Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERBEDAAN KEBAHAGIAN PADA KELUARGA PRASEJAHTERA DAN SEJAHTERA DI DESA MOPUYA UTARA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Kusuma, I Wayan A.; Pali, Cicilia; David, Lydia
e-Biomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i2.8773

Abstract

Abstract: Basically, everyone wants to be happy, however, happiness depends on many factors. A prosperous family can fulfil the needs of its members; the needs of food, clothing, housing, social, and religious. Meanwhile, the preprosperous family cannot fulfil its members’ minimal basic needs. This study aimed to determine the difference of happiness between prosperous and preprosperous families in North Mopuya village, Dumoga Utara, Bolaang Mongondouw. This was an observational analytical study using a cross-sectional design. Samples were 118 villagers consisted of 59 people of prosperous family group and 59 people of preprosperous group. The results showed a p value of 0.00 (<0.05). Conclusion: There was a difference in happiness between prosperous and preprosperous families in the North Mopuya village.Keywords: happiness, family, prosperous, preprosperousAbstrak: Pada dasarnya semua orang ingin bahagia namun kebahagiaan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Keluarga sejahtera ialah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan anggota baik kebutuhan sandang, pangan, perumahan, sosial, dan agama. Keluarga prasejahtera yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kebahagiaan antara keluarga prasejahtera dan sejahtera di Desa Mopuya Utara Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondouw. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian sejumlah 118 orang di desa Mopuya Utara terdiri dari 59 orang dalam kelompok keluarga sejahtera dan 59 orang dalam kelompok keluarga prasejahtera. Hasil uji statistik memperlihatkan p = 0,00 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan kebahagiaan antara keluarga sejahtera dan prasejahtera di desa Mopuya Utara.Kata kunci: kebahagiaan, keluarga, sejahtera, prasejahtera
Perbedaan kebahagiaan pada keluarga pra sejahtera dan sejahtera di Desa Modayag Kecamatan Bolaang Mongondow Timur Anwar, Rozaliyanti; David, Lydia; Pali, Cicilia
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.13901

Abstract

Abstract: Happiness is the situation of positive emotion, defined subjectively by everyone. Preprosperous families can not achieve their basic needs meanwhile prosperouos families are based on legal marriage, have achieved basic spiritual life, and material, honor to god, have intense relationship and sustainable with family members and the community. This study was aimed to obtain the difference in happiness between the preprosperous and prosperouos families by using the Seligman questionnaire of happiness with 130 respondents. The results showed that there were 13 (50%) happy preprosperous families and 13 (50%) unhappy prosperouos families. The Shapiro-Wilk test showed that the data were normally distributed. The t test showed a degree of freedom 25 as many as 2.60 (t calculated 8.518 > t table 1.62, p = 0.000). Conclusion :There was a difference in happiness between the preprosperous and prosperous families. Keywords: happiness, family, unstable family, bounding family Abstrak: Kebahagiaan adalah keadaan emosi positif didefinisikan secara subjektif oleh setiap orang. Keluarga prasejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal. Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual, dan materil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbedaan kebahagiaan antara keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera menggunakan kuesioner kebahagiaan Seligman. Jumlah responden sebanyak 130 kepala keluarga. Hasil penelitian mendapatkan 13 (50%) keluarga prasejahtera yang bahagia dan 13 (50%) keluarga sejahtera yang tidak bahagia (50%). Uji Shapiro-Wilk memperlihatkan data terdistribusi normal dan dilanjutkan dengan uji t dengan derajat kebebasan 25 sebesar 2,60 (t hitung 8,518 > t 1lter 1,62, p = 0,000). Simpulan :Terdapat perbedaan kebahagiaan pada keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera.Kata kunci : kebahagiaan, keluarga pra sejahtera, keluarga sejahtera
Hubungan tingkat kepercayaan diri dengan jerawat (acne vulgaris) pada remaja di SMAN 7 Manado Ompi, Elga Elfina; David, Lydia; Opod, H.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11049

