisi, pemasangan plate atau screw. Manajemen nyeri yang dilakukan yaitu dengan analgesic, serta teknik relaksasi nafas dalam. Karya tulis ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan nyeri akut pada pasien post op fraktur hari ke-1 di Ruang As-Sakinah Rumah Sakit Islam Purwokerto. Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini yaitu metode deskriptif dengan melakukan studi dokumentasi pada rekam medis. Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan tindakan manajemen nyeri teknik nafas dalam dan kolaborasi pemberian analgetik selama 3 x 24 jam didapatkan hasil nyeri menurun dari skala 7 menjadi skala 4. Diharapkan dapat perawat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terhadap acuan terkini sehingga dapat lebih optimal dalam memberikan asuhan keperawatan pasien post ORIF.
Perawatan Luka Pada Pasien Ulkus Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Islam Purwokerto Jaya Setianingrum; Suci Khasanah; Madyo Maryoto
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 20
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v3i1.1200

Abstract

Ulkus Diabetes mellitus adalah adanya penyumbatan pada pembuluh darah di tungkai dan neuropati perifer akibat kadar gula yang tinggi dan menjadi luka. Diagnosis keperawatan yang dapat muncul adalah gangguan integritas kulit. Bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan gangguan integritas kulit pada pasien ulkus diabetes mellitus di Ruang As-Sakinah Rumah Sakit Islam Purwokerto. Metode yang digunakan metode deskriptif dengan satu orang partisipan dengan gangguan integritas kulit pada Ny.N berusia 47 tahun dan diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari menggunakan pendekatan proses keperawatan. Diagnosis keperawatan gangguan integritas kulit berhubungan dengan neuropati perifer dan perubahan sirkulasi ditandai dengan pasien mengeluh terdapat nyeri dan luka pada telapak kaki kanan bagian plantar fascia. Rencana intervensi yang ditetapkan integritas kulit dan jaringan dengan luaran keluhan kerusakan jaringan, kerusakan lapisan kulit, nyeri, perderahan, kemerahan, suhu kulit menurun. Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan perawatan luka meliputi memonitor karakteristik luka, mengganti balut dan mengkolaborasi pemberfian analgetic ketorolac. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam hasil masalah keperawatan gangguan integritas kulit belum teratasi. Diharapkan lebih memperhatikan tentang perawatan luka pada pasien ulkus diabetes mellitus.
Posisi Semi-Fowler Pada Pasien Penurunan Curah Jantung Dengan Congestive Heart Failure (CHF) di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara Murfiana Murfiana; Suci Khasanah; Murniati Murniati
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 20
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v3i1.1201

Abstract

Congestive Heart Failure (CHF) merupakan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Salah satu masalah keperawatan yang muncul pada pasien CHF yaitu penurunan curah jantung. Karya tulis ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan penurunan curah jantung pada pasien CHF hari ke-0 di Ruang Mawar RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini yaitu metode deskriptif dengan satu orang partisipan dengan penurunan curah jantung pada Ny. S berusia 34 tahun dan diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari dengan menggunakan proses keperawatan. Diagnosis keperawatan penurunan curah jantung ditandai dengan pasien mengeluh sesak. Rencana intervensi yang ditetapkan perawatan jantung dengan luaran edema cukup menurun, lelah cukup menurun, pucat menurun, palpitasi cukup menurun, dispnea cukup menurun, takikardia cukup menurun, suara jantung S4 cukup menurun, tekanan darah cukup membaik dan capillary refill time cukup membaik. Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan perawatan jantung yaitu memposisikan pasien semi-fowler dan kolaborasi pemberian antiaritmia. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diperoleh hasil penurunan curah jantung belum teratasi. Diharapkan perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terhadap acuan terkini sehingga dapat lebih optimal dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien CHF.
Melatih Mobilisasi Sederhana Pada Pasien Gangguan Mobilitas Dengan Stroke Non Hemoragik di Ruang Mawar RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara Mochammad Ridho Aljufri; Suci Khasanah; Arni Nur Rahmawati
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 20
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v3i1.1205

Abstract

Stroke non hemoragik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya emboli dan thrombosis serebral, pada stroke non hemoragik tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia sehingga dapat menimbulkan hipoksia yang dapat memicu edema sekunder tetapi kesadaran umum pasien tidak mengalami penurunan atau bisa dikatakan baik. Karya tulis ini bertujuan untuk menggambarakan asuhan keperawatan gangguan mobilitas fisik pada pasien stroke non hemoragik hari ke-1 di Ruang Mawar RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Metode yang digunakan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini yaitu metode deskriptif dengan satu orang partisipan dengan gangguan mobilitas fisik pada Tn. M berusia 52 tahun dan diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari dengan menggunakan proses keperawatan. Diagnosis keperawatan gangguan mobilitas fisik ditandai dengan pasien mengeluh kelemahan ekstremitas kiri. Rencana intervensi yang ditetapkan dukungan ambulasi dengan luaran pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak meningkat, gerakan terbatas menurun dan kelemahan fisik menurun. Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan dukungan ambulasi mengajarkan untuk melakukan mobilisasi sederhana. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam diperoleh hasil mobilisasi fisik belum teratasi. Diharapkan perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan terhadap acuan terkini sehingga dapat lebih optimal dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangguan mobilitas fisik.
Pengaruh Terapi Musik Gamelan Terhadap Kulitas Tidur Lansia di Desa Bateran kecamatan Sumbang 2021 Nanik Yuniarti; Prasanti Adriani; Suci Khasanah
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL Vol. 2 No. 2 (2024): Mei
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jikas.v2i2.731

Abstract

A person's happiness with their sleep and the absence of symptoms of sleep deprivation and difficulty sleeping are indicators of good sleep quality. Sleep quality includes things like sleep duration, sleep latency, and subjective features of sleep. A person's capacity to maintain sleep conditions to achieve the appropriate REM and NREM sleep phases. The aim of this research is to determine the impact of gamelan music therapy. The research used a pre-experiment method with a one group pretest-posttest design. There is an influence of gamelan music therapy on sleep quality in the elderly in Banteran Village, Sumbang District, according to the sampling strategy, namely consecutive sampling, which shows a t-test analysis with a p-value of 0.001 (p 0.05).
PENERAPAN TERAPI MUROTAL PADA ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA PASIEN POST MASTECTOMY Nida Fitriani; Suci Khasanah; Agustina Desy Putri
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 3 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i3.287

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Ca mamae sering terjadi pada wanita karena faktor genetik, salah satu tindakan medis yang sering dilakukan pada pasien ca mamae yaitu pembedahan mastectomy. Post mastectomy dapat memberikan efek nyeri yang mengganggu aktifitas pada penderitanya. Penatalaksanaan post mastectomy yaitu dengan tindakan farmakologi dan nonfarmakologi. Tujuan: Penelitian ini untuk menggambarkan penerapan terapi murotal terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post mastectomy. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keparawatan sebagai metode deskriptif. Studi kasus denan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan terhadap satu orang partisipan. Pemberian terapi murotal dilakukan setiap pagi dengan durasi 25 menit, selama 3 hari. Hasil: Setelah dilakukan intervensi pemberian terapi murotal didapatkan hasil penurunan skala nyeri yang diukur menggunakan numeric rating scale (NRS) dari skala 5 (nyeri sedang) menjadi skala 3 (nyeri ringan). Kesimpulan: Penerapan tindakan terapi murotal membantu untuk mengurangi skala nyeri pada pasien post mastectomy.
Kejadian Depresi Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Surya Citra Juliana Putri; Suci Khasanah; Indah Susanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.389

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik kronis yang dapat menimbulkan komplikasi, termasuk depresi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kejadian depresi pada penderita diabetes melitus di Puskesmas Purwokerto Selatan. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 92 responden yang ditentukan dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi dan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), kemudian dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian memperoleh bahwa mayoritas responden berusia 56–65 tahun (41,3%), berjenis kelamin perempuan (78,2%), memiliki riwayat keluarga diabetes (62,0%), dan telah menderita selama 5–10 tahun (54,3%). Berdasarkan tingkat depresi, sebagian besar responden mengalami depresi ringan (39,1%), diikuti depresi sedang (29,3%), depresi berat (29,3%), dan depresi non-klinis (2,2%). Depresi ringan paling banyak dialami oleh lansia awal usia 46–55 tahun (41,7%), perempuan (66,7%), pasien tanpa riwayat keluarga diabetes (86,1%), dan mereka yang baru menderita <5 tahun (83,3%). Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap aspek psikologis dalam penatalaksanaan pasien diabetes melitus.
Efektivitas Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Post Operasi Laminektomy Dengan Herniated Nucleus Pulposus (HNP): Studi Kasus Di Ruang Amarilis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Unit Geriatri Paviliun Abiyasa Erfina Dwi Yuliani; Suci Khasanah; Agus Kurniadi Hanata
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.426

Abstract

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) menyebabkan nyeri punggung bawah akibat penekanan akar saraf. Salah satu tindakan penatalaksanaan adalah laminektomi, namun pasien sering mengalami nyeri pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap penurunan nyeri pasien post-laminektomi. Desain penelitian studi kasus deskriptif dilakukan pada satu pasien HNP post-laminektomi di Ruang Amarilis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Terapi SEFT diberikan selama tiga hari (±20 menit/sesi). Skala nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari skala 7 menjadi 3, dengan peningkatan rasa tenang dan tanda vital stabil. SEFT terbukti efektif dan aman sebagai intervensi nonfarmakologis dalam manajemen nyeri pascaoperasi.
Mobilisasi Dini ≥24 Jam Pasca Kraniotomi Terhadap Pemulihan Fungsi Motorik Pada Pasien Tumor Serebri: Studi Kasus Di Ruang Amarilis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Unit Geriatri Paviliun Abiyasa Siska Tri Wahyuningsih; Suci Khasanah; Agus Kurniadi Hananta K.
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.504

Abstract

Tumor serebri merupakan gangguan pada sistem saraf pusat yang sering memerlukan tindakan kraniotomi sebagai terapi utama. Pasca kraniotomi, pasien berisiko mengalami penurunan fungsi motorik akibat imobilisasi yang berkepanjangan, ditandai dengan kelemahan otot dan keterbatasan aktivitas. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah mobilisasi dini. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan mobilisasi dini ≥24 jam pasca kraniotomi terhadap pemulihan fungsi motorik pada pasien tumor serebri di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi dilakukan melalui observasi selama 3 hari dengan penerapan mobilisasi dini secara bertahap mulai dari latihan pernapasan, perubahan posisi, duduk, berdiri, hingga ambulasi sesuai toleransi pasien pada tanggal 12–14 Agustus 2025. Hasil studi menunjukkan bahwa pada hari pertama pasien mengalami kelemahan otot dengan kekuatan otot skala 3/5 dan aktivitas masih terbatas di tempat tidur. Setelah dilakukan mobilisasi dini, pada hari kedua terjadi peningkatan kekuatan otot menjadi 4/5 dan pasien mampu duduk serta berdiri dengan bantuan. Pada hari ketiga, kekuatan otot meningkat menjadi 5/5 dan pasien mampu berjalan dengan bantuan minimal tanpa keluhan berarti. Penerapan mobilisasi dini ≥24 jam pasca kraniotomi terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi motorik dan mendukung proses pemulihan pasien.