Abstract

Abstrak. Remaja dengan penampilan fisik berjerawat yang tidak sesuai dengan gambaran idealnya, dikatakan memiliki kepercayaan diri tinggi apabila ia mampu menerima dengan realistis dan mensyukuri serta bertindak positif sedangkan kepercayaan diri rendah apabila remaja tersebut merasa tidak puas, malu, kecewa dan menolak keadaan dirinya. Jerawat atau acne vulgaris adalah peradangan folikel sebasea yang ditandai oleh komedo, papula, pustula, kista dan nodulus di wajah, leher, badan atas dan lengan atas. Jerawat cukup merisaukan karena berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan wajah penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kepercayaan diri dengan jerawat. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan waktu cross sectional (potong lintang). Subyek penelitian adalah siswa/i kelas X-XII SMA Negeri 7 Manado yang berjerawat dengan jumlah 90 responden yang dipilih dengan cara purposive sampling. Untuk menganalisis hubungan antara tingkat kepercayaan diri dengan jerawat digunakan teknik analisis Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara jerawat dengan kepercayaan diri sebesar -0,068, artinya jerawat dengan kepercayaan diri memiliki hubungan negatif dimana keeratan korelasinya sangat lemah (<0,20) sehingga dapat dikatakan tidak terdapat hubungan signifikan antara kepercayaan diri dengan jerawat (Sig=0,523). Artinya, kondisi fisik dalam hal ini jerawat bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri. Konsep diri, pengalaman, pendidikan merupakan faktor internal dan orang tua, teman sebaya dan masyarakat merupakan faktor eksternal yang bisa mempengaruhi kepercayaan diri. Responden yang memiliki kepercayaan diri tinggi walaupun berjerawat tidak berorientasi pada penampilan fisik semata, karena mereka merasa yakin akan kemampuan dan potensi dirinya pada hal-hal yang lain.Kata kunci: Remaja, Kepercayaan Diri, Jerawat.Abstract. Adolescents with acne in physical appearance that doesn’t like the ideal appearance, is said that have confidence when he can accept realistically, still feel grateful and act positively while low confidence if these adolescents are not satisfied, embarrassed, disappointed, and rejected themselves. Acne vulgaris is the inflammation of the sebaceous follicles characterized by comedones, papules, pustules, cysts and nodules on the face, neck, upper trunk and upper arms. Acne is troubling because it is related to the degradation of self confidence due to the beauty of the face.This study aimed to analyze the relationship between the level of confidence with acne. This type of study is correlational with cross sectional approach. The subjects are SMAN 7 Manado students who have acnes with 90 respondents chosen by purposive sampling. Spearman Rank analysis techniques is used to.The results showed that the correlation coefficient between acne with confidence at -0.068, meaning the relationship between acne and confidence is negative which the closeness of the correlation is very weak (<0.20) so that it canbe said there is no significant relationship between confidence with acne (Sig = 0.523). It means, the physical appearance in this case the acne is not the only factor affecting confidence. Self-concept, experience, education is the internal factors and their parents, peers and the community are the external factors that can affect confidence. Respondents with high self confidence eventhough have acnes are not oriented on their physical appearance alone, , because they feel confident in the ability and potential for him in other things.Keywords: Adolescents, Confidence, Acne.
Dampak Psikologis Tenaga Kesehatan Selama Pandemi COVID-19 Pinggian, Brian; Opod, Henry; David, Lydia
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31806

Abstract

Abstract: The Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) outbreak that emerged in December 2019 in Wuhan, quickly spread outside of China, so the World Health Organization (WHO) declared an Emergency at the Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), causing Psychological Stress on Health workers who handle COVID-19 patients, the purpose of this study is to determine the Psychological Disorders of Health Workers during the COVID-19 pandemic. This study is a literature review by comparing articles, journals or secondary data from previously published literature contained in the medical journal database Science Direct, PubMed and ClinicalKey. Result of the ten articles reviewed, there were 11,611 respondents consisting of 3,070 men, 8,534 women, 4 respondents who did not fill in gender and 1 Genderqueer respondent obtained data on increased psychological pressure from health workers during the COVID-19 pandemic. In conclusion, it found the prevalence of psychological impacts such as stress, anxiety and depression from mild to severe among health workers during the COVID-19 pandemic. These findings will help improve our understanding of the impact or impact of the COVID-19 pandemic on the Psychology of Health Workers.Keywords: Psychological Impacts, Health Workers, the COVID-19 Pandemic  Abstrak: Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang muncul pada Desember 2019 di Wuhan, dengan cepat menyebar ke luar Tiongkok, sehingga World Health Organization (WHO) mengumumkan Darurat pada Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), menyebabkan Tekanan Psikologis pada tenaga Kesehatan yang menangani Pasien COVID-19, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Gangguan Psikologis pada Tenaga Kesehatan selama Masa pandemi COVID-19. Metode penelitian berupa literature review dengan membandingkan artikel jurnal atau data sekunder dari literatur-literatur yang dipublikasi sebelumnya  yang terdapat dalam database jurnal kedokteran Science direct, PubMed dan ClinicalKey. Hasilnya sebanyak sepuluh artikel yang direview terdapat 11.611 responden yang terdiri dari 3.070  laki-laki, 8.534 perempuan, 4 responden tidak mengisi gender dan 1 responden Genderqueer didapatkan data peningkatan tekanan Psikologis dari para tenaga Kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Sebagai simpulan,  ditemukan prevalensi dampak psikologis seperti stres, kecemasan dan depresi dari ringan hingga Berat pada Tenaga Kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Temuan ini akan membantu meningkatkan pemahaman kita tentang pengaruh atau dampak pandemi COVID-19 pada Psikologis Tenaga Kesehatan.Kata Kunci: Dampak Psikologis,Tenaga Kesehatan, Pandemi COVID-